Hari Lahirnya Desa Huu – Dompu, Sebuah Alternatif Sejarah


perkampungan-dompu-tempo-dulu-1953

Pemukiman di Dompu tahun 1953

Kambali Dompu Mantoi – Hu’u adalah nama salah satu desa di Kabupaten Dompu, di P. Sumbawa, NTB. Desa yang terletak di pesisir selatan Dompu ini berada di dalam teritori administratif Kecamatan Hu’u, Dompu. Kecamatan Hu’u adalah wilayah yang menjadi monumen masa lampau Dompu dan P. Sumbawa umumnya. Karena di sinilah ditemukan sebuah situs yang menurut hasil penelitian, merupakan bekas peradaban manusia paling tua di P. Sumbawa. Situs Nangasia, begitulah ia disebut, terletak di bibir pantai. Berdasarkan hasil analisa temuan gerabah di dalamnya disimpulkan bahwa pecahan gerabah itu berangka 2500 SM yakni Zaman Neolitikum. Para peneliti menduga bahwa Situs Nangasia merupakan situs kubur tempayan (urn burial). Karena banyak ahli mengatakan, keberadaan pemukiman pantai yang juga menghasilkan kubur tempayan di berbagai kawasan tersebut karena adanya pengaruh antara satu dan lainnya.[1]

Nama Huu sendiri berasal dari kata dalam bahasa orang Dompu. Hu’u berarti memungut. Setidaknya ada tiga versi asal muasal nama Huu.[2] Versi pertama, kata Huu ini berkorelasi dengan fakta historis bahwasanya Desa Huu yang sekarang pada awalnya tersebar dalam sepuluh kampung yang kemudian bergabung menjadi satu.

Versi kedua mengatakan bahwa nama Huu memiliki korelasi dengan kata Kaboro. Karena di salah satu sudut Hu’u sekarang ada satu areal lahan yang memiliki “keberkahan dan anugerah” yang luar biasa di mana lahan tersebut sangat subur. Kandungan tanah dan tanamannya yang memberikan hasil yang melimpah ruah dan dengan mudah dikaboro (baca: dikumpulkan) oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Adapun versi ketiga mengatakan bahwa nama Huu disematkan terkait dengan identitas genealogis masyarakat yang tinggal di Nanga Sia (Nanga: muara sungai, sia: garam), lokasi Situs Nangasia tempat ditemukannya pecahan gerabah dan keramik yang menurut anggapan sebagian sesepuh Desa Hu’u merupakan gerabah asal China. Keberadaan pecahan gerabah itu dianggap sebagai salah satu bukti eksistensi pemukiman masyarakat Tiongkok di Dompu. Karena secara geografis letak Tiongkok itu sangatlah jauh, maka masyarakat lokal menyebut masyarakat yang berasal dari negeri yang jauh itu dengan sebutan “Dou Huu” (orang dari jauh). Tampak bahwa orang-orang yang mendukung versi ketiga ini meyakini bahwa nenek moyang masyarakat Hu’u berasal dari China daratan.

#

Desa Hu’u Dari Masa ke Masa

Legenda masyarakat Dompu mengatakan bahwa sebelum terbentuknya institusi politik berupa kerajaan di Dompu, masyarakat Dompu hidup dalam kelompok-kelompok kecil dengan dipimpin oleh seorang pemimpin yang digelari Ncuhi. Ncuhi merupakan pemimpin politik dan spiritual di dalam masyarakat Dompu. Menurut legenda, ada empat orang Ncuhi di Dompu. Mereka adalah Ncuhi Hu’u, Ncuhi Saneo, Ncuhi Nowa dan Ncuhi Tonda. Ncuhi Hu’u konon merupakan Ncuhi yang paling berpengaruh. Menurut Israil M. Saleh (1995),[3] dahulu tersebutlah seorang bernama Ompu Iro Aro yang menjabat sebagai Ncuhi Hu’u yang pertama.

Ompu Iro Aro mempunyai seorang putera bernama Ompu Malembo Ro’o Fiko.[4] Di utara masjid Hu’u saat ini, terdapat sebuah rumah panggung yang diyakini sebagai milik Ompu Malembo Ro’o Fiko. Yang makamnya berada di sebelah selatan pemukiman Hu’u lama, dengan ukuran makam 6×3 m. Usia bangunan rumah panggung itu sudah ratusan tahun. Hal ini dibuktikan dengan generasi yang tinggal di situ, yang saat ini adalah generasi ke delapan.[5]

Zaman pun berganti, berdirilah kerajaan Dompu, sebagian peneliti menduga bahwa Kerajaan Dompu merupakan kerajaan bercorak Hindu-Budha.[6] Namun ini masih dugaan. Pengaruh Hindu masuk secara meyakinkan pada Abad XIV ketika Imperium Majapahit menyerbu dan menaklukkan Kerajaan Dompu. Dua abad kemudian, yakni abad XVI, pengaruh Islam masuk ke Kerajaan Dompu melalui dua tahap. Tahap pertama masuk dari arah barat (Jawa) dan tahap kedua dari arah utara (Sulawesi). Masuk Islamnya Raja Dompu, Dewa Mawaa Taho, mempengaruhi penerimaan Islam oleh rakyatnya. Tahun 1545, puteranya yang bernama La Bata Na’e naik tahta menggantikan Dewa Mawa’a Taho. La Bata Na’e lalu merubah sistem pemerintahan dari Kerajaan Hindu menjadi Kesultanan Islam.[7] Maka berdirilah Kesultanan Dompu.

Di masa kekuasaan sultan Dompu ketiga, yakni Sultan Sirajuddin Manuru Bata, kiblat keislaman Dompu khususnya dan seluruh Nusa Tenggara umumnya beralih dari Jawa kepada Sulawesi. Peran besar Kesultanan Gowa Tallo di bawah pimpinan Sultan Hasanudin berpengaruh besar terhadap pemantapan penyebaran Islam di Lombok, P. Sumbawa dan NTT.

Masuknya Islam ke Dompu dan berdirinya Kesultanan Dompu sangat berpengaruh terhadap sistem sosial dan budaya masyarakat Desa Hu’u. Secara umum, masyarakat Hu’u menjadi pemeluk Islam yang taat meskipun masih ada sisa-sisa kebudayaan dan keyakinan lama. Dalam struktur Kesultanan Dompu, Desa Hu’u dipimpin oleh seorang Jena atau Galara yang membawahi para Sarian yang mengepalai dusun-dusun.

Tahun 1815, terjadi bencana besar dan mengerikan akibat letusan G. Tambora. Gempa vulkanik mengguncang pemukiman disertai dengan hujan abu vulkanik yang merusak lahan pertanian, mencemari sumber-sumber air dan membunuh binatang-binatang ternak. Ketebalan abu vulkanik mencapai 50 – 60 cm.[8]  Hal ini mengakibatkan bencana kelaparan di P. Sumbawa, termasuk Kesultanan Dompu. Puluhan ribu warga eksodus dan jumlah yang sama akhirnya mati akibat kelaparan maupun akibat penyakit yang disebabkan oleh abu vulkanik yang mencemari udara, tanah dan air.[9]

Peter Goethals menyimpulkan bahwa bencana letusan Tambora bukan hanya mengakibatkan berkurangnya populasi P. Sumbawa dan membawa bencana kelaparan, namun juga memaksa penduduk yang bertahan hidup untuk mencari lahan pertanian dan mendirikan pemukiman baru.[10] Hal ini bisa menjelaskan mengapa terjadi perpindahan Ibu Kota Kesultanan Dompu dari Doro Bata Kandai Satu ke Kampo Rato, Karijawa. Menurut catatan Raffles seperti dikutip Boers dan Syamsuddin, istana Dompu bertempat di Bata, namun akibat tertimbun letusan Tambora yang dahsyat akhirnya dipindahkan ke sebelah utara Sungai Na’e.[11]

Tidak menutup kemungkinan pula perkampungan lain yang berada di seluruh wilayah Kesultanan Dompu mengalami hal yang sama. yakni setelah pemukiman lama tertimpa letusan Tambora, mereka mencari dan berpindah ke pemukiman baru yang berbeda dari pemukiman sebelumnya. Hal ini karena anggapan masyarakat yang mengatakan pantang menempati pemukiman yang telah ditimpa bala dan bencana. Mereka harus mencari pemukiman baru.

Adapun areal pemukiman Desa Hu’u yang kita kenal sekarang sebenarnya adalah kawasan baru yang “dibangun dan dibentuk” tahun 1970a-n. Pada awalnya pemukiman Hu’u sebenarnya berada di Hu’u lama (sekitar tahun 1939, lokasinya berada di dekat jembatan menuju pantai La Key). Desa Hu’u konon dahulu merupakan hasil penggabungan dari sepuluh kampung, yakni Hu’u, Finis, Mamboa, Pake Lako, Nangasia, Ncangga, La Kei, Folu, Teri, Puma dan Nanga Doro. Kira-kira pada tahun 1976, terjadi sebuah bencana kematian massal di Desa Hu’u tanpa diketahui sebabnya. Menurut keyakinan warga Desa Hu’u, sebelum meninggal Ompu Iro Aro teleh mengucapkan sebuah sumpah yang tak boleh dilanggar oleh anak-cucunya. Penduduk meyakini bahwa sumpah Ompu Iro Aro telah dilanggar sehingga konsekwensinya tanah tempat mereka tinggal telah dikutuk dan mereka harus berpindah ke lokasi baru. Karena itulah lokasi pemukiman masyarakat Hu’u dipindahkan ke lokasinya saat ini. Pemukiman baru itu dibangun dengan masjid sebagai pusatnya.[12]

#

Merekonstruksi Kapan Pendirian Desa Hu’u

Setelah letusan Tambora, penduduk Dompu yang bertahan hidup melanjutkan roda pemerintahan Kesultanan Dompu. Sultan Abdurrasul II berhasil bertahan hidup. Pemindahan lokasi Ibu Kota Kesultanan Dompu pada masanya menyebabkan Ia digelari “Sultan Abdurrasul Mawa’a Bata Bou.” Dalam tafsiran MaDA, gelar itu bermakna, Sultan Abdurrasul Pembangun Ibukota Baru atau Pembangun Istana Baru, wallahu a’lam. Pada masa Sultan Salahuddin, diadakan reformasi dalam struktur pemerintahan Kesultanan Dompu. Menurut MaDA, struktur inilah yang ditulis oleh Israil M. Saleh dalam buku fenomenalnya “Seputar Kerajaan Dompu.”

Desa Hu’u dimasukkan ke dalam wilayah kekuasaan Tureli Adu (Gubernur) yang membawahi dua Jeneli (Jabatan Kepala Daerah di bawah Gubernur). Yakni Jeneli Adu dan Jeneli Hu’u. Pada masa penggabungan paksa Kesultanan Dompu dengan Kesultanan Bima oleh Belanda dan Jepang, Desa Huu dan sekitarnya tidaklah lagi menjadi sebuah wilayah Jeneli. Ini dikarenakan oleh Penguasa Kesultanan Bima, pasca menguasai wilayah Kesultanan Dompu, membagi wilayah Kesultanan Dompu menjadi dua wilayah Jeneli saja. Yakni Jeneli Dompu dan Jeneli Kempo. Adapun Desa Hu’u, masuk ke dalam wilayah administratif Jeneli Dompu.

Lalu kapankah sebenarnya waktu pendirian Desa Huu? Apakah berdiri sejak zaman prasejarah (Zaman Ncuhi) seperti yang disebutkan dalam legenda? Atau memang ada alternatif waktu pendirian lain berdasarkan informasi-informasi yang telah ada? Nah, untuk menganalisa kapan waktu tepat pendirian Desa Huu MaDA ingin mengajak kita bersama-sama menganalisa kembali beberapa informasi yang telah MaDA sampaikan di atas.

1) Pertama sekali kita harus membedakan antara terma Hu’u Kuno, Hu’u Lama dan Hu’u baru. Yang dimaksud Huu kuno adalah Desa Huu yang didirikan sejak masa prasejarah sebelum terbentuknya kerajaan. Lokasi Huu kuno belum diketahui, bisa jadi lokasinya berada pada beberapa situs bersejarah yang tersebar di seluruh wilayah Kecamatan Huu. Sedangkan Huu lama adalah Desa Huu yang dahulu berlokasi di sekitar jembatan menuju Pantai Lakey. Adapun Huu baru adalah Desa Huu dengan lokasinya yang sekarang. Yang dibangun pada tahun 1976.

2) Mengapa kita perlu membedakan antara Huu kuno dan Huu lama? Karena hasil analisa dari data-data yang ada, semuanya mengarah kepada satu kesimpulan bahwa Huu lama tidaklah dibangun pada masa prasejarah. Melainkan dibangun pada tahun 1815, pasca meletusnya G. Tambora.

3) Bukti-bukti yang melatari kesimpulan ini adalah sebagai berikut:

A) Kesimpulan Peter Goethals bahwa masyarakat Sumbawa berpindah dan membangun pemukiman baru yang berbeda dari pemukiman lama, meskipun penelitiannya adalah masyarakat Sumbawa, namun kemungkinan besar juga terjadi dengan masyarakat Dompu. Hal ini dapat dibuktikan dengan kasus perpindahan pusat pemerintahan Kesultanan Dompu dari Bata ke Kampo Rato. Jadi dapat disimpulkan pula bahwa masyarakat penghuni Desa Huu juga berpindah dari lokasi perkampungan lama menuju lokasi baru, yakni di lokasi Huu lama dekat jembatan menuju Pantai Lakey.

B) Rumah yang diyakini sebagai milik Ompu Malembo Roo Fiko yang terletak di sebelah utara masjid Huu, dikatakan saat ini dihuni oleh generasi ke delapan. Artinya jika kita hitung mundur, maka jarak delapan generasi itu sekitar 200 tahun dengan 25 tahun jarak antara individu dalam tiap generasi. Jadi Ompu Malembo Roo Fiko dan ayahnya (Ompu Iro Aro) membangun rumah itu kemungkinan 200 tahun yang lalu. Di mana angka dua ratus tahun jika dihitung mundur dari tahun ini (2017) maka akan mendekati tahun 1815. Tahun di mana terjadi letusan G. Tambora.

C) Letusan Tambora dapat memberikan jawaban mengapa sepuluh kampung bergabung menjadi satu. Kemungkinan besar bahwa populasi sepuluh kampung itu menyusut drastis dan untuk bertahan hidup dari bencana kelaparan, mereka harus bergabung menjadi satu dengan dipimpin oleh Desa Paling terkemuka. Desa Huu.

D) Kesimpulannya adalah Ompu Iro Aro membangun pemukiman Huu lama dan mengumpulkan sisa penduduk dari sepuluh kampung di sekitarnya. Ia menjadi Ncuhi pertama Desa Huu (pasca letusan Tambora), Ncuhi Iro Aro. Mengapa dipakai istilah Ncuhi dan bukan gelar Jena atau Galarang? MaDA meyakini bahwa struktur pemerintahan Kesultanan Dompu yang saat ini sampai pada kita barulah disusun pasca meletusnya G. Tambora. Yakni pada masa Sultan Salahuddin Mawaa Adil. Bisa jadi sebelum letusan Tambora, gelar Ncuhi masih dipakai sebagai nama jabatan Kepala Desa atau Kepala Kampung. Lalu pemukiman Desa Huu kembali dipindahkan pada tahun 1972 ke lokasi yang sekarang. Rumah panggung Ompu Malembo Roo Fiko dapat dipindahkan ke lokasi baru dengan dipikul bersama-sama sesuai cara dan tradisi masyarakat Dompu yang masih dapat kita saksikan hingga hari ini.

Jadi bisa saja hari ulang tahu Desa Huu, sama dengan HUT Kabupaten Dompu, yakni 11 April 1815. Sebab, pada tanggal itulah hari baru di mana masyarakat Desa Huu berpindah dan mencari lokasi pemukiman baru untuk bertahan hidup. Kemudian berdirilah Desa Huu yang sekarang. Allahu a’lam bish-shawwab, Allah yang Maha tahu dengan benar. Bagaimana menurut anda? [Uma Seo]

DSCF0307_KIP#1 HTI Sila Bima

—————

Catatan Kaki:

[1] Situs Nangasia Saksi Kehidupan Dompu Lama, nationalgeographic.co.id

[2] Tiga versi ini adalah menurut Syafruddin Murtalib dalam artikelnya  berjudul “Menguak Cultur Heritage Di Wilayah Hu’u Kabupaten Dompu” dimuat di syafrudindompu.blogspot.co.id

[3] Israil M. Saleh, 1995, Seputar Kerajaan Dompu.

[4] Syafrudin Murtalib, Warisan Budaya di Desa Hu’u; Asal Usul Nama dan Sejarah (part 1), Dompuklopedia.com

[5] “Menguak Cultur Heritage Di Wilayah Hu’u Kabupaten Dompu,” syafrudindompu.blogspot.co.id

[6][6] Munandar (2010: 101) dalam Sukawati Susetyo, Pengaruh Peradaban Majapahit di Kab. Bima dan Kab. Dompu, Forum Arkeologi  Vol. 27, 2 Agustus 2014

[7] M. Fachrir Rahman, Islam di Nusa Tenggara Barat: 97.

[8] Boers, Mount Tambora in 1815; A volcanic eruption in Indonesia and Its aftermath:  43

[9] Zollinger memperkirakan bahwa P. Sumbawa kehilangan 84.000 populasinya. Baik akibat langsung letusan, maupun akibat kelaparan, penyakit dan eksodus besar-besaran ke luar pulau. (Boers, 44)

[10] Peter Goethals, 1961, Aspect of Local Government in a Sumbawan Village (Eastern Indonesia), dalam Boers, 45.

[11] Boers dan Syamsuddin, 2012: hal.72 dalam Sumerta, 2014, Forum Arkeologi Vol 27 No.3 November 2014, hal. 230

[12] Warisan Budaya di Desa Hu’u; Asal Usul Nama dan Sejarah (part 1) dompuklopedia.com

Dipublikasi di Sejarah Dompu | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Peran Islam Dalam Sejarah Militer Indonesia


pahlawan-islam-indonesia

Kambali Dompu Mantoi – Sungguh menarik apa yang disampaikan oleh Jenderal Gatot Nurmantyo pada saat puncak Peringatan Maulid Nabi 1438 Hijrah lalu. Panglima TNI yang dekat dengan para habaib ini mengajak masyarakat Indonesia, khususnya para prajurit TNI, untuk meneladani Nabi Muhammad saw dalam segenap aspek kehidupannya. Tidak hanya itu, saat Peringatan Hari Santri Nasional pada akhir 2016 lalu, Jenderal Gatot pun pernah menyatakan bahwa umat Islam adalah aset terbesar perjuangan bangsa Indonesia. Bahkan saat itu, orang nomor satu di tubuh militer Indonesia ini menyebutkan bahwa Jenderal Besar Soedirman adalah sosok panglima abadi bagi militer Indonesia sekaligus sebagai sosok bersahaja dan Muslim taat. Jenderal Gatot pun menggarisbawahi bahwa perjuangan kemerdekaan, resolusi jihad, Hari Pahlawan dan TNI memiliki hubungan historis yang erat dan menentukan.

Pernyataan Panglima TNI ini seolah membuka lembaran sejarah yang selama ini ditutup-tutupi atau bahkan sengaja disembunyikan oleh pihak-pihak tertentu tentang hubungan erat antara Islam, kaum Muslim dengan keberadaan TNI. Slogan TNI sebagai tentara rakyat dan TNI sebagai anak kandung rakyat semakin menguatkan pernyataan Panglima di atas. Pasalnya, tidak bisa dipungkiri bahwa rakyat negeri ini mayoritas Muslim. Artinya, TNI adalah tentaranya kaum Muslim negeri ini.

Dalam perjalanan sejarah bangsa ini, peran kaum Muslim dalam upaya merebut hingga mempertahankan kemerdekaan tidak bisa dinapikan begitu saja. Dari sekian ratus pahlawan nasional yang diakui Pemerintah saja, tercatat lebih dari 80% adalah Muslim. Apalagi kalau kita melacak akar historis semangat juang para pahlawan itu dibekali dengan ghîrah jihad fi sabilillah dalam mengusir bangsa kafir penjajah. Bahkan tidak jarang tokoh satu dengan tokoh lainnya saling bekerjasama dalam upaya mengusir para penjajah asing tadi seperti Fatahillah yang bekerjasama dengan Sultan Cirebon, Banten dan Demak dalam menggempur kedudukan Portugis di Batavia, Si Singamangaraja XII yang didukung oleh Kesultanan Aceh dan Pagaruyung dalam peperangan melawan kompeni Belanda, Ahmad Lussy Pattimura yang dibantu panglima Said Perintah saat perang di Jazirah al-Muluk, dan masih banyak contoh yang lainnya.

Dalam jejak sejarah kemiliteran di negeri ini, peran Islam dan kaum Muslim dalam membentuk karakteristik pejuang juga demikian kentara. Tercatat dalam sejarah, pemerintahan Sultan Alaudddin Ri’ayat Shah al-Qohhar dari Aceh Darussalam pernah meminta bantuan kepada Khalifah Sulaiman al-Qanuni dari Turki Utsmani dalam upaya menggempur kedudukan Portugis di Selat Malaka. Bala bantuan Khalifah saat itu dipimpin oleh Laksamana Karthoglu Salman Hizir Reis yang tidak hanya membawa pasukan perang, namun juga membawa para insinyur persenjataan dan para akademisi untuk membangun akademi militer di Tanah Rencong. Tercatat Ma’had Baytul Maqdis sebagai akademi militer profesional pertama yang pernah berdiri di negeri ini. Salah seorang lulusan akademi ini adalah Laksamana Keumala Hayati yang memimpin Armada Inong Bale; ia memenangkan duel melawan pasukan Cornellis de Houtman di Selat Malaka.

Saat terjadinya Java Oorlog pada 1825-1830, Khalifah Utsmani pun tercatat mengutus 15 syaikh, di antaranya adalah Syaikh Abdusy Syukur kepada Pangeran Diponegoro untuk mengajarkan strategi perang gerilya. Pangeran Diponegoro pun membentuk kesatuan-kesatuan militernya mengikuti pola militer Utsmani, seperti Turkiyo, Bulkiyo dan Arkiyo. Diponegoro pun memakai nama juang Sultan Ngabdulhamit. Panglimanya, Sentot Prawirodirdjo, memakai nama juang Alibasya. Keduanya seperti nama Khalifah dan panglima perangnya yang menang perang melawan Yunani saat itu, yakni Sultan Abdul Hamid I dan Muhammad Ali Basya.

Sejarah Pembentukan TNI

Saat Balatentra Nippon masuk untuk menduduki Indonesia pada 1942, mereka telah mengawalinya dengan propaganda bahwa Jepang adalah penyelamat dan pembebas Asia dari penjajahan bangsa Barat. Mereka mendekati tokoh-tokoh nasional untuk diajak bekerjasama melawan Sekutu. Mereka pun menyambangi para ulama, santri dan pondok-pondok pesantren untuk ikut mendukung kampanye Perang Asia Timur Raya. Mereka mengetahui betul kedudukan kharismatis para ulama dalam memimpin para santri. Mereka pun memahami kedudukan pondok-pondok pesantren sebagai lembaga terorganisasi yang dapat digerakkan sewaktu-waktu dalam upaya memenangkan perang.

Strategi Balatentara Nippon ini tampak nyata saat mereka mengamini usulan sepuluh tokoh Islam, di antaranya adalah KH Mas Mansyur dan KH Abdul Karim Amrullah, untuk membentuk kesatuan pemuda Indonesia dalam upaya mempertahankan Tanah Air Indonesia. Lalu pihak Jepang segera membentuk Pembela Tanah Air (PETA) yang sebagian besar para komandannya adalah para kiai dengan para prajuritnya adalah kaum santri, seperti Rd. KH Abdullah bin Nuh sebagai Daidancho PETA di Jampang Kulon, termasuk Panglima Soedirman yang pernah menjadi Daidancho PETA di Kresidenan Banyumas. Sebelumnya, Soedirman adalah seorang guru agama di Persjarikatan Moehammadijah.

Pihak Jepang juga mengizinkan pembentukan organisasi semimiliter Lasykar Hizboellah yang dibentuk Nahdlatoel Oelama pada 19 Desember 1944. Markas Besar Lasykar diamanahkan kepada KH Maskoer, sedangkan panglima lasykarnya adalah KH Zainul Arifin. Balatentara Nippon pun merekrut para pemuda Muslim Indonesia, terutama kaum santri sebagai kadet militernya melalui Heiho dan Kaigun, sekaligus mengirimkan mereka ke medan tempur di lautan Pasifik.

Setelah Perang Dunia II berakhir dan Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Tokoh Partai Sjarikat Islam Indonesia (PSII) yang ikut menandatangani Piagam Jakarta, KH Abikoesno Tjokrosoejoso, mengusulkan kepada Pemerintah agar segera membentuk badan pembelaan negara. Karena itu pada 22 Agustus 1945 dibentuklah Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang menghimpun anggota PETA dan lasykar-lasykar rakyat di daerah, sekaligus mengangkat KH Kasman Singodimedjo sebagai komandan BKR.

Setelah mengevaluasi keberadaan BKR, pada 5 Oktober 1945 Presiden Soekarno mengorganisasi kembali kesatuan tentara itu dengan nama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sekaligus menetapkan Oerip Soemihardjo sebagai Kepala Staf Umum TKR. Tugas mantan perwira KNIL itu adalah untuk membenahi organisasi tentara yang masih semrawut sebelum Panglima TKR dipilih. Ketika itu para pejuang dari beragam kelompok berjalan masing-masing. Pangkat dan jabatan pun diatur sendiri-sendiri, tidak terorganisasi dengan baik.

Pada 12 November 1945, Soedirman terpilih menjadi komandan tertinggi TKR menyisihkan para perwira lainnya, dan dwitunggal Soekarno-Hatta segera melantik Soedirman sebagai Panglima Besar pada 18 Desember 1945.

Selanjutnya, TKR diubah menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI). Saat revolusi kemerdekaan terjadi, TRI dan lasykar-lasykar pejuang terlibat aktif dalam upaya mempertahankan kemerdekaan. Demi mempersatukan kubu-kubu bersenjata itu, pada 3 Juni 1947 Soekarno mengesahkan berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI). Nama inilah yang kini kembali dipakai oleh kesatuan militer negeri ini, sekalipun pernah pula berganti nama menjadi APRI, APRIS dan ABRI pada masa-masa sebelumnya.

Kemanunggalan Rakyat dan Tentara dalam Perang Kemerdekaan

Heroisme kaum Muslim Indonesia dalam mengusir kaum kafir penjajah telah banyak tertulis dalam lembaran emas sejarah bangsa ini, termasuk dalam upayanya mempertahankan kemerdekaan, Peristiwa Soerabaja 10 November 1945 merupakan bukti tak terbantahkan akan arti kepahlawanan sesungguhnya hingga pemerintah menabalkan momen ini sebagai Hari Pahlawan.

Peristiwa ini bermula sejak South East Asian Comand (SEAC), Angkatan Perang Inggris, untuk Asia Tenggara mendarat di Jakarta serta menekan pihak Jepang yang telah kalah untuk mempertahankan status quo pada 16 September 1945. Artinya, Inggris yang mewakili kepentingan Sekutu tidak mengakui kedaulatan Indonesia sebagai bangsa merdeka. Dua pekan berikutnya, pada 29 September 1945, datang lagi Pasukan Sekutu yang tergabung dalam Alied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) dengan membawa pasukan Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Faktor inilah yang memicu perlawanan sengit dari lasykar-lasykar Muslim dan BKR terhadap pasukan NICA dan Sekutu di sejumlah tempat.

Menyaksikan pemerintah pusat yang seperti gugup dalam bersikap, KH Hasyim Asyari meneluarkan Resoelusi Djihad Nahdlatoel Oelama pada 22 Oktober 1945 yang menyiagakan kaum Muslim untuk bersiap mengangkat senjata dalam perang suci jihad fi sabilillah. Kesiapan lasykar Hizboellah dan Sabilillah pun semakin menggebu saat Pasukan Sekutu mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945.

Pasukan pemenang Perang Dunia II yang baru mendarat itu dengan sikap angkuh tanpa pemberitahuan menyerbu penjara-penjara yang dijaga TKR dan membebaskan para tawanan republik, khususnya tentara Belanda pada 27 Oktober 1945. Sikap Pasukan Sekutu itu langsung dibalas sehari berikutnya oleh lasykar-lasykar pejuang dengan menyerang balik pos-pos pertahanan Sekutu hingga Brigade Mallaby nyaris binasa.

Pada 7 November 1945, Majelis Sjoero Moeslimin Indonesia (Masjoemi) sebagai wadah politik umat Islam Indonesia saat itu mengadakan Muktamar Umat Islam dan menghasilkan Resoloesi Djihad PB Masjoemi yang meneguhkan kembali Resoelusi Djihad NO sebelumnya. Setelah itu semangat juang kaum Muslim di Surabaya semakin berkobar-kobar, apalagi gelora jihad fi sabilillah juga terus disuarakan melalui pemancar radio oleh Bung Tomo dan Arek-Arek Soerobojo lainnya.

Di tengah kecamuk konflik senjata berskala kecil, terbetik kabar bahwa Brigjend Mallaby ditemukan tewas di jalanan Surabaya hingga panglima perang Pasukan Sekutu di Jawa Timur, Mayjen Mansergh, pada 9 November 1945 mengeluarkan ultimatum kepada Arek-Arek Soerobojo untuk segera menyerahkan diri sekaligus menyerahkan persenjataan yang mereka punyai pada esok harinya, 10 November 1945 pukul 06.00 pagi.

Ultimatum itu disambut Arek-Arek Soerobojo dengan seruan takbir, menandakan perang suci di jalan Allah mulai ditunaikan. Pada pukul 06.00 pagi itu, kota Surabaya dihujani dengan mesin-mesin perang Allied Forces dari segala penjuru, baik daratan, lautan, maupun udara. Perang 10 November itu hanyalah awal dari gempuran Sekutu terhadap Surabaya hingga berakhir pada awal Desember 1945 saat mereka dipaksa untuk mundur karena kehabisan amunisi dan bala bantuan, mereka tetap tidak mampu menguasai kota. Kepahlawanan Arek-Arek Soerobojo ini mustahil mengemuka tanpa adanya semangat jihad fi sabilillah di dalam dada mereka. Islam telah merasuk kuat dalam jiwa Arek-Arek Soerobojo.

Langkah Sekularisasi Tentera

Hubungan historis yang demikian erat antara rakyat Muslim dan militer ini mulai terganggu sejak adanya kepentingan asing atas nama profesionalisme tentara di tubuh militer Indonesia. Tidak bisa dipungkiri, keberadaan mantan KNIL di tubuh BKR/TKR membawa kecemburuan tersendiri di antara personil tentara mantan PETA dan lasykar pejuang bentukan rakyat. Apalagi setelah adanya reorganisasi tentara dan efisiensi pasukan, banyak lasykar rakyat yang dipaksa untuk membubarkan diri. Bahkan mantan KNIL yang masih setia pada kepentingan kolonial melakukan aksi-aksi sepihak di bawah komando Westerling dalam pemberontakan APRA.

Selain itu, keberadaan para penentu kebijakan di tubuh militer saat itu pun membawa warna sekular dalam organisasi ketentaraan, seperti Menteri Pertahanan Amir Syarifudin, seorang murtadin penganut Sosialis Marxist; juga Kolonel Tahi Bonar Simatupang yang merupakan anggota dewan gereja. Sekularisasi di tubuh militer ini pun terus berlangsung hingga kini. Bahkan pada masa Orde Baru, militer Indonesia menjadi alat untuk menopang keberlangsungan kekuasaan yang ada untuk menyingkirkan lawan-lawan politiknya. Dwifungsi ABRI yang digagas Jenderal AH. Nasution pun disalahgunakan oleh kekuasaan Orde Baru untuk membungkam suara kritis rakyat.

Selain itu, kerjasama militer dengan negara-negara asing pun membawa perubahan mendasar dalam paradigma berpikir para prajurit tempur negeri ini. Para perwira militer kita disekolahkan di akademi-akademi militer asing untuk menimba ilmu sekaligus meningkatkan kualitas performa militer Indonesia di dunia internasional. Sistem pendidikan asing yang didapat para perwira militer itu pun diterapkan dalam kurikulum pendidikan militer Indonesia, baik di tingkat Secatam, Secaba, Secapa hingga Sesko. Bahkan termasuk di pendidikan terpadu tentara dalam Akademi Militer (Akmil) yang dirancang saat Unsmiling General yang anti Islam, Jenderal Leonardus Benyficius Moerdani menjabat sebagai Panglima ABRI. Pendidikan agama (Islam) yang diajarkan dalam kurikulum sebatas formalitas Pembinaan Mental Kerohanian. Praktis, ghîrah Islam dalam jiwa tentara terpinggirkan, bahkan Islam dan kaum Muslim pun menjadi sasaran tembak. Umat diposisikan sebagai kriminal, ekstremis, radikalis dan fundamentalis. Bahkan stigma teroris pun kini dialamatkan kepada kaum Muslim!

Oleh karena itu, sudah saatnyalah militer Indonesia sebagai tentara rakyat dan tentara pejuang kembali ke akar historisnya, bahwa mereka adalah anak kandung Kaum Muslim. Mereka adalah pejuang bersama rakyat mayoritas negeri ini dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan tanpa meninggalkan jatidiri dan karakter TNI sendiri sebagai tentara profesional. Ya Allah, fasyhad! [Salman Iskandar; Predator buku]

Sumber:

https://hizbut-tahrir.or.id/2017/01/27/peran-islam-dalam-sejarah-militer-indonesia/

 

Dipublikasi di Sejarah Nasional | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Kisah Pendirian Desa Bara dan Buna – Dompu


perkampungan-dompu-tempo-dulu-1953

Foto Perkampungan di Dompu tahun 1953

Kambali Dompu Mantoi – Desa Bara adalah nama salah satu desa di Kecamatan Woja Kabupaten Dompu di Pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat. Secara administratif, wilayah Desa Bara membentang dari daerah di barat Bukit Doro Nowa hingga kaki Bukit Doro Sumba di Desa Madaparama. Dari perbukitan di sebelah selatan Bukit Doro Ncando hingga muara sungai besar yang berhilir di Teluk Cempi. Ada dua versi cerita mengenai asal muasal nama Desa Bara. Versi pertama mengatakan bahwa nama Desa Bara berasal dari nama fu’u haju bara. Sedangkan versi yang kedua mengatakan bahwa nama bara berasal dari kata barat dalam bahasa melayu. Disebut demikian karena dahulu pada awal pendiriannya kampung bara adalah kampung paling barat di wilayah administratif Tureli[1] Dompu.

Versi pertama tidak didukung oleh fakta historis maupun fakta aktual. Sebab sampai saat ini, di Desa bara tidak terdapat banyak pohon bara yang tumbuh. Sedangkan MaDA lebih bisa menerima versi kedua.

Menarik untuk dibahas seluk beluk pendirian Desa Bara karena ada beberapa kalangan yang dengan gampangan menarik kesimpulan ngawur mengenai asal usul pendirian Desa Bara semata-mata disebabkan adanya kesamaan dengan nama tempat tertentu di lain daerah.

.

Pendirian Desa Bara

Di masa pemerintahan Sultan M. Siradjuddin Manuru Kupa, hiduplah seorang sakti dan pandai bernama Ompu Emo. Karena kesaktiannya, sultanpun tertarik untuk belajar darinya. Sultanpun mengangkatnya menjadi guru. Untuk menghormati jasanya, sultan memberikan hadiah berhektar-hektar tanah di So Madarutu[2] di sebelah barat Bukit Doro Nowa. Areal persawahan yang subur yang terbentang di sebelah barat Doro Nowa hingga sungai nun jauh di barat adalah tanah milik sultan yang terbagi atas beberapa areal persawahan yang disebut so. Sultan berkenan memberikan beberapa petak sawah yang ada di So Madarutu kepada Ompu Emo. Sultan juga menjadikan Ompu Emo sebagai penjaga dan pengurus seluruh sawah milik sultan di wilayah itu.[3]

Ompu Emopun memboyong seluruh keluarga besarnya ke daerah itu. Terbentuklah sebuah pemukiman yang dalam istilah lokal disebut Mporo, yakni pemukiman yang terdiri atas beberapa kepala keluarga saja. Sebuah Mporo atau dapat kita padankan dengan istilah dusun, dipimpin oleh seorang Sarian. Ompu Emo dan keluarganya membangun pemukiman di sebelah timur sungai yang sekarang tempat itu bernama Dusun Bara, Desa Bara.

Ompu Emo memiliki lima orang anak, M. Hasan, Abdul Gani, M. Saleh, Ina Tau, dan Abdurrahman. Anak bungsunya, seorang anak laki-laki remaja yang ia beri nama Abdurrahman. Namun Abdurrahman lebih sering dipanggil dengan julukan La Habe. Julukan ini kemungkinan didapatnya karena wajahnya yang mirip habe (habib, orang keturunan Arab). Karena memang La Habe hidungnya mancung dan badannya tinggi. La Habe yang masih remaja itu dititipkan pada Sultan M. Sirajuddin dan menjadi pelayan sultan. Tugasnya adalah memastikan ketersediaan dan keamanan makanan, pakaian, tempat tidur, dan segala keperluan Sultan Muhammad Sirajuddin. Ia juga bertugas mengurus Balaba, keris sakti pusaka kesultanan Dompu. Ia juga akan mendampingi sang sultan ke mana saja beliau pergi. Tugas ini tidak akan diberikan kecuali kepada orang kepercayaan yang telah dibuktikan kesetiaan dan pengabdiannya pada keluarga Kerajaan secara turun temurun. Sehingga tidak sembarangan orang yang bisa mendudukinya. La Habe mengikuti Sultan M. Sirauddin yang dibuang ke Kupang dan meninggal di kota itu. Di sana ia memiliki lima orang anak.

Singkat cerita makin lama Bara makin ramai oleh penduduk pendatang baru. Bara berubah status dari sekedar Mporo menjadi sebuah Kampo (Kampung/Desa). Kepala desanya disebut dengan gelar Galara (Gelarang). Sepeninggal Sultan M. Sirajuddin yang dibuang ke Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Kesultanan Dompu secara paksa digabungkan dengan Kesultanan Bima.  Kepemimpinan Desa Bara berada di tangan para bangsawan yang diutus dari Kota Dompu. Namun sejak kedaulatan Kesultanan Dompu dikembalikan di bawah pimpinan Sultan M. Tajul Arifin, maka kepemimpinan Desa Bara dikembalikan pada keluarga Ompu Emo. Diangkatlah anak Ompu Emo yang bernama M. Hasan Amin menjadi Gelarang.

Hasan yang lebih dikenal dengan julukan Ompu Heso atau Ama Ante ini lahir pada tanggal 20 Mei 1920 dan wafat pada 23 februari 1982. Ia menjadi Kepala Desa Bara selama lebih dari 30 tahun hingga tahun 1980. Ia memiliki dua orang istri dan tujuh orang anak.[4]

.

Kedatangan Orang-orang Donggo ke Desa Bara dan Berdirinya Kampung Buna

Pada mulanya wilayah Desa Bara meliputi wilayah dari sebelah barat Doro Nowa hingga Teka Sire. Yakni wilayah Desa Bara dan Desa Madaparama saat ini. Namun hanya daerah Bara yang ditempati, yakni pemukiman di sebelah timur dan barat Sungai Bara. Selebihnya hanyalah areal persawahan, perbukitan dan hutan belantara.

Pada tahun 1950-an, masuklah para pendatang dari wilayah Kecamatan Donggo, Bima. Mayoritas mereka berasal dari Desa Doridungga. Mereka membuka perkampungan di sebuah pinggiran sungai di dekat sebuah mata air yang disebut Madaparama. Pemukiman mereka disebut dengan nama Kampung Buna. Kedatangan mereka akhirnya direstui pemerintah Kabupaten Dompu. Mereka diizinkan membuka pemukiman dan mengambil tanah di dataran pinggir sungai namun tidak diperbolehkan membuka ladang (Oma) di areal hutan dan perbukitan.

Sebagai masyarakat yang berasal dari wilayah Donggo yang terbiasa menggantungkan hidupnya dari hasil berladang (Ngoho), masyarakat Buna tentulah merasa kesulitan dengan adanya larangan untuk melakukan ngoho dari pemerintah. Namun berkat bantuan seorang tokoh bangsawan bernama Kamaluddin A.R.[5] yang melobi pemerintah dan aparat militer, maka akhirnya masyarakat Buna diberikan izin untuk melakukan pembukaan hutan dan melakukan perladangan (ngoho).[6]

Sejak saat itu, masyarakat asli Bara dan orang Buna hidup rukun dan saling tolong menolong, tidak pernah ada perselisihan di antara mereka. Tidak ada bangsawan atau budak, tidak ada kasta tinggi dan rendah. Semua saling menghormati sebagai sesama manusia dan sesama muslim. Bahkan di antara mereka banyak terbentuk ikatan kekeluargaan dan perkawinan. Dalam kepemimpinan Desa Barapun semua diperlakukan sama. Baik warga asli maupun pendatang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi kepala Desa. Tercatat dalam sejarah orang Buna pernah menjadi Kepala Desa di Bara.

Namun sejak tahun 2003, seiring reformasi dan otonomi daerah, Desa Bara dimekarkan menjadi dua desa. Yakni Desa Bara dan Desa Madaparama. Sejak saat itu, sering terjadi perselisihan di antara kedua Desa. Hal-hal sepele bisa menjadi pemicu pertumpahan darah dan permusuhan. Mereka lupa bahwa mereka sama-sama muslim dan Syariah Islam mengajarkan bahwa mereka bersaudara. Syariah mengajarkan bahwa tak ada yang memuliakan atau meninggikan derajat seseorang kecuali kualitas ketaatannya pada Allah SWT.

Alangkah bahagianya mereka jika mereka kembali bersaudara dan saling bahu membahu seperti dahulu, bunesi ntika Dompu Mantoi. #kambalidompumantoi, kembalikan Dompu yang dahulu. Dompu yang menerapkan Syariah Islam, Dompu yang aman dan rukun karena ketaatan rakyatnya kepada agama. Bahwa mereka semua bersaudara dan ashobiyyah (fanatisme kesukuan) hanya akan mengantarkan pelakunya ke dalam neraka.

Jika hari ini sistem demokrasi dan kapitalisme menyuburkan rasa ashobiyyah serta gagal menciptakan masyarakat yang bertaqwa. Maka tidak ada harapan lagi terhadap sistem buatan barat yang kafir itu. Satu-satunya harapan yang akan memperbaiki masyarakat dan menyatukan semua hati dalam ikatan iman adalah Dakwah, Syariah dan Khilafah. Mai ta-kambali Dompu mantoi, Dompu makakidi Sare’at Islam. Dompu sapaju Khilafah Islam. [Uma Seo]

___________________________________________________________________

Catatan Kaki:

[1] Tureli adalah nama jabatan setingkat Gubernur. Ada tiga pejabat Tureli pada masa Kesultanan Dompu yang salah satunya bernama Tureli Dompu. Adapun wilayah Kekuasaannya adalah wilayah yang mencakup dua Jeneli (nama jabatan kepala daerah di bawah Tureli) yakni Jeneli Dompu dan Jeneli Katua. Meliputi daerah perbatasan dengan Kesultanan Bima hingga daerah yang sekarang disebut Teka Sire.

[2] So Madarutu, baca: Areal Persawahan Madarutu, sekarang terletak di Desa Bara.

[3] Berdasarkan penuturan cucu Ompu Emo, Usman bin Hasan bin Amin.

[4] Istri pertamanya bernama Salira atau biasa disapa Wa’i Laru. Darinya Ompu Heso memiliki empat orang anak bernama Ante (Almh. Umi Ante mertua M. Amin Agil Mandiri), Usman (Moa Dondo, tinggal di Bara), A. Rasul Hasan (telah meninggal, tinggal di Kandai Dua, Suami Hj. Siti Atiah A. Rasul), dan Usman Guntur (tinggal di Rato, Kel. Karijawa). Sedangkan dari istri keduanya ia memiliki tiga anak bernama Suharni (tinggal di Bara), Basuki (meninggal waktu kecil) dan Ikbal (tinggal di Jakarta).

[5] Kamaluddin bin Abdurrahman bin Mosse, lebih dikenal dengan nama Dae La Ante, dimakamkan di TPU Kampo Rato. Memilki dua istri dan enam anak di Bara.

[6] Berdasarkan penuturan putri dari Kamaluddin AR bernama Hawiyah.

Dipublikasi di Sejarah Dompu | Tag , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Uma Tole Vs La Jeho


Kambali Dompu Mantoi – Aksi bela islam 3 atau aksi 212 yang diperkirakan diikuti sekitar 7 juta ummat islam di kawasan monas, jakarta pada 12 Desember 2016, seakan membangunkan masyarakat Indonesia bahwa energi perlawanan dan persatuan belumlah habis. Akan tetapi merupakan sebuah potensi ancaman besar terhadap hegemoni neokolonialisme di tanah air beserta antek-anteknya dari kalangan kafirin dan munafiqin. Aksi ini menohok orang-orang yang selama ini meragukan apakah ummat Islam dapat disatukan. Dan tidak lama lagi persatuan ummat ini akan mewujud kepada kesadaran politik dan opini umum penegakan Syariah dan Khilafah Islamiyyah. Insya Allah.

Sebaliknya, aksi tandingan yang diadakan oleh kalangan pendukung Ahok yang dinamakan Parade Kita Indonesia (PKI) pada 4 Desember 2016, banyak menuai kecaman. Ini karena penyelenggaraan parade itu terindikasi banyak terjadi pelanggaran aturan. Misalnya PKI ini diadakan pada hari yang sama dengan jadwal Car Free Day (CFD). Mungkin maksudnya untuk membajak massa CFD sehingga seolah-olah terlihat sebagai peserta PKI. Padahal dalam aturan yang justeru ditanda tangani oleh Ahok (sebagai Gubernur DKI) sendiri itu, tidak dibenarkan menyelenggarakan kegiatan lain di dalam CFD. Selain itu, PKI juga disoroti oleh berbagai pihak, mulai dari sekedar netizen di dunia maya hingga Plt. Gubernur Jakarta yang mempersoalkan PKI. Acara PKI yang diselenggarakan oleh pendukung Ahok dan Jokowi ini diadakan oleh parpol pendukung Ahok-Jokowi seperti Golkar dan Nasdem serta PPP Dzan Farid. Ini pelanggaran kedua. PKI juga terindikasi sarat akan massa bayaran, mengakibatkan rusaknya taman kota, peserta yang kencing sembarangan hingga pencatutan bendera HMI dalam parade itu.

Parade PKI hanya dihadiri oleh puluhan ribu peserta. Meskipun dibantah oleh panitia, namun tak diragukan lagi bahwa parade ini dimaksudkan untuk menandingi Aksi 212.

Memang kebetulan pada artikel “7 Orang Gila Paling Top di Dompu Sepanjang Sejarah” yang MaDA post-kan sebelumnya mada menampilkan seorang tokoh bernama Uma Tole. Seorang bangsawan yang mengalami gangguan kejiwaan. Untuk menggambarakan Uma Tole, MaDA menggunakan ilustrasi tokoh silat dalam Novel Karangan Bastian Tito. Wiro Sableng yang juga dikenal dengan pendekar kapak naga geni 212. Selain itu MaDA juga menampilkan tokoh La Jeho yang merupakan icon kelompok pro status quo yang membela Ahok dan orang-orang besar di belakangnya secara membabi buta. Hati nurani kita pasti berkata, La Jeho pastilah memang orang gila, karena hanya orang gila yang membela Ahok yang kafir, bermulut busuk, dan telah menghina Al-Quran, para ulama’ serta ummat Islam.

Uma Tole 212 adalah icon perlawanan ummat yang berani menunjukan persatuan mereka menghadapi musuh Islam. Sebaliknya La Jeho 412 hanyalah icon kumpulan orang sombong yang menolak dakwah hanya dengan alasan kebhinekaan dan pluralisme. Mereka menganggap Syariah Islam adalah ancaman bagi persatuan dan kesatuan, mereka menganggap Syariah Islam hanyalah ilusi kaum fanatik, dan sejumlah tuduhan busuk lainnya.

Padahal La Jeho dan orang-orang semacamnya hanyalah antek-antek penjajah yang diberikan sedikit bagian dunia oleh para penjajah itu. Pikiran mereka telah dicekoki dengan paham sekularisme, liberalisme dan pluralisme khas barat. Kelak mereka hanya akan mendapatkan kekalahan dan kehinaan dunia akhirat. Itulah janji Allah bagi kaum munafik yang memihak kaum kafir dan memusuhi kaum mukmin.

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih (138)

(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka Sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah (139)

dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), Maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. karena Sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam (140)

(TQS. An Nisa 138-140)

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (TQS. An Nisa: 145)

[Uma Seo]

Dipublikasi di Opini | Tag , , | Meninggalkan komentar

Bukti-bukti Keadilan Khilafah Terhadap Ahli Dzimmah (Non Muslim)


acara-kenegaraan-turki-utsmani-di-depan-istana-topkapi

Ilustrasi suasana acara kenegaraan Khilafah Turki Utsmani di depan Istana Topkapi

Kambali Dompu Mantoi – Islam adalah agama yang memuliakan manusia, termasuk orang yang dalam perlindungan atau ahli dzimmah. Sejarah mencatat orang-orang kafir yang hidup di dalam sistem Islam merasakan perlakuan yang tak terlupakan.

Bahkan, hingga kini, perlakuan khilafah itu masih dikenang oleh penduduk Shaqliyah di Italia, dan wilayah-wilayah lain, di mana jejak kaum Muslim di sana sudah tidak tampak lagi.

Ahli dzimmah merasakan keadilan yang luar biasa hingga mereka lebih memilih Negara Islam, dan hidup bersama kaum Muslim, ketimbang mereka harus hidup di Barat, atau bekerja sama dengan mereka. Dalam Perang Salib, kaum Kristen Timur melakukan eksodus bersama kaum Muslim, dan mereka berperang bersama kaum Muslim melawan tentara Salib. Meski tentara Salib berusaha terus-menerus memengaruhi dan membujuk mereka agar melawan kaum Muslim.

Begitu juga orang-orang Yahudi Spanyol, lebih memilih hidup bersama kaum Muslim. Bahkan, ketika kaum Muslim kalah di Spanyol, dan lari dari sana, mereka pun ikut dengan kaum Muslim. Mereka ikut melarikan diri ke mana pun kaum Muslim pergi. Sebagaimana yang diakui kaum Yahudi Dunamah di Turki, mereka merasakan kehidupan yang adil di bawah naungan pemerintahan kaum Muslim.

Suatu hari, pedagang Yahudi mengadukan amirnya, Muhammad bin Abdurrahman kepada Qadhi Sulaiman bin Aswad, karena telah mengambil budak darinya, tanpa membayar harga yang seharusnya dia bayar, atau mengembalikannya. Qadhi pun mengancam sang Amir untuk pergi ke Cordoba, guna menyampaikan kepada orang tuanya, Amir ‘Abdurrahman al-Ausath 822-852 M, jika tetap tidak mau memberikan hak orang Yahudi tersebut. Sang Amir pun akhirnya memenuhi tuntutan Qadhi dan membayar harga budak tersebut.

Ketika orang Yahudi tidak takut menyampaikan kezaliman sang Amir ke mahkamah, padahal yang dihadapinya adalah Walinya sendiri, dan putra penguasa Andalusia, tak lain adalah bukti bahwa orang Yahudi tersebut jelas telah diperlakukan dengan baik dan adil.

Seorang sejarawan Latin, menuturkan propaganda yang telah dilakukan oleh kaum Muslim tahun 861 M ketika hendak menaklukkan Kota Barcelona. Sejarahwan tersebut menyatakan, bahwa orang-orang Yahudi telah membantu kaum Muslim memasuki kota tersebut. Ini membuktikan, bahwa orang-orang Yahudi yang hidup di bawah pemerintahan Kristen di wilayah utara Spanyol lebih memilih pemerintah kaum Muslim, ketimbang kaum Kristen.

Sebagian penulis Kristen telah menulis keunggulan Negara Islam, dan bagaimana kaum Kristen hidup di sana dengan adil, terhormat dan belum pernah ada yang bisa menyamainya. Seorang sejarahwan Inggris, Sir Thomas Arnold, dalam bukunya, ad-Da’wah ila al-Islam, telah menuturkan, “Kaum Muslim sebagai pemenang telah memperlakukan bangsa Arab Kristen dengan toleransi yang luar biasa sejak abad pertama hijriyah. Toleransi ini terus berlanjut pada abad-abad selanjutnya. Kita bisa menyimpulkan, bahwa kabilah-kabilah Kristen yang telah memeluk Islam telah memeluknya dengan suka rela, bukan karena paksaan. Bangsa Arab Kristen yang hidup di zaman kita, di tengah-tengah komunitas kaum Muslim adalah saksi atas toleransi ini.”

Seorang Orientalis Jerman menyatakan, “Bangsa Arab tidak pernah memaksa bangsa-bangsa yang dikalahkan untuk masuk Islam. Kaum Kristen, Zaratusta dan Yahudi, yang sebelum Islam mereka menghadapi Islam dengan sikap fanatisme agama yang luar biasa buruknya, ternyata mereka tetap ditolelir. Tidak ada sedikit pun halangan yang menghalangi mereka mempraktikan syiar agama mereka. Kaum Muslim membiarkan rumah-rumah ibadah mereka, asrama-asrama mereka, pendeta dan rahib mereka tanpa disebut dengan sebutan-sebutan yang hina. Bukankah ini bentuk toleransi yang luar biasa?” Di mana ada sejarah yang bisa menuturkan tindakan dan perlakukan seperti ini? Dan kapan? [kecuali Khilafah].”

Itulah gambaran yang luar biasa dalam Islam, betapa Islam adalah agama yang sangat toleran dan bisa mengayomi siapa saja. [] HAR

Sumber: https://hizbut-tahrir.or.id/2016/11/22/bukti-bukti-keadilan-khilafah-terhadap-ahli-dzimmah/

Dipublikasi di Sejarah Islam | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Kejahatan Kesejarahan Terhadap Umat Islam


pahlawan-islam-indonesia

Kambali Dompu Mantoi – Mayoritas pahlawan di negeri ini adalah Muslim. Namun, kepahlawanan mereka, termasuk pengungkapan sejarah mereka, lebih sering disifati dengan sifat nasional, bukan dengan spirit Islam. Ini tentu merupakan ”kejahatan” terhadap sejarah, yang berujung pada pengaburan peran Islam dalam sejarah bangsa dan negara ini.

Setidaknya ada tiga ”kejahatan” terhadap sejarah itu. Pertama: Penguburan sejarah. Penggalan sejarah tidak diungkap atau jarang dimasukkan dalam kajian dan pembelajaran sejarah. Salah satu contohnya Resolusi Jihad 22 Oktober 1945. Penetapan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan adalah untuk mengenang peristiwa heroik yang terjadi di Surabaya pada tanggal 10 November 1945. Peristiwa heroik itu tak lepas dari adanya Resolusi Jihad yang ditandatangani oleh Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945.

Pada 21 Oktober 1945, para konsul NU se-Jawa dan Madura berkumpul di Kantor ANO (Ansor Nahdlatul Oelama) di Jl. Bubutan VI/2 Surabaya. Setelah rapat maraton, pada 22 Oktober dideklarasikan seruan jihad fi sabilillah yang dikenal sebagai Resolusi Jihad. Salah satu poin Resolusi Jihad itu menyerukan bahwa perang melawan penjajah adalah fardhu ’ain bagi yang berada dalam jarak 94 km dari tempat masuk dan kedudukan musuh (yakni Surabaya). Adapun bagi yang di luar itu, perang (jihad) adalah fardhu kifayah. Dinyatakan pula bahwa siapa yang gugur dalam jihad itu maka ia menjadi syuhada’.

Resolusi Jihad itu mendorong puluhan ribu Muslim bertempur melawan Belanda dengan gagah berani. Pasukan terdepan yang bertempur kala itu antara lain: Laskar Hizbullah pimpinan KH Zainul Arifin, Laskar Sabilillah pimpinan KH Masykur, Barisan Mujahidin pimpinan KH Wahab Chasbullah; PETA, separuh batalionnya dipimpin oleh para kiai NU, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan lainnya. Resolusi Jihad itulah—yang kemudian dikukuhkan dalam Konggres Umat Islam di Yogyakarta 7-8 November 1945—yang juga menggerakkan perlawanan para kiai, ulama, santri dan umat Islam di wilayah-wilayah lainnya.

Peristiwa heroik 10 November di Surabaya itu selalu disebut-sebut dan diperingati sebagai Hari Pahlawan. Anehnya, Resolusi Jihad serta peran para kiai, ulama, santri, Laskar Hizbullah dan Sabilillah serta umat Islam yang bertempur dengan spirit jihad justru seolah sengaja dikubur atau digelapkan. Dalam buku sejarah, peristiwa penting itu tidak ditulis. Padahal bila sejarah pergerakan kemerdekaan ditulis secara jujur, mestinya akan terbaca sangat jelas peran besar para santri yang tergabung dalam Hizbullah dan para kiai yang tergabung dalam Sabilillah, dalam periode mempertahankan kemerdekaan.

Kejahatan kedua: Pengaburan peristiwa sejarah. Contoh: Siapa sebenarnya inspirator kebangkitan nasional melawan penjajah? Bila sejarah mencatat secara jujur, mestinya bukan Boedi Oetomo, melainkan Syarikat Islam (SI) yang merupakan pengembangan dari Syarikat Dagang Islam (SDI) yang antara lain dipimpin oleh HOS Cokroaminoto. Inilah yang harus disebut sebagai cikal bakal kesadaran nasional melawan penjajah. Sebagai gerakan politik, SI ketika itu benar-benar bersifat nasional, ditandai dengan keberadaannya di lebih dari 18 wilayah di Indonesia, dengan tujuan yang sangat jelas, yakni melawan penjajah Belanda. Sebaliknya, Boedi Oetomo sesungguhnya hanya perkumpulan kecil, sangat elitis, dikalangan priyayi Jawa, serta tidak memiliki spirit perlawanan terhadap Belanda.

Kejahatan ketiga: Pengaburan konteks peristiwa sejarah. Contoh: Kebangkitan Nasional ditetapkan berdasarkan pada kelahiran Boedi Oetomo, bukan Sarekat Islam. Hari Pendidikan Nasional juga bukan didasarkan pada kelahiran Muhammadiyah dengan sekolah pertama yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 1912, tetapi pada kelahiran sekolah Taman Siswa pada tahun 1922. Mengapa demikian? Sebab, bila kelahiran Sarekat Islam dan Muhammadiyah dengan sekolah pertamanya yang dijadikan dasar, maka yang akan mengemuka tentu adalah spirit atau semangat Islam. Dalam setting kepentingan politik penguasa saat itu, hal itu sangat tidak dikehendaki.

Padahal spirit Islam sesungguhnya telah lama menjadi dasar perjuangan kemerdekaan pada masa lalu. Peperangan selama abad ke-19 melawan Belanda tak lain atas dorongan semangat jihad melawan penjajah. Saat Pangeran Diponegoro memanggil sukarelawan, kebanyakan yang tergugah adalah para ulama dan santri dari berbagai pelosok desa. Pemberontakan petani menentang penindasan yang berlangsung terus-menerus sepanjang abad ke-19 selalu di bawah bendera Islam. Perlawanan oleh Tengku Cik Di Tiro, Teuku Umar dan diteruskan oleh Cut Nyak Dien dari tahun 1873-1906 adalah jihad melawan kape-kape Belanda. Begitu juga dengan Perang Padri. Sebutan Padri menggambarkan bahwa perang ini merupakan perang keagamaan.

Jadi, jelas sekali ada usaha sistematis untuk meminggirkan bahkan menghilangkan peran Islam dalam sejarah perjuangan kemerdekaan serta menghilangkan spirit Islam dari wajah sejarah bangsa dan negara ini.

.

Spirit Penegakan Islam Adalah Spirit Para Pahlawan

Spirit penegakan Islam di negeri ini juga sangat kental. Di antaranya tampak dalam pembelaan KH Wahid Hasyim terhadap Islam dan pemerintahan Islam.

Sebagaimana diketahui, Presiden Soekarno dalam kunjungan ke Amuntai Kalimantan Selatan pada Januari 1953 menyatakan, jika negara berdasarkan Islam maka akan terjadi separatisme sejumlah daerah yang mayoritas non-Muslim. Artinya, negara berdasarkan Islam akan menyebabkan perpecahan.

KH Wahid Hasyim yang menjadi ketua NU kala itu menanggapi pernyataan itu dengan keras. Beliau menulis, pernyataan bahwa pemerintahan Islam tidak akan dapat memelihara persatuan bangsa, menurut pandangan hukum Islam, adalah perbuatan mungkar yang tidak dibenarkan oleh syariah Islam. Wajib atas tiap-tiap orang Muslim menyatakan ingkar atau tidak setuju.

Spirit penegakan Islam dalam bernegara juga tampak kental dalam kiprah perjuangan Ki Bagus Hadikusumo. Hal itu tampak dalam pidatonya di depan BPUPKI tahun 1945 yang kemudian dibukukan oleh putra beliau, Djarnawi Hadikusumo, pada 1957 dengan judul, ”Islam Sebagai Dasar Negara: Seruan Sunyi Seorang Ulama”.

Di antaranya Ki Bagus menyatakan, “Bagaimanakah dan dengan pedoman apakah para nabi itu mengajar dan memimpin umatnya dalam menyusun negara dan masyakarat yang baik? Baiklah saya terangkan dengan tegas dan jelas, ialah dengan bersendi ajaran agama.” Ki Bagus kemudian meminta, “…Bangunkanlah negara di atas ajaran Islam.”

Dalam risalah sidang BPUPKI terungkap, Ki Bagus menyatakan, “Dalam negara kita, niscaya tuan-tuan menginginkan berdirinya satu pemerintahan yang adil dan bijaksana, berdasarkan budi pekerti yang luhur, bersendi permusyawaratan dan putusan rapat, serta luas berlebar dada tidak memaksa tentang agama. Kalau benar demikian, dirikanlah pemerintahan itu atas agama Islam karena ajaran Islam mengandung kesampaiannya sifat-sifat itu.” Beliau juga menyatakan, “Supaya negara Indonesia merdeka itu dapat berdiri tegak dan teguh, kuat dan kokoh, saya mengharapkan akan berdirinya negara Indonesia itu berdasarkan agama Islam.” (Saafroedin Bahar dan Nannie Hudawati (Editor). Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) – Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). 28 Mei 1945 – 22 Agustus 1945. Sekretariat Negara. Jakarta. 1998.)

.

Penutup

Sejarah kiprah dan perjuangan para kiai, ulama, santri dan umat Islam dulu begitu kental dengan spirit perjuangan dan penegakan Islam. Inilah yang mesti diwarisi untuk mewujudkan kembali kehidupan yang lebih baik pada masa sekarang dan mendatang. Dalam hal ini penting bagi kita segera seperti para pejuang Islam dulu, memenuhi dan menjwab seruan Allah. Allah SWT berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian pada suatu perkara yang memberikan kehidupan kepada kalian (TQS al-Anfal [8]: 24).

Untuk memenuhi seruan Allah itu dan sekaligus menyambung kiprah dan perjuangan para kiai, ulama, santri dan umat Islam dulu, maka penerapan dan penegakan syariah Islam secara total dan menyeluruh di bawah pemerintahan Islam harus menjadi agenda utama umat Islam. WalLâh a’lam bi ash-shawâb. [Uma Seo]

Sumber: Disarikan dari Buletin Al Islam edisi 780, 1 Shafar 1437 H – 13 November 2015 M

http://hizbut-tahrir.or.id/2015/11/12/menyingkap-peran-dan-kepahlawanan-umat-islam-dalam-sejarah/

Dipublikasi di Do Little to Reach a Big Goal, Sejarah Nasional | Tag , , | Meninggalkan komentar

7 Orang Gila di Dompu Paling Top Sepanjang Sejarah


ina-ndora

Ina La Ndora (Foto: FB Ina Ndora)

Kambali Dompu Mantoi – Orang Gila, yang dalam bahasa masyarakat Dompu disebut sebagai “Dou Ringu” merupakan fenomena yang ada sepanjang sejarah. Di Dompu sendiri, banyak orang gila yang menjadi terkenal bahkan legendaris. Berikut ini MaDA me-review-nya untuk anda. Jika ada yang salah mohon dimaafkan. Jika ada yang kurang mohon ditambahkan (kolom komentar  terbuka lebar. Cuma modal e-mail). Nomor enam dan tujuh harus diwaspadai, karena masih berkeliaran sampai sekarang di tengah orang-orang waras.

1 Uma Tole

Wiro Sableng adalah tokoh pendekar sakti mandraguna yang berpetualang memberantas kejahatan. Namun sayangnya, dia ini sableng. Dalam terminologi orang Dompu sableng disebut “Soa”, yakni tingkat yang lebih rendah dari gila. Sikap Wiro aneh, nyeleneh, pokoknya suka melakukan hal-hal di luar kewajaran.

Trus apa hubungannya dengan Uma Tole?

Tidak ada. Tapi jika anda mengenal Wiro Sableng maka anda pasti akan mengenal Uma Tole. Bedanya, Uma Tole ini membawa embel-embel gelar sosial “Uma” di depan namanya.  Yang konon katanya gelar ini hanya dimiliki oleh keturunan para Raja Dompu atau para bangsawan.  Uma Tole MaDA perkirakan hidup sezaman dengan Sultan M. Sirajuddin Manuru Kupa.

.

2 Ince Ni

Jika Uma adalah gelar sosial bagi para bangsawan, maka Ince konon katanya pun merupakan sebuah gelar sosial. Menurut para ahlinya, Ince merupakan kata serapan dari bahasa Melayu “Encik” dan dianggap sebagai gelar sosial bagi masyarakat keturunan Melayu di Dompu.

Ince Ni merupakan salah satu orang gila terkenal di Dompu. Mengapa? Karena hidupnya dilalui dengan menelusuri jalan ke jalan. Hanya dengan jalan kaki. Luar biasa! Seorang saksi mata pernah mennyaksikan bahwa Ince Ni merampas kotak amal Masjid At-Taqwa Simpasai. Padahal kotak amal masjid lho. Maklum, dia orang gila.

.

3 Ina Ndora

Ndora adalah nama anak dari wanita tua nan kurus ini. Orang menyebutnya gila. Meski demikian ia masih bisa diajak berkomunikasi meskipun harus disertai banyak senyuman.  Ina Ndora 11 – 12 terkenalnya dengan Ince Ni, hanya saja beliau ini masih hidup sampai sekarang.

Ina Ndora masih berpetualang tak tentu arah. Maklum, dia orang gila.

.

4 La Bandi

Wanita tua ini lebih muda dari Ina Ndora. Kata “bela” adalah kata yang akrab dengan wanita ini. Yang akan langsung dipahami oleh siapapun orang Dompu tentang identitas genealogisnya. Ince Ni, Ina Ndora dan La bandi adalah orang gila paling terkenal dari yang lain. Mereka bertiga ibarat Trio Macan atau semacamnya bagi orang Dompu.

La Bandi  tidak pernah menutup auratnya, apa lagi taat pada seluruh Syariah Islam. Maklumlah orang gila.

.

5 La Gafur

La Gafur ini adalah orang gila muda pendatang baru yang sedang naik daun di Dompu. Hobinya selain “mengukur panjangnya jalan”, juga memberikan nomor buntut kepada siapa yang memintanya. Ya maklum orang gila, tak paham bahwa Syariah Islam mengharamkan judi. Na’uzhubillah, jadi yang gila si Gafur atau orang yang minta nomor togel?

Mohon maaf. Maaf………. sekali. Bagi anda yang pernah melakukannya, ayo dong kembali sehat.

.

6 Ompu La Selo (Ibnu Salul)

Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Ubay bin Salul bin Bahlul, bapak Munafik se-dunia. Hidup di zaman Rasulullah SAW.  Dia ini konon muslim, tapi lebih sering membela non muslim.  Ia juga sering berkumpul dengan kalangan kafir itu. Semacam lembaga dialog antar agama lah katanya. Dia berlemah lembut dengan kafir dan keras dan memusuhi sesama muslim (terutama pengemban dakwah Syariah Islam).

Ompu La Selo sering berkoar-koar tinggal di ibukota Madinah. Menganggap tinggal di Madinah begitu prestisius dan yang tinggal di kampung tidak ada apa-apanya. Sering mengeluarkan pernyataan yang dia anggap hebat mengenai kondisi kekinian, padahal sering tidak nyambung. Banyak orang yang paham setelah berinteraksi dengannya bahwa dia itu sebenarnya jahil (bodoh). Dan banyak yang tidak sadar sebenarnya Ompu La Selo adalah orang gila, karena dia menolak Syariah Islam.

Akhir-akhir ini dia ternyata muncul kembali di facebook, masih dengan wajah yang sama. Dia bikin TS yang membela AHOK mati-matian dan mencela kaum muslim penentang Ahok. Padahal sebenarnya hanya orang gila yang bela Ahok. Ompu La Selo alias Ibnu Salul, maklumin saja. Namanya juga orang gila.

.

7 La Jeho

Nama lengkapnya adalah Abu Jahal bin Hisyam. Jahal artinya kebodohan. Abu Jahal berarti Bapak Kebodohan. Ia digelari demikian oleh Rasulullah SAW karena menjadi motor penentangan terhadap Syariah Islam. Sebab menurut Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib, lawan dari Syariah Islam adalah hukum Jahiliyah. Anti terhadap Syariah Islam berarti pro terhadap hukum Jahiliyah.

Alasan Abu Jahal menolak Islam adalah karena Islam mengancam posisinya sebagai Presiden Makkah. Dia adalah icon kalangan pro status quo dan menentang perubahan karena perubahan itu mengancam eksistensi dia dan kelompoknya. Jangankan berbicara Syariah Islam seperti jihad atau hukum potong tangan, menyebut Syariah Islam saja bibirnya kelu. Itulah La Jeho.

La Jeho selalu berkoar bahwa dia eksis lebih dulu dari yang lain. Dia itulah penduduk asli Makkah, yang lain hanyalah mahluk impor belaka. Maka mahluk impor tidak berhak mengkritik, merecoki, ataupun mengubah sistem kufur yang diterapkan di Makkah.

La Jeho setali tiga uang dengan Ompu La Selo, eksis di facebook. Dia pro AHOK dan meremehkan kaum muslim penentang Ahok. Bahkan dia meremehkan angka 2.000.000 (dua juta) muslim yang melakukan aksi 4 November 2016 membela. Katanya angka segitu belum apa-apa. Jangankan mendukung dari luar, apalagi mengikuti aksi 411, malah mecela. Padahal angka 2 juta ummat demo membela agamanya itu luar biasa, lho. Maklumin aja, namanya juga orang gila.

.

Bagaimana Dengan Kita?

Alhamdulillah. Sebagai orang waras, seharusnya kita paham bangsa ini terbelit problematika sistemik multidimensional. Oleh karena itu bangsa ini butuh solusi dan sebagai muslim, solusi apa lagi yang bisa kita dapatkan selain solusi dari Allah dan Rasul-Nya. Solusi Al-Quran dan As-Sunnah. Tak lain merupakan Syariah Islam. Nah, Syariah Islam mustahil diterapkan tanpa system Khilafah. Sehingga memperjuangkannya adalah kebutuhan dan kewajiban kita. Kambali Dompu Mantoi, Kambalipu Syariah ro Khilafah.

Bagi yang berniat ingin menentang, situ sehat? [Uma Seo]

rpa bima_2


Sumber foto: Facebook

Dipublikasi di Opini | Tag , , , , , , , | 8 Komentar