11 April, Dompu Baru Seperti Apa?


wilayahsemenanjungsanggar

Kambali Dompu Mantoi – Genap sudah 201 tahun meletusnya Gunung Tambora yang terletak di Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Sekaligus menjadikan tahun ini sebagai ulang tahun (resmi) ke 203 Kabupaten Dompu, NTB. Untuk tahun ini, peringatan HUT Kab. Dompu masih diramaikan dengan rangkaian acara Festival Pesona Tambora (FPT).

Pulau Sumbawa sebelum letusan Tambora tidaklah seperti sekarang ini. Curah hujannya lebih tinggi dan ditutupi oleh hutan lebat yang kaya akan sumber daya alam yang melimpah. Schelle dan Tobias mencatat bahwa alam telah melimpahkan berkahnya untuk Pulau Sumbawa meskipun pulau ini berbukit-bukit. Padi, kedelai dan jagung tumbuh subur, hutan menyediakan madu dan kayu pilihan seperti kayu sapan yang kualitasnya nomor dua di seluruh kepulauan nusantara. Kopi, lada, dan kapas tumbuh, meskipun akhirnya bahan pangan menjadi sumber utama penghasilan penduduknya.

Ada banyak sarang walet, termasuk yang berkualitas bagus, dan pulau ini telah sejak dahulu terbukti memiliki kandungan emas, meskipun belum pernah dieksploitasi. Di teluk di Pantai utara Kesultanan Dompo, mengandung mutiara yang ukurannya relatif sangat besar. Meskipun perburuan mutiara tidak pernah diawasi sama sekali. Ada tambang garam di Bima yang memasok seluruh pesisir Bonerate, Manggarai, Selayar dan Bone dengan garam yang dihasilkannya. Terakhir, siapa yang tak pernah mendengar kuda terbaik yang berasal dari pulau ini yang tidak tertandingi kualitasnya oleh yang lain?

Sekitar tahun 1800-an, pemukiman-pemukiman telah dibangun di seluruh bagian pulau. Pemukiman-pemukiman ini umumnya berada di dekat aliran sungai atau hutan jati. Komoditas ekspor penduduk P. Sumbawa sebelum tahun 1815 adalah padi, madu dan sarang lebah, sarang walet, kuda, garam, kapas dan kayu sapan (Haju Kalanggo). Bias dibayangkan, karunia Tuhan yang banyak itu pasti membuat rakyat 6 Kerajaan di P. Sumbawa makmur sentausa, termasuk rakyat Kesultanan Dompu.

Di semenanjung Tambora, berdiri tegak sebuah gunung setinggi 4220 mdpl. Para sejarawan menduga bahwa dahulu gunung ini dikenal dengan nama Gunung Aram. Sebagaimana tercantum dalam sumber aslinya dari sebuah peta kuno yang termuat dalam buku Suma Oriental (1944, hal. 200) karya Tome Pires dan peta hasil reproduksi di dalam buku Begin ende voortgangh van de Oost-Indische Compagnie, 1646, Deel HI. Catatan perjalanan oleh Pieter Willemsz mengandung paragraf sebagai berikut: “reaching the tip of Sombava ….. we approached Mount Aram in the evening” (mencapai ujung P. Sumbawa …. kami tiba di Gunung Aram pada waktu sore hari). Gunung itu belum pernah meletus sebelum tahun 1815. Tanda-tanda awal gunung itu akan segera meletus baru disadari tiga tahun sebelum letusan. Sejak tahun 1812, telah ada awan tebal yang selalu menyelimuti di puncak Tambora. Awan itu makin lama makin besar dan gelap dengan sesekali mengeluarkan suara bergemuruh.

G. Tambora mengalami letusan tepat pada tanggal 10 April 1815. Letusan maha dahsyat yang menghancurkan sebagian besar puncaknya, meninggalkan kawah yang kelak menjadi kaldera terbesar di muka bumi. Erupsi Tambora bermula pada tanggal 5 April 1815. Ditandai dengan dentuman-dentuman keras yang dapat didengar dari berbagai pulau di seluruh Nusantara. Dan pada tanggal 10 April, letusan-letusan itu makin keras. Hampir di seluruh tempat, letusan-letusan tersebut disangka sebagai letusan meriam. Baru beberapa hari kemudian, terjawablah sudah bahwa itu adalah letusan sebuah gunung berapi. Yakni ditandai dengan turunnya hujan abu vulkanik. Meskipun mereka belum tahu gunung apakah yang meletus.

Menuurut kesaksian salah satu penduduk Kerajaan Sanggar yang selamat, letusan G. Tambora menyebabkan badai tornado dan Tsunami yang menyapu semenanjung Tambora. Letusan itu telah melenyapkan dua kerajaan yakni kesultanan Tambora dan Kesultanan Pekat. Juga mengakibatkan hancurnya pusat pemerintahan kerajaan sanggar dan musnahnya sebagian besar penduduknya. Pusat kerajaan sanggar akhirnya berpindah ke lokasi desa kore saat ini.

Akibat letusan tambora, selama lima tahun berikutnya tanah pulau Sumbawa tidak dapat ditanami. Bencana kelaparan terjadi. Setengah dari populasi penduduk pulau Sumbawa musnah. Para ahli memperkirakan total korban letusan gunung tambora adalah 91.000 jiwa. Hal ini dapat menjelaskan kenapa di NTB, jumlah (populasi) penduduk pulau Lombok lebih banyak, sedangkan jumlah (populasi) penduduk pulau Sumbawa lebih sedikit.

Letusan gunung tambora juga membawa dampak yang sangat besar bagi roda pemerintahan Kesultanan Dompo. Menurut Prof. Dr. Helyus Syamsuddin, Ph.D, dengan mengutip Raffless, pada saat itu pusat pemerintahan yang terletak di situs Doro Bata, Kandai Satu sekarang, tertimbun oleh abu vulkanik yang sangat tebal sehingga tak dapat lagi ditempati. Pemerintah kesultanan kemudian memindahkan pusat pemerintahan ke lokasi baru, yakni lokasi kampo rato, Kelurahan Karijawa, sekarang ini. Selain itu, luas wilayah Kesultanan Dompo sendiri mengalami penambahan.

MaDA sendiri memiliki dugaan yang berbeda. Mungkin saja penyebab dipindahkannya istana Kesultanan Dompu bukan semata akibat Abu Vulkanik yang menutupi ibukota. Namun juga akibat gempa vulkanik serta badai tornado yang merobohkan bangunan-bangunan di ibukota.

Belanda menjadikan wilayah Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat sebagai wilayah Kerajaan Dompo sejak kerajaan itu musnah ditelan amukan Tambora.

Bagi Dompu sendiri, letusan maha dahsyat gunung tambora telah mengubur banyak sekali cerita negeri ini. Kita bisa memahami kalimat ini jika kita tahu bahwa begitu sedikitnya sumber informasi sejarah tentang masa lalu Dompu. Begitu banyak hal yang telah terkubur di bawah tanah Dompu tempat kita berpijak. Lebih dari pada itu letusan tambora telah memusnahkan sebagian besar populasi penduduk asli Kesultanan Dompo. Yang kemudian membuat banyak etnis akhirnya datang dan mendiami Dompu yang baru. (Uma Seo)

 

Iklan
Dipublikasi di Sejarah Dompu | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Hari Ulang Tahun Bencana


kerangka manusia Tambora

Kerangka penduduk lereng Tambora ditemukan tahun 2009 (mencarirahasia.blogspot.com)

Kambali Dompu Mantoi – Anda masih menyangka bahwa Tambora benar-benar meletus tanggal 11 April 1815? Sepertinya anda kurang piknik (:D Maaf, just kidding). Anda harus tahu bahwa G. Tambora mengalami beberapa kali letusan di bulan April 1815. Letusan pamungkasnya yang menelan puluhan ribu korban jiwa terjadi tepat pada tanggal 10 April 1815. Tepat di hari ini, 203 tahun yang lalu. Letusan maha dahsyat yang menghancurkan sebagian besar puncaknya, meninggalkan kawah yang kelak menjadi kaldera terbesar di muka bumi.

Sejak tahun 1812, telah ada awan tebal yang selalu menyelimuti di puncak Tambora. Awan itu makin lama makin besar dan gelap dengan sesekali mengeluarkan suara bergemuruh. John Crawfurd, yang pada tahun itu mengikuti sebuah pelayaran menuju Makasar, telah menuliskan hal ini dalam bukunya Descriptive Dictionary of the Indian Islands.

Erupsi Tambora bermula pada tanggal 5 April 1815. Ditandai dengan dentuman-dentuman keras yang dapat didengar dari berbagai pulau di seluruh Nusantara. Dan pada tanggal 10 April, letusan-letusan itu makin keras.

Menurut catatan petugas Pemerintah Kolonial Inggris Letnan Owen Philip, puncak dari horor itu terjadi sekitar jam 7 malam. G. Tambora memuntahlan lava pijar ke udara. Lelehan lava pun terpencar ke berbagai arah. Satu jam kemudian, langit telah gelap akibat tertutup oleh debu vulkanik dan material yang jatuh dari muntahan kaldera. Suhu yang berubah secara drastis akibat letusan itu akhirnya menimbulkan badai tornado yang menyapu daerah sekitar lereng Tambora bahkan hingga radius sejauh Sanggar (Kore saat ini). Badai itu bahkan menerbangkan penduduk beserta rumah dan ternak bahkan pohon-pohon besar. Gempa vulkanik yang dihasilkanpun akhirnya menimbulkan tsunami.

Akibat letusan tambora, selama lima tahun berikutnya tanah pulau Sumbawa tidak dapat ditanami. Bencana kelaparan terjadi. Setengah dari populasi penduduk pulau Sumbawa musnah. Para ahli memperkirakan total korban letusan gunung tambora adalah 91.000 jiwa, baik akibat dampak langsung maupun akibat bencana kelaparan yang ditimbulkan. Penduduk P. Sumbawa yang selamat, akhirnya menuju pulau-pulau lain untuk menyelamatkan diri dari bencana kelaparan. Lombok dan Bali adalah tujuan utama. Bahkan ada yang diketahui menjual dirinya sendiri sebagai budak di Maluku.

Sampai di sini, bisa kita bayangkan seperti apa suasana saat bencana itu. Mayat manusia dan bangkai hewan bergelimpangan di mana-mana, perkampungan dan ibukota kerajaan luluh lantak, seluruh lahan pertanian tercemar oleh abu vulkanik yang beracun. Saat itu mungkin dunia serasa sedang kiamat. Semua orang saat itu menjadi lebih individualis dan pragmatis. Jangankan orang lain, dirinya sendiri pun akan dijual untuk dapat sepiring makan. Bahkan mereka menggali kuburan nenek moyang untuk mengambil barang berharga agar bisa ditukar dengan seikat padi. Bisa jadi saat itu rasa lapar membuat manusia lebih rendah dari hewan.

Lihatlah, hari ini, 10 April 2018, mari kita peringati Hari Ulang Tahun Bencana 203 tahun yang lalu. Bukan dengan berfoya-foya dan bergembira ria. Namun dengan mengheningkan cipta, berintrospeksi. Mari kita rasakan bagaimana sukarnya nenek moyang kita dahulu bertahan hidup [Uma Seo].

Dipublikasi di Romantisme | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Sepucuk Surat Cinta untuk Ibu Sukmawati (Dari Netizen Dompu)


Fatun biasri_rimpu mpida_dompu_Sumbawa Island_west nusatenggara

Oleh: Fatun Biasri

Untukmu Ibu Sukmawati,
Perkenalkan Bu, aku adalah generasi muda Warga Negara Indonesia yang mencintai dengan sangat budayanya. Sama seperti ibu. Saya lahir di Bagian Timur Indonesia. Dompu namanya.
Bagaimana kabar ibu hari ini? Semoga Allah selalu melindungi setiap langkahmu Bu, semoga ibu senantiasa sehat selalu.

.
Ibu Sukmawati,
Aku tahu, ibu adalah wanita yang begitu sangat mencintai Indonesia, ibu sudah membuktikannya dengan sangat lembut menyatakan bahwa Konde sangatlah indah, aku pun setuju denganmu. Tentu saja. Konde yang ibu maksud adalah dari daerah Pulau Jawa. Alhamdulillah, aku pun sama seperti ibu, mengetahui nya. Tapi apakah ibu tau?
.
Wahai ibu Sukmawati, Ibu Indonesia Pertiwi..
Tentu saja ibu lebih tahu bahwa banyak budaya di Indonesia, ini bukan pasal membuat Umat Muslim se-Indonesia ini tersinggung, tapi aku rasa ibu pun tau Bahwa Cadar pun termasuk budaya dari Nusantara, Mungkin saja ibu lupa? Baiklah.. Aku akan membuatmu mengingatnya.
.
Ibu Sukmawati yang baik hati,
Di Bagian Timur Indonesia, letaknya di Nusa Tenggara Barat, ada 2 (dua) Kabupaten namanya Bima dan Dompu, mereka memiliki budaya cadar dari leluhur, Rimpu namanya Bu. Rimpu itu adalah pakaian Gadis di daerah sana menggunakan kain tenun, kainnya cantik dan indah. Sama seperti yang ibu gunakan. Namun, Mungkin ibu pernah melihat seseorang wanita berpakaian dililit lilit menggunakan sarung seperti cadar? Jika ibu belum Pernah melihat nya, Mari, dengan senang hati ku tunjukkan padamu sembari kita jalan-jalan tengok indahnya Bima-Dompu.

Ibu Sukmawati,
Apakah ibu ingin coba pula menggunakannya? Aku bersedia mengajarkanmu caranya, agas ibu tahu rasanya menggunakan Rimpu? Ini sangat Nyaman Bu. Dan ibu akan sangat cantik menggunakan nya.
Itulah kira-kira Cadar yang bukan hanya Budaya Arab. Yang aku tahu Indonesia pun memiliki Budaya seperti itu.
.
Ibu Indonesia,
Jika suara kidung lebih indah dari suara Adzan, mungkin ibu keliru. Tapi ibu memiliki hak untuk itu. Bukankah kita hidup di negeri yang sangat menjunjung Hak Asasi Manusia? Dan ibu berhak sangat bebas menggunakan Hak mu untuk berpendapat.
Bu, ingin sekali aku duduk santai denganmu menikmati indahnya matahari sore terbenam sambil bercerita tentang Suara Adzan dan Cantiknya Budaya Rimpu di Indonesia bagian sebelah Timur. Apakah ibu lupa? Suara Adzan baik itu merdu atau tidak, itu adalah panggilan Tuhan untuk mengingat kan kita. Bahwa hidup itu tidak semenarik yang kita lihat, bahwa hidup di Dunia ini hanya sementara, kita semua akan mati. Dan kembali kepada Tuhan.
.
Ibu Indonesia,
Sebagai generasi muda, sebagai penerus bangsa dan pecandu budaya semoga ibu bisa mengingat kembali, bahwa budaya di Indonesia sangat banyak. Perihal suara kidung lebih baik dari suara Adzan, cepatlah ambil air wudhu, mari kita shalat dan sama-sama memohon ampun, agar Rahmat dan Karunia Tuhan selalu bersama rakyat Indonesia.
.
Ibu Sukmawati yang kami Cintai,
Itu saja yang ingin aku ingatkan kepadamu, mungkin dengan ini ibu bisa mengingat kembali. Satu lagi yang ingin ku ingatkan, datanglah nanti pada tanggal 15 bulan Juli tahun ini di Monas, ibu akan Lihat banyak wanita bercadar Rimpu sebagai pelestarian budaya dari Leluhur kami Bima – Dompu.
.
Indonesia, 4 April 2018

Tertanda,
Sampela (Gadis) Rimpu Bima – Dompu

Dipublikasi di Artikel Tamu | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Selamat Datang Kembali La Bata Na’e


9f9ff2e43dab68bab9fb82b15d2b8086--fantasy-male-fantasy-warrior

Kambali Dompu Mantoi – Dewa Mawa’a Taho adalah tokoh yang sangat berjasa bagi masyarakat Dompu. Sebab atas jasa beliau Islam dapat tersebar dengan mulus di Tanah Kerajaan Dompu. Ketika datang Syaikh Nurdin menyebarkan Islam, beliau dengan besar hati menerima agama tauhid itu dengan terbuka. Bahkan mendukung dakwah penyebaran Islam yang dilakukan oleh ulama’ asal Timur  Tengah itu.

Penerimaan Islam oleh Dewa Mawa’a Taho itu menjadi simbol penerimaan seruan dakwah di kalangan keluarganya dan sukunya. Sekaligus menjadi simbol dimulainya perjuangan penyebaran sebuah paham baru yang belum pernah didengar oleh orang-orang dari kalangannya. Islam adalah ajaran agama yang asing, bahkan bertentangan dengan tradisi-tradisi nenek moyang Dou Dompu. Namun keikhlasan hati dan ketulusan niat akan menjadi perantara masuknya cahaya Islam ke dalam hati seseorang. Sedangkan kesombongan hanya akan melahirkan penolakan dan penentangan terhadap dakwah. Persis seperti yang dilakukan oleh Abu Jahal alias La Jeho dan para pengikutnya hingga yaumul qiyamah.

Dewa Mawa’a Taho telah merintis sebuah langkah perjuangan, karena sejarah mencatat bahwa tidak semua orang di Kerajaan Dompu lantas mau mengikuti ajaran Islam. Ada sebagian kecil di antara mereka yang menyingkir jauh ke kaki gunung di bagian barat Kerajaan. Namun ia telah menyerahkan estafet dakwah itu kepada orang yang dipilih oleh Allah untuk lahir dari rahim istrinya, ia bernama La Bata Na’e. La Bata Na’e lah yang kemudian melanjutkan penerimaan terhadap dakwah itu. La Bata Na’e lah yang mewarisi kekuasaannya yang terbentang dari teluk Bima hingga teluk saleh di barat sana. La Bata Na’e lah yang melanjutkan usaha sang ayah dengan menjadikan Dompu sebagai Kesultanan Pertama di Pulau Sumbawa yang kemudian menerapkan seluruh Syariah Islam. Lalu ia dan ayahnya akan tetap dikenang di hati orang-orang jujur yang mengakui jasa-jasa mereka berdua.

Memang kedua tokoh itu tidak akan pernah bisa lagi bangkit dari kematiannya, namun kita akan selalu diberikan kesempatan untuk melahirkan mereka kembali. Bukankah kita selalu punya pilihan untuk menjadi yang pertama menerima dakwah? Bukankah kita punya kesempatan menjadi Mawa’a Taho? Bukankah Mawa’a Taho akan Selalu melahirkan La Bata Na’e? Dan bukankah Sejarah akan selalu berulang? [Uma Seo]

#SelamatDatangKembaliLaBataNae

#DzulQaisarain

Dipublikasi di Romantisme | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Begini Katro’nya Dou Dompu Ketika Pertama Kali Melihat Pesawat


pesawat tahun 1918

Ilustrasi pesawat mendarat darurat tahun 1918

Kambali Dompu Mantoi – “Kapaaaaaaaaaaaaaaa………… Mbeija piti sakaru……………” “Kapaaaaaaaaaaaaaaa…………….. ‘ba’buja piti sakaru………….”[1]

 Anda familier dengan kalimat di atas? Jika iya, MaDa ingin mengucapkan selamat. Karena MaDA yakin bahwa masa kecil anda bahagia. Tidak akan pernah terulang. Hehee. Tapi tulisan ini tidak dimkasudkan untuk membahas masa kecil anda yang bahagia itu. Namun tulisan ini akan mengulas sepenggal kisah seorang anak manusia dan burung besi yang terbang membelah langit yang oleh orang Dompu disebut: KAPA.

******

Kita mungkin mengenal Wright bersaudara sebagai penemu pesawat terbang modern di tahun 1904, meskipun pada tahun 875 M ilmuwan muslim Abbas Ibnu Firnas (di barat dikenal sebagai Armen Firman) asal Ronda[2] –  Spanyol telah ter lebih dahulu melakukan percobaan terbang dengan pesawat rancangannya sendiri. Pada awalnya pesawat hanya digunakan untuk kebutuhan komunikasi dan spionase tanpa dilengkapi dengan senjata sama sekali. Namun karena seringnya para pilot berpapasan di udara sehingga terjadi kontak senjata dengan senapan atau pistol maka munculah ide untuk melengkapi pesawat terbang dengan senjata. Meskipun demikian, penggunaan pesawat tempur dalam perang Dunia I (1914-1918) masih terbatas. Penggunaan pesawat tempur secara massif baru terjadi dalam perang dunia II (1939-1945).

Dalam perang dunia pertama yang memperhadapkan Pasukan Sekutu (Inggris, Perancis, Italia, Rusia, Yunani, Rumania, dll) melawan Kekaisaran Jerman, Kekaisaran Austria-Hongaria, Bulgaria, dan Khilafah Turki Utsmani,[3] penggunaan pesawat untuk pertempuran masih terbatas. Inggris sebagai negara adidaya yang kala itu memiliki banyak koloni, memanfaatkan pesawat terbang untuk kebutuhan spionase dan komunikasi dengan negara-negara koloninya tersebut. Salah satu koloni terbesar inggris adalah Australia. Sehingga sangat wajar jika pilot-pilot asal Inggris atau Australia seringkali melintasi wilayah udara indonesia untuk keperluan membawa pesan rahasia. Baik itu menyampaikan informasi kondisi terkini front pertempuran Perang Dunia I maupun untuk meminta bantuan. Tercatat Austrlia mengirimkan 60.000 tentaranya ke Eropa dan timur tengah (wilayah milik Khilafah Turki Ottoman) untuk membantu Inggris.

Inggris sangat berambisi memenangkan PD I bukan hanya untuk menghancurkan Jerman sebagai pesaingnya menjadi adidaya dunia, namun Inggris juga memiliki agenda lain, yakni menghancurkan benteng terakhir persatuan umat Islam, Khilafah. Inggris sangat tergiur untukl menikmati lezatnya tanah jajahan baru dari Maroko hingga India, dan Khilafah Turki adalah penghalangnya.[4] Selain itu, Inggris juga membonceng misi Zionis Yahudi untuk mendirikan Negara Israel di tanah Palestina. Maka tak mengherankan jika pada tahun 1917, Perdana Menteri Inggris James Balfour mendeklarasikan janji untuk membantu Yahudi mendirikan sebuah negara bagi mereka di Palestina. Janji ini dikenal dengan nama Deklarasi Balfour atau perjanjian Balfour. Dan tahun 2017 lalu, Inggris baru saja merayakan seratus tahun umur perjanjian Balfour di tengah isu pengakuan AS terhadap Jerusalem sebagai Ibu kota Israel.

Di tengah suasana yang demikianlah kisah ini kita mulai. Hanya saja, jika di barat sana peperangan sengit tengah berlangsung. Di sini, di timur, di bagian tengah Pulau Sumbawa Belanda telah terlebih dahulu menjajah Kesultanan Dompu. Hari itu, di kampung Bada, Kesultanan Dompu, seorang lelaki sedang menyambut kelahiran anak keduanya. Di rumah mertuanya itu sinar kebahagiaan terpancar karena lahirnya bayi laki-laki nan sehat seperti yang diharapkan. Seluruh keluarga besar bersuka cita, termasuk keluarga besar sang ayah di Kampung Potu. Namun di hari yang sama, tampak pemandangan aneh di langit. Sebuah pertunjukan yang belum pernah dilihat oleh masyarakat Dompu. Mungkin seumur hidup mereka, itulah pertama kali mereka menyaksikannya. Sebuah benda aneh terbang ke arah timur dengan suara menderu. Laksana burung tapi tak nampak seperti burung.

Semua orang terpaku menatap benda aneh itu terus menjauh ke arah timur.  Sebagian di antara mereka mulai bertanya-tanya, mahluk apakah tadi itu?

Wele (Layang-layang), kata sebagian orang.

Mara (layang-layang besar berbentuk burung), begitu menurut yang lainnya. Mentang-mentang mara dapat mengeluarkan suara menderu. Tapi derunya berbeda.

Wele Mpanga Janga (Burung Alap-alap), anggap sebagian lagi. Tapi mengapa suaranya menderu?

Mbangga Mbaru (Burung Elang), pendapat lain mengatakan demikian. Maklum seumur hidup Cuma lihat benda-benda itu di langit. Tak kurang tak lebih.

Tapi mengapa suaranya menderu demikian kerasnya?

Pertanyaan ini terus menggelayut di dalam pikiran masyarakat Dompu, termasuk sang ayah yang baru dikaruniai anak kedua tadi beserta keluarga besar di Potu dan Bada. Namun karena tak kunjung menemukan jawaban pasti, mungkin mereka menyimpan tanya itu hanya dalam hati. Lagi pula mereka sekarang harus mengadakan ritual aqiqah sang jabang bayi. Ritual itupun dilaksanakan sesuai ajaran Syariah Islam dan tradisi leluhur. Bayi itupun mereka beri nama. Muhammad Amin, nama Rasul terakhir umat ini, itulah nama yang mereka pilih. Mungkin harapannya agar sang bayi kelak dapat menjadi manusia yang meneladani Rasullullah Shallallahu “alaihi wa salam. Namun tak lama seseorang datang membawa kabar.

Au raeda ndai aipu edena re, kapa ngarana.” Benda yang kita saksikan waktu itu, kapal namanya. Demikian katanya. Mereka menyebut pesawat terbang waktu itu sebagai kapa (Kapal terbang).

Karena kebiasaan masyarakat Dompu memberikan nama julukan kepada seseorang dengan nama tokoh, kejadian, atau peristiwa yang memukau dan mengagumkan di hari kelahirannya, maka jadilah bayi M. Amin diberi nama julukan Kapa. La Kapa. Adik-adik di bawah angkatannya memanggilnya Dae Kepo.[5]

La Kapa tumbuh dengan penuh kasih sayang dari keluarganya. Semua keinginannya dituruti. Semua kebutuhannya disediakan. Sehingga tumbuhlah La Kapa menjadi pemuda manja yang harus dituruti kemauannya. Bahkan ia tak mau sekolah. Keluargaku kaya raya, harta keluarga tak akan habis tujuh turunan, buat apa aku sekolah? Mungkin begitu pikirnya.

Bahkan hal itu berlaku juga dalam asmara, semua keinginanya harus dituruti. Hingga akhirnya ia terpikat pada seorang Khadijah. Pemudi anggun anak ‘Bumi Jara[6] Tolotui bernama Uma Mo’i[7] dari Kampo Rato. Meskipun La Kapa telah memiliki seorang isteri, ia ngotot melamar gadis itu. Padahal gadis itu sedianya akan dijodohkan dengan M. Tajul Arifin,[8] salah seorang cucu Sultan M. Sirajuddin yang terhitung masih kerabatnya. Uma Mo’i tak bisa berbuat apa-apa, La Kapa lebih berkuasa. Ia hanya berharap yang terbaik bagi anaknya. Dinikahkanlah mereka. Tahun 1940 ia menikahkan anak semata wayangnya itu.

Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, La Kapa tak mampu lagi menyembunyikan rahasianya dari isterinya bahwa ia sudah memiliki isteri sebelumnya. Khadijah marah besar, iapun nekat menceraikan La Kapa. Padahal saat itu ia tengah hamil muda buah cinta kasih mereka berdua. Kali ini, La Kapa yang perkasa tak dapat berbuat apa-apa. Ia harus terima keputusan Khadijah dengan lapang dada. Mereka pun berpisah.

Khadijah akhirnya kembali pada orang tuanya dan pada tahun 1941, bersamaan dengan masuknya Jepang, ia melahirkan anak pertamanya tanpa seorang suami. Anaknya itu laki-laki, kakeknya Uma Mo’i memberikannya nama Ya’kub.[9] Kakeknya yang mengasuh dan membesarkan Ya’kub hingga Ya’kub tamat SG (Sekolah Guru) dan menikahi gadis dari Simpasai. Ya’kub tumbuh tampa mengenal ayahnya ataupun keluarga ayahnya. Seolah ibunya telah menanamkan kebencian dalam diri darah dagingnya itu terhadap ayahnya sendiri dan keluarganya. Sampai-sampai iapun tidak dinasabkan kepada ayah bilogisnya, namun dinasabkan kepada kakeknya (Jama’a yunus, Uma Mo’i). Yang ia tahu hanya cerita-cerita Konon ia memiliki banyak keluarga di Potu yang sama sekali belum dikenalnya. Hanya satu nama yang masih ia ingat, H. M. Kasim M. Saleh, kakak dari ayah kandungnya.

Sedangkan La Kapa sendiri, selepas bercerai dengan Khadijah, ia melanjutkan petualangan cintanya dengan tujuh wanita lainnya. Sehingga jumlah wanita yang pernah menjadi isterinya genap menjadi sembilan. Memang di zamannya, poligami menjadi semacam trend. Di hari tuanya orang memanggil La Kapa dengan nama Uma Kepo. Ketika ia meninggal, keluarganya memakamkannya di Rade Sala.[10] Adapun mantan Istrinya Khadijah, akhirnya dilamar oleh adik kandung Sultan M. Sirajuddin bernama Uma Mejo (H. Abdul Majid Abdullah). Khadijah dan Uma Mejo dikaruniai lima orang anak, tiga di antaranya masih hidup.

Oh, ya. Ngomong-ngomong, baik penulis maupun sumber yang penulis wawancara tidak mengetahui secara pasti kapan kejadian pertama kali orang Dompu melihat pesawat terbang ini. Namun, ada sebuah catatan sejarah yang menyebutkan bahwa pada tahun 1921, seorang pilot Australia pernah mendarat darurat di Rawa Pali ‘Belo, Kesultanan Bima. Saat itu Sultan Bima yakni Sultan M. Salahuddin memerintahkan rakyatnya untuk membuat landasan pacu untuk pesawat milik tentara Australia tersebut. Landasan pacu itu dibuat sepanjang 300 meter dan dibuat dari anyaman bambu. [Uma Seo]

.

Catatan Kaki:

[1] “Kapaaaaaaaaaaaaaaa………… Mbeija piti sakaru……………” (pesawat…… berikan uang sekarung………) “Kapaaaaaaaaaaaaaaa…………….. ‘ba’buja piti sakaru………….” (pesawat…….. jatuhkanlah uang sekarung…….)

[2] Dulu namanya Izn-Rand Onda, Al-Andalus. Dahulu Spanyol dan Portugis termasuk salah satu Provinsi Khilafah Islam (Provinsi Al-Andalus) dengan dihuni oleh 3 agama secara rukun. Namun kaum kristen berhasil menguasainya serta membantai kaum muslim dan Yahudi sehingga tidak ada satupun pemeluk kedua agama itu tersisa di Andalus saat ini.

[3] Sering disebut Kesultanan / Imperium Turki Ottoman

[4] Wajar jika dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim Rasulullah menyebut Khalifah sebagai benteng. Ketika benteng itu sudah tiada, Yahudi dengan mudah menduduki Palestina dengan bantuan Inggris. Tahun 1918, Inggris secara resmi menguasai Turki dan tahun 1924 Sistem Khilafah dihapuskan diganti dengan Sekulerisme dan Demokrasi.

[5] Sesuai kaidah pembentukan kata sapaan dalam masyarakat Dompu.

[6] Bumi Jara (Kepala Pasukan Kavaleri) adalah salah satu jabatan di Kesultanan Dompu. Posisinya di bawah Rato Renda (Menteri Pertahanan).

[7] Nama aslinya Jama’a Yunus.

[8] Sultan terakhir Dompu yang bergelar Mawa’a Sama.

[9] Ya’kub adalah HM. Ya’kub Jama’a atau Guru Eko adalah salah satu narasumber dari tulisan ini, sekarang tinggal di Selaparang, Desa Matua. Beliau adalah kakek dari penulis.

[10] Sebuah Kompleks Pemakaman Kuno di Dompu.

Dipublikasi di Sejarah Dompu | Tag , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Mawa’a Taho, My Real Hero


Cincin bergambar Sultan Sulaiman Al Qanuni

Kambali Dompu Mantoi – Pahlawan adalah seseorang yang telah berjasa untuk kita, menyelamatkan diri kita, menghadirkan kebaikan untuk kita atau menghindarkan keburukan dari kita. Jadi kita tak perlu menyederhanakan pahlawan sebagai seseorang yang telah bersikap heroik menyelamatkan nyawa wanita cantik sambil bergelantungan di jaring laba-laba, atau seseorang yang bagi-bagi sembako hasil curiannya untuk orang miskin, atau sekedar terbang ke sana ke mari sambil memakai cawat merah. Pahlawan tidaklah sesederhana yang dipikirkan oleh para orang bingung, bahwa pahlawan itu haruslah naik kuda sambil menenteng pedang dan memacunya ke arah segerombolan tentara kompeni. Bukan.

Lalu apa nikmat terbesar kita?  Keselamatan terbesar seorang anak manusia? Tentu saja nikmat terbesar kita adalah Iman, keselamatan terbesar kita adalah dijauhkan dari neraka dan berhasil mencapai surga. Iya, itu dia. Maka orang-orang yang berjasa mengislamkan kita, memberi petunjuk pada kita, sehingga kita terhindar dari siksa api neraka dan mendapatkan kesempatan emas untuk mencicipi kenikmatan surga, mereka sesungguhnya the real hero, pahlawan asli. Sayyiduna Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para Ulama’ yang mewarisi ilmu beliau dalam dakwah, para Khalifah pengganti beliau dalam mengobarkan jihad untuk menghancurkan raja-raja yang menghalangi penyebaran Islam, para mujahid yang gugur karenanya, serta para raja (penguasa) yang telah dengan suka rela memeluk agama tauhid ini agar rakyatnya mengikuti, merekalah pahlawan sejati!

Dalam konteks kita Dou Dompu, Mehmed Celebi, Sunan Giri, dan Sunan Prapen serta orang-orang yang bersama mereka adalah orang-orang yang turut menikmati pahala atas jasa tidak langsung mereka dalam pengislaman Dompu. Syaikh Nurdin, Syaikh Abdul Salam bin Nurdin, Syaikh Hasanuddin Warokali merupakan pahlawan utama yang mana atas jasa besar merekalah Islam tersebar di Dompu. Dan kita juga tidak boleh lupa, penerimaan Dewa Mawa’a Taho terhadap Islamlah yang turut mempermulus semua itu. Bisa kita bayangkan bagaimana seandainya Mawa’a Taho adalah seorang Raja Sekelas Fir’aun atau Abu Jahal, atau minimal Sekelas Raja Salisi Mantau Asi Peka, pasti dia akan mengusir Syaikh Nurdin dan memerangi para da’i yang diutus Sunan Prapen. Jika sudah demikian apakah pengislaman Dompu akan berhasil.

Jika pengislaman Dompu gagal, maka tidak akan ada Islam di Dompu. Sebagaimana Sebuah Pulau di timur P. Jawa memilih tetap bersama agama nenek moyangnya akibat dahulu sang raja menolak memeluk Islam. Maka nikmat Islam, sekali lagi, adalah nikmat terbesar kita. Dan orang-orang yang telah disebutkan di atas adalah orang-orang yang telah berjasa menghadirkan Islam ke tanah ini. Lewat tangan merekalah Allah menghadirkan iman ke dalam hati kita.

Namun mereka bukanlah orang yang gila hormat, mereka tidak mengharap untuk disebut pahlawan. Hanya kita ini memang terlalu kurang kerjaan untuk memperjuangkan gelar pahlawan ini dan itu. Padahal masih banyak hal substansial yang lebih perlu didahulukan. Kita ini hanyalah kumpulan orang bingung nan gegabah. Para pahlawan itu mereka tak perlukan balasan dari kita. Cukup kita kenang mereka dalam hati kita dan juga mendoakan kebaikan untuk mereka. Balasan untuk mereka kelak akan sempurna diberikan oleh Sang Maha Kuasa. Apalagi kalau bukan surga? [Uma Seo]

Dipublikasi di Opini | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Banjir, Takdir atau Salah Kelola?


Banjir Dompu 4 Nov 2017 sumber fb.com_andi.hermawan

Banjir di Dompu (Sumber: fb.com/andi.hermawan)

Kambali Dompu Mantoi – Banjir kembali melanda Kabupaten Dompu, NTB. Dikutip dari suarabbc.com (4/11/2017), hujan yang mengguyur hampir semua wilayah di Kabuaten Dompu itu cukup deras disertai angin kencang. Sekitar pukul dua siang, hujan sudah mulai turun diseputar kota, di Kecamatan Dompu dan Kecamatan Woja.

Masih dikutip dari suarabbc.com, belum dapat satu jam, air dari sungai Silo yang melewati Lingkungan Mantro Kelurahan Bada, Kampung Samporo Kelurahan Bali Satu dan Kampung Sigi  Kelurahan Karijawa mulai meluap. Akibatnya ratusan rumah warga terendam banjir. Selain besar, aliran banjir juga cukup deras. Begitu juga banjir yang melanda warga di Kelurahan Kandai Dua, Kecamatan Woja. Luapan air dari sungai Laju tak dapat dielakkan, sehingga menggenangi rumah mereka.

Mungkin sebagian orang menganggap bahwa banjir di Dompu merupakan bencana tahunan yang melanda ketika musim hujan tiba. Banjir ini sesuatu “takdir” yang tak dapat dihindari. Namun tidak sedikit pula yang menuding bahwa banjir diakibatkan oleh salah kelola pemerintah. Mereka menuding bahwa maraknya kegiatan peladangan liar yang dilakukan oleh warga di daerah pegunungan menjadi faktor utama terjadinya banjir, sedangkan pemerintah seolah menutup mata terhadap aktifitas masyarakat itu.

Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh pemilik akun facebook bernama Yan Mangandar Putra dalam diskusi di sebuah Grup Facebook. Menurutnya, Sebab banjir salah satunya karena hutan gundul dari beberapa sebab banjir lainnya seperti yang diajarkan waktu SD dulu… Meski saya belum membaca hasil riset namun kita enggak bisa bohongi, bagaimna secara kasat mata kita lihat bukit/pegunungan di Dompu sudah sebagian besarnya gundul karena semngat mensejahterkan perut yang tidak terkontrol dengan mengabaikan kelestarian alam.. Jika hal sperti ini terus dibiarkan maka dampak kedepannya sangat tidak bagus.

Pemilik Akun Ais Ardin menimpali, pemerintah prov. NTB Khususx dinas kehutanan harus tegas brantas pembalakan liar soalx hutan di Dompu dah habis tolong diperhatikan dengan serius.

Kantapu douma ngguda jago ra kaukaika ampode wau tapa pembalakan liar, tandas pemilik akun Muhammad Fikrullah. (Laranglah warga yang disuruh menanam jagung itu baru kita mampu menghentikan pembalakan liar).

Menurut MaDA, dua macam pendapat di atas tidaklah keliru. Banjir memang kerap melanda Dompu sejak dahulu. Hal ini sebagaimana tercatat dalam sejarah bahwa gelar Sultan Tajul Arifin I adalah Mawaa Mbere. Apalagi topografi Kota Dompu terletak di lembah dan dataran rendah serta merupakan daerah pertemuan sungai-sungai yang cukup besar, sehingga potensi banjir sangat tinggi. Lebih jauh lagi, daerah-daerah yang terkena dampak banjir tiap tahunnya, harus diakui merupakan daerah aliran sungai atau di bantaran sungai. Daerah aliran Sungai Silo di Kelurahan Bali Satu, Bada, dan Karijawa serta daerah aliran Sungai LAju yang melewati Kelurahan Kandai Dua dan Monta Baru kerap dilanda banjir. Termasuk juga daerah aliran Sungai Soa / Sorisakolo di Kelurahan Simpasai.

Di samping itu, kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai masih amat rendah. Padahal banyaknya sampah yang menyumbat aliran sungai menjadi salah satu faktor terjadinya banjir.

Namun di sisi lain, penggundulan hutan secara massif yang dilakukan oleh masyarakat di daerah hutan di hulu sungai akan memperbesar potensi banjir karena daerah resapan air yang berkurang drastis. Maka, selain solusinya dengan melakukan relokasi warga bantaran sungai, pemerintah juga harus berani tegas terhadap praktek penggundulan hutan atas nama ngoho di hulu sungai. kegiatan penghijauan akan sangat lama efeknya karena pohon yang ditanam tidak akan tumbuh besar dalam sehari. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati?

Sebenarnya, pemerintah Dompu tidak tinggal diam untuk menangani dampak masalah banjir. Beberapa tahun lalu sudah dilakukan program relokasi warga yang menempati daerah rawan banjir. Namun program ini tak seluruhnya berhasil sehingga kemungkinan besar warga tersebut kembali ke tempat tinggal yang lama. Misalnya saja warga relokasi dari Kampo Samporo, Bali satu yang direlokasi ke Maulana. BAnyak yang mengeluhkan kesulitan mendapatkan air bersih sehingga mereka tidak betah bermukim di tempat itu. Banyak warga yang akhirnya memilih pindah dan menjual atau mengontrakkan rumahnya di MAulana. Maka ke depan, program relokasi ini harus dievaluasi dan diperbaiki lagi.

Begitu pula dengan program reservasi hutan sebagai daerah resapan air harus diperhatikan. Meskipun kewenangan pengelolaan hutan telah dialihkan kepada Pemprov, namun bukan berarti Pemda harus tinggal diam melihat penghancuran hutan yang massive. Hal ini sebagaimana yang ditulis oleh akun Yan Mangandar Putra. “Baru baru ini pertanggungjawaban terkait pengelolaam hutan ada di Pemerintahan Propinsi, namun tidak haram hukumnya Pemerintah Daerah Kabupaten melahirkan segera kebijakan yang pro terhadap kelestarian hutan, hal ini yg belum maksimal terlihat bahkan terkesan dibiarkan pembalakan liar terus terjadi,” tulisnya. [Uma Seo]

 

 

Dipublikasi di Opini | Meninggalkan komentar