Banjir, Takdir atau Salah Kelola?


Banjir Dompu 4 Nov 2017 sumber fb.com_andi.hermawan

Banjir di Dompu (Sumber: fb.com/andi.hermawan)

Kambali Dompu Mantoi – Banjir kembali melanda Kabupaten Dompu, NTB. Dikutip dari suarabbc.com (4/11/2017), hujan yang mengguyur hampir semua wilayah di Kabuaten Dompu itu cukup deras disertai angin kencang. Sekitar pukul dua siang, hujan sudah mulai turun diseputar kota, di Kecamatan Dompu dan Kecamatan Woja.

Masih dikutip dari suarabbc.com, belum dapat satu jam, air dari sungai Silo yang melewati Lingkungan Mantro Kelurahan Bada, Kampung Samporo Kelurahan Bali Satu dan Kampung Sigi  Kelurahan Karijawa mulai meluap. Akibatnya ratusan rumah warga terendam banjir. Selain besar, aliran banjir juga cukup deras. Begitu juga banjir yang melanda warga di Kelurahan Kandai Dua, Kecamatan Woja. Luapan air dari sungai Laju tak dapat dielakkan, sehingga menggenangi rumah mereka.

Mungkin sebagian orang menganggap bahwa banjir di Dompu merupakan bencana tahunan yang melanda ketika musim hujan tiba. Banjir ini sesuatu “takdir” yang tak dapat dihindari. Namun tidak sedikit pula yang menuding bahwa banjir diakibatkan oleh salah kelola pemerintah. Mereka menuding bahwa maraknya kegiatan peladangan liar yang dilakukan oleh warga di daerah pegunungan menjadi faktor utama terjadinya banjir, sedangkan pemerintah seolah menutup mata terhadap aktifitas masyarakat itu.

Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh pemilik akun facebook bernama Yan Mangandar Putra dalam diskusi di sebuah Grup Facebook. Menurutnya, Sebab banjir salah satunya karena hutan gundul dari beberapa sebab banjir lainnya seperti yang diajarkan waktu SD dulu… Meski saya belum membaca hasil riset namun kita enggak bisa bohongi, bagaimna secara kasat mata kita lihat bukit/pegunungan di Dompu sudah sebagian besarnya gundul karena semngat mensejahterkan perut yang tidak terkontrol dengan mengabaikan kelestarian alam.. Jika hal sperti ini terus dibiarkan maka dampak kedepannya sangat tidak bagus.

Pemilik Akun Ais Ardin menimpali, pemerintah prov. NTB Khususx dinas kehutanan harus tegas brantas pembalakan liar soalx hutan di Dompu dah habis tolong diperhatikan dengan serius.

Kantapu douma ngguda jago ra kaukaika ampode wau tapa pembalakan liar, tandas pemilik akun Muhammad Fikrullah. (Laranglah warga yang disuruh menanam jagung itu baru kita mampu menghentikan pembalakan liar).

Menurut MaDA, dua macam pendapat di atas tidaklah keliru. Banjir memang kerap melanda Dompu sejak dahulu. Hal ini sebagaimana tercatat dalam sejarah bahwa gelar Sultan Tajul Arifin I adalah Mawaa Mbere. Apalagi topografi Kota Dompu terletak di lembah dan dataran rendah serta merupakan daerah pertemuan sungai-sungai yang cukup besar, sehingga potensi banjir sangat tinggi. Lebih jauh lagi, daerah-daerah yang terkena dampak banjir tiap tahunnya, harus diakui merupakan daerah aliran sungai atau di bantaran sungai. Daerah aliran Sungai Silo di Kelurahan Bali Satu, Bada, dan Karijawa serta daerah aliran Sungai LAju yang melewati Kelurahan Kandai Dua dan Monta Baru kerap dilanda banjir. Termasuk juga daerah aliran Sungai Soa / Sorisakolo di Kelurahan Simpasai.

Di samping itu, kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai masih amat rendah. Padahal banyaknya sampah yang menyumbat aliran sungai menjadi salah satu faktor terjadinya banjir.

Namun di sisi lain, penggundulan hutan secara massif yang dilakukan oleh masyarakat di daerah hutan di hulu sungai akan memperbesar potensi banjir karena daerah resapan air yang berkurang drastis. Maka, selain solusinya dengan melakukan relokasi warga bantaran sungai, pemerintah juga harus berani tegas terhadap praktek penggundulan hutan atas nama ngoho di hulu sungai. kegiatan penghijauan akan sangat lama efeknya karena pohon yang ditanam tidak akan tumbuh besar dalam sehari. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati?

Sebenarnya, pemerintah Dompu tidak tinggal diam untuk menangani dampak masalah banjir. Beberapa tahun lalu sudah dilakukan program relokasi warga yang menempati daerah rawan banjir. Namun program ini tak seluruhnya berhasil sehingga kemungkinan besar warga tersebut kembali ke tempat tinggal yang lama. Misalnya saja warga relokasi dari Kampo Samporo, Bali satu yang direlokasi ke Maulana. BAnyak yang mengeluhkan kesulitan mendapatkan air bersih sehingga mereka tidak betah bermukim di tempat itu. Banyak warga yang akhirnya memilih pindah dan menjual atau mengontrakkan rumahnya di MAulana. Maka ke depan, program relokasi ini harus dievaluasi dan diperbaiki lagi.

Begitu pula dengan program reservasi hutan sebagai daerah resapan air harus diperhatikan. Meskipun kewenangan pengelolaan hutan telah dialihkan kepada Pemprov, namun bukan berarti Pemda harus tinggal diam melihat penghancuran hutan yang massive. Hal ini sebagaimana yang ditulis oleh akun Yan Mangandar Putra. “Baru baru ini pertanggungjawaban terkait pengelolaam hutan ada di Pemerintahan Propinsi, namun tidak haram hukumnya Pemerintah Daerah Kabupaten melahirkan segera kebijakan yang pro terhadap kelestarian hutan, hal ini yg belum maksimal terlihat bahkan terkesan dibiarkan pembalakan liar terus terjadi,” tulisnya. [Uma Seo]

 

 

Iklan
Dipublikasi di Opini | Meninggalkan komentar

Suara Dompu Untuk Rohingya


Kambali Dompu Mantoi – Aksi Solidaritas Masyarakat Dompu untuk kaum muslim Rohingya yang diadakan pada hari Rabu (5/9) diikuti oleh ratusan massa aksi dari berbagai kalangan. Mulai dari kelompok yang dianggap radikal hingga yang dianggap paling moderat sekalipun turut meramaikan aksi ini. Allahu Akbar!

1

2

3

 

6

Dipublikasi di Do Little to Reach a Big Goal | Meninggalkan komentar

Idul Fitri Ala Sultan Dompu


Foto Sultan Dompu M Sirajuddin

Sultan Dompu, M. Sirajuddin (sumber: facebook.com)

Kambali Dompu Mantoi – Kesultanan Dompu memiliki tradisi tersendiri ketika menjelang Idul Fitri atau yang dalam kalangan masyarakat Dompu disebut sebagai Aru Raja (baca: hari raya). Khusus untuk Idul fitri, mereka menyebutnya aru raja to’i (hari raya kecil) sedangkan idul adha disebut aru raja na’e (hari raya besar).

Di lingkungan Asi (istana), Sultan Dompu biasanya menyelenggarakan sebuah upacara bernama Lu’u ‘Daha. Upacara Lu’u ‘Daha diadakan untuk memeriahkan atau memperingati Idul Fitri, Idul Adha, dan Maulid Nabi. Secara bahasa Lu’u berarti “masuk” sedangkan ‘daha berarti “senjata” atau “pasukan bersenjata.” Dinamakan upacara Lu’u ‘Daha disebabkan karena dalam prosesi upacara ini pasukan bersenjata kesultanan beserta para pejabat tinggi akan melakukan konvoi atau arak-arakan menuju istana. Pasukan yang disebut sebagai ‘daha ini akan memasuki lingkungan istana menemui sultan untuk menyatakan ketundukan dan kesetiaan mereka terhadap sultan yang berkuasa. Prosesi upacara ini dijelaskan oleh Israil M. Saleh dalam bukunya Seputar Kerajaan Dompu pada halaman 174.

parade kesultanan di dompu 1945

Parade Kesultanan Dompu thn 1945 (Sumber: Flickr)

Upacara Lu’u ‘Daha dimulai di kediaman Rato Renda (Menteri Pertahanan/Panglima Pasukan). Di sana seluruh pasukan berbaris dengan rapi lengkap dengan seragam dan senjata khas masing-masing jenis pasukan dengan dipimpin oleh Rato Renda. Para penari pun juga disiapkan. Setelah semua siap, arak-arakan pasukan pun diberangkatkan dari kediaman Rato Renda menuju Asi. Sepanjang perjalanan arak-arakan tersebut akan diiringi terus oleh Mpa’a Sere, sebuah tarian yang menggambarkan kegagahan dan kelincahan seorang prajurit Dompu yang siap bertarung dengan gagah berani.

Sesampainya di pintu Asi, maka diperagakan Kanca, sebuah tarian yang akan dilakukan oleh pejabat Rato Renda. Setelah Kanca, lalu dilanjutkan dengan Toja, sebuah tarian yang menggambarkan keanggunan dan merupakan semacam cara penyambutan terhadap tamu yang datang ke istana.

Setelah selesainya tarian kanca dan toja, maka seluruh pasukan akan melakukan Mihu ro Makka. Mereka berikrar di hadapan sultan untuk senantiasa setia dan patuh terhadap sultan yang dipersepsikan sebagai Hawo ro Ninu (Pengayom dan pelindung) bagi seluruh rakyat Kesultanan Dompu. Acara kemudian ditutup dengan do’a secara berjamaah yang akan dipimpin oleh Ulama Istana yang memegang jabatan Imam di Masjid Kesultanan (Masjid Syaikh Abdul Ghani Al-Jawi).

Setelah seluruh prosesi upacara Lu’u ’Daha selesai, maka sultan membagi-bagikan sedekah kepada rakyat miskin dan orang-orang yang tidak mampu. Berakhirlah seluruh prosesi upacara Lu’u daha ini. [Uma Seo]

Dipublikasi di Do Little to Reach a Big Goal | Meninggalkan komentar

Siapakah A.A. Sirajuddin, Kakek Massimo Luongo Gelandang Australia Berdarah Dompu?


Massimo Luongo

Massimo Luongo dan Kedua Orang uanya

Kambali Dompu Mantoi – Massimo Corey Luongo adalah salah satu punggawa the socceroos, julukan tim nasional sepakbola Australia. Namanya mulai melejit sejak Piala Asia 2014 ketika ia menunjukan performa apik bersama rekan-rekannya membawa Australia sebagai juara.

Ibu dari Massimo Luongo adalah Ira, wanita asli Indonesia berdarah asli Dompu. Sebuah kota kecil di tengah Pulau Sumbawa. Dompu adalah sebuah daerah bekas Kerajaan yang telah eksis sejak Abad 14. Sempat berada di bawah kekuasaan Majapahit, Dompu mengalami revolusi sejak kedatangan agama Islam. Namun sejak letusan Tambora pada tahun 1815, Kejayaan Dompu musnah tak tersisa. Hampir tidak ada penduduknya yang bertahan hidup kecuali segelintir orang termasuk Sang Sultan.

Kehancuran demografis yang luar biasa ini membawa nama Dompu tenggelam dari percaturan politik Nusantara. Sedangkan di sisi lain, Kerajaan Bima mampu tampil lebih dominan hingga selama 2 Abad Dompu mengalami subordinasi sosio-cultural serta subordinasi historis terhadap Bima. Pada masa-masa ini, semua yang berasal dari Dompu “harus” dianggap Bima. Bahkan para perantau yang berasal dari Dompu pun, terbiasa mengaku sebagai orang Bima. Sebab Bima lebih mudah diidentifikasi oleh penduduk daerah lain ketimbang Dompu. Tidak ada yang kenal apa itu Dompu, sehingga lebih mudah mengakui berasal dari Bima. Pelan tapi pasti hal ini berdampak negatif terhadap Dompu yang kemudian termarjinalkan.

Melihat fakta di atas, tidaklah mengherankan jika Massimo Luongo mengaku masih memiliki darah Bima. Bima yang dimaksud tentu saja Dompu. Dalam berita-berita yang dimuat media di Australia, Massimo Luongo mengaku bahwa ibunya adalah puteri dari A.A. Sirajuddin, seorang Sultan di Bima. Ia mengatakan bahwa kakeknya adalah seorang diplomat yang pernah menjadi dubes RI. Ia juga mengaku memiliki banyak keluarga di Bima.

A.A. Sirajuddin yang dimaksud Luongo adalah Abdul Azis Sirajuddin bin Abdullah Sirajuddin bin M. Sirajuddin. Ia adalah cucu dari Sultan legendaris Dompu, yakni Sultan Muhammad Sirajuddin yang bergelar Manuru Kupa. Sultan Dompu ke-20 ini dibuang oleh Belanda ke Kupang – NTT karena pembangkangannya. Beliau memiliki putera-puteri di antaranya Abdul Wahab Sirajuddin, Abdullah Sirajuddin, Abdurrasul Sirajuddin, serta dua puteri yang biasa disapa Uma Tari dan Uma Tene.

Adapun Abdullah Sirajuddin atau yang bergelar Ruma Gowa, beliau memiliki 10 putera-puteri. Mereka bersepuluh adalah St. Tagaya Sirajuddin, Abdul Karim Sirajuddin, Abdul Azis Sirajuddin, St. Khadijah Sirajuddin (menikah dengan Taher Ahmad), Abdul Rivai Sirajuddin, Muhammad Asikin Sirajuddin, St. Sarah Sirajuddin (menikah dengan Suwito Amidjoyo), Muhammad Syarifuddin Sirajuddin, Agus Dahlan Sirajuddin, dan Nurlaila Sirajuddin (menikah dengan A. Madjid MT).

Anak ketiga dari Abdullah Sirajuddin yang bernama Abdul Azis inilah kakek dari Massimo Luongo dari pihak ibunya. Baik Abdullah maupun Abdul Azis tidak pernah memegang tampuk kepemimpinan Kesultanan Dompu. Jadi sebenarnya Massimo Luongo bukanlah cucu dari Sultan Dompu, namun dia adalah cicit dari Pangeran Dompu Abdullah yang merupakan putera Sultan Dompu Muhammad Sirajuddin. [Uma Seo]

Dipublikasi di Haba | Meninggalkan komentar

Mawa’a Taho, Sa’ad bin Muadz Dari Dompu


Dewa Mawaa Taho Saad bin Muadz Dompu_umaseo

Kambali Dompu Mantoi – Sebelum menerangkan siapa itu Sang “MAWA’A TAHO” dan mengapa dikatakan sebagai Sa’ad bin Muadz dari Dompu, ada baiknya kita mengenal dahulu siapa itu Sa’ad bin Muadz.

Pada tahun 620 Masehi, Rasul sedang gencar-gencarnya melakukan Tholabun Nushroh (meminta pertolongan) kepada suku-suku Arab. Beliau mendatangi pemimpin-pemimpin mereka langsung di Kota mereka atau ketika mereka datang ke Makkah untuk berhaji. Beliau memilih suku yang punya kemandirian dari segi militer dan sumber daya alam. Beliau tidak meminta nushrah itu kepada suku lemah, misalnya Bani Daus. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Sirah paling tua, Sirah Ibnu Hisyam, semua suku menolak kecuali Bani Amir bin Sha’sha’ah. Namun mereka mengajukan syarat. Bahwa mereka bersedia menerima Islam, melindungi Rasulullah yang akan menerapkan sistem Islam atas rakyat mereka dengan catatan mereka harus mewarisi kekuasaan (Khilafah) setelah wafatnya Rasulullah. Rasulullah menolak dan kesepakatan pun batal.

Namun siapa sangka penerimaan justeru datang dari sebuah suku yang tak pernah diharapkan sebelumnya. Yakni Suku Aus dan Suku Khazraj yang menghuni Kota Yasrib (Madinah). Salah seorang tokoh mereka, yakni As’ad bin Zurarah masuk Islam. Rasulullah kemudian mengirim petugas dakwah bernama Mush’ab bin Umair untuk melakukan Thalabun Nushrah terhadap Kepala Suku Aus dan Khazraj di Yasrib (Madinah). Salah satunya adalah Sa’ad bin Muadz radhiyallahu ‘anhu, kepala suku Bani Abdul Asyhal, salah satu cabang suku berpengaruh di Yasrib.

Pertemuan antara Mush’ab dan Sa’ad sangat dramatis. Konon, hanya dengan bermodalkan tiga surat pendek yang berawal dengan kata ‘Qul…’ akhirnya Mush’ab berhasil mengislamkan Sa’ad. Sa’ad kemudian mengislamkan seluruh anggota sukunya. Dan berkat dukungannya, dakwah di Yasrib luar biasa sukses. Banyak tokoh dan Kepala suku masuk Islam meskipun masih ada beberapa tokoh yang belum mau masuk Islam. Untuk diketahui, saat itu masyarakat Yasrib belum memiliki pemimpin yang menyatukan mereka semua. Suku Aus dan Khazraj sebagai mayoritas serta tiga suku Yahudi yang merupakan warga minoritas memiliki pemimpin masing-masing. Namun –karena bosan dengan pertikaian dan perpecahan- mereka sedang dalam rencana mengangkat seorang Raja di antara mereka. Kandidat terkuat adalah Abdullah bin Ubay bin Salul, namun lobi-lobi politik masih terus berjalan. Nah, di sinilah para tokoh Yasrib yang telah memeluk Islam melihat adanya kesempatan. Lobi-lobi politik yang alot dan membuat mereka belum mencapai kesepakatan siapa yang terpilih sebagai Raja ini ingin dimanfaatkan oleh mereka untuk mengajukan Rasulullah sebagai Raja Yasrib dan melakukan revolusi dalam sistem kenegaraan. Namun rencana mereka ini tidak boleh bocor kepada lawan-lawan politik mereka yang masih setia dengan Sistem Jahiliyyah.

Setahun kemudian, di musim haji rombongan dari Yasrib datang. Tapi di dalamnya para tokoh muslim punya misi sendiri. Misi bai’at in’iqad, yakni sumpah untuk mengangkat Rasulullah SAW sebagai pemimpin politik mereka. Di tengah malam, nun jauh di balik Bukit Aqabah, terjadilah peristiwa yang terkenal dengan nama Bai’ah Aqabah kedua itu. Tak lama kemudian Rasulullah SAW pun hijrah dan didaulat menjadi “Raja” di Yasrib. Menyingkirkan Abdullah bin Ubay bin Salul yang kemudian sakit hati berat dan memutuskan untuk menjadi Rajanya Kaum Munafik. Di luar dia menampakkan sebagai Islam, namun di hatinya dia kafir dan sangat benci dengan Islam.

Itulah sekilas jasa besar Sa’ad bin Muadz. Beliau adalah pemimpin Bani Abdul Asyhal, salah satu anak suku utama di Yasrib (madinah). Beliau menggunakan posisi politiknya yang berpengaruh itu untuk dakwah Islam dan menolong Rasulullah untuk menerapkan Syariah Islam, mendirikan negara Islam pertama di Yasrib (Madinah). Atas jasa besarnya sebagai penolong agama Allah inilah warga asli Yasrib dijuluki kaum Anshar (Penolong). Adapun Sa’ad bin Muadz, ketika wafatnya, jenazah orang tinggi besar ini luar biasa ringannya. Menurut Rasulullah, para malaikat ikut menggotong jenazah beliau. Dan di surga, beliau dihadiahi sepasang sayap. Ketika orang biasa hanya berjalan-jalan di surga, maka Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu dapat terbang sesuka hatinya.

Ketika ia wafat, Rasulullah berduka, Arasy Allah tergocang dan para malaikat turut memikul jasadnya. Itulah akhir hidup seorang mu’min.

.

Mawa’a Taho, Sa’ad bin Muadz Dari Dompu

Ia bernama asli Bumi Luma Na’e, digelari “Dewa” sesuai tradisi warisan Hindu yang masih berlaku saat itu. Di masa pemerintahannyalah Syaikh Nurdin datang mengislamkan Kerajan Dompu pada tahun 1528 M. Sang Raja pun menerima dakwah dan memeluk Islam. Mungkin inilah kiranya yang membuat ia mendapatkan gelar “Mawa’a Taho”, Sang Pembawa Kebaikan. Jika mengacu pada tafsir Surat Ali Imran ayat 104, maka kebaikan (baca: Al-khair) yang dimaksud adalah Al-Islam (Agama Islam).

Menurut Bo Sangaji Kai milik Kerajaan Bima, Mawa’a Taho menikah dengan Putri Raja Manggampo Donggo, Raja Bima. Menurut sumber lain sebagaimana ditulis oleh Israil M. Saleh dalam bukunya Sekitar Kerajaan Dompu (1985), Mawa’a Taho juga merupakan keponakan dari Dewa Mawa’a Lapatu alias Mawa’a Laba. Mawa’a Laba adalah Raja Dompu yang kemudian menjadi raja di Kerajaan Bima.

Salah satu putera Dewa Mawa’a Taho bernama La Bata Na’e pun memeluk Islam. Ia adalah putera mahkota Kerajaan Dompu. Setelah meraih tahta Kerajaan Dompu, La Bata Na’e melakukan revolusi radikal dalam sistem pemerintahan Kerajaan Dompu. Ia mengganti sistem pemerintahan dari Monarki Hindu menjadi Monarki Islam. Berdirilah Kesultanan Dompu sebagai Kerajaan Islam pertama di Pulau Sumbawa pada tahun 1545. La Bata Na’e digelari sebagai Sultan Syamsuddin Mawa’a Tunggu. Ia menikahi anak perempuan Syekh Nurdin yang bernama Jauharmani dan mengangkat iparnya, Syekh Abdul Salam menjadi mufti di Kesultanan Dompu.

Itulah kira-kira mengapa alasan Mawa’a Taho dikatakan sebagai Sa’ad bin Muadz dari Dompu. Karena berkatnyalah Islam dapat diterima di Dompu. Seandainya saat itu dia menolak masuk Islam, pastilah perkembangan Islam di Dompu menjadi terhambat dan tidak akan berdiri Kesultanan Dompu. Berkat jasanya, masyarakat Kerajaan Dompu berbondong-bondong masuk Islam dan iapun menyerahkan kekuasaan kepada anaknya yang kemudian mendirikan negara Islam pertama di Pulau Sumbawa. Negara Islam yang bernama Kesultanan Dompu itulah yang menjadi institusi penyebaran dakwah Islam dan penerapan Syariat Islam.

Semoga Allah memberinya pahala yang berlipat ganda sebagaimana pahala yang didapat Sa’ad bin Muadz ra. Dan semoga ia pun mendapatkan sepasang sayap di surga kelak. Amin. [Uma Seo]

Dipublikasi di Sejarah Dompu | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Tak Paham Makna Slogan “Indonesia Milik Allah”, La Jeho Jadi Terlihat “Unyu-unyu”


abu-jahal-dalam-serial-omar-_umaseo

Tokoh Abu Jahal dalam serial arab berjudul “Omar”

Kambali Dompu Mantoi – La Jeho, icon pro status quo yang seringkali membuat status dan postingan nyiyir terhadap dakwah Syariah – Khilafah dan para pejuangnya ternyata kembali membuktikan bahwa dirinya memang Jeho (Jahil). Sebagaimana saudaranya dari tanah Arab bernama Abu Jahal, dia digelari demikian karena ngotot mempertahankan sistem lama dan menolak perubahan dengan sistem Islam. Apa hubungannya?

Begini, menurut Imam Hasan bin Ali bin Abu Thalib ketika menafsirkan Surat Al-Maaidah ayat 50, hukum Jahiliyah adalah setiap hukum (sistem) yang bertentangan dengan Islam. Maka Abu Jahal pantas digelari sebagai Abu Jahal (Bapaknya Kebodohan), karena menolak Sistem Islam dan ngotot mempertahankan Sistem Jahiliyah. Begitulah Abu Jahal, bapaknya segala kebodohan. Dan agaknya, kebodohan itu menular kepada setiap orang yang punya sifat anti Syariah Islam sebagaimana Abu Jahal.

Dalam sebuah artikel yang dia unggah, La Jeho, dengan penuh percaya diri memakai judul “Meluruskan Slogan Unyu-unyu HTI: Indonesia Milik Allah.” Di dalam artikel itu, ternyata dia tak paham dengan maksud Para Pejuang Syariah menggaungkan slogan “Indonesia Milik Allah”. Menurut artikel tersebut Indonesia memang milik Allah, tanah, air, minyak, serta segala kandungannya memang milik Allah. Namun tetap harus bayar kepada pemiliknya.

Ya, benar sekali bahwa air itu milik Allah, gratis. Tapi ketika anda meminta orang lain mengambilkan dari gunung, mengemasnya dalam botol, maka anda harus bayar. Udara itu milik Allah, gratis. Tapi ketika anda meminta orang lain memasukkannya ke ban kendaraan anda, maka anda harus bayar.

Dia menulis dalam artikel itu: “Cahaya itu milik Allah, gratis. Tapi ketika anda minta orang lain dengan ilmunya sehingga cahayanya bisa hadir saat matahari tak ada, maka anda harus bayar. Ilmu itu gratis. Tapi ketika anda minta orang lain mempelajarinya, mengujinya, menyaringnya hingga ketemu formula terbaik, maka anda harus bayar.”

Artikel tersebut melanjutkan: “Jadi, jangan “seenak udele dewe” ngomong Indonesia itu milik Allah dengan tujuan-tujuan terselubung. Memang, hakikatnya semua yg ada di dunia ini milik Allah, termasuk barang-barang yg anda miliki, bahkan istri dan anak-anak yg anda miliki. Tapi — saya bertanya — apa boleh barang-barang anda, anak anda atau istri anda, de el el, dipakai seenaknya dengan alasan milik Allah.??!!

Demikian juga “Indonesia ini miliki Allah”, tapi ada harta dan jiwa raga para pahlawan yg memperjuangkannya dengan tetesan darah dan nyawa demi membayar kemerdekaannya.”

Jelas sekali bahwa La Jeho tidak paham slogan “Indonesia Milik Allah.” Dan hal itu membuat La Jeho terlihat lebih “unyu-unyu” daripada pihak yang dilecehkannya. ;D

.

Bacalah Baik-baik, Inilah Maksud Dari Slogan Indonesia Milik Allah

Slogan Indonesia Milik Allah merupakan respon terhadap kalangan liberal dan pro status quo (semacam La Jeho). Mereka sering berkata nyiyir terhadap para Pejuang Syariah dengan mengatakan: “Indonesia bukan negara Islam. Kalau mau pakai Syariah Islam, keluar dari Indonesia.”

Maka Para Pejuang Syariah menjawab: “Bumi ini milik Allah. Jika tak mau pakai aturan Allah, keluar dari Bumi.” Lalu digencarkanlah kampanye dengan slogan Indonesia Milik Allah, Terapkan Hukum Allah.

Bagaimana Jeho? Sudah pahamkah dirimu??? Kalau masih ngotot tak mau pakai Hukum Allah (yakni Syariah Islam), cari saja tempat tinggal yang bukan milik Allah. Pergi sana ke Planet Mars. Eh, bukankah Mars juga Milik Allah? Merkurius, Venus, Jupiter, Saturnus, Uranus semua milik Allah. Lalu mau tinggal di mana? Jika seluruh alam semesta tempat kau tinggal, makan dan buang hajat seluruhnya milik Allah, mengapa menolak diterapkannya Hukum Allah? Mengapa pula harus menentang Para Pejuang Syariah? #Sadarlah [Uma Seo]

Dipublikasi di Opini | Tag , , | Meninggalkan komentar

Hari Lahirnya Desa Huu – Dompu, Sebuah Alternatif Sejarah


perkampungan-dompu-tempo-dulu-1953

Pemukiman di Dompu tahun 1953

Kambali Dompu Mantoi – Hu’u adalah nama salah satu desa di Kabupaten Dompu, di P. Sumbawa, NTB. Desa yang terletak di pesisir selatan Dompu ini berada di dalam teritori administratif Kecamatan Hu’u, Dompu. Kecamatan Hu’u adalah wilayah yang menjadi monumen masa lampau Dompu dan P. Sumbawa umumnya. Karena di sinilah ditemukan sebuah situs yang menurut hasil penelitian, merupakan bekas peradaban manusia paling tua di P. Sumbawa. Situs Nangasia, begitulah ia disebut, terletak di bibir pantai. Berdasarkan hasil analisa temuan gerabah di dalamnya disimpulkan bahwa pecahan gerabah itu berangka 2500 SM yakni Zaman Neolitikum. Para peneliti menduga bahwa Situs Nangasia merupakan situs kubur tempayan (urn burial). Karena banyak ahli mengatakan, keberadaan pemukiman pantai yang juga menghasilkan kubur tempayan di berbagai kawasan tersebut karena adanya pengaruh antara satu dan lainnya.[1]

Nama Huu sendiri berasal dari kata dalam bahasa orang Dompu. Hu’u berarti memungut. Setidaknya ada tiga versi asal muasal nama Huu.[2] Versi pertama, kata Huu ini berkorelasi dengan fakta historis bahwasanya Desa Huu yang sekarang pada awalnya tersebar dalam sepuluh kampung yang kemudian bergabung menjadi satu.

Versi kedua mengatakan bahwa nama Huu memiliki korelasi dengan kata Kaboro. Karena di salah satu sudut Hu’u sekarang ada satu areal lahan yang memiliki “keberkahan dan anugerah” yang luar biasa di mana lahan tersebut sangat subur. Kandungan tanah dan tanamannya yang memberikan hasil yang melimpah ruah dan dengan mudah dikaboro (baca: dikumpulkan) oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Adapun versi ketiga mengatakan bahwa nama Huu disematkan terkait dengan identitas genealogis masyarakat yang tinggal di Nanga Sia (Nanga: muara sungai, sia: garam), lokasi Situs Nangasia tempat ditemukannya pecahan gerabah dan keramik yang menurut anggapan sebagian sesepuh Desa Hu’u merupakan gerabah asal China. Keberadaan pecahan gerabah itu dianggap sebagai salah satu bukti eksistensi pemukiman masyarakat Tiongkok di Dompu. Karena secara geografis letak Tiongkok itu sangatlah jauh, maka masyarakat lokal menyebut masyarakat yang berasal dari negeri yang jauh itu dengan sebutan “Dou Huu” (orang dari jauh). Tampak bahwa orang-orang yang mendukung versi ketiga ini meyakini bahwa nenek moyang masyarakat Hu’u berasal dari China daratan.

#

Desa Hu’u Dari Masa ke Masa

Legenda masyarakat Dompu mengatakan bahwa sebelum terbentuknya institusi politik berupa kerajaan di Dompu, masyarakat Dompu hidup dalam kelompok-kelompok kecil dengan dipimpin oleh seorang pemimpin yang digelari Ncuhi. Ncuhi merupakan pemimpin politik dan spiritual di dalam masyarakat Dompu. Menurut legenda, ada empat orang Ncuhi di Dompu. Mereka adalah Ncuhi Hu’u, Ncuhi Saneo, Ncuhi Nowa dan Ncuhi Tonda. Ncuhi Hu’u konon merupakan Ncuhi yang paling berpengaruh. Menurut Israil M. Saleh (1995),[3] dahulu tersebutlah seorang bernama Ompu Iro Aro yang menjabat sebagai Ncuhi Hu’u yang pertama.

Ompu Iro Aro mempunyai seorang putera bernama Ompu Malembo Ro’o Fiko.[4] Di utara masjid Hu’u saat ini, terdapat sebuah rumah panggung yang diyakini sebagai milik Ompu Malembo Ro’o Fiko. Yang makamnya berada di sebelah selatan pemukiman Hu’u lama, dengan ukuran makam 6×3 m. Usia bangunan rumah panggung itu sudah ratusan tahun. Hal ini dibuktikan dengan generasi yang tinggal di situ, yang saat ini adalah generasi ke delapan.[5]

Zaman pun berganti, berdirilah kerajaan Dompu, sebagian peneliti menduga bahwa Kerajaan Dompu merupakan kerajaan bercorak Hindu-Budha.[6] Namun ini masih dugaan. Pengaruh Hindu masuk secara meyakinkan pada Abad XIV ketika Imperium Majapahit menyerbu dan menaklukkan Kerajaan Dompu. Dua abad kemudian, yakni abad XVI, pengaruh Islam masuk ke Kerajaan Dompu melalui dua tahap. Tahap pertama masuk dari arah barat (Jawa) dan tahap kedua dari arah utara (Sulawesi). Masuk Islamnya Raja Dompu, Dewa Mawaa Taho, mempengaruhi penerimaan Islam oleh rakyatnya. Tahun 1545, puteranya yang bernama La Bata Na’e naik tahta menggantikan Dewa Mawa’a Taho. La Bata Na’e lalu merubah sistem pemerintahan dari Kerajaan Hindu menjadi Kesultanan Islam.[7] Maka berdirilah Kesultanan Dompu.

Di masa kekuasaan sultan Dompu ketiga, yakni Sultan Sirajuddin Manuru Bata, kiblat keislaman Dompu khususnya dan seluruh Nusa Tenggara umumnya beralih dari Jawa kepada Sulawesi. Peran besar Kesultanan Gowa Tallo di bawah pimpinan Sultan Hasanudin berpengaruh besar terhadap pemantapan penyebaran Islam di Lombok, P. Sumbawa dan NTT.

Masuknya Islam ke Dompu dan berdirinya Kesultanan Dompu sangat berpengaruh terhadap sistem sosial dan budaya masyarakat Desa Hu’u. Secara umum, masyarakat Hu’u menjadi pemeluk Islam yang taat meskipun masih ada sisa-sisa kebudayaan dan keyakinan lama. Dalam struktur Kesultanan Dompu, Desa Hu’u dipimpin oleh seorang Jena atau Galara yang membawahi para Sarian yang mengepalai dusun-dusun.

Tahun 1815, terjadi bencana besar dan mengerikan akibat letusan G. Tambora. Gempa vulkanik mengguncang pemukiman disertai dengan hujan abu vulkanik yang merusak lahan pertanian, mencemari sumber-sumber air dan membunuh binatang-binatang ternak. Ketebalan abu vulkanik mencapai 50 – 60 cm.[8]  Hal ini mengakibatkan bencana kelaparan di P. Sumbawa, termasuk Kesultanan Dompu. Puluhan ribu warga eksodus dan jumlah yang sama akhirnya mati akibat kelaparan maupun akibat penyakit yang disebabkan oleh abu vulkanik yang mencemari udara, tanah dan air.[9]

Peter Goethals menyimpulkan bahwa bencana letusan Tambora bukan hanya mengakibatkan berkurangnya populasi P. Sumbawa dan membawa bencana kelaparan, namun juga memaksa penduduk yang bertahan hidup untuk mencari lahan pertanian dan mendirikan pemukiman baru.[10] Hal ini bisa menjelaskan mengapa terjadi perpindahan Ibu Kota Kesultanan Dompu dari Doro Bata Kandai Satu ke Kampo Rato, Karijawa. Menurut catatan Raffles seperti dikutip Boers dan Syamsuddin, istana Dompu bertempat di Bata, namun akibat tertimbun letusan Tambora yang dahsyat akhirnya dipindahkan ke sebelah utara Sungai Na’e.[11]

Tidak menutup kemungkinan pula perkampungan lain yang berada di seluruh wilayah Kesultanan Dompu mengalami hal yang sama. yakni setelah pemukiman lama tertimpa letusan Tambora, mereka mencari dan berpindah ke pemukiman baru yang berbeda dari pemukiman sebelumnya. Hal ini karena anggapan masyarakat yang mengatakan pantang menempati pemukiman yang telah ditimpa bala dan bencana. Mereka harus mencari pemukiman baru.

Adapun areal pemukiman Desa Hu’u yang kita kenal sekarang sebenarnya adalah kawasan baru yang “dibangun dan dibentuk” tahun 1970a-n. Pada awalnya pemukiman Hu’u sebenarnya berada di Hu’u lama (sekitar tahun 1939, lokasinya berada di dekat jembatan menuju pantai La Key). Desa Hu’u konon dahulu merupakan hasil penggabungan dari sepuluh kampung, yakni Hu’u, Finis, Mamboa, Pake Lako, Nangasia, Ncangga, La Kei, Folu, Teri, Puma dan Nanga Doro. Kira-kira pada tahun 1976, terjadi sebuah bencana kematian massal di Desa Hu’u tanpa diketahui sebabnya. Menurut keyakinan warga Desa Hu’u, sebelum meninggal Ompu Iro Aro teleh mengucapkan sebuah sumpah yang tak boleh dilanggar oleh anak-cucunya. Penduduk meyakini bahwa sumpah Ompu Iro Aro telah dilanggar sehingga konsekwensinya tanah tempat mereka tinggal telah dikutuk dan mereka harus berpindah ke lokasi baru. Karena itulah lokasi pemukiman masyarakat Hu’u dipindahkan ke lokasinya saat ini. Pemukiman baru itu dibangun dengan masjid sebagai pusatnya.[12]

#

Merekonstruksi Kapan Pendirian Desa Hu’u

Setelah letusan Tambora, penduduk Dompu yang bertahan hidup melanjutkan roda pemerintahan Kesultanan Dompu. Sultan Abdurrasul II berhasil bertahan hidup. Pemindahan lokasi Ibu Kota Kesultanan Dompu pada masanya menyebabkan Ia digelari “Sultan Abdurrasul Mawa’a Bata Bou.” Dalam tafsiran MaDA, gelar itu bermakna, Sultan Abdurrasul Pembangun Ibukota Baru atau Pembangun Istana Baru, wallahu a’lam. Pada masa Sultan Salahuddin, diadakan reformasi dalam struktur pemerintahan Kesultanan Dompu. Menurut MaDA, struktur inilah yang ditulis oleh Israil M. Saleh dalam buku fenomenalnya “Seputar Kerajaan Dompu.”

Desa Hu’u dimasukkan ke dalam wilayah kekuasaan Tureli Adu (Gubernur) yang membawahi dua Jeneli (Jabatan Kepala Daerah di bawah Gubernur). Yakni Jeneli Adu dan Jeneli Hu’u. Pada masa penggabungan paksa Kesultanan Dompu dengan Kesultanan Bima oleh Belanda dan Jepang, Desa Huu dan sekitarnya tidaklah lagi menjadi sebuah wilayah Jeneli. Ini dikarenakan oleh Penguasa Kesultanan Bima, pasca menguasai wilayah Kesultanan Dompu, membagi wilayah Kesultanan Dompu menjadi dua wilayah Jeneli saja. Yakni Jeneli Dompu dan Jeneli Kempo. Adapun Desa Hu’u, masuk ke dalam wilayah administratif Jeneli Dompu.

Lalu kapankah sebenarnya waktu pendirian Desa Huu? Apakah berdiri sejak zaman prasejarah (Zaman Ncuhi) seperti yang disebutkan dalam legenda? Atau memang ada alternatif waktu pendirian lain berdasarkan informasi-informasi yang telah ada? Nah, untuk menganalisa kapan waktu tepat pendirian Desa Huu MaDA ingin mengajak kita bersama-sama menganalisa kembali beberapa informasi yang telah MaDA sampaikan di atas.

1) Pertama sekali kita harus membedakan antara terma Hu’u Kuno, Hu’u Lama dan Hu’u baru. Yang dimaksud Huu kuno adalah Desa Huu yang didirikan sejak masa prasejarah sebelum terbentuknya kerajaan. Lokasi Huu kuno belum diketahui, bisa jadi lokasinya berada pada beberapa situs bersejarah yang tersebar di seluruh wilayah Kecamatan Huu. Sedangkan Huu lama adalah Desa Huu yang dahulu berlokasi di sekitar jembatan menuju Pantai Lakey. Adapun Huu baru adalah Desa Huu dengan lokasinya yang sekarang. Yang dibangun pada tahun 1976.

2) Mengapa kita perlu membedakan antara Huu kuno dan Huu lama? Karena hasil analisa dari data-data yang ada, semuanya mengarah kepada satu kesimpulan bahwa Huu lama tidaklah dibangun pada masa prasejarah. Melainkan dibangun pada tahun 1815, pasca meletusnya G. Tambora.

3) Bukti-bukti yang melatari kesimpulan ini adalah sebagai berikut:

A) Kesimpulan Peter Goethals bahwa masyarakat Sumbawa berpindah dan membangun pemukiman baru yang berbeda dari pemukiman lama, meskipun penelitiannya adalah masyarakat Sumbawa, namun kemungkinan besar juga terjadi dengan masyarakat Dompu. Hal ini dapat dibuktikan dengan kasus perpindahan pusat pemerintahan Kesultanan Dompu dari Bata ke Kampo Rato. Jadi dapat disimpulkan pula bahwa masyarakat penghuni Desa Huu juga berpindah dari lokasi perkampungan lama menuju lokasi baru, yakni di lokasi Huu lama dekat jembatan menuju Pantai Lakey.

B) Rumah yang diyakini sebagai milik Ompu Malembo Roo Fiko yang terletak di sebelah utara masjid Huu, dikatakan saat ini dihuni oleh generasi ke delapan. Artinya jika kita hitung mundur, maka jarak delapan generasi itu sekitar 200 tahun dengan 25 tahun jarak antara individu dalam tiap generasi. Jadi Ompu Malembo Roo Fiko dan ayahnya (Ompu Iro Aro) membangun rumah itu kemungkinan 200 tahun yang lalu. Di mana angka dua ratus tahun jika dihitung mundur dari tahun ini (2017) maka akan mendekati tahun 1815. Tahun di mana terjadi letusan G. Tambora.

C) Letusan Tambora dapat memberikan jawaban mengapa sepuluh kampung bergabung menjadi satu. Kemungkinan besar bahwa populasi sepuluh kampung itu menyusut drastis dan untuk bertahan hidup dari bencana kelaparan, mereka harus bergabung menjadi satu dengan dipimpin oleh Desa Paling terkemuka. Desa Huu.

D) Kesimpulannya adalah Ompu Iro Aro membangun pemukiman Huu lama dan mengumpulkan sisa penduduk dari sepuluh kampung di sekitarnya. Ia menjadi Ncuhi pertama Desa Huu (pasca letusan Tambora), Ncuhi Iro Aro. Mengapa dipakai istilah Ncuhi dan bukan gelar Jena atau Galarang? MaDA meyakini bahwa struktur pemerintahan Kesultanan Dompu yang saat ini sampai pada kita barulah disusun pasca meletusnya G. Tambora. Yakni pada masa Sultan Salahuddin Mawaa Adil. Bisa jadi sebelum letusan Tambora, gelar Ncuhi masih dipakai sebagai nama jabatan Kepala Desa atau Kepala Kampung. Lalu pemukiman Desa Huu kembali dipindahkan pada tahun 1972 ke lokasi yang sekarang. Rumah panggung Ompu Malembo Roo Fiko dapat dipindahkan ke lokasi baru dengan dipikul bersama-sama sesuai cara dan tradisi masyarakat Dompu yang masih dapat kita saksikan hingga hari ini.

Jadi bisa saja hari ulang tahu Desa Huu, sama dengan HUT Kabupaten Dompu, yakni 11 April 1815. Sebab, pada tanggal itulah hari baru di mana masyarakat Desa Huu berpindah dan mencari lokasi pemukiman baru untuk bertahan hidup. Kemudian berdirilah Desa Huu yang sekarang. Allahu a’lam bish-shawwab, Allah yang Maha tahu dengan benar. Bagaimana menurut anda? [Uma Seo]

DSCF0307_KIP#1 HTI Sila Bima

—————

Catatan Kaki:

[1] Situs Nangasia Saksi Kehidupan Dompu Lama, nationalgeographic.co.id

[2] Tiga versi ini adalah menurut Syafruddin Murtalib dalam artikelnya  berjudul “Menguak Cultur Heritage Di Wilayah Hu’u Kabupaten Dompu” dimuat di syafrudindompu.blogspot.co.id

[3] Israil M. Saleh, 1995, Seputar Kerajaan Dompu.

[4] Syafrudin Murtalib, Warisan Budaya di Desa Hu’u; Asal Usul Nama dan Sejarah (part 1), Dompuklopedia.com

[5] “Menguak Cultur Heritage Di Wilayah Hu’u Kabupaten Dompu,” syafrudindompu.blogspot.co.id

[6][6] Munandar (2010: 101) dalam Sukawati Susetyo, Pengaruh Peradaban Majapahit di Kab. Bima dan Kab. Dompu, Forum Arkeologi  Vol. 27, 2 Agustus 2014

[7] M. Fachrir Rahman, Islam di Nusa Tenggara Barat: 97.

[8] Boers, Mount Tambora in 1815; A volcanic eruption in Indonesia and Its aftermath:  43

[9] Zollinger memperkirakan bahwa P. Sumbawa kehilangan 84.000 populasinya. Baik akibat langsung letusan, maupun akibat kelaparan, penyakit dan eksodus besar-besaran ke luar pulau. (Boers, 44)

[10] Peter Goethals, 1961, Aspect of Local Government in a Sumbawan Village (Eastern Indonesia), dalam Boers, 45.

[11] Boers dan Syamsuddin, 2012: hal.72 dalam Sumerta, 2014, Forum Arkeologi Vol 27 No.3 November 2014, hal. 230

[12] Warisan Budaya di Desa Hu’u; Asal Usul Nama dan Sejarah (part 1) dompuklopedia.com

Dipublikasi di Sejarah Dompu | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar