Selamat Datang Kembali La Bata Na’e


9f9ff2e43dab68bab9fb82b15d2b8086--fantasy-male-fantasy-warrior

Kambali Dompu Mantoi – Dewa Mawa’a Taho adalah tokoh yang sangat berjasa bagi masyarakat Dompu. Sebab atas jasa beliau Islam dapat tersebar dengan mulus di Tanah Kerajaan Dompu. Ketika datang Syaikh Nurdin menyebarkan Islam, beliau dengan besar hati menerima agama tauhid itu dengan terbuka. Bahkan mendukung dakwah penyebaran Islam yang dilakukan oleh ulama’ asal Timur  Tengah itu.

Penerimaan Islam oleh Dewa Mawa’a Taho itu menjadi simbol penerimaan seruan dakwah di kalangan keluarganya dan sukunya. Sekaligus menjadi simbol dimulainya perjuangan penyebaran sebuah paham baru yang belum pernah didengar oleh orang-orang dari kalangannya. Islam adalah ajaran agama yang asing, bahkan bertentangan dengan tradisi-tradisi nenek moyang Dou Dompu. Namun keikhlasan hati dan ketulusan niat akan menjadi perantara masuknya cahaya Islam ke dalam hati seseorang. Sedangkan kesombongan hanya akan melahirkan penolakan dan penentangan terhadap dakwah. Persis seperti yang dilakukan oleh Abu Jahal alias La Jeho dan para pengikutnya hingga yaumul qiyamah.

Dewa Mawa’a Taho telah merintis sebuah langkah perjuangan, karena sejarah mencatat bahwa tidak semua orang di Kerajaan Dompu lantas mau mengikuti ajaran Islam. Ada sebagian kecil di antara mereka yang menyingkir jauh ke kaki gunung di bagian barat Kerajaan. Namun ia telah menyerahkan estafet dakwah itu kepada orang yang dipilih oleh Allah untuk lahir dari rahim istrinya, ia bernama La Bata Na’e. La Bata Na’e lah yang kemudian melanjutkan penerimaan terhadap dakwah itu. La Bata Na’e lah yang mewarisi kekuasaannya yang terbentang dari teluk Bima hingga teluk saleh di barat sana. La Bata Na’e lah yang melanjutkan usaha sang ayah dengan menjadikan Dompu sebagai Kesultanan Pertama di Pulau Sumbawa yang kemudian menerapkan seluruh Syariah Islam. Lalu ia dan ayahnya akan tetap dikenang di hati orang-orang jujur yang mengakui jasa-jasa mereka berdua.

Memang kedua tokoh itu tidak akan pernah bisa lagi bangkit dari kematiannya, namun kita akan selalu diberikan kesempatan untuk melahirkan mereka kembali. Bukankah kita selalu punya pilihan untuk menjadi yang pertama menerima dakwah? Bukankah kita punya kesempatan menjadi Mawa’a Taho? Bukankah Mawa’a Taho akan Selalu melahirkan La Bata Na’e? Dan bukankah Sejarah akan selalu berulang? [Uma Seo]

#SelamatDatangKembaliLaBataNae

#DzulQaisarain

Iklan
Dipublikasi di Romantisme | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Begini Katro’nya Dou Dompu Ketika Pertama Kali Melihat Pesawat


pesawat tahun 1918

Ilustrasi pesawat mendarat darurat tahun 1918

Kambali Dompu Mantoi – “Kapaaaaaaaaaaaaaaa………… Mbeija piti sakaru……………” “Kapaaaaaaaaaaaaaaa…………….. ‘ba’buja piti sakaru………….”[1]

 Anda familier dengan kalimat di atas? Jika iya, MaDa ingin mengucapkan selamat. Karena MaDA yakin bahwa masa kecil anda bahagia. Tidak akan pernah terulang. Hehee. Tapi tulisan ini tidak dimkasudkan untuk membahas masa kecil anda yang bahagia itu. Namun tulisan ini akan mengulas sepenggal kisah seorang anak manusia dan burung besi yang terbang membelah langit yang oleh orang Dompu disebut: KAPA.

******

Kita mungkin mengenal Wright bersaudara sebagai penemu pesawat terbang modern di tahun 1904, meskipun pada tahun 875 M ilmuwan muslim Abbas Ibnu Firnas (di barat dikenal sebagai Armen Firman) asal Ronda[2] –  Spanyol telah ter lebih dahulu melakukan percobaan terbang dengan pesawat rancangannya sendiri. Pada awalnya pesawat hanya digunakan untuk kebutuhan komunikasi dan spionase tanpa dilengkapi dengan senjata sama sekali. Namun karena seringnya para pilot berpapasan di udara sehingga terjadi kontak senjata dengan senapan atau pistol maka munculah ide untuk melengkapi pesawat terbang dengan senjata. Meskipun demikian, penggunaan pesawat tempur dalam perang Dunia I (1914-1918) masih terbatas. Penggunaan pesawat tempur secara massif baru terjadi dalam perang dunia II (1939-1945).

Dalam perang dunia pertama yang memperhadapkan Pasukan Sekutu (Inggris, Perancis, Italia, Rusia, Yunani, Rumania, dll) melawan Kekaisaran Jerman, Kekaisaran Austria-Hongaria, Bulgaria, dan Khilafah Turki Utsmani,[3] penggunaan pesawat untuk pertempuran masih terbatas. Inggris sebagai negara adidaya yang kala itu memiliki banyak koloni, memanfaatkan pesawat terbang untuk kebutuhan spionase dan komunikasi dengan negara-negara koloninya tersebut. Salah satu koloni terbesar inggris adalah Australia. Sehingga sangat wajar jika pilot-pilot asal Inggris atau Australia seringkali melintasi wilayah udara indonesia untuk keperluan membawa pesan rahasia. Baik itu menyampaikan informasi kondisi terkini front pertempuran Perang Dunia I maupun untuk meminta bantuan. Tercatat Austrlia mengirimkan 60.000 tentaranya ke Eropa dan timur tengah (wilayah milik Khilafah Turki Ottoman) untuk membantu Inggris.

Inggris sangat berambisi memenangkan PD I bukan hanya untuk menghancurkan Jerman sebagai pesaingnya menjadi adidaya dunia, namun Inggris juga memiliki agenda lain, yakni menghancurkan benteng terakhir persatuan umat Islam, Khilafah. Inggris sangat tergiur untukl menikmati lezatnya tanah jajahan baru dari Maroko hingga India, dan Khilafah Turki adalah penghalangnya.[4] Selain itu, Inggris juga membonceng misi Zionis Yahudi untuk mendirikan Negara Israel di tanah Palestina. Maka tak mengherankan jika pada tahun 1917, Perdana Menteri Inggris James Balfour mendeklarasikan janji untuk membantu Yahudi mendirikan sebuah negara bagi mereka di Palestina. Janji ini dikenal dengan nama Deklarasi Balfour atau perjanjian Balfour. Dan tahun 2017 lalu, Inggris baru saja merayakan seratus tahun umur perjanjian Balfour di tengah isu pengakuan AS terhadap Jerusalem sebagai Ibu kota Israel.

Di tengah suasana yang demikianlah kisah ini kita mulai. Hanya saja, jika di barat sana peperangan sengit tengah berlangsung. Di sini, di timur, di bagian tengah Pulau Sumbawa Belanda telah terlebih dahulu menjajah Kesultanan Dompu. Hari itu, di kampung Bada, Kesultanan Dompu, seorang lelaki sedang menyambut kelahiran anak keduanya. Di rumah mertuanya itu sinar kebahagiaan terpancar karena lahirnya bayi laki-laki nan sehat seperti yang diharapkan. Seluruh keluarga besar bersuka cita, termasuk keluarga besar sang ayah di Kampung Potu. Namun di hari yang sama, tampak pemandangan aneh di langit. Sebuah pertunjukan yang belum pernah dilihat oleh masyarakat Dompu. Mungkin seumur hidup mereka, itulah pertama kali mereka menyaksikannya. Sebuah benda aneh terbang ke arah timur dengan suara menderu. Laksana burung tapi tak nampak seperti burung.

Semua orang terpaku menatap benda aneh itu terus menjauh ke arah timur.  Sebagian di antara mereka mulai bertanya-tanya, mahluk apakah tadi itu?

Wele (Layang-layang), kata sebagian orang.

Mara (layang-layang besar berbentuk burung), begitu menurut yang lainnya. Mentang-mentang mara dapat mengeluarkan suara menderu. Tapi derunya berbeda.

Wele Mpanga Janga (Burung Alap-alap), anggap sebagian lagi. Tapi mengapa suaranya menderu?

Mbangga Mbaru (Burung Elang), pendapat lain mengatakan demikian. Maklum seumur hidup Cuma lihat benda-benda itu di langit. Tak kurang tak lebih.

Tapi mengapa suaranya menderu demikian kerasnya?

Pertanyaan ini terus menggelayut di dalam pikiran masyarakat Dompu, termasuk sang ayah yang baru dikaruniai anak kedua tadi beserta keluarga besar di Potu dan Bada. Namun karena tak kunjung menemukan jawaban pasti, mungkin mereka menyimpan tanya itu hanya dalam hati. Lagi pula mereka sekarang harus mengadakan ritual aqiqah sang jabang bayi. Ritual itupun dilaksanakan sesuai ajaran Syariah Islam dan tradisi leluhur. Bayi itupun mereka beri nama. Muhammad Amin, nama Rasul terakhir umat ini, itulah nama yang mereka pilih. Mungkin harapannya agar sang bayi kelak dapat menjadi manusia yang meneladani Rasullullah Shallallahu “alaihi wa salam. Namun tak lama seseorang datang membawa kabar.

Au raeda ndai aipu edena re, kapa ngarana.” Benda yang kita saksikan waktu itu, kapal namanya. Demikian katanya. Mereka menyebut pesawat terbang waktu itu sebagai kapa (Kapal terbang).

Karena kebiasaan masyarakat Dompu memberikan nama julukan kepada seseorang dengan nama tokoh, kejadian, atau peristiwa yang memukau dan mengagumkan di hari kelahirannya, maka jadilah bayi M. Amin diberi nama julukan Kapa. La Kapa. Adik-adik di bawah angkatannya memanggilnya Dae Kepo.[5]

La Kapa tumbuh dengan penuh kasih sayang dari keluarganya. Semua keinginannya dituruti. Semua kebutuhannya disediakan. Sehingga tumbuhlah La Kapa menjadi pemuda manja yang harus dituruti kemauannya. Bahkan ia tak mau sekolah. Keluargaku kaya raya, harta keluarga tak akan habis tujuh turunan, buat apa aku sekolah? Mungkin begitu pikirnya.

Bahkan hal itu berlaku juga dalam asmara, semua keinginanya harus dituruti. Hingga akhirnya ia terpikat pada seorang Khadijah. Pemudi anggun anak ‘Bumi Jara[6] Tolotui bernama Uma Mo’i[7] dari Kampo Rato. Meskipun La Kapa telah memiliki seorang isteri, ia ngotot melamar gadis itu. Padahal gadis itu sedianya akan dijodohkan dengan M. Tajul Arifin,[8] salah seorang cucu Sultan M. Sirajuddin yang terhitung masih kerabatnya. Uma Mo’i tak bisa berbuat apa-apa, La Kapa lebih berkuasa. Ia hanya berharap yang terbaik bagi anaknya. Dinikahkanlah mereka. Tahun 1940 ia menikahkan anak semata wayangnya itu.

Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, La Kapa tak mampu lagi menyembunyikan rahasianya dari isterinya bahwa ia sudah memiliki isteri sebelumnya. Khadijah marah besar, iapun nekat menceraikan La Kapa. Padahal saat itu ia tengah hamil muda buah cinta kasih mereka berdua. Kali ini, La Kapa yang perkasa tak dapat berbuat apa-apa. Ia harus terima keputusan Khadijah dengan lapang dada. Mereka pun berpisah.

Khadijah akhirnya kembali pada orang tuanya dan pada tahun 1941, bersamaan dengan masuknya Jepang, ia melahirkan anak pertamanya tanpa seorang suami. Anaknya itu laki-laki, kakeknya Uma Mo’i memberikannya nama Ya’kub.[9] Kakeknya yang mengasuh dan membesarkan Ya’kub hingga Ya’kub tamat SG (Sekolah Guru) dan menikahi gadis dari Simpasai. Ya’kub tumbuh tampa mengenal ayahnya ataupun keluarga ayahnya. Seolah ibunya telah menanamkan kebencian dalam diri darah dagingnya itu terhadap ayahnya sendiri dan keluarganya. Sampai-sampai iapun tidak dinasabkan kepada ayah bilogisnya, namun dinasabkan kepada kakeknya (Jama’a yunus, Uma Mo’i). Yang ia tahu hanya cerita-cerita Konon ia memiliki banyak keluarga di Potu yang sama sekali belum dikenalnya. Hanya satu nama yang masih ia ingat, H. M. Kasim M. Saleh, kakak dari ayah kandungnya.

Sedangkan La Kapa sendiri, selepas bercerai dengan Khadijah, ia melanjutkan petualangan cintanya dengan tujuh wanita lainnya. Sehingga jumlah wanita yang pernah menjadi isterinya genap menjadi sembilan. Memang di zamannya, poligami menjadi semacam trend. Di hari tuanya orang memanggil La Kapa dengan nama Uma Kepo. Ketika ia meninggal, keluarganya memakamkannya di Rade Sala.[10] Adapun mantan Istrinya Khadijah, akhirnya dilamar oleh adik kandung Sultan M. Sirajuddin bernama Uma Mejo (H. Abdul Majid Abdullah). Khadijah dan Uma Mejo dikaruniai lima orang anak, tiga di antaranya masih hidup.

Oh, ya. Ngomong-ngomong, baik penulis maupun sumber yang penulis wawancara tidak mengetahui secara pasti kapan kejadian pertama kali orang Dompu melihat pesawat terbang ini. Namun, ada sebuah catatan sejarah yang menyebutkan bahwa pada tahun 1921, seorang pilot Australia pernah mendarat darurat di Rawa Pali ‘Belo, Kesultanan Bima. Saat itu Sultan Bima yakni Sultan M. Salahuddin memerintahkan rakyatnya untuk membuat landasan pacu untuk pesawat milik tentara Australia tersebut. Landasan pacu itu dibuat sepanjang 300 meter dan dibuat dari anyaman bambu. [Uma Seo]

.

Catatan Kaki:

[1] “Kapaaaaaaaaaaaaaaa………… Mbeija piti sakaru……………” (pesawat…… berikan uang sekarung………) “Kapaaaaaaaaaaaaaaa…………….. ‘ba’buja piti sakaru………….” (pesawat…….. jatuhkanlah uang sekarung…….)

[2] Dulu namanya Izn-Rand Onda, Al-Andalus. Dahulu Spanyol dan Portugis termasuk salah satu Provinsi Khilafah Islam (Provinsi Al-Andalus) dengan dihuni oleh 3 agama secara rukun. Namun kaum kristen berhasil menguasainya serta membantai kaum muslim dan Yahudi sehingga tidak ada satupun pemeluk kedua agama itu tersisa di Andalus saat ini.

[3] Sering disebut Kesultanan / Imperium Turki Ottoman

[4] Wajar jika dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim Rasulullah menyebut Khalifah sebagai benteng. Ketika benteng itu sudah tiada, Yahudi dengan mudah menduduki Palestina dengan bantuan Inggris. Tahun 1918, Inggris secara resmi menguasai Turki dan tahun 1924 Sistem Khilafah dihapuskan diganti dengan Sekulerisme dan Demokrasi.

[5] Sesuai kaidah pembentukan kata sapaan dalam masyarakat Dompu.

[6] Bumi Jara (Kepala Pasukan Kavaleri) adalah salah satu jabatan di Kesultanan Dompu. Posisinya di bawah Rato Renda (Menteri Pertahanan).

[7] Nama aslinya Jama’a Yunus.

[8] Sultan terakhir Dompu yang bergelar Mawa’a Sama.

[9] Ya’kub adalah HM. Ya’kub Jama’a atau Guru Eko adalah salah satu narasumber dari tulisan ini, sekarang tinggal di Selaparang, Desa Matua. Beliau adalah kakek dari penulis.

[10] Sebuah Kompleks Pemakaman Kuno di Dompu.

Dipublikasi di Sejarah Dompu | Tag , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Mawa’a Taho, My Real Hero


Cincin bergambar Sultan Sulaiman Al Qanuni

Kambali Dompu Mantoi – Pahlawan adalah seseorang yang telah berjasa untuk kita, menyelamatkan diri kita, menghadirkan kebaikan untuk kita atau menghindarkan keburukan dari kita. Jadi kita tak perlu menyederhanakan pahlawan sebagai seseorang yang telah bersikap heroik menyelamatkan nyawa wanita cantik sambil bergelantungan di jaring laba-laba, atau seseorang yang bagi-bagi sembako hasil curiannya untuk orang miskin, atau sekedar terbang ke sana ke mari sambil memakai cawat merah. Pahlawan tidaklah sesederhana yang dipikirkan oleh para orang bingung, bahwa pahlawan itu haruslah naik kuda sambil menenteng pedang dan memacunya ke arah segerombolan tentara kompeni. Bukan.

Lalu apa nikmat terbesar kita?  Keselamatan terbesar seorang anak manusia? Tentu saja nikmat terbesar kita adalah Iman, keselamatan terbesar kita adalah dijauhkan dari neraka dan berhasil mencapai surga. Iya, itu dia. Maka orang-orang yang berjasa mengislamkan kita, memberi petunjuk pada kita, sehingga kita terhindar dari siksa api neraka dan mendapatkan kesempatan emas untuk mencicipi kenikmatan surga, mereka sesungguhnya the real hero, pahlawan asli. Sayyiduna Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para Ulama’ yang mewarisi ilmu beliau dalam dakwah, para Khalifah pengganti beliau dalam mengobarkan jihad untuk menghancurkan raja-raja yang menghalangi penyebaran Islam, para mujahid yang gugur karenanya, serta para raja (penguasa) yang telah dengan suka rela memeluk agama tauhid ini agar rakyatnya mengikuti, merekalah pahlawan sejati!

Dalam konteks kita Dou Dompu, Mehmed Celebi, Sunan Giri, dan Sunan Prapen serta orang-orang yang bersama mereka adalah orang-orang yang turut menikmati pahala atas jasa tidak langsung mereka dalam pengislaman Dompu. Syaikh Nurdin, Syaikh Abdul Salam bin Nurdin, Syaikh Hasanuddin Warokali merupakan pahlawan utama yang mana atas jasa besar merekalah Islam tersebar di Dompu. Dan kita juga tidak boleh lupa, penerimaan Dewa Mawa’a Taho terhadap Islamlah yang turut mempermulus semua itu. Bisa kita bayangkan bagaimana seandainya Mawa’a Taho adalah seorang Raja Sekelas Fir’aun atau Abu Jahal, atau minimal Sekelas Raja Salisi Mantau Asi Peka, pasti dia akan mengusir Syaikh Nurdin dan memerangi para da’i yang diutus Sunan Prapen. Jika sudah demikian apakah pengislaman Dompu akan berhasil.

Jika pengislaman Dompu gagal, maka tidak akan ada Islam di Dompu. Sebagaimana Sebuah Pulau di timur P. Jawa memilih tetap bersama agama nenek moyangnya akibat dahulu sang raja menolak memeluk Islam. Maka nikmat Islam, sekali lagi, adalah nikmat terbesar kita. Dan orang-orang yang telah disebutkan di atas adalah orang-orang yang telah berjasa menghadirkan Islam ke tanah ini. Lewat tangan merekalah Allah menghadirkan iman ke dalam hati kita.

Namun mereka bukanlah orang yang gila hormat, mereka tidak mengharap untuk disebut pahlawan. Hanya kita ini memang terlalu kurang kerjaan untuk memperjuangkan gelar pahlawan ini dan itu. Padahal masih banyak hal substansial yang lebih perlu didahulukan. Kita ini hanyalah kumpulan orang bingung nan gegabah. Para pahlawan itu mereka tak perlukan balasan dari kita. Cukup kita kenang mereka dalam hati kita dan juga mendoakan kebaikan untuk mereka. Balasan untuk mereka kelak akan sempurna diberikan oleh Sang Maha Kuasa. Apalagi kalau bukan surga? [Uma Seo]

Dipublikasi di Opini | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Banjir, Takdir atau Salah Kelola?


Banjir Dompu 4 Nov 2017 sumber fb.com_andi.hermawan

Banjir di Dompu (Sumber: fb.com/andi.hermawan)

Kambali Dompu Mantoi – Banjir kembali melanda Kabupaten Dompu, NTB. Dikutip dari suarabbc.com (4/11/2017), hujan yang mengguyur hampir semua wilayah di Kabuaten Dompu itu cukup deras disertai angin kencang. Sekitar pukul dua siang, hujan sudah mulai turun diseputar kota, di Kecamatan Dompu dan Kecamatan Woja.

Masih dikutip dari suarabbc.com, belum dapat satu jam, air dari sungai Silo yang melewati Lingkungan Mantro Kelurahan Bada, Kampung Samporo Kelurahan Bali Satu dan Kampung Sigi  Kelurahan Karijawa mulai meluap. Akibatnya ratusan rumah warga terendam banjir. Selain besar, aliran banjir juga cukup deras. Begitu juga banjir yang melanda warga di Kelurahan Kandai Dua, Kecamatan Woja. Luapan air dari sungai Laju tak dapat dielakkan, sehingga menggenangi rumah mereka.

Mungkin sebagian orang menganggap bahwa banjir di Dompu merupakan bencana tahunan yang melanda ketika musim hujan tiba. Banjir ini sesuatu “takdir” yang tak dapat dihindari. Namun tidak sedikit pula yang menuding bahwa banjir diakibatkan oleh salah kelola pemerintah. Mereka menuding bahwa maraknya kegiatan peladangan liar yang dilakukan oleh warga di daerah pegunungan menjadi faktor utama terjadinya banjir, sedangkan pemerintah seolah menutup mata terhadap aktifitas masyarakat itu.

Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh pemilik akun facebook bernama Yan Mangandar Putra dalam diskusi di sebuah Grup Facebook. Menurutnya, Sebab banjir salah satunya karena hutan gundul dari beberapa sebab banjir lainnya seperti yang diajarkan waktu SD dulu… Meski saya belum membaca hasil riset namun kita enggak bisa bohongi, bagaimna secara kasat mata kita lihat bukit/pegunungan di Dompu sudah sebagian besarnya gundul karena semngat mensejahterkan perut yang tidak terkontrol dengan mengabaikan kelestarian alam.. Jika hal sperti ini terus dibiarkan maka dampak kedepannya sangat tidak bagus.

Pemilik Akun Ais Ardin menimpali, pemerintah prov. NTB Khususx dinas kehutanan harus tegas brantas pembalakan liar soalx hutan di Dompu dah habis tolong diperhatikan dengan serius.

Kantapu douma ngguda jago ra kaukaika ampode wau tapa pembalakan liar, tandas pemilik akun Muhammad Fikrullah. (Laranglah warga yang disuruh menanam jagung itu baru kita mampu menghentikan pembalakan liar).

Menurut MaDA, dua macam pendapat di atas tidaklah keliru. Banjir memang kerap melanda Dompu sejak dahulu. Hal ini sebagaimana tercatat dalam sejarah bahwa gelar Sultan Tajul Arifin I adalah Mawaa Mbere. Apalagi topografi Kota Dompu terletak di lembah dan dataran rendah serta merupakan daerah pertemuan sungai-sungai yang cukup besar, sehingga potensi banjir sangat tinggi. Lebih jauh lagi, daerah-daerah yang terkena dampak banjir tiap tahunnya, harus diakui merupakan daerah aliran sungai atau di bantaran sungai. Daerah aliran Sungai Silo di Kelurahan Bali Satu, Bada, dan Karijawa serta daerah aliran Sungai LAju yang melewati Kelurahan Kandai Dua dan Monta Baru kerap dilanda banjir. Termasuk juga daerah aliran Sungai Soa / Sorisakolo di Kelurahan Simpasai.

Di samping itu, kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai masih amat rendah. Padahal banyaknya sampah yang menyumbat aliran sungai menjadi salah satu faktor terjadinya banjir.

Namun di sisi lain, penggundulan hutan secara massif yang dilakukan oleh masyarakat di daerah hutan di hulu sungai akan memperbesar potensi banjir karena daerah resapan air yang berkurang drastis. Maka, selain solusinya dengan melakukan relokasi warga bantaran sungai, pemerintah juga harus berani tegas terhadap praktek penggundulan hutan atas nama ngoho di hulu sungai. kegiatan penghijauan akan sangat lama efeknya karena pohon yang ditanam tidak akan tumbuh besar dalam sehari. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati?

Sebenarnya, pemerintah Dompu tidak tinggal diam untuk menangani dampak masalah banjir. Beberapa tahun lalu sudah dilakukan program relokasi warga yang menempati daerah rawan banjir. Namun program ini tak seluruhnya berhasil sehingga kemungkinan besar warga tersebut kembali ke tempat tinggal yang lama. Misalnya saja warga relokasi dari Kampo Samporo, Bali satu yang direlokasi ke Maulana. BAnyak yang mengeluhkan kesulitan mendapatkan air bersih sehingga mereka tidak betah bermukim di tempat itu. Banyak warga yang akhirnya memilih pindah dan menjual atau mengontrakkan rumahnya di MAulana. Maka ke depan, program relokasi ini harus dievaluasi dan diperbaiki lagi.

Begitu pula dengan program reservasi hutan sebagai daerah resapan air harus diperhatikan. Meskipun kewenangan pengelolaan hutan telah dialihkan kepada Pemprov, namun bukan berarti Pemda harus tinggal diam melihat penghancuran hutan yang massive. Hal ini sebagaimana yang ditulis oleh akun Yan Mangandar Putra. “Baru baru ini pertanggungjawaban terkait pengelolaam hutan ada di Pemerintahan Propinsi, namun tidak haram hukumnya Pemerintah Daerah Kabupaten melahirkan segera kebijakan yang pro terhadap kelestarian hutan, hal ini yg belum maksimal terlihat bahkan terkesan dibiarkan pembalakan liar terus terjadi,” tulisnya. [Uma Seo]

 

 

Dipublikasi di Opini | Meninggalkan komentar

Bahasa Tarzan Ala Dou Dompu


bahasa tarzan ala dou dompu

Kambali Dompu Mantoi – Pernah menonton film Tarzan, seorang manusia yang dibesarkan oleh sekawanan gorila di hutan Afrika? Tarzan dapat mengerti dan berkomunikasi dengan hampir semua hewan di hutan. Bagi anda yang pernah mengalami masa kecil di tahun 1990-an, pasti anda akan menjawab pernah. Dulu, Televisi adalah barang mewah bagi orang Dompu. Sehingga rumah-rumah orang kaya yang sudah lebih dahulu punya TV akan dijejali oleh anak-anak hingga orang tua yang ingin menonton TV. Biasanya film india atau film Rhoma Irama.

Kembali ke topik. Sebagaiman manusia, hewan adalah mahluk Tuhan yang dapat diajak berkomunikasi. Tentu saja dengan bahasa tersendiri. Nah, berikut ini MaDA sajikan beberapa contoh bentuk komunikasi Dou Dompu dengan hewan. Setelah membaca artikel ini, anda harus menyadari bahwa Dou Dompu bukanlah sebuah komunitas masyarakat yang miskin identitas dan budaya. Anda harus sadar bahwa Dou Dompu pun punya bahasa! Yeahhhh…………… meskipun hanya “Bahasa Tarzan,” hehehe………

.

1 Bicara Dengan Kuda (Jara)

Pada zaman old, kuda adalah hewan yang sangat penting bagi orang Dompu. Kuda adalah aset penting yang harus dimiliki oleh setiap orang. Fungsi utamanya adalah untuk alat transportasi. Selain itu memiliki kuda merupakan sebuah prestise. Hingga saat ini kuda dari Pulau Sumbawa (NTB) atau yang terkenal dengan nama kuda Sumbawa, sangat terkenal di Indonesia. Padahal di Dompu (NTB) dan juga Bima, kuda itu disebut dengan nama Jara Sumba (Kuda Sumba, NTT). Menurut Bernice De Joeng Boers, diperkirakan kuda di Sumbawa dibawa oleh pendatang dari Jawa.

Karena fungsi utama kuda adalah alat transportasi darat, maka kuda sejatinya diciptakan untuk berlari dan terus berlari. Dan kuda hanya mengenal satu kata, yakni kata “Hui…!!!” Jika anda mengatakannya, maka otomatis kuda akan berlari. Entah ada anda di punggungnya, atau anda hanya sedang mengusirnya.

.

2 Bicara dengan kerbau (Sahe)

Kerbau biasanya dimanfaatkan untuk membajak sawah yang akan ditanami. Ketika membajak sawah itulah terjadi komunikasi antara pembajak dengan kerbaunya. Jika ia ingin kerbau itu belok kanan maka ia akan mengatakan “je” dan jika ingin kerbau belok kiri ia akan mengatakan “aaa.” Jika ingin menambahkan penekanan, ia cukup mengucapkannya secara berulang ulang, “Je je je, aa aa aa.” Bahkan dahulu sebelum traktor menggantikan fungsi kerbau, akan kita jumpai petani yang membajak sawahnya sambil bersenandung. Jeeee……….. je je je… ‘a ‘a ‘a. 😀

.

3 Bicara Dengan Sapi (Capi)

Sapi masih saudara kerbau. Hanya saja orang Dompu tidak memanfaatkannya untuk membajak sawahnya. Sapi biasanya diternakkan dengan cara dilepas di perbukitan, gunung, dan hutan. Baru ditangkap ketika dibutuhkan untuk hajatan atau untuk dijual. Sehingga kadang-kadang sapi-sapi ini masuk ke kebun dan ladang orang lain. Jika hal itu terjadi, pemilik kebun atau ladang cukup mengatakan “huaaa!” sembari melempar batu atau ranting kayu. Dengan cara itu, maka para sapi sudah bisa cukup mengerti bahwa kehadiran mereka tak diinginkan. Mudah, kan?

.

4 Bicara Dengan Kambing (Mbe’e)

Selain Kuda, kerbau, dan sapi, hewan ternak lain yang cukup penting bagi masyarakat Dompu adalah kambing. Kambing tergolong hewan yang manja, dan selalu kritis menanyakan lokasi karena dia akan selalu mengeluarkan suara “’Beeeee” yang menurut orang Dompu berarti mana. 😀

Jika anda ingin memanggil kambing, cukup ucapkan ‘beee menirukan suara kambing, dan jika ingin mengusirnya maka ucapkanlah Tui…!!!

.

5 Bicara Dengan Anjing (Lako)

Anjing adalah salah satu aset bagi petani dan pemburu. Anjing dimanfaatkan untuk menjaga tanaman petani dari serangan hama babi hutan. Selain itu, anjing juga digunakan untuk berburu kijang atau menjangan. Karena anjing adalah hewan yang cukup pintar dibanding hewan lainnya, maka anjing cukup pintar mengenal nama yang diberikan oleh majikannya. Misalnya anjing itu bernama BOY, maka anda cukup mengucapkan, “Boy, ti ti ti, oe oe” Secara berulang-ulang. Dan jika anjing membuat anda jengkel, anda cukup menghardiknya dengan mengucapkan “Cike!!!” sembari melemparinya dengan batu. 😀

.

6 Bicara Dengan Kucing (Ngao)

Kucing adalah hewan domestik yang sangat disayangi oleh masyarakat Dompu. Dalam tradisi masyarakat Dompu, kucing harus dipelihara dan diperlakukan dengan baik karena ia dipercaya akan membawakan air minum ke kuburan tuannya ketika tuannya itu sudah meninggal. Sehingga ketika ada kucing yang mati, ia akan diperlakukan dengan terhormat. Dibalut dengan kain kafan dan digali liang kuburnya. Ini sebenarnya kepercayaan yang keliru, karena kucing tidak pernah sekalipun akan membawa air minum ke kuburan. Karena jarinya pendek dan tidak bisa memegang gelas. Satu-satunya hal yang tepat adalah memperlakukan kucing dengan penuh rasa sayang karena Rasulullah memerintahkannya. Lokasi liang kubur sang kucing biasanya akan dipilih di bawah pohon nangka, mangga, jambu, atau pohon produktif lainnya dengan kepercayaan bahwa jasad kucing itu akan menyuburkan tanah dan membuat pohon cepat berbuah. Dan ini kepercayaan yang didukung oleh fakta sains.

Oh ya, hampir lupa. Jika ingin berkomunikasi dengan kucing, cukup ucapkan “nci nci nci” atau “cing cing cing” secara berulang ulang untuk memanggilnya. Jika ingin mengusirnya, ucapkan, “Ci..!!!”

.

7 Bicara Dengan Burung Pipit (Kari’i)

Banyak spesies burung pipit di Dompu. Ada yang disebut sebagai Kari’i Abu, Kari’i Jompa, dan sebagainya. Pokoknya sebutan kari’i adalah khusus untuk burung dengan ukuran mini semacam pipit atau kecial. Burung pipit biasanya menjadi hama bagi petani karena memakan padi yang telah siap panen. Sehingga para petani akan mengusirnya dengan mengucapkan, “Huaaa….!!!”

Pada saat penulis kecil, kakek akan membuat sebuah bendera dari plastik transparan bekas bungkus pupuk atau bibit padi. Ketika bendera itu dikibaskan dengan kencang, maka akan mengeluarkan suara keras yang mengejutkan para burung pipit dan membuat mereka terbang menjauh. Setidaknya hal itu bisa mencegah kerusakan pita suara gegara terlalu sering mengucapkan “Huaaa…!!!” 😀

.

7 Bicara Dengan Babi Hutan (Wawi)

Babi hutan merupakan hewan yang populasinya sangat banyak di perbukitan dan hutan-hutan Dompu. Ia menjadi hama bagi tanaman petani di kebun, sawah dan ladang. Babi mungkin hewan paling fenomenal dalam hal ini. Karena meskipun ia dapat diusir dengan mengucap, “Huaaa…!!!” namun ia adalah hewan yang dapat mengerti perkataan manusia. Sehingga seringkali petani mengajaknya bicara. Misalnya petani memintanya jangan mengganggu tanamannya. Selain itu ada sebuah kepercayaan di tengah masyarakat Dompu bahwa babi paling tidak suka ditantang.

Jika ada orang datang, memang biasanya babi akan memilih pergi dan menghindar. Namun menurut kepercayaan masyarakat Dompu, jika orang itu mengatakan “waripu wekimu dou ranggaeee…” (balikkan badanmu hai lelaki perkasa) atau “mai mbalipu dou ranggaeee….” (kembalilah kemari hai lelaki perkasa), maka babi itu akan kembali dan menyerang orang itu secara bertubi-tubi atau membabi buta. Namanya juga babi. Sehingga, meskipun orang itu berlari dan memanjat ke pohon asam sekalipun, babi hutan itu akan tetap menunggunya turun.

.

8 Berbicara Dengan Monyet (‘Bote)

Bote, adalah hewan paling rakus dan tamak sedunia. Sehingga wajar jika dalam karya-karya sastra fiksi masyarakat Dompu Zaman old, ‘bote selalu memerankan tokoh antagonis sebagai personifikasi sifat-sifat buruk yang dimilikinya. ‘Bote selalu menjadi hama bagi tanaman petani, terutama bagi ladang-ladang yang berada di perbukitan, di gunung-gunung, atau di pinggir hutan. Seringkali masyarakat membuat jebakan yang dinamakan saketi ‘bote untuk menangkapi dan membunuh hewan-hewan ini.

Lantas bagaimana cara berkomunikasi dengan ‘bote? Orang Dompu mungkin paham bahwa mengusir mahluk ini dengan mengucapkan kata “Huaaa…!” dari jauh tidaklah berguna. Karena ‘bote  bukanlah hewan yang gampang untuk ditakut-takuti dengan suara keras apalagi mau diajak bicara baik-baik. Maka mereka lebih suka untuk melempari para ‘bote dengan batu atau ranting kayu. Jadi jika ada orang yang meiliki sifat-sifat seperti ‘bote ini, maka orang Dompu tidak akan memperpanjang kalam, namun mereka akan memperpanjang “galah.” 😀 😀 😀

.

Sebenarnya masih banyak bentuk-bentuk cara berkomunikasi orang Dompu dengan hewan. Misalnya dengan kamau (ular sanca), peo (ayam hutan), kahoro (perkutut), kampodu (burung tekukur), kawubu (puyuh), atau karakoa (burung kuwau). Namun anda cari sendiri sajalah. Maki MaDA ketik ke. 😀 😀 😀 [Uma Seo]

Dipublikasi di Romantisme | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Suara Dompu Untuk Rohingya


Kambali Dompu Mantoi – Aksi Solidaritas Masyarakat Dompu untuk kaum muslim Rohingya yang diadakan pada hari Rabu (5/9) diikuti oleh ratusan massa aksi dari berbagai kalangan. Mulai dari kelompok yang dianggap radikal hingga yang dianggap paling moderat sekalipun turut meramaikan aksi ini. Allahu Akbar!

1

2

3

 

6

Dipublikasi di Do Little to Reach a Big Goal | Meninggalkan komentar

Idul Fitri Ala Sultan Dompu


Foto Sultan Dompu M Sirajuddin

Sultan Dompu, M. Sirajuddin (sumber: facebook.com)

Kambali Dompu Mantoi – Kesultanan Dompu memiliki tradisi tersendiri ketika menjelang Idul Fitri atau yang dalam kalangan masyarakat Dompu disebut sebagai Aru Raja (baca: hari raya). Khusus untuk Idul fitri, mereka menyebutnya aru raja to’i (hari raya kecil) sedangkan idul adha disebut aru raja na’e (hari raya besar).

Di lingkungan Asi (istana), Sultan Dompu biasanya menyelenggarakan sebuah upacara bernama Lu’u ‘Daha. Upacara Lu’u ‘Daha diadakan untuk memeriahkan atau memperingati Idul Fitri, Idul Adha, dan Maulid Nabi. Secara bahasa Lu’u berarti “masuk” sedangkan ‘daha berarti “senjata” atau “pasukan bersenjata.” Dinamakan upacara Lu’u ‘Daha disebabkan karena dalam prosesi upacara ini pasukan bersenjata kesultanan beserta para pejabat tinggi akan melakukan konvoi atau arak-arakan menuju istana. Pasukan yang disebut sebagai ‘daha ini akan memasuki lingkungan istana menemui sultan untuk menyatakan ketundukan dan kesetiaan mereka terhadap sultan yang berkuasa. Prosesi upacara ini dijelaskan oleh Israil M. Saleh dalam bukunya Seputar Kerajaan Dompu pada halaman 174.

parade kesultanan di dompu 1945

Parade Kesultanan Dompu thn 1945 (Sumber: Flickr)

Upacara Lu’u ‘Daha dimulai di kediaman Rato Renda (Menteri Pertahanan/Panglima Pasukan). Di sana seluruh pasukan berbaris dengan rapi lengkap dengan seragam dan senjata khas masing-masing jenis pasukan dengan dipimpin oleh Rato Renda. Para penari pun juga disiapkan. Setelah semua siap, arak-arakan pasukan pun diberangkatkan dari kediaman Rato Renda menuju Asi. Sepanjang perjalanan arak-arakan tersebut akan diiringi terus oleh Mpa’a Sere, sebuah tarian yang menggambarkan kegagahan dan kelincahan seorang prajurit Dompu yang siap bertarung dengan gagah berani.

Sesampainya di pintu Asi, maka diperagakan Kanca, sebuah tarian yang akan dilakukan oleh pejabat Rato Renda. Setelah Kanca, lalu dilanjutkan dengan Toja, sebuah tarian yang menggambarkan keanggunan dan merupakan semacam cara penyambutan terhadap tamu yang datang ke istana.

Setelah selesainya tarian kanca dan toja, maka seluruh pasukan akan melakukan Mihu ro Makka. Mereka berikrar di hadapan sultan untuk senantiasa setia dan patuh terhadap sultan yang dipersepsikan sebagai Hawo ro Ninu (Pengayom dan pelindung) bagi seluruh rakyat Kesultanan Dompu. Acara kemudian ditutup dengan do’a secara berjamaah yang akan dipimpin oleh Ulama Istana yang memegang jabatan Imam di Masjid Kesultanan (Masjid Syaikh Abdul Ghani Al-Jawi).

Setelah seluruh prosesi upacara Lu’u ’Daha selesai, maka sultan membagi-bagikan sedekah kepada rakyat miskin dan orang-orang yang tidak mampu. Berakhirlah seluruh prosesi upacara Lu’u daha ini. [Uma Seo]

Dipublikasi di Do Little to Reach a Big Goal | Meninggalkan komentar