Sembilan Predikat Sosial Dalam Masyarakat Bima


Predikat adat bagi suatu komunitas sosial adalah penegasan dari sebuah identitas sosial dan identitas politik sekaligus. Penggunaannya acap kali dimunculkan untuk membilah stratifikasi sosial yang cenderung mengulang era-era pembagian kasta di era lama. Bagi masyarakat Bima, predikat-predikat tersebut juga penting bukan hanya harus ditilik pada sisi yang konotatif semata, tetapi juga diperlukan untuk memudahkan seseorang melanggengkan hubungannya.

Bagi kebanyakan klan di Nusantara, penggunaan predikat tertentu sudah merupakan warisan pergaulan secara turun temurun. Kemudian di masa sekarang, predikat itu tidak lagi berfungsi untuk membeda-bedakan status sosial seseorang, tetapi digunakan sebagai sapaan akrab untuk mengurangi kebiasaan menyebut nama. Karena memang dalam tradisi orang Indonesia, jarang sekali kita memanggil orang lain dengan nama aslinya secara langsung.

Berikut ini Fitua munculkan beberapa predikat sosial yang ada dalam pergaulan kita sehari-hari :

Dae

Sebutan ini murni berasal dari Gowa. Seperti sudah kita maklumi bersama, bahwa kontak antara Makassar dengan Bima telah tebangun menjadi koneksitas kekerabatan dan adopsi budaya. Sebenarnya Daeng ada dua macam. Pertama; daeng sebagai sebutan kepada orang yang lebih tua atau yang dituakan. Sifatnya sama dengan Mas bagi orang Jawa, atau Akang bagi orang Sunda. Panggilan ini awalnya hanya milik suku Makassar saja karena ?daeng? memang sebenarnya adalah bagian dari budaya suku Makassar. Daeng sebagai panggilan kepada orang yang lebih tua dipergunakan merata kepada pria ataupun wanita.

Daeng yang kedua atau yang lebih spesifik adalah bagian dari paddaengang. Nah, ‘Paddaengang’ ini dalam tradisi suku Makassar adalah sebuah bagian penting. Istilah lainnya adalah ‘areng alusu’ atau nama halus. Seseorang yang bersuku Makassar biasanya akan menerima penyematan nama halus atau paddaengang ini di belakang nama aslinya. Nama halus atau paddaengang ini biasanya diambil dari nama para leluhur atau tetua dalam garis keluarga suku Makassar. Biasanya berupa do?a atau harapan, namun ada juga yang berupa ciri fisik atau kelakuan.

Menurut lidah Bima, istilah Daeng kemudian terdengar menjadi Dae saja. Sebutan ini biasanya berlaku bagi kerabat kerajaan yang masih memiliki hubungan kekerabatan ke atas dengan permaisuri dari Gowa. Sekarang sebutan Dae sudah berlaku umum saja, bahkan entah apa sebabnya, panggilan Dae tidak lagi berlaku khusus, tetapi berlaku umum untuk menghormati orang-orang yang baru dikenal. Di Dompu misalnya, panggilan Dae kadang hampir merata digunakan sebagai sapaan penghormatan pada orang yang dituakan.

‘Dae

Panggilan ini sepintas terdengar mirip dengan Dae, padahal penyebutannya sangat berbeda. Jika Dae disebut secara jelas dengan artikulasi konsonan D yang tebal, maka tidak sama terdengar pada sebutan ‘Dae yang huruf D-nya terucap tipis dengan menyentuhkan ujung lidah di langit-langit mulut. Tidak jelas maknanya, namun panggilan ini sempat terpelihara di beberapa kampung di wilayah timur Kota Bima.

Pua

Istilah ini berasal dari Bugis, yang dalam dialek Bugis disebut Puang. Awal mulanya tentu berkaitan dengan hijrahnya banyak laskar Bone pada masa perang besar antara Kerajaan Gowa dengan Kerajaan Bima (Hindu) pada sekitar tahun 1630-an. Para pasukan dari Bugis inilah yang merintis perkampungan baru di pesisir timur Sape, lalu membangun kebudayaan Bugis di wilayah Bima. Langgengnya kebudayaan ini juga dilegitimasi oleh bangsawan kerajaan Bima yang menjalin hubungan terikat dengan Sulawesi, baik itu perkawinan Raja dengan permaisuri dari Bugis, maupun kontak-kontak lainnya. Predikat Puang masih banyak digunakan di masyarakat desa Bugis dan Melayu di Sape, yang seiring waktu kemudian berubah penyebutannya menurut dialek Bima menjadi Pua.

Muma

Istilah ini hampir sulit ditemui dalam kosmologi Gowa maupun daerah lain di Nusantara. Fitua menduga, sepertinya sebutan ini adalah pembiasan dialek dari kata Ruma. Namun kebanyakan sebutan ini juga digunakan secara umum bagi kebanyakan orang yang mempunyai trah Kerajaan. Fitua sempat menduga jika istilah Muma berasal dari gelar adat Minang ‘Mamak’ yang diartikan sebagai ibu utama dalam adat istiadat setempat. Namun dugaan ini tidak memiliki alasan historis yang tepat.

Teta

Sebutan ini berasal dari pengaruh Bugis-Bone, dari kata ‘Petta’. Panggilan ini untuk menunjukkan trah kebangsawanan khusus di masyarakat Bone. Misalnya ketika ditanyakan, “Nigatu Wija idi’ Baco/Baso? (anda keturunan siapa Baso/Baco?). Jika mereka menjawab, “Iyye, iyya atanna Petta Pole (saya adalah hambanya Petta Pole)”. Petta juga menjadi julukan bagi panglima punggawa kampung atau ana to maredeka yang pernah ikut dalam pasukan khas tersebut. Istilah ini kemudian berubah dalam penyebutan orang Bima menjadi Tetta.

Tato

Sebutan Tato juga merupakan pengaruh Melayu Minang. Tato berasal dari kata Datok yang dalam dialek Minang dilafalkan “Datuak”, adalah gelar adat yang diberikan kepada seseorang melalui kesepakatan suatu kaum atau suku yang ada di wilayah Minangkabau dan selanjutnya disetujui sampai ke tingkat rapat adat oleh para tokoh pemuka adat setempat (Kerapatan Adat Nagari). Tetapi istilah Datu sendiri juga berasal dari bahasa Sansekerta, banyak digunakan dalam tradiri kerajaan-kerajaan Hindu lama.

Di Malasyia Dato’ adalah gelar kehormatan yang dianugerahkan oleh Sultn atau Raja atau Yang di-Pertuan Besar. Gelar ini dapat juga diberikan selain kepada laki-laki tetapi juga kepada perempuan, dan tak jarang ditambahkan dengan gelar yang lain seperti sri, maka jadilah “datuk sri…”. Dan yang agak bergeser sedikit adalah pemakaian gelar datuk atau dato’ di Malaysia tidak lagi diberikan hanya bagi orang asli Melayu tapi juga dapat diberikan pada etnis yang lain. Dalam sejarah Bima pun isteri dari Sultan Abdul Hamid disebut sebagai Datu Sagiri puteri Sultan Harun Arrasyid Raja Sumbawa. Gelar Datu juga digunakan oleh masyarakat Muslim Moro di Filipina. Gelar ini disandang oleh para pimpinan dari satu klan atau marga.

Sebutan Tato bagi masyarakat Bima sudah mengalami penyempitan makna menjadi ‘Kakek’. Sehingga secara luas, banyak yang menyebut kakeknya sebagai Ato.

Tati

Sebutan ini juga berasal dari Melayu. Aslinya adalah Datin, yang digunakan untuk menyebut para bangsawan tinggi Melayu, saat ini gelar Datin sudah sulit dijumpai di Malasyia kecuali bagi keluarga langsung kerajaan yang sudah dianugerahkan dalam upacara khusus. Gelar ini biasanya disematkan pada perempuan atau garis keturunan perempuan. Jika gelar Datuk Seri diberikan pada yang laki, maka Datin Seri disematkan pada perempuan dan keturunannya. Sebutan ini muncul di Bima pada pertengahan abad 16, ketika Islam mulai tumbuh di Bima dari pengaruh mubalig-mubalig dari Malaka, kemudian berubah menurut lidah orang Bima menjadi Tati. Sebutan ini hanya ada di kampung Soro – Melayu Kecamatan Lambu. Tidak begitu banyak orang yang menggunakannya, karena di kampung Soro – Melayu sana, orang-orang yang menggunakan sebutan ini jumlahnya cukup terbatas, dan berlaku hanya pada keluarga tertentu saja.

Ince

Sebutan ini sudah pasti berasal dari Melayu, tepatnya dari suku Pagaruyung di Minangkabau, dari awalnya adalah Encik atau Cik, yang kemudian oleh dialek orang Bima menjadi Ince. Dalam sejarah resmi Bo’, istilah Ince dinisbatkan pada generasi dari Datuk Ri Bandang dan Datuk Ri Tiro sebagai dua sosok Mubalig dari Minangkabau yang berhasil mengislamkan La Kai (?). Meski demikian, interaksi antara masyarakat Islam di Bima dengan kelompok-kelompok pedagang dari Melayu sudah terjalin erat sejak lama. Barulah sesudah Sultan Abil Khair Sirajuddin memerintah, maka rombongan keluarga besar mubalig tersebut hijrah ke Bima, lalu mendapatkan hak untuk menempati sebuah tanah yang luas untuk dikelola dan dijadikan sebagai perkampungan. Tanah tersebut berada di kampung Melayu Kecamatan Lambu sekarang ini. Wajar saja kemudian, kalau di kampung tersebut sampai hari ini sebutan tersebut tetap disematkan bagi keturunan-keturunan Melayu.

Uba

Barangkali sebutan ini termasuk yang paling tua dalam tradisi masyarakat Bima. Istilah Uba cukup sulit dirunut secara antropologis, dan saat ini mungkin hampir punah dari pergaulan orang Bima. Jika ditilik dalam perspektif fenomenologis, penyebutan kata Uba juga dinisbatkan secara terbatas pada klan tertentu, yang lebih banyak berkisar di wilayah Sape. Fitua menduga kalau istilah Uba adalah bahasa Bima lama yang digunakan sebagai julukan bagi para laskar Raja yang setia sejak zaman Hindu. Mereka adalah para pemberani dan terkenal sakti. Istilah ini pun hanya disematkan pada garis keturunan laki-laki.

Predikat-predikat adat yang terdapat dalam pergaulan sosial masyarakat Bima hampir bisa disimpulkan berasal dari predikat serapan. Hal tersebut dipengaruhi secara dominan oleh interaksi lintas komunitas antara orang Bima dengan masyarakat pendatang. Asimilasi kebudayaan yang sangat deteminan telah merubah kebudayaan Bima yang asli menjadi sebuah struktur sosial kuat yang menerapkan berbagai macam corak kebudayaan luar. Termasuk dalam hal penggunaan predikat adat, nama-nama asli selalu dibumbui dengan label adat tertentu untuk menegaskan identitas genetik seseorang.

Hanya saja bedanya ialah, jika di daerah asalnya, predikat itu selalu disandangkan sebagai bagian dari sebuah nama. Sedangkan di Bima, predikat itu hanya digunakan sebagai panggilan khas untuk sekedar membedakan status sosial. Misalnya; secara turun temurun keluarga saya selalu dipanggil Tati dan Datok, maka orang-orang akan memanggil saya dengan Tati La Niswa (Niswa adalah nama anak pertama saya). Begitu pula halnya ketika digunakan predikat Dae, akan menjadi Dae La Niswa, atau Pua La Niswa, Ince La Niswa, Tato La Niswa, Teta La Niswa dan Uba La Niswa. Bahkan cukup dengan sapaan predikat saja untuk menunjukkan sebuah keakraban dan hubungan khusus.

Sumber: http://fitua.blogspot.com/2011/12/sembilan-predikat-sosial-dalam.html

rpa bima_2

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Artikel Tamu dan tag , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Sembilan Predikat Sosial Dalam Masyarakat Bima

  1. alfian berkata:

    salah ni , gak tau sejarah bima sok tau loh, dae dalam bahasa makasar berarti daeng, kata daeng gelar tertua untuk keturunan raja baru karaeng, berdasarkan silsilah kerajaan goa (Hasannudin) hanya berlaku untuk keturunan kerajaan yang sekarang sebagian ke bima dalam hal perkawinan raja bima dengan putri raja Goa Makasar. rombongan penganten lalu berdiam di bima beranak pinak yang sekarang bergelar margany Dae .

    • Itu hanya artikel yang dikutip dari Blog lain. Silahkan protes kepada yang bersangkutan. Dan Ingat, anda tetap wajib sopan kepada orang yg salahnya cuma salah biasa dlm masalah seperti ini. Jika anda tidak tau apa itu sopan santun, silahkan sekolah kembali. Terima kasih telah berkunjung dan terimakasih atas perhatian anda yg tidak sopan.

    • Rajulun Hanief berkata:

      @Alfian: Ente yang sok tau bro. Tanya orang Bugis sanaaa. Saya masih berdarah bugis, ente apa? Di kalangan suku bugis, Karaeng adalah gelar untuk bangsawan keturunan Raja raja, di depan nama mereka ada kata Andi. Sedangkan tingkat di bawahnya dipanggil daeng untuk keturunan biasa. Daeng ini adalah panggilan umum utk orang yg lebih tua dan juga dipakai dalam paddaengang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s