Hari Ulang Tahun Bencana


kerangka manusia Tambora

Kerangka penduduk lereng Tambora ditemukan tahun 2009 (mencarirahasia.blogspot.com)

Kambali Dompu Mantoi – Anda masih menyangka bahwa Tambora benar-benar meletus tanggal 11 April 1815? Sepertinya anda kurang piknik (:D Maaf, just kidding). Anda harus tahu bahwa G. Tambora mengalami beberapa kali letusan di bulan April 1815. Letusan pamungkasnya yang menelan puluhan ribu korban jiwa terjadi tepat pada tanggal 10 April 1815. Tepat di hari ini, 203 tahun yang lalu. Letusan maha dahsyat yang menghancurkan sebagian besar puncaknya, meninggalkan kawah yang kelak menjadi kaldera terbesar di muka bumi.

Sejak tahun 1812, telah ada awan tebal yang selalu menyelimuti di puncak Tambora. Awan itu makin lama makin besar dan gelap dengan sesekali mengeluarkan suara bergemuruh. John Crawfurd, yang pada tahun itu mengikuti sebuah pelayaran menuju Makasar, telah menuliskan hal ini dalam bukunya Descriptive Dictionary of the Indian Islands.

Erupsi Tambora bermula pada tanggal 5 April 1815. Ditandai dengan dentuman-dentuman keras yang dapat didengar dari berbagai pulau di seluruh Nusantara. Dan pada tanggal 10 April, letusan-letusan itu makin keras.

Menurut catatan petugas Pemerintah Kolonial Inggris Letnan Owen Philip, puncak dari horor itu terjadi sekitar jam 7 malam. G. Tambora memuntahlan lava pijar ke udara. Lelehan lava pun terpencar ke berbagai arah. Satu jam kemudian, langit telah gelap akibat tertutup oleh debu vulkanik dan material yang jatuh dari muntahan kaldera. Suhu yang berubah secara drastis akibat letusan itu akhirnya menimbulkan badai tornado yang menyapu daerah sekitar lereng Tambora bahkan hingga radius sejauh Sanggar (Kore saat ini). Badai itu bahkan menerbangkan penduduk beserta rumah dan ternak bahkan pohon-pohon besar. Gempa vulkanik yang dihasilkanpun akhirnya menimbulkan tsunami.

Akibat letusan tambora, selama lima tahun berikutnya tanah pulau Sumbawa tidak dapat ditanami. Bencana kelaparan terjadi. Setengah dari populasi penduduk pulau Sumbawa musnah. Para ahli memperkirakan total korban letusan gunung tambora adalah 91.000 jiwa, baik akibat dampak langsung maupun akibat bencana kelaparan yang ditimbulkan. Penduduk P. Sumbawa yang selamat, akhirnya menuju pulau-pulau lain untuk menyelamatkan diri dari bencana kelaparan. Lombok dan Bali adalah tujuan utama. Bahkan ada yang diketahui menjual dirinya sendiri sebagai budak di Maluku.

Sampai di sini, bisa kita bayangkan seperti apa suasana saat bencana itu. Mayat manusia dan bangkai hewan bergelimpangan di mana-mana, perkampungan dan ibukota kerajaan luluh lantak, seluruh lahan pertanian tercemar oleh abu vulkanik yang beracun. Saat itu mungkin dunia serasa sedang kiamat. Semua orang saat itu menjadi lebih individualis dan pragmatis. Jangankan orang lain, dirinya sendiri pun akan dijual untuk dapat sepiring makan. Bahkan mereka menggali kuburan nenek moyang untuk mengambil barang berharga agar bisa ditukar dengan seikat padi. Bisa jadi saat itu rasa lapar membuat manusia lebih rendah dari hewan.

Lihatlah, hari ini, 10 April 2018, mari kita peringati Hari Ulang Tahun Bencana 203 tahun yang lalu. Bukan dengan berfoya-foya dan bergembira ria. Namun dengan mengheningkan cipta, berintrospeksi. Mari kita rasakan bagaimana sukarnya nenek moyang kita dahulu bertahan hidup [Uma Seo].

Iklan

Tentang Uma Seo

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Romantisme dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s