Kisah Pendirian Desa Bara – Dompu


perkampungan-dompu-tempo-dulu-1953

Foto Perkampungan di Dompu tahun 1953

Kambali Dompu Mantoi – Desa Bara adalah nama salah satu desa di Kecamatan Woja Kabupaten Dompu di Pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat. Secara administratif, wilayah Desa Bara membentang dari daerah di barat Bukit Doro Nowa hingga kaki Bukit Doro Sumba di Desa Madaparama. Dari perbukitan di sebelah selatan Bukit Doro Ncando hingga muara sungai besar yang berhilir di Teluk Cempi. Ada dua versi cerita mengenai asal muasal nama Desa Bara. Versi pertama mengatakan bahwa nama Desa Bara berasal dari nama fu’u haju bara. Sedangkan versi yang kedua mengatakan bahwa nama bara berasal dari kata barat dalam bahasa melayu. Disebut demikian karena dahulu pada awal pendiriannya kampung bara adalah kampung paling barat di wilayah administratif Tureli[1] Dompu.

Versi pertama tidak didukung oleh fakta historis maupun fakta aktual. Sebab sampai saat ini, di Desa bara tidak terdapat banyak pohon bara yang tumbuh. Sedangkan versi kedua diterima oleh sebagian besar masyarakat bara. MaDA sendiri memilih versi ketiga, bahwa masyarakat Bara yang asli berasal dari para bangsawan Bima yang berasal dari Kampung Bara –  Bima (Sekarang Lingkungan Bara, Kel. Paruga). Ini berdasarkan hasil penelusuran MaDA (penulis).

.

Pendirian Desa Bara

Di masa pemerintahan Sultan M. Siradjuddin Manuru Kupa, hiduplah seorang sakti dan pandai bernama Ompu Emo. Karena kesaktiannya, sultanpun tertarik untuk belajar darinya. Sultanpun mengangkatnya menjadi guru. Untuk menghormati jasanya, sultan memberikan hadiah berhektar-hektar tanah di So Madarutu[2] di sebelah barat Bukit Doro Nowa. Areal persawahan yang subur yang terbentang di sebelah barat Doro Nowa hingga sungai nun jauh di barat adalah tanah milik sultan yang terbagi atas beberapa areal persawahan yang disebut so. Sultan berkenan memberikan beberapa petak sawah yang ada di So Madarutu kepada Ompu Emo. Sultan juga menjadikan Ompu Emo sebagai penjaga dan pengurus seluruh sawah milik sultan di wilayah itu.[3]

Ompu Emopun memboyong seluruh keluarga besarnya ke daerah itu. Terbentuklah sebuah pemukiman yang dalam istilah lokal disebut Mporo, yakni pemukiman yang terdiri atas beberapa kepala keluarga saja. Sebuah Mporo atau dapat kita padankan dengan istilah dusun, dipimpin oleh seorang Sarian. Ompu Emo dan keluarganya membangun pemukiman di sebelah timur sungai yang sekarang tempat itu bernama Dusun Bara, Desa Bara.

Ompu Emo memiliki lima orang anak, M. Hasan, Abdul Gani, M. Saleh, Ina Tau, dan Abdurrahman. Anak bungsunya, seorang anak laki-laki remaja yang ia beri nama Abdurrahman. Namun Abdurrahman lebih sering dipanggil dengan julukan La Habe. Julukan ini kemungkinan didapatnya karena wajahnya yang mirip habe (habib, orang keturunan Arab). Karena memang La Habe hidungnya mancung dan badannya tinggi. La Habe yang masih remaja itu dititipkan pada Sultan M. Sirajuddin dan menjadi pelayan sultan. Tugasnya adalah memastikan ketersediaan dan keamanan makanan, pakaian, tempat tidur, dan segala keperluan Sultan Muhammad Sirajuddin. Ia juga bertugas mengurus Balaba, keris sakti pusaka kesultanan Dompu. Ia juga akan mendampingi sang sultan ke mana saja beliau pergi. Tugas ini tidak akan diberikan kecuali kepada orang kepercayaan yang telah dibuktikan kesetiaan dan pengabdiannya pada keluarga Kerajaan secara turun temurun. Sehingga tidak sembarangan orang yang bisa mendudukinya. La Habe mengikuti Sultan M. Sirauddin yang dibuang ke Kupang dan meninggal di kota itu. Di sana ia memiliki lima orang anak.

Singkat cerita makin lama Bara makin ramai oleh penduduk pendatang baru. Bara berubah status dari sekedar Mporo menjadi sebuah Kampo (Kampung/Desa). Kepala desanya disebut dengan gelar Galara (Gelarang). Sepeninggal Sultan M. Sirajuddin yang dibuang ke Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Kesultanan Dompu secara paksa digabungkan dengan Kesultanan Bima.  Kepemimpinan Desa Bara berada di tangan para bangsawan yang diutus dari Kota Dompu. Namun sejak kedaulatan Kesultanan Dompu dikembalikan di bawah pimpinan Sultan M. Tajul Arifin, maka kepemimpinan Desa Bara dikembalikan pada keluarga Ompu Emo. Diangkatlah anak Ompu Emo yang bernama M. Hasan Amin menjadi Gelarang.

Hasan yang lebih dikenal dengan julukan Ompu Heso atau Ama Ante ini lahir pada tanggal 20 Mei 1920 dan wafat pada 23 februari 1982. Ia menjadi Kepala Desa Bara selama lebih dari 30 tahun hingga tahun 1980. Ia memiliki dua orang istri dan tujuh orang anak.[4]

.

Kedatangan Orang-orang Donggo ke Desa Bara dan Berdirinya Kampung Buna

Pada mulanya wilayah Desa Bara meliputi wilayah dari sebelah barat Doro Nowa hingga Teka Sire. Yakni wilayah Desa Bara dan Desa Madaparama saat ini. Namun hanya daerah Bara yang ditempati, yakni pemukiman di sebelah timur dan barat Sungai Bara. Selebihnya hanyalah areal persawahan, perbukitan dan hutan belantara.

Pada tahun 1950-an, masuklah para pendatang dari wilayah Kecamatan Donggo, Bima. Mayoritas mereka berasal dari Desa Doridungga. Mereka membuka perkampungan di sebuah pinggiran sungai di dekat sebuah mata air yang disebut Madaparama. Pemukiman mereka disebut dengan nama Kampung Buna. Kedatangan mereka akhirnya direstui pemerintah Kabupaten Dompu. Mereka diizinkan membuka pemukiman dan mengambil tanah di dataran pinggir sungai namun tidak diperbolehkan membuka ladang (Oma) di areal hutan dan perbukitan.

Sebagai masyarakat yang berasal dari wilayah Donggo yang terbiasa menggantungkan hidupnya dari hasil berladang (Ngoho), masyarakat Buna tentulah merasa kesulitan dengan adanya larangan untuk melakukan ngoho dari pemerintah. Namun berkat bantuan seorang tokoh bangsawan bernama Kamaluddin A.R.[5] yang melobi pemerintah dan aparat militer, maka akhirnya masyarakat Buna diberikan izin untuk melakukan pembukaan hutan dan melakukan perladangan (ngoho).[6]

Sejak saat itu, masyarakat asli Bara dan orang Buna hidup rukun dan saling tolong menolong, tidak pernah ada perselisihan di antara mereka. Tidak ada bangsawan atau budak, tidak ada kasta tinggi dan rendah. Semua saling menghormati sebagai sesama manusia dan sesama muslim. Bahkan di antara mereka banyak terbentuk ikatan kekeluargaan dan perkawinan. Dalam kepemimpinan Desa Barapun semua diperlakukan sama. Baik warga asli maupun pendatang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi kepala Desa. Tercatat dalam sejarah orang Buna pernah menjadi Kepala Desa di Bara.

Namun sejak tahun 2003, seiring reformasi dan otonomi daerah, Desa Bara dimekarkan menjadi dua desa. Yakni Desa Bara dan Desa Madaparama. Sejak saat itu, sering terjadi perselisihan di antara kedua Desa. Hal-hal sepele bisa menjadi pemicu pertumpahan darah dan permusuhan. Mereka lupa bahwa mereka sama-sama muslim dan Syariah Islam mengajarkan bahwa mereka bersaudara. Syariah mengajarkan bahwa tak ada yang memuliakan atau meninggikan derajat seseorang kecuali kualitas ketaatannya pada Allah SWT.

Alangkah bahagianya mereka jika mereka kembali bersaudara dan saling bahu membahu seperti dahulu, bunesi ntika Dompu Mantoi. #kambalidompumantoi, kembalikan Dompu yang dahulu. Dompu yang menerapkan Syariah Islam, Dompu yang aman dan rukun karena ketaatan rakyatnya kepada agama. Bahwa mereka semua bersaudara dan ashobiyyah (fanatisme kesukuan) hanya akan mengantarkan pelakunya ke dalam neraka.

Jika hari ini sistem demokrasi dan kapitalisme menyuburkan rasa ashobiyyah serta gagal menciptakan masyarakat yang bertaqwa. Maka tidak ada harapan lagi terhadap sistem buatan barat yang kafir itu. Satu-satunya harapan yang akan memperbaiki masyarakat dan menyatukan semua hati dalam ikatan iman adalah Dakwah, Syariah dan Khilafah. Mai ta-kambali Dompu mantoi, Dompu makakidi Sare’at Islam. Dompu sapaju Khilafah Islam. [Uma Seo]

Penulis: Faisal Mawa’aTaho

___________________________________________________________________

Catatan Kaki:

[1] Tureli adalah nama jabatan setingkat Gubernur. Ada tiga pejabat Tureli pada masa Kesultanan Dompu yang salah satunya bernama Tureli Dompu. Adapun wilayah Kekuasaannya adalah wilayah yang mencakup dua Jeneli (nama jabatan kepala daerah di bawah Tureli) yakni Jeneli Dompu dan Jeneli Katua. Meliputi daerah perbatasan dengan Kesultanan Bima hingga daerah yang sekarang disebut Teka Sire.

[2] So Madarutu, baca: Areal Persawahan Madarutu, sekarang terletak di Desa Bara.

[3] Berdasarkan penuturan cucu Ompu Emo, Usman bin Hasan bin Amin.

[4] Istri pertamanya bernama Salira atau biasa disapa Wa’i Laru. Darinya Ompu Heso memiliki empat orang anak bernama Ante (Almh. Umi Ante mertua M. Amin Agil Mandiri), Usman (Moa Dondo, tinggal di Bara), A. Rasul Hasan (telah meninggal, tinggal di Kandai Dua, Suami Hj. Siti Atiah A. Rasul), dan Usman Guntur (tinggal di Rato, Kel. Karijawa). Sedangkan dari istri keduanya ia memiliki tiga anak bernama Suharni (tinggal di Bara), Basuki (meninggal waktu kecil) dan Ikbal (tinggal di Jakarta).

[5] Kamaluddin bin Abdurrahman bin Mosse, lebih dikenal dengan nama Dae La Ante, dimakamkan di TPU Kampo Rato. Memilki dua istri dan enam anak di Bara.

[6] Berdasarkan penuturan putri dari Kamaluddin AR bernama Hawiyah.

Iklan

Tentang Faisal Mawa'ataho

Orang Dompu asli. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Sejarah Dompu dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Kisah Pendirian Desa Bara – Dompu

  1. Wawan Anggarana berkata:

    Mantap, Info Sungguh Berharga_Teruslah Meng_eksplore Agar Semua Yang Kurang Tahu Mendapatkan Pengetahuan, Terima Kasih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s