Kabar Hot, Di Sinilah Masjid Pertama di Dompu


foto-mesjid-demak-yang-diambil-pada-th-1810-humaspdg-files-wordpress

Ilustrasi Dengan Foto Masjid Demak

Kambali Dompu Mantoi – Masjid biasanya merupakan salah satu historical wittness dalam kesejarahan sebuah daerah. Bentuk arsitektur sebuah masjid melambangkan transisi sosial-budaya yang terjadi pada masyarakat setempat. Gaya arsitektur ini dapat berupa gaya yang benar-benar baru, maupun arsitektur khas yang tetap mempertahankan gaya bangunan budaya lama. Umumnya gaya arsitektur bangunan masjid di Indonesia adalah terkategori ke dalam kelompok yang kedua. Di mana gaya arsitektur masyarakat pra-Islam di Nusantara tetap menonjol dan dipertahankan. Hal ini menimbulkan pertanyaan, bukankah gaya bangunan pra-Islam itu adalah warisan kaum kafir? Mengapa tetap dipertahankan unsur filosofis agama pra Islam, apakah para ulama (Wali Songo khususnya) sangat bodoh dan tidak teliti dalam hal ini?

Melenceng dari pembahasan, sebenarnya pertanyaan di atas sama dengan pertanyaan: untuk apa memanfaatkan facebook atau blog untuk berdakwah, bukankah itu buatan orang kafir?

Perlu diperhatikan, dalam Islam ada yang namanya hadhoroh dan ada madaniyah. HADHOROH adalah segala bentuk produk pemikiran, ideologi dan filosofi epistemologis dari sebuah kebudayaan yang semuanya itu dibangun atau bersumber dari aqidah / keyakinan tertentu yang dianut oleh masyarakat pendukung kebudayaan tersebut. Misalnya pemikiran bahwa manusia adalah hewan / primata sehingga boleh saja dia hidup dan saling berinteraksi ala primata misalnya seks bebas dan gonta-ganti pasangan serta hidup telanjang. Pemikiran ini adalah hadhoroh barat, karena dibangun dari keyakinan masyarakat barat bahwa manusia itu ada dengan sendirinya melalui proses evolusi dari kera, bukan diciptakan oleh Tuhan. Oleh karena karakteristiknya yang tidak bebas nilai seperti inilah maka hadhoroh non-Islam haram diambil dan diterapkan. Misalnya pemikiran Kapitalisme, liberalisme dan sosialisme-komunisme.

Adapun MADANIYAH merupakan produk fisik dan teknologi sebuah kebudayaan. Jika produk fisik dan teknologi ini masih mengandung hadhoroh non-Islam, maka tidak boleh diambil/dipakai. Misalnya mimbar berbentuk salib atau patung dewa siwa. Namun jika benar-benar murni bebas nilai, maka boleh diambil dan dipakai. Misalnya teknologi informasi dan komunikasi, teknologi otomotif, teknologi kedokteran, teknologi elektronika, rekayasan genetika, dll. Termasuk di dalamnya adalah produk teknologi seperti mobil, motor, handphone, social media, dll semuanya bebas nilai dan boleh dimanfaatkan.

Nah, di sinilah kaitannya dengan topik kita. Gaya arsitektur bangunan terkategori madaniyah yang bebas nilai. Sehingga para ulama tidak mempermasalahkan bahkan memakainya dalam pembangunan masjid sebagai bangunan suci umat Islam. Bukankah Rasulullah SAW memanfaatkan teknologi militer berupa manjaniq[1] dan dababah[2] buatan Bani Daus yang masih kafir. Demikian juga Khalifah Umar ra mengadopsi sistem administrasi dari bangsa Persia. Itu karena teknologi militer dan sistem administrasi, meskipun produk dari Peradaban pra-Islam, namun keduanya merupakan madaniyah yang bebas nilai. Demikianlah dalilnya.

*****

Agama Islam masuk ke Dompu pada tahun 1520 M. Pembawanya adalah ulama keturunan Arab bernama Syaikh Nurdin (I.M. Saleh, 1985). Ia berhasil mengislamkan Sangaji Dompu, Dewa Mawaa Taho beserta keluarganya. Termasuk putera mahkota Kerajaan Dompu bernama La Bata Na’e. Lazimnya, pengislaman sebuah daerah akan diikuti dengan pembangunan pusat peribadatan berupa masjid. Dan masjid ini akan dibangun di pusat ibukota, biasanya berdekatan dengan istana sebagai pusat pemerintahan.

Ada sebuah tulisan yang telah lama beredar di jagad maya mengenai masjid pertama di Dompu. Dan tulisan ini semakin menambah kekaburan sejarah serta menyebarkan kesalahpahaman di tengah-tengah masyarakat Dompu. Sebab artikel ini masih terus dicopy-paste dari blog ke blog. Artikel itu menyebutkan bahwa masjid pertama yang dibangun adalah Masjid Abdul Ghani yang dahulunya terletak di kompleks kantor Kelurahan Karijawa. Padahal Karijawa, khususnya Kampo Rato, tidaklah menjadi pusat Ibu Kota Kesultanan Dompu melainkan pasca meletusnya G Tambora di tahun 1815 M. Artinya masjid Abdul Ghani bukanlah masjid pertama yang dibangun di Dompu. Karena masjid yang pertama kali dibangun haruslah berlokasi di pusat pemerintahan sewaktu masuknya Islam ke Dompu, yakni ibukota Kesultanan Dompu sebelum 1815 M.

Ridwan (1985) menjelaskan bahwa masjid ini merupakan masjid kesultanan yang pertamakali dibangun.  Terbuat dari konstruksi kayu jati dan berlantaikan tegel batu berukuran 50×50 cm dan tebal 4 cm. Masjid ini beratap susun tiga dan berlokasi di Kampo Sigi, Karijawa. Dibongkar pada tahun 1962. Mengutip hasil penelitian Tim Survey Kepurbakalaan Depdikbud Jakarta tahun 1974 yang meneliti puing-puing masjid, masjid kuno itu berukuran 25×15 m. Bata merahnya berukuran 26 cm dengan tebal 8 cm. Sedangkan ukuran tegel bekas lantainya yakni 54×48 cm (Ridwan, 1985: 59). Dari sini kita bisa simpulkan bahwa Masjid Kesultanan Dompu yang terletak di Kampo Sigi, Karijawa, merupakan masjid yang memiliki ciri serupa dengan masjid di Nusantara pada umumnya. Yakni perpaduan arsitektur pra-Islam dengan kebudayaan Islam. Bagian bawahnya merupakan kombinasi pondasi berupa bata dan tegel batu untuk lantai. Konstruksi atasnya berupa bangunan kayu, yakni kayu jati yang banyak ditemukan di wilayah Dompu saat itu. Dindingnya terbuat dari kayu jati sedangkan atapnya bersusun tiga.

Meskipun kesimpulan dua sumber di atas keliru dengan menyatakan bahwa masjid kampo sigi merupakan masjid pertama dan tertua di Dompu, namun kita sepakat bahwa masjid ini benar-benar pernah ada. Lebih lanjut kita dapat menjadikan gambaran masjid tersebut untuk menemukan masjid pertama yang sebenarnya. Jadi, di manakah pusat pemerintahan Dompu ketika proses masuknya Islam ke Dompu?

Sebagaimana ditulis oleh Raffless dalam bukunya The history of Java, sebelum letusan G. Tambora (yakni tahun 1815 M) pusat pemerintahan Kesultanan Dompu terletak di Bata (Boers dan Syamsuddin dalam Forum Arkeologi Vol. 27 No. 3, hal. 230). Bata yang dimaksud adalah Situs Dorobata saat ini.  Setelah letusan, pusat pemerintahan dipindahkan ke Kampo Rato. Berdasarkan hasil penelitian Balai arkeologi Denpasar selama kurun waktu 1989-2016, ditemukan tiga lapisan budaya di Situs Doro Bata. Yakni temuan lapisan kebudayaan pra-hindu, kebudayaan hindu dan kebudayaan Islam. Ini membuktikan bahwa di sinilah terjadinya proses transformasi ideologi negara yang dimiliki kerajaan Dompu dari Hindu ke Islam. Di sinilah proses masuknya Islam itu terjadi. Sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa seharusnya masjid pertama yang dibangun di Dompu tidaklah jauh dari pusat pemerintahan Kerajaan Dompu, yakni komplek Doro Bata.

masjid-syekh-mansyur-masjid-abdul-ghani-magenda-dompu-by-uma-seo

Masjid Syekh ABdulGhani dahulu bernama Masjid Al-Mansuri

Namun di manakah lokasi persis bekas bangunan masjid pertama itu didirikan? Untuk mengetahuinya, kita punya sebuah petunjuk berupa kata kunci (password): Makam Ulama.

Sudah kita ketahui bersama bahwa ada trend di masyarakat Dompu khususnya dan masyarakat Nusantara umumnya, bahwa halaman masjid selalu berisi sebuah makam atau bahkan komplek pemakaman. Dan makam-makam itu biasanya berupa makam para ulama yang berjasa menyebarkan dakwah Islam di daerah setempat. Hal ini dimaksudkan agar ulama-ulama tersebut tetap diingat, dikenang jasa-jasanya serta didoakan oleh para jamaah yang mendatangi masjid. Jadi, dapat kita simpulkan bahwa sesuai adat dan kebiasaan ini, seharusnya masjid pertama di Dompu berlokasi di tempat yang terdapat makam ulamanya. Makam ulama yang berjasa besar bagi dakwah Islam di Dompu.

Apakah makam Syaikh Nurdin? Bukan, karena menurut kisah tutur beliau berangkat berhaji bersama seluruh keluarganya dan tak pernah kembali ke Dompu karena wafat di Makkah. Hanya istri dan dua dari tiga anak beliau yang kembali ke Dompu. Syaikh Abdul Salam adalah salah satu anak beliau yang berhasil kembali ke Dompu. Beliau kemudian diangkat oleh Sultan Syamsuddin (Sultan pertama, 1545 – 1590) menjadi mufti agung di Kesultanan Dompu. Syaikh Abdul Salam dimakamkan di kompleks Rade Sala, Rabalaju, Dompu.

Lalu apakah makam ulama yang MaDA maksud adalah makam Syaikh Abdul Salam? Menurut hemat MaDA, kecil kemungkinan Masjid Kesultanan Dompu atau masjid pertama dibangun di atas atau di dekat kompleks Rade Sala. Mengapa? Karena lokasinya tidak terlalu dekat dengan pusat istana dan terpisah oleh Sungai Rabalaju. Sangat tidak logis jika masjid kesultanan yang dibangun untuk ibadah sultan dan keluarga serta punggawa kerajaan justru dibangun berjauhan dengan lokasi istana. Lagipula, lazimnya masjid kesultanan dibangun berdampingan dengan istana sebagai pusat pemerintahan.

Lalu di manakah Masjid Kesultanan Dompu yang pertama kali dibangun itu seharusnya berada???

Situs Waro Kali. Sebuah situs terabaikan nan tak terduga. Terdiri atas sebuah makam kuno dan puing-puing bangunan tertimbun di sekitarnya. Balai Arkeologi Denpasar yang pernah melakukan penelitian di situs tersebut menemukan sejumlah reruntuhan dan susunan struktur yang tidak beraturan. Secara morfologi, bentuk bangunan diperkirakan berteras dengan konstruksi kayu pada bangunan atas. Pertimbangan ini didasari adanya perbedaan ketinggian temuan struktur atas dan bawah dengan selisih ketinggian 160 cm. Bangunan berteras semacam ini masih mentradisi di Bali yang lebih dikenal dengan bangunan gunung rata. Hasil penelitian menunjukan bahwa material yang dipergunakan yaitu bata pecah dan batu kali. Diperkuat pula dengan temuan aktivitas keseharian yang terbuat dari keramik tiongkok yang diperkirakan berasal dari zaman Dinasti Yuan (Abad 14 – 15 M). Menurut informasi masyarakat setempat, cukup banyak bata kuno ditemukan di areal TPU yang bersebelahan dengan Makam Waro Kali. Sehingga pada waktu penggalian liang kubur, bata-bata ini diangkat dari dalam galian sedalam 1 m dari permukaan tanah (sejarah-puri-pemecutan.blogspot.com).

Meskipun kesimpulan Tim Balai Arkeologi tersebut menduga bahwa reruntuhan bangunan di komplek situs Waro Kali merupakan reruntuhan istana, namun MaDA punya kesimpulan berbeda. Itu bukanlah reruntuhan istana melainkan reruntuhan masjid. Sebab ulama biasanya tidak dimakamkan di halaman istana melainkan di halaman masjid. Alasan kedua, morfologi reruntuhan bangunan yang ditemukan dalam penggalian di situs Waro Kali sangat mirip dengan morfologi Masjid Kesultanan Dompu atau disebut juga Masjid Syekh Abdul Ghani di Kampo Sigi, Karijawa. Yakni konstruksi bata merah dan batu di bagian bawah dan konstruksi kayu di bagian atasnya. Jadi, dugaan MaDA, reruntuhan bangunan yang tertimbun di kompleks situs waro kali merupakan reruntuhan masjid kesultanan Dompu yang pertama kali dibangun. Di sinilah, di Situs Waro Kali inilah lokasi masjid pertama di Dompu.

Memang analisis dan dugaan ini masih perlu sumber-sumber pendukung. Baik itu sumber historis maupun arkeologis. Oleh sebab itu maka penting untuk terus menggali informasi tentang hal ini lebih jauh lagi. Siapakah yang akan menjadi pioner untuk pembuktiannya? Silahkan anda beraksi, MaDA akan menonton dari atas atap rumah sambil membetulkan genteng bocor. Maaf, sebenarnya pekerjaan rumah MaDA numpuk.😀 [Uma Seo]

————-

Catatan Kaki:

[1] Manjaniq: di barat dikenal dengan nama Cataphult. Alat pelontar batu dengan memanfaatkan tenaga torsi. Berfungsi untuk menghancurkan dinding benteng musuh.

[2] Dababah: alat pendobrak pintu benteng musuh.

 

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Sejarah Dompu dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s