Kampung Matua Asli di Lereng Doro Matua


img_8328_doro-matua-dompu-by-umaseo

Kambali Dompu Mantoi – Asal usul manusia adalah misteri yang sangat asyik untuk diselami. Sedangkan sejarah negeri ini banyak yang masih misteri. Dompu, sejak masa pemerintahan Sultan Syamsuddin Mawa’a Tunggu, lalu Sultan Sirajuddin Manuru ‘Bata, Sultan Salahuddin Mawa’a Adi, hingga Sultan M. Sirajuddin Manuru Kupa, merupakan sebuah Kesultanan yang menjadikan Syariah Islam sebagai satu-satunya sumber hukum dan undang-undang. Meskipun sistem permerintahan berbentuk monarki, namun bukanlah monarki absolut. Akan tetapi lebih kepada Monarki Konstitusional dengan Syariah Islam sebagai sumber utama. Tak mengherankan jika penerapan Syariah Islam menjadikan masyarakat Dompu sebagai masyarakat yang baik budi pekertinya, santun, jujur, kesatria dan pemberani. Tidak ada korupsi, sogok-menyogok, pacaran atau selingkuh alias zina, riba perbankan. Tidak ada narkoba dan kenakalan remaja. Tidak ada kasus kekerasan seksual yang marak. Martabat wanita benar-benar terlindungi. Wanita diposisikan sebagai seorang mahluk suci yang harus diperlakukan dengan hormat.

logo-kambali-dompu-mantoi-hr-ahmad-dan-baihaqi-tentang-khilafah-versi-2

Kali ini ini MADA[1] ingin membagi cerita dari masa lalu mengenai Kampung Matua yang terletak di lereng Gunung Doro Matua. Sebuah kampung yang pernah eksis kira-kira satu abad yang lalu, di masa pemerintahan Sultan Muhammad Sirajuddin Manuru Kupa (1882-1934 M). Kampung yang mirip dengan kondisi kampung-kampung Suku Donggo di Bima saat ini.

Doro Matua adalah nama sebuah gunung setinggi sekitar 1115 mdpl yang terletak di sebelah utara Kota Dompu. Terletak di sebelah timur laut Bukit Doro Ncando. Jika anda berdiri di perbatasan Kelurahan Karijawa dan Bali Satu, Kota Dompu, dan memandang ke utara, maka gunung yang paling tinggi yang dapat anda lihat di kejauhan itulah yang bernama Doro Matua. Di sebelah timurnya, agak ke utara terdapat Gunung Doro Mboha yang merupakan perbatasan antara Dompu dengan Bima. Setengahnya masuk ke wilayah Dompu. Di timurnya lagi ada Doro Salunga yang didiami Suku Donggo penduduk asli Bima dan sebelah timur laut ada G. Soromandi.

Nama Doro Matua terdiri atas dua suku kata. Kata Doro bermakna gunung. Sedangkan kata Matua merupakan pergeseran dalam penyebutan terhadap kata Mantua. Kata mantua terbentuk dari kata dasar ntua yang bermakna rimba belantara yang ditambahi imbuhan ma- yang bermakna yang-. Jadi Doro Mantua maknanya adalah “gunung yang berisi rimba belantara.” Adapun wuba ntua artinya yakni hutan rimba atau hutan belantara.

Di lereng gunung itulah dahulu terletak sebuah kampung. Menurut kesaksian H.M. Ya’kub Jama’a (75) yang pernah mendatangi lokasi bekas perkampungan itu di tahun 1966, lokasi kampung itu terletak di sebuah dataran landai di salah satu lereng gunung itu. Saking datarnya, menurut beliau, bisa dipakai untuk bermain sepak bola. Ada banyak tiang bekas rumah penduduk yang masih tegak berdiri beserta rangka rumah lainnya karena terbuat dari kayu kuat bernama haju sara’a. Ada banyak pohon nangka yang ditanam dan juga ada kebun kelapa yang cukup luas.

Untuk mencapai bekas perkampungan kuno tersebut sangat sukar. Karena harus naik turun bukit dan gunung dengan melewati hutan belantara. Jika anda penasaran, anda dapat melewati Bukit Doro Ncando ke arah utara. Lalu anda akan mendaki sebuah bukit lagi yang sedikit lebih tinggi disebut Doro Leja. Melewati punggung bukit Doro Leja, anda akan sampai di lereng utara bukit itu yang sangat curam. Begitu mendaki lagi, itulah Doro Matua. Perlu waktu berjam-jam untuk sampai di lokasi bekas perkampungan kuno Matua. Melewati hutan rimba (wuba ntua) yang sangat jarang dilewati manusia kecuali para pencari kayu dan madu.

img_7561-h-m-yakub-jamaa

Hal inilah yang menurut H.M. Ya’kub Jama’a membuat pihak kesultanan dahulu merasa berat untuk menjangkau pemukiman tersebut ketika harus mengumpulkan pajak. Kakek dari H.M. Ya’kub Jama’a, yakni Uma Mo’i La Jama’a yang merupakan pejabat Rato Ngoco pada masa Sultan M. Sirajuddin Manuru Kupa dan sangat dekat dengan sultan, di samping statusnya sebagai sepupu dua sultan. Beliau pernah menuturkan pada cucunya tersebut bahwa pejabat pemungut pajak sangat kesulitan dalam mengjangkau lokasi Kampung Matua. Sehingga pihak kesultanan mengambil kebijakan untuk merelokasi warga Kampung Matua ke dataran rendah. Namun akibat adanya keengganan dari pihak warga untuk meninggalkan tanah nenek moyang mereka, akhirnya pihak Kesultanan Dompu terpaksa melakukan cara repressive dengan mengirimkan sepasukan prajurit kesultanan untuk memaksa mereka turun gunung.

logo-kambali-dompu-mantoi-hr-ahmad-dan-baihaqi-tentang-khilafah

Warga Kampung Matua pun kocar kacir dengan meninggalkan rumah dan harta benda mereka. Dalam pelariannya mereka akhirnya terpecah menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama melarikan diri ke timur dan masuk ke Desa Saneo, Kec. Woja; Kelompok kedua melarikan diri ke arah barat dengan menuruni lereng Doro Matua lalu memutuskan menetap di sebuah lokasi yang sekarang bernama Desa Laju, Kec. Kilo; adapun kelompok ketiga melarikan diri ke arah selatan dan mendiami lokasi yang saat ini dinamakan sebagai Desa Rababaka, Kec. Woja. H.M. Ya’kub Jama’a yang selama puluhan tahun tinggal di So Tolo Kalo (sekarang masuk Desa Rababaka) di kaki Bukit Doro Ncando, sempat bertemu dengan generasi terakhir penghuni Kampung Matua itu dan mendengar banyak cerita dari mereka. Oleh sebab inilah menurut beliau, ada hubungan kekerabatan antara warga Rababaka, Saneo dan Laju.

Doro Matua awalnya masuk ke dalam wilayah administrasi Desa Matua yang terdiri atas Dusun Buncu, Dusun Rasanggaro, Rasanggaro Samili, Dusun Selaparang, Persinggahan, Dusun Rababaka, dan Dusun Kamu’di. Namun kini Desa Matua telah dimekarkan menjadi dua desa. Dusun Buncu, Dusun Rasanggaro, Rasanggaro Samili, dan Dusun Selaparang termasuk wilayah Desa Matua. Sedangkan Persinggahan, Rababaka dan kamudi masuk ke dalam wilayah Desa Rababaka. Sebenarnya Rababaka lah yang lebih berhak dengan nama Desa Matua. Karena Doro Matua ada di wilayah mereka dan juga mereka punya hubungan historis dengan Doro Matua. Bagaimana menurut anda? [Uma Seo]

img_8326_doro-matua-dompu-by-umaseo

Catatan Kaki:

[1] Makambali Dompu Mantoi

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Sejarah Dompu dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Kampung Matua Asli di Lereng Doro Matua

  1. Ilham berkata:

    Terimakasih beritanya, ini cerita yg punya nilai historis. Tp yg pernah sy denger desa matua itu adanya di dekat Rasanggaro, apa memang itu ada hubungannya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s