Ternyata Ada Pendidikan Gratis Yang Tidak Menghasilkan Generasi Pemalas


DSCF0307_KIP#1 HTI Sila Bima

Kambali Dompu Mantoi – Menarik apa yang disampaikan oleh bapak bupati Dompu, H. Bambang M. Yasin (HBY) sebagaimana dilansir oleh portal dompubicara com (1/9) bahwa pendidikan gratis hanya akan menghasilkan generasi pemalas dan tidak menjamin mutu siswa. Statemen ini merupakan respon atas kebijkan sekolah gratis yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan. Beliau menilai program sekolah gratis yang dicanangkan Kementrian sangat tidak cocok dengan kultur masyarakat.[1]

Mungkin banyak orang yang tak setuju dan yang lain menyayangkan statemen bapak bupati dompu tersebut. Namun menurut MADA, apa yang disampaikan beliau itu ada benarnya. Begitulah realitasnya di Dompu (mungkin kasus ini agak unik dan berbeda dengan daerah-daerah maju).

Eits, tunggu dulu. Penjelasan MADA masih ada lanjutannya!

Bagi daerah kecil seperti Dompu, pendidikan gratis memang hanya akan menghasilkan generasi pemalas jika dalam kerangka pendidikan sekuler ala demokrasi. Sedangkan pendidikan gratis justeru akan menghasilkan generasi berkualitas jika dalam konteks sistem pendidikan Islam (Sistem Pendidikan yang dilandasi dan diatur oleh Syariah Islam). Dan ini telah ada bukti historisnya.

Pendidikan gratis di Dompu (dalam kerangka demokrasi) hanya menghasilkan generasi pemalas sebab:

1 Sistem pendidikan dalam demokrasi yang bersifat sekuler (menghindari agama mengatur-atur sistem pendidikan) menyebabkan lahirnya generasi yang dangkal aqidah dan gersang akhlaqnya. Ini modal awal menjadi generasi pemalas. Sebab, generasi yang dangkal aqidah dan gersang akhlaqnya tidak paham mana halal- mana haram, tidak paham batasan pergaulan, tidak paham apa yang harus dikerjakan selain hura-hura, tidak tabu terhadap pornografi, tidak takut mencoba narkoba, dll.

2 Demokrasi tidak menggunakan standar halal – haram sehingga seni – budaya, pergaulan dan hiburan sangat bebas tanpa batasan. Pergaulan yang sangat-sangat bebas adalah pintu kemalasan. Pacaran tidak dilarang, padahal pacaran sumber kehancuran generasi kita.

3 Dunia hiburan yang pragmatis hanya memikirkan profit tanpa pertimbangan efek negatif tayangan terhadap generasi muda. Acara-acara yang mengkampanyekan budaya barat, acara hura-hura dan melenakan, acara-acara berbau pornografi, banyak bertebaran meracuni otak generasi muda. Dalam demokrasi, semua itu boleh, halal. Melahirkan generasi malas.

4 Pornografi gagal diberantas oleh para stake holder sedangkan konten-konten porno begitu mudah diakses. Gara-gara pemimpin yang tak kompeten yang terpilih lewat meknisme demokrasi. Melahirkan generasi malas.

5 Narkoba gagal diberantas sedangkan narkoba telah beredar hingga tingkat SD. Gara-gara pemimpin yang tak kompeten yang terpilih lewat meknisme demokrasi. Melahirkan generasi malas.

6 Setelah besar, mereka tumbuh menjadi para orang tua yang tak paham mendidik anaknya. Mereka sibuk cari uang sedangkan anaknya dimanjakan dengan fasilitas serba mewah. Lahirlah generasi malas.

7 Dalam banyak kasus, pemimpin yang terpilih di daerah lain Indonesia (bukan di Dompu, yaaa😉 ) bukanlah yang paling layak melainkan yang paling kaya dan banyak dukungan. Mengingat dana kampanye yang selangit dan bagi-bagi jatah untuk timses. Akhirnya lahirlah para pemimpin yang tidak kompeten dalam menangani dunia pendidikan.

8 Dalam banyak kasus, Pemimpin yang terpilih di daerah lain Indonesia (sekali lagi bukan di Dompu lho,😉 ) bukanlah yang paling amanah, tapi yang paling berani keluar dana. Akhirnya lahirlah para koruptor yang menghabiskan anggaran pendidikan untuk kepentingan pribadinya.

.

Sedangkan Dalam Sistem Islam (Syariah & Khilafah) Pendidikan Gratis Melahirkan Generasi Juara

Dalam Negara Khilafah, pendidikan justeru diselenggarakan secara gratis (Cuma-Cuma). Karena termasuk kebutuhan utama yang wajib disediakan oleh Khalifah (kepala negara). Bukankah Khalifah diangkat untuk mengurusi kebutuhan ummat?

Dalam sejarah 14 Abad berdirinya Negara Khilafah, pendidikan senantiasa diperhatikan oleh para Khalifahnya. Khalifah Umar ibn al-Khaththab menggaji tiga orang guru yang mengajar anak-anak di Madinah 15 dinar (63,75 gram emas murni). M. Sharif menerangkan, pendidikan di Dunia Islam berkembang secepat kilat. Tidak ada satu kampung tanpa ada masjid, sekolah dasar dan menengah yang pertumbuhannya seiring pertumbuhan masjid. Prof. Ballasteros dan Prof. Ribera menerangkan bahwa sekolah-sekolah disediakan dekat sekali dengan semua anak-anak. Untuk mahasiswa disediakan berbagai sekolah tinggi, akademi dan universitas beserta para guru besarnya.

Bahkan telah diketahui secara umum, dunia pendidikan, sains, teknologi dan pemikiran, pada masa Khilafah Dinasti Abbasiyah telah berkembang sangat maju. Sekolah dari tingkat dasar hingga universitas dan berbagai fasilitas pendidikan, sains, teknologi dan pemikiran dibangun secara modern dan disediakan sebagai fasilitas gratis untuk masyarakat. Di antara yang terkenal adalah universitas yang didirikan oleh al-Makmun dan perpustakaan Baitul Hikmahnya yang dilengkapi observatorium; Universitas Nizhamiyah yang didirikan oleh Nizham al-Muluk menteri dari Sultan Alp Arsalan pada tahun 1065 atau 1067 M; Madrasah Mustanshiriyah yang didirikan oleh Khalifah al-Mustanshir (1226 – 1242 M) di Baghdad yang bebas biaya dengan fasilitas perpustakaan dan laboratorium dan fasilitas lainnya.

Mahasiswanya dijamin kehidupannya dan masih diberi beasiswa satu dinar (4,25 g emas)/orang/bulan. Tidak boleh dilupakan adalah universitas Nuriah di Damaskus yang dirikan oleh Sultan Nuruddin Muhammad Zanki, dengan fasilitas lengkap. Perpustakaan pun menyebar di berbagai kota. Yang terkenal adalah perpustakaan Bait al-Hikmah di Baghdad, perpustakaan Darul Hikmah di Kaero dengan koleksi 1,6 juta buku, perpustakaan di Tripoli (2 juta lebih), perpustakaan al-Hakim (720 ribu judul lebih), 20 perpustakaan di Andalusia, perpustakaan Cordova (400 ribu judul lebih), perpustakaan Madrasah Fadliliyah (100 ribu) dan 6500 di antaranya tentang engginering dan astronomi di samping dua buah globe untuk Bathlimus dan Abul Hasan as-Sufi, sepuluh perpustakaan di Khurasan (masing-masing 12 ribu), perpustakaan Khizanatul Hakam ats-Tsani (400 ribu) dan masih banyak lagi.

Wajar jika kemudian dari rahim kaum muslim lahir ribuan ilmuwan, pioner dan penemu di berbagai bidang keilmuan dan terwujud kemajuan sains, teknologi dan pemikiran. Semua itu diraih dengan sistem pendidikan Islam yang gratis namun berkualitas. Semua itu diraih ketika Syariah dan Khilafah masih tegak dan diterapkan. Yang mengesankan, semua itu mempengaruhi lahirnya zaman renaissance Eropa. Hal itu seperti yang diakui sendiri oleh para ilmuwan barat seperti Philip K. Hitti, Prof. Ballasteros, Prof. Ribera, Svend Dahl, Sigrid Hunke, Lothrop Stoddard, Lucas H. Grollenberg dan cendekiawan Barat lainnya. Jadi, jika ingin pendidikan yang gratis dan berkualitas serta tidak menghasilkan generasi malas, ya harus kembali pada Sistem Khilafah. [Uma Seo]

.

Catatan Kaki:

[1] Lihat beritanya di http://www.dompubicara.com/2016/09/bupati-dompu-sekolah-gratis-cetak-generasi-pemalas/

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s