Asal Usul Nama Desa Calabai


Copy of ntb rovicky.files.wordpress com

Kambali Dompu Mantoi – Gempa 5,6 SR yang baru saja melanda Kecamatan Pekat, Kab. Dompu, NTB, mengingatkan MaDA akan Calabai. Salah satu desa di Kecamatan Pekat yang menjadi ikon kecamatan ini. Penduduk asli Dompu jika ditanya mau ke mana mereka pasti akan menjawab mau ke Calabai, bukan ke pekat. Karena bagi sebagian besar orang Dompu, Calabai ya keseluruhan Kecamatan Pekat itu.

Calabai merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, NTB. Terletak di sebuah teluk kecil di dalam teluk saleh di sisi barat pantai semenanjung Tambora langsung menghadap ke P. Moyo (Kab. Sumbawa, NTB). Desa Calabai merupakan salah satu desa penghasil utama jagung di Kec. Pekat, Dompu. Adapun Dompu saat ini telah menjelma menjadi lumbung jagung utama di NTB. Selain itu ternak sapi dalam skala besar sangat mudah ditemukan. Luasnya areal hutan dan sabana menjadi faktor pendukung utama kemajuan pertanian jagung dan ternak sapi.

Desa Calabai dalam lidah lokal disebut Cala’bai dengan menipiskan konsonan b hingga menyerupai cara orang Jawa menyebut konsonan b dalam kata Cabe. Hanya saja pelafalannya lebih tipis. Menurut penuturan orang tua-tua penduduk asli Dompu, nama Cala’bai sendiri berasal dari nama Teluk Saleh. Saleh adalah sebuah nama yang diyakini sebagai milik seorang ulama besar dahulu yang pernah menyiarkan dakwah Islam di daerah tepi pantai itu. Sebagian legenda yang beredar di kalangan masyarakat Kab. Dompu mengatakan bahwa Saleh adalah nama Ulama yang mendakwahi Raja Tambora Sultan Abdul Gafur yang kemudian oleh raja ia diberi makan daging anjing. Do’a orang yang terzalimi sekaligus ulama yang dicintai Allah membuat Tambora murka dan meluluhlantakkan Kerajaan Tambora dan sekitarnya, termasuk Kerajaan Pekat, Kerajaan Sanggar dan Kerajaan Dompu dengan meletusnya G. Tambora.

logo-kambali-dompu-mantoi-hr-ahmad-dan-baihaqi-tentang-khilafah-versi-2

Legenda itu punya banyak versi. Sebagian mengatakan bahwa ulama itu dibunuh namun sebagian yang lain mengatakan bahwa ulama tersebut berhasil selamat. Tidak ada keterangan lebih lanjut maupun bukti pendukung yang menerangkan apakah Syekh Salehlah yang menjadi pendiri perkampungan yang terletak di sebuah teluk kecil yang kelak dinamakan teluk saleh itu pasca letusan Tambora. Namun nama monumental teluk saleh tetap ada sampai sekarang dan digunakan sejak zaman belanda. Ini menjadi bukti bahwa tokoh saleh bukanlah sekedar tokoh fiktif belaka namun tokoh real yang menjadi perintis perkampungan di pesisir teluk tersebut. Sebagaimana kebiasaan di Dompu khususnya dan seluruh wilayah P. Sumbawa umumnya, nama orang yang menjadi perintis perkampungan atau orang yang paling awal tinggal di sebuah kawasan akan diabadikan menjadi nama kampung ataupun kawasan itu. Contohnya Moti Ama La Habe (nama sebuah kawasan muara di Desa Bara Dompu) atau Moti Ama Hami (nama sebuah pantai di Teluk Bima, Kota Bima). Pengalaman pribadi MaDA sendiri membuktikan hal ini. Karena kakek MaDA adalah orang yang pertama kali tinggal di salah satu tepi aliran Sungai Sori Soa di Lingkungan Simpasai, Kelurahan Simpasai, maka kawasan sungai itu disebut sebagai Sori Guru Eko. Sebab kawasan tersebut merupakan kawasan kebun milik kakek MaDA. Adapun kawasan sungai di sebelah utaranya disebut Sori Wa’i Heno sesuai nama pemilik lahan kebun.

Di sisi barat Desa Calabai, di tepi teluk yang menghadap P. Moyo, terdapat sebuah pelabuhan kecil yang menjadi pangkalan satu kompi pasukan TNI Angkatan Laut. MaDA meyakini (tolong dikoreksi jika salah) bahwa pelabuhan dan pangkalan militer ini ada sejak zaman belanda dan dibangun pasca letusan Tambora. Ini keyakinan pribadi MaDA. Menurut MaDA, memang posisi pelabuhan dan pangkalan militer ini sangat strategis untuk mengontrol masuk dan keluarnya kapal dari dan menuju daerah pesisir di dalam teluk saleh. Terutama kapal yang berangkat atau ingin berlabuh di Pelabuhan Soro, Kempo, Dompu. Posisi teluk Saleh kecil ini memang sangat penting dari segi pertahanan. Selain itu pelabuhannya juga sangat penting secara ekonomi, karena hasil pertanian yang melimpah dari wilayah lereng tambora dapat dengan cepat diangkut ke luar.

Masih pendapat pribadi MaDA. Kebutuhan akan teluk dan pelabuhan yang penting secara ekonomi dan pertahanan mau tidak mau mengharuskan Belanda membangun markas pasukan di teluk saleh kecil dan juga berkonsekwensi dengan dibangunnya perkampungan pribumi sebagai tenaga pekerja untuk menyokong kebutuhan logistik tentara. Maka di saat itulah terbentuk perkampungan di Teluk Saleh Kecil. Ketika ditanya nama kampung itu, maka mereka menyebutnya Teluk Saleh. Yang disebut oleh orang belanda dalam bahasa mereka sebagai Saleh Bay (baca: Teluk Saleh). Silahkan buktikan dengan Google Translate. Kata Saleh Bay inilah yang menurut cerita orang tua-tua yang kemudian bermetamorfosa menjadi nama Calabai.

Mengapa demikian?

Karena rupanya orang Belanda kurang fasih melafalkan kata Saleh. Sekeras apapun mereka mencoba, tetap saja yang terucap oleh mereka bukanlah Saleh Bay tapi malah Cale Bay. Frasa Cale Bay inilah yang didengar oleh orang lokal dan lalu dalam penyebutannya disesuaikan dengan tata bahasa mereka sendiri. Cale menjadi Cala, Bay menjai Bai. Lahirlah nama yang digunakan oleh penduduk lokal Dompu sampai sekarang, CALA’BAI. [Uma Seo]

logo-kambali-dompu-mantoi-hr-ahmad-dan-baihaqi-tentang-khilafah

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Profil dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s