Jasa “Waro Kali’ Untuk Orang Dompu


Makam Syaikh Hasanuddin Waro Kali 2

Situs Makam Waro Kali, diyakini sebagai makam Syeikh Hasanuddin, salah satu penyebar Islam di Dompu

Kambali Dompu Mantoi – Jika anda berjalan-jalan ke Kelurahan Kandai Satu, Dompu dan menanyakan di mana “Rade Waru Kali”, saya yakin semua orang di sana tahu lokasinya. Namun sayang tak semua orang tahu siapa beliau sebenarnya, siapa namanya dari mana asal usulnya dan apa gelarnya. Bahkan masyarakat sekitar, karena buta sejarah yang parah kemudian mengubah nama gelar sang empunya makam itu dari Waro Kali menjadi Waru Kali. Alasannya gampang ditebak, masyarakat awam tidak paham apa makna dari Waro Kali maka mereka mengasosiasikan nama itu dengan istilah yang lebih familier di telinga mereka.

“Apa itu Waro Kali, ah mungkin salah dengar salah sebut. Waro kali tak jelas artinya. Waro = kakek buyut, kali = kali. Waro Kali = Kakek buyut yang dikalikan. Ah…. ngawur ini. Mungkin maksudnya Waru Kali (baca: Delapan Kali).”

Begitulah mungkin yang ada dalam pikiran masyarakat sekitar. Sehingga nama Waro Kali kemudian bergeser menjadi Waru Kali hingga hari ini. Padahal itu semua gara-gara mereka tidak paham penggunaan kata Waro. Mereka bahkan tidak paham apa artinya kali. Bahkan mereka juga tidak paham siapa itu Waro Kali?

Parahnya lagi, ada sebagian orang pintar yang sok tahu! Mereka mengasosiasikan makna Waro Kali dengan prinsip Nggusu Waru dalam tradisi kepemimpinan masyarakat Dompu. Padahal tidak ada hubungannya sama sekali. Ingat, Waro Kali itu bukan orang asli Dompu! Bagaimana bisa dia menggunakan filosofi nama yang berkembanng di dalam masyarakat asli Dompu?

Apa Arti Frasa Kata Waro Kali?

Kata kali adalah kata serapan dari bahasa Jawa Kali yang artinya tokoh agama. Kata kali dalam bahasa jawa ini juga merupakan serapan dari bahasa Arab yakni kata Qadhi yang berarti hakim. Kata kali pada perkembangan selanjutnya berubah menjadi kyai. Adapun kata Waro memang berarti kakek buyut, namun kata waro dalam frasa Waro Kali itu merupakan terjemahan dari kata Syaikh dalam bahasa Arab. Jadi, baik kata waro maupun kata syaikh memiliki makna yang sama, yakni seorang pria yang sudah lanjut usia (kakek).

Baik kata Syaikh / Syekh maupun kata kali di Jawa populer digunakan dahulu untuk menyebut seorang ulama asing (umumnya dari Arab, Persia dan Gujarat).

Jadi gelar Waro Kali artinya adalah Syaikh Al-Qadhi, ulama yang luas ilmunya dan banyak pengalamannya dan ditugaskan untuk memutus / mengadili perkara di antara masyarakat dengan hukum / Syariah Islam. Dalam khasanah fiqh Islam, qadhi bukanlah petugas yang diangkat oleh masyarakat, namun ia diangkat oleh penguasa setempat sesuai tingkatannya. Baik itu diangkat oleh Khalifah (Kepala Negara) di tingkat pusat, diangkat oleh Wali (Gubernur) di tingkat provinsi maupun oleh ‘Amil (Wali Kota) di tingkat kota / kabupaten. Dalam hal ini kemungkinan besar dilihat dari namanya, Waro Kali adalah seorang ulama pendatang yang luas ilmunya dan telah berkelana dari barat ke tanah Jawa hingga datang ke Dompu sehingga diangkat menjadi hakim oleng penguasa (sultan) di Kesultanan Dompu.

Siapakan Waro Kali

Nama asli Waro Kali adalah Syaikh Hasanudin. Beliau adalah salah satu ulama besar yang datang ke Dompu sekitar tahun 1585, di akhir masa pemerintahan Sultan Syamsuddin. Beliau berasal dari Tanah Andalas (Sumatera) ada pula yang mengatakan bahwa beliau berasal dari Makkah.[1] Namun ini bisa dikompromikan bahwa beliau adalah keturunan Arab yang lahir di P. Sumatera.

Ada cerita yang berkembang pada masyarakat Dompu dahulu bahwa beliaulah yang pertama kali membawa Islam ke Dompu. Menurut cerita itu, beliau adalah ulama dengan karomah dari Allah sehingga mampu mengalahkan kesaktian Raja Dewa Mawa’a Taho.[2]

Dalam versi lain, sebagaimana dituturkan oleh A. Azis M. Saleh (seorang mantan pejabat Kesultanan Dompu), Syaikh Hasanuddin datang pada masa pemerintahan Sultan Abdul Rasul I yang bergelar Bumi So Rowo (1697-1718 M).

Dengan menggabungkan semua keterangan di atas, kita dapat menduga bahwa beliau memang datang di akhir masa pemerintahan Sultan Syamsuddin. Beliau melewati masa pemerintahan Sultan Sirajuddin dan Sultan Abdul Hamid hingga masa pemerintahan Sultan Abdul Rasul I Bumi So Rowo. Pada masa pemerintahan Sultan Abdul Rasul inilah Belanda mulai menginjakkan kaki ke Kesultanan Dompu dan mencoba melancarkan misi kristenisasi. Namun berkat kegigihan Syaikh Hasanuddin, usaha Belanda akhirnya gagal. Menurut Syekh Mahdali dalam wawancara di tahun 1985, gereja pertama di Dompu baru dibangun pada tahun 1965.

Mengawal Penerapan Syariah dan Menentang Kristenisasi

Menurut Makarau Kepala Seksi Kebudayaan Depdikbud Dompu tahun 1985, Syekh Hasanuddinlah yang menentang keras misi kristenisasi oleh Belanda. Padahal Sultan Abdul Rasul I hampir saja mengizinkannya. Hal ini membuat beliau sangat ditakuti oleh Belanda.[3]

Syekh Hasanuddin diangkat oleh Sultan Dompu untuk menjadi pejabat qadhi untuk mengadili dengan Syariah Islam. Beliau menjadi pengawal penerapan Syariah Islam oleh Kesultanan Dompu. Orang seperti beliau pasti akan menegur ketika sultan lengah dan meluruskan ketika sultan keliru terhadap Syariah Islam. Berhukum dengan seluruh Syariah Islam dengan diterapkan oleh negara merupakan konsekwensi dari perintah Allah untuk menerapkan Syariah Islam. Allah berfirman:

Maka putuskanlah perkara di antara mereka (rakyat) menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.(TQS. Al Maaidah: 48).

Ayat ini adalah salah satu ayat yang berisi perintah kepada seorang kepala Negara untuk menerapkan Syariat Islam terhadap rakyatnya. Syariat itulah yang terkandung dalam Al-Quran dan Al-Hadis dan disampaikan lewat lisan Rasulullah SAW. Jika seorang muslim, baik dia penguasa maupun rakyat, tidak mau menerapkan syariat yang diputuskan (dibawa) oleh Rasulullah, maka imannya diragukan. Allah berfirman:

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (TQS. An Nisa’: 65).

Penerapan Syariah adalah wujud ketaqwaan. Dengan ketqwaan semacam inilah Allah akan memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bagi sebuah negeri. Sebagaimana janji Allah:

Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah (kemakmuran) dari langit dan bumi,… (TQS. Al A’raaf: 96).

Terbukti, dalam menerapkan syariat Islam, kesultanan Dompu menjadi negeri yang makmur dan sejahtera. Puncakny adalah pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin. Sehingga beliau digelari Mawa’a Adi (Sang Pembawa Keadilan). Rakyat senantiasa aman, damai, sejahtera, adil dan makmur di segala lapisan masyarakat. Itulah jasa besar Waro Kali untuk masyarakat Dompu. Kalau tidak ada beliau yang orang pendatang itu, apa jadinya manusia di Dompu? Mungkin sudah menyembah patung Yesus itu.

Syekh Hasanuddin dimakamkan di kompleks Pemakaman Waro Kali, yang masuk ke dalam wilayah Kelurahan Kandai Satu, Kecamatan Dompu. Pada masa pemerintahaan Bupati Dompu H. Abubakar Ahmad (2000-2005), Komplek Pemakaaman Waro Kali ditetapkan sebagai salah satu situs purbakala yang bernilai sejarah tinggi. [Uma Seo]

—-

Footnote:

[1] Ridwan, 1985: hal. 37-38

[2] Ibidem: hal. 37-38

[3] Ibidem: hal. 38

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s