Menguak Kabut Sejarah Masuknya Islam Ke Dompu


IMG_8320_Masjid Raya Dompu by UmaSeo

Kambali Dompu Mantoi – Dompu dahulu pada awal Abad ke-14 merupakan sebuah kerajaan dan merupakan satu di antara Kerajaan-kerajaan kuno di timur Indonesia. Di dalam kitab Negarakertagama, nama Dompu disebutkan sebagai DOMPO dan menjadi salah satu Kerajaan yang ditargetkan untuk ditaklukkan dan dikuasai oleh Majapahit. Ambisi berkuasa Majapahit sejak sumpah palapa tahun 1331 akhirnya diwujudkan dengan ekspansi besar-besaran ke berbagai kerajaan di nusantara.

Setelah terlebih dahulu menundukan Bali dan Lombok, akhirnya ekspansi Majapahit ke timur sampai di Kerajaan Dompo. Namun ternyata Kerajaan Dompo bukanlah kerajaan lemah. Terbukti dalam Negarakertagama dicatat bahwa Majapahit terpaksa harus melakukan dua kali serangan yang dipimpin oleh Tumenggung Nala baru bisa menundukan kerajaan Dompo. Itupun setelah pada serangan kedua didatangkan pasukan tambahan dari Bali di bawah komando Panglima Soka. Serangan pertama dilakukan pada tahun 1344 sedangkan serangan kedua yang berujung takluknya kerajaan Dompo terjadi pada tahun 1357. Butuh waktu 13 tahun untuk mampu menaklukan kerajaan Dompo membuat banyak orang percaya bahwa Kerajaan Dompo bukanlah kerajaan kecil dan sembarangan.

Sebelum penaklukan oleh Majapahit, penduduk Kerajaan Dompo merupakan penganut animisme-dinamisme. Kepercayaan lokal yang disebut Parafu ro Pamboro yang menyembah arwah leluhur dan mengkultuskan mata air, batu, pohon, dan gunung-gunung. Sebuah agama yang menjadikan manusia menyembah mahluk Allah bukan Allah itu sendiri. Agama yang sama dengan agama kaum Nabi Nuh yang disesatkan oleh Iblis agar menyembah orang-orang shalih mereka. Begitu pula dengan masyarakat di Kerajaan Dompo yang disesatkan oleh iblis untuk menyembah arwah nenek moyang mereka yang dipercayai bersemayam di mata air, batu, pohon, dan gunung-gunung. Padahal tidak ada yang bersemayam di dalam mata air, batu, pohon, dan gunung-gunung kecuali bangsa jin dan iblis. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa setelah Allah mengirim pasukan malaikat untuk mengusir bangsa jin yang gagal memegang amanah untuk mengelola Bumi, maka bangsa jin melarikan diri dan bersembunyi di pantai-pantai dan gunung-gunung. Begitulah kepercayaan yang bernama parafu.

Adapun kedatangan Majapahit akhirnya membawa agama dan budaya Hindu ke Dompu. Masyarakat Kerajaan Dompo hanya beralih dari animisme-dinamisme menuju paganisme. Meskipun demikian, ada asumsi yang menyatakan bahwa pengaruh agama yang dibawa Majapahit hanya menyentuh lapisan atas masyarakat Kerajaan Dompo. Asumsi ini berdasarkan dua alasan. Pertama, fakta membuktikan begitu minimnya peninggalan berciri Hindu yang ditemukan di bekas wilayah Kerajaan Dompo. Peninggalan bercorak Hindu yang ditemukanpun berada di dalam radius wilayah yang dulunya merupakan pusat pemerintahan (Ibu Kota) Kerajaan Dompo. Misalnya situs Dorobata atau candi sambitangga. Di luar wilayah itu, justru banyak ditemukan peninggalan yang bercorak pra-hindu. Kedua, Menurut Ridwan (1986) bahkan hingga tahun 1980-an, masih ada masyarakat Dompu yang begitu kental mempraktekan ritual-ritual animisme-dinamisme terutama di daerah Kilo. Terpeliharanya praktek dan ritual animisme-dinamisme berupa ritual toho ra dore (persembahan sesajian) membuktikan bahwa mereka tetap memegang keyakinan lamanya dan tidak terpengaruh sedikitpun oleh ajaran Hindu serta tidak mempraktekkan ritualnya. Bahkan ketika Islam masuk ke Kerajaan Dompo pun, masih ada yang mempertahankan keyakinan nenek moyangnya itu.

Menurut Langit Kresna Hariadi (2006) sebagaimana dikutip oleh Kisman Pangeran (2013), raja Majapahit Prabu Hayam Wuruk menghadapkan Raja Dompo ke istananya dan mempersilahkan Raja Dompo untuk melanjutkan pemerintahan di bawah naungan imperium Majapahit. Keadaannya tetap seperti itu hingga melemahnya Majapahit dan longgarnya kontrol terhadap jajahan di timur nusantara. Peristiwa ini seiring masuknya cahaya Islam ke Nusantara yang disokong oleh Negara Khilafah Islam yang berpusat di Turki.

Dalam kitab Kanzul Hum karya Ibnu Bathuthah yang kini tersimpan di Turki, tercatat bahwa Sultan Turki Utsmaniyah, Muhammad I, pada tahun 1404 M (808 H) mengirim surat pada Gubernur Khilafah di Afrika Utara dan Timur Tengah yang isinya meminta dikirim sejumlah ulama’ yang memiliki kemampuan di berbagai bidang untuk diberangkatkan ke Pulau Jawa. Akhirnya dikirimlah sembilan orang wali (di Jawa dikenal dengan nama Wali Songo) angkatan pertama. Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Malik Israil asal Turki, ibu kota Khilafah Islam saat itu, Maulana Ishaq asal Samarkand – sekarang Rusia Selatan, Maulana Ahmad Jumadil Kubra asal Mesir, Maulana Muhammad Al-Maghrabi dari Maroko, Maulana Maulana Hasanuddin dan Maulana ‘Aliyuddin dari Palestina, serta Syaikh Subakir dari Persia adalah sembilan ulama pertama yang dikirim oleh Khilafah Utsmaniyah ke Nusantara. Mereka sengaja dipilih karena telah berpengalaman dalam pengisalaman masyarakat Hindu di India. Mengingat masyarakat Nusantara juga menganut Hindu-Budha. Sebelum ke tanah Jawa, mereka singgah di Pasai yang saat itu telah menjadi Kerajaan Islam. Bahkan Sultan Zainal ‘Abiddin Bahiyan Syah (1349-1406 M) sendiri yang mengantarkan Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq ke Pulau Jawa.

Dengan berdirinya Kesultanan Demak pada tahun 1518, maka Demak kemudian menjelma menjadi pusat penyebaran Islam di timur nusantara. Sunan Giri adalah salah satu ulama yang menyokong aktifitas dakwah dan jihad Kesultanan Demak. Beliau menjadikan Desa Giri sebagai pusat kendali dakwahnya dengan membangun pesantren di sana. Sedangkan Sunan Prapen adalah puteranya yang kemudian berperan besar dalam pengislaman P. Lombok dan P. Sumbawa yang diperkirakan terjadi pada tahun 1520 M. Di dalam bukunya sekitar kerajaan Dompu, Israil M. Saleh menyebutkan bahwa Islam masuk ke Dompu pada tahun 1520 M. Yakni angka yang sama dengan pengislaman P. Sumbawa di bawah Sunan Prapen. Lebih lanjut Israil M. Saleh menyebutkan bahwa berdasarkan keterangan dari Bo Dana Dompu, ulama pertama yang datang dan berdakwah ke Kerajaan Dompo adalah Syekh Nurdin. Beliau adalah seorang mubaligh keturunan Arab yang berprofesi sebagai pedagang. Pada saat itu, Kerajaan Dompo dipimpin oleh Sangaji (Raja) yang bergelar Dewa Mawa’a Taho (Dewa Pembawa Kebaikan). Syekh Nurdin menikahi salah seorang puteri Dewa Mawa’a Taho yang setelah masuk Islam berganti nama menjadi Siti Khadijah. Mungkin dengan harapan dan do’a agar beliau dapat menjadi seperti Khadijah Al-Kubra yang mendampingi dan menggunakan seluruh hartanya untuk membantu dakwah Rasulullah SAW suaminya.

Jadi pengislaman tanah Dompu sangat berkaitan dengan Negara Khilafah Islamiyah. Sebab ulama-ulama yang dikirim oleh Negara Khilafah Islam telah menjadi peletak dasar masuknya Islam ke Dompu. Sunan Prapen yang diduga kuat telah mengirimkan Syekh Nurdin adalah anak dari Sunan Giri. Sedangkan Sunan Giri adalah anak dari Maulana Ishaq yang asli dari Samarkand – Rusia. Maulana Ishaq yang merupakan petugas dakwah yang dikirim oleh Negara Khilafah telah mewariskan tugas dari negara tersebut kepada anak cucunya. Begitulah tabi’at dakwah Islam, ahli waris akan menggantikan tugas dakwah pendahulunya.

Pendapat di atas, bahwa Islam masuk ke tanah Dompu sekitar tahun 1520 M, lebih mendekati kebenaran ketimbang pendapat lain yang menyatakan bahwa Islam masuk ke Dompu dari arah Sulawesi Selatan pada tahun 1628 M. Sebab ada bukti lain yang mendukungnya. Yakni catatan Belanda yang terdokumentasikan di Pusat Dokumentasi Raja-raja Nusantara di Vlaringen, Belanda. Dalam data itu dikatakan bahwa Sultan Syamsuddin memerintah pada tahun 1545 -1590 M dan naik tahta sejak tanggal 24 September 1545. Jika Islam masuk ke Dompu pada tahun 1628 M, lalu mengapa sudah ada Kesultanan Dompu sejak tahun 1545? Ini artinya Islam telah masuk ke Dompu bukan pada tahun 1628 atau abad XVII seperti yang diyakini banyak budayawan, namun Islam telah masuk ke Dompu satu abad sebelumnya!

Namun MADA menduga bahwa meskipun Islam telah masuk ke Dompu tahun 1520-an, namun agama Islam belumlah dianut oleh masyarakat Kerajaan Dompo secara keseluruhan. Bukti yang melatari dugaan ini ada dua. Pertama, begitu sulitnya masyarakat di Kerajaan Dompo meninggalkan keyakinan nenek moyangnya dan beralih kepada agama Hindu yang dibawa oleh Majapahit. Bukan tidak mungkin pula jika masih banyak yang enggan memeluk agama Islam di kemudian hari karena begitu erat memegang adat istiadat dan keyakinan nenek moyang. Kedua, Menurut Ridwan (1986) bahkan hingga tahun 1980-an, masih ada masyarakat Dompu yang begitu kental mempraktekan ritual-ritual animisme-dinamisme terutama di daerah Kilo. Terpeliharanya praktek dan ritual animisme-dinamisme berupa ritual toho ra dore (persembahan sesajian) membuktikan bahwa hingga datangnya Islam pun masih ada masyarakat Dompu yang tetap memegang keyakinan lama nenek moyangnya itu.

Maka pengislaman Dompu yang terjadi lewat Kesultanan Gowa-Tallo di Sulawesi Selatan merupakan gelombang kedua pengislaman tanah Dompu. Pengislaman Dompu gelombang kedua ini terjadi kira-kira satu abad setelah datangnya Syekh Nurdin dan 83 tahun setelah berdirinya Kesultanan Dompu. Pengislaman gelombang kedua ini berhasil meleburkan hampir seluruh masyarakat di Kesultanan Dompu ke dalam Islam. Pengislaman gelombang kedua ini masuk lewat Bima yang kemudian membawa budaya Sulawesi ke Dompu yang begitu kuat pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat Dompu pada hari ini. Baik itu dalam bahasa, gelar dan sapaan, stratifikasi sosial, arsitektur, maupun seni-budaya [Uma Seo].

Pemandangan Kota Dompu di pasar

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Sejarah Dompu dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s