Panji Perang kesultanan Dompu, Panji Negara Islam


Bendera Perang Kesultanan Dompu

Kambali Dompu Mantoi – Teka teki tentang lambang yang tercantum dalam Panji perang Kesultanan Dompu terjawab sudah. Bukan lambang david star sebagaimana tercantum dalam situs crwflags, akan tetapi lambang bintang segi delapan yang saat ini diidentikkan sebagai simbol Keislaman.

Berdasarkan sebuah foto yang menggambarkan barisan prajurit Kerajaan Dompo, nampak jelas bahwa salah seorang prajurit dalam foto itu sedang mengibarkan sebuah panji yang terlukis di dalamnya sebuah bintang segi delapan (Oktagram). Foto tersebut adalah foto yang dimuat dalam Majalah Parahyangan – Balai Pustaka edisi bulan November 1932. Majalah berbahasa sunda itu menurunkan sebuah artikel yang memberitakan tentang Sultan Muhammad Sirajuddin yang telah memerintah Kerajaan Dompu selama 45 tahun (www.kambalidompumantoi.wordpress.com).

Bendera Perang Kesultanan Dompu Bintang segi delapan

Foto dari majalah Parahyangan thn 1932, tampak bendera perang Kerajaan Dompu

Rub’ul Hizb

Meskipun di masa awal sejarah Islam penggunaan bintang segi delapan tidak memiliki akar normatif, namun para sejarawan mencatat sebuah daerah bernama Tartessos di Andalusia (Hispania) yang menggunakan bintang segi delapan sebagai logo resmi. Andalusia dibebaskan oleh negara Khilafah Dinasti Umayyah pada tahu 115 M di bawah Panglima Thariq bin Ziyad dan Gubernur Provinsi Maghrib Musa bin Nushair.

Bendera Maroko pada Masa kekuasaan Khilafah Utsmaniyah pict thn 1884

Bendera Provinsi Maroko di Masa Khilafah Utsmaniyyah

Dalam khasanah Islam lambang bintang segi delapan sebagai tanda baca dalam Al Quran disebut Rub’ul Hizb. Merupakan hasil dari perputaran geometri bujur sangkar. Rub’ul Hizb dipakai sebagai penanda bacaan dalam Al-Quran. Pada masa Rasulullah dan para sahabat belum dikenal pembagian Al-Quran ke dalam Juz dan Hizb. Baru pada masa Tabiin hal ini dilakukan untuk memudahkan pembacaan Al-Quran. Ini merupakan hasil ijtihad para ulama tabi’in dan masih dipakai hingga sekarang. Al-Quran dibagi menjadi 30 Juz. Setiap Juz dibagi menjadi dua Hizb yang masing-masing Hizb tersebut memiliki empat Hizb lainnya. Jadi jumlah Hizb pada setiap Juz adalah delapan. Dan setiap akhir hizb diberi tanda oktagram.

.

Mengapa Bintang Segi Delapan?

Ukiran pada sebuah makam di Dompu tahun 1850 #2

Ukiran Rub’ul Hizb pada sebuah makam di Kerajaan Dompu

Sebagaimana telah kita ketahui, bintang segi delapan (oktagram) saat ini telah diidentikkan dalam Islam. Lambang ini dipergunakan untuk menyimbolkan delapan penjuru mata angin yang bermakna ke manapun menghadap, manusia pasti akan menemukan “wajah” Allah.[1] Bintang segi delapan juga dipakai untuk menyimbolkan dakwah dan jihad harus disebar luaskan ke seluruh penjuru mata angin. Meskipun penggunaan bintang segi delapan tidak memiliki akar normatif dalam Islam, tidak ada pula larangan penggunaanya. Kaum muslimin sejak lama mengasosiasikan bintang segi delapan dengan dakwah dan jihad. Semangat menyebarkan agama Islam ke penjuru mata angin. Simbol ini juga melambangkan semangat untuk selalu mengatakan kebenaran dan membicarakan Islam di mana saja dan dalam kondisi apapun. Karena Islam adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, muslim maupun non-muslim.

Islam mengandung konten spiritual dan politik sekaligus, Islam adalah aqidah dan sistem kehidupan (nizham). Islam adalah sebuah ideologi yang akan menuntun setiap pemeluknya untuk terus mendakwahkan Islam kepada orang lain, apapun kondisinya. Ketika dakwah dilakukan oleh individu, mungkin jangkauan dan kewenangannya terbatas. Namun ketika dakwah diemban oleh negara, maka daya jangkaunya lebih luas serta daya dobraknya lebih menggema. Rasulullah mengajarkan, ketika dakwah menemukan sebuah penghalang. Yakni berupa kekuatan politik atau negara tertentu yang mencoba menentang dakwah Islam, maka Negara  Islam akan menyerukan jihad kepadanya. Bukan untuk memaksanya memeluk Islam, tapi membuatnya tunduk dalam pemerintahan Islam, melihat keagungan penerapan Syariah Islam, dan terpesona oleh keadilan hukum-hukum Islam. Dengan perantaraan itu, non muslim dengan sendirinya akan memeluk Islam secara sukarela. Dan ini telah banyak bukti historisnya.

Dakwah dan jihad, inilah semangat yang ingin dibangun oleh Kerajaan Dompu dengan menjadikan bintang segi delapan sebagai simbol yang terpatri dalam panji perangnya. Dilatari oleh warna merah warisan khas Khilafah Utsmaniyyah Turki. Sultan bagi segala sultan, pemimpin seluruh kaum muslimin. Warna darah, warna keberanian. Warna perlawanan dan perjuangan. Pasukannya menggentarkan negara-negara Kristen Eropa, meskipun di masa akhir tertatih-tatih karena rongrongan di sana sini Khilafah Ustmaniyah tetap ditakuti musuh. Namun Khilafah tetap ingin melindungi seluruh kaum muslimin. Khilafah Utsmani membantu Aceh dan Jawa, meskipun hanya itu kemampuannya yang tersisa. Dengan terseok-seok tetap beri’tikad membela dan melindungi seluruh kaum muslim di seluruh dunia. Walaupun beda bangsa dan bahasa. Itulah kemuliaan dan keagungan Khilafah yang sedang diperjuangkan dan akan segera berdiri tegak kembali. Adakah hari ini negara yang seperti itu? Adakah harapan lain untuk menyatukan dan melindungi 1,7 milyar umat Islam selain Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah[2] itu? [Uma Seo]

Sumber:

https://kambalidompumantoi.wordpress.com/2016/05/31/panji-perang-kesultanan-dompu-panji-negara-islam/

Catatan Kaki:

[1] QS. Al-Baqarah: 115

[2] Rasulullah SAW bersabda: “…..Akan muncul kekuasaan diktator, adanya atas izin Allah. Lalu Ia mengakhirinya jika ia berkehendak mengakhirinya. Lalu akan muncul Khilafah yang mengikuti metode kenabian.” (Hadis Riwayat Imam Ahmad).

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Sejarah Dompu dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s