Menggali Masa Lalu di Doro Bata


Penggalian Situs Doro Bata Dompu 0

Kambali Dompu Mantoi –  Kompleks Situs Doro Bata adalah Pusat kerajaan Dompo yang kedua menurut cerita rakyat turun temurun. Doro Bata terletak di Kelurahan kandai Satu, Kec. Dompu. Situs Doro Bata berbentuk sebuah bukit setinggi rumah berlantai dua dengan permukaan rata memanjang dari barat ke timur seluas 100 m2. Di sekelilingnya ditemukan banyak bata besar berserakan. Setelah dilakukan penggalian oleh para arkeolog, ternyata ditemukan struktur bata membentuk jenjang tangga mirip dengan struktur candi. Hal ini kemudian mendorong para peneliti menduga bahwa ada candi atau bangunan suci keagamaan yang terkubur di dalam Doro Bata. Hal lain yang memperkuat dugaan ini adalah bahwa Doro Bata berada di pusat kawasan dari keempat wilayah Bukit Doro Mpana, Bukit Doro Ngao, Sambitangga, dan Bukit Doro Swete. Keberadaan keempat wilayah tersebut mengitari Doro Bata, dari empat arah penjuru mata angin yang terminologinya di Bali dikenal dengan konsep “nyatur desa”.

Konon di sanalah lokasi istana Kerajaan Dompu dahulu. Namun tidak ada kepastian kapan pusat pemerintahan ini dipindahkan dari Tonda ke Kandai Satu. Dugaan kami bahwa pusat pemerintahan ini dipindah pada masa masuknya agama Hindu ke Dompu. Dalam hal ini, ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, pusat pemerintahan ini dipindahkan oleh raja pertama Dompu. Mengingat ia adalah pangeran dari Kerajaan Tulang Bawang yang berdiri pada Abad III Masehi. Kerajaan Tulang Bawang adalah kerajaan bercorak Hindu, tidak menutup kemungkinan pangeran yang terdampar di Dompu juga membawa agama Hindu ke Dompu. Dalam kerajaan-kerajaan hindu, istana terletak tak jauh dari tempat ibadah sedangkan tempat ibadah harus memenuhi kriteria nyatur desa. Yakni dikelilingi oleh gunung atau bukit dari empat penjuru mata angin.

Kemungkinan kedua, pusat pemerintahan itu dipindah setelah Kerajaan Dompu ditaklukan oleh Majapahit pada tahun 1357 M. Pada tahun 1545 M, raja Dompu ke Sembilan masuk Islam dan bergelar Sultan Syamsuddin. Ketika Gunung Tambora meletus pada tahun 1815, istana kesultanan yang terletak di tepi Sungai na’e (yakni di situs Waro Kali) diduga tertimbun abu vulkanik yang sangat tebal sehingga tidak mungkin lagi ditempati. Sultan Abdul Rasul II yang memerintah waktu itu memerintahkan pembangunan istana kesultanan yang baru di sebelah utara sungai. Yakni di lokasi yang sekarang berdiri masjid Raya Baiturrahman DOmpu. Inilah yang membuatnya digelari Sultan Mawa’a Bata Bou (Sang Pembangun Istana Bata Baru).

Dompu Pernah Menerapkan Syariat Islam

Islam masuk ke Dompu pada abad XVI sekitar tahun 1528 M. Menurut Tambo (Buku Catatan Istana) Kerajaan Dompu yang ditulis pada zaman Sultan MT. Arifin Sirajuddin, pembawa Islam ke tanah Dompu adalah Syekh Nurdin, seorang pedagang keturunan Arab. Saat itu, Dompu di bawah pimpinan Raja Dewa Mawa’a Taho yang menganut Hindu. Islam menjadi agama resmi Kerajaan Dompu ketika La Bata Nae naik tahta pada tahun 1545 M. Beliau selanjutnya mengubah sistem pemerintahan Kerajaan Dompu menjadi kesultanan. Beliau bergelar Sultan Syamsudin.

Penerapan Syariat Islam di Dompu mengalami pasang surut seiring intrik dan konspirasi Belanda. Hal ini terjadi setelah perjanjian Bongaya antara Belanda dengan Makassar. Namun sampai detik akhir, rakyat tidak menaruh simpati pada Belanda karena kekangan mereka.

Pada masa Sultan Salahuddin, diadakan perbaikan dalam sistem dan hukum pemerintahan. Beliau menetapkan hukum adat berdasarkan hasil musyawarah dengan Syariah Islam sebagai dasar satu-satunya. Dalam menjalankan pemerintahaannya Sultan dibantu oleh Majelis Hadat. Majelis hadat ini beranggotakan para menteri dengan gelar “Raja Bicara (Perdana Menteri), Rato Rasana’e, Rato Perenta, dan Rato Renda.” Dewan Hadat ini merupakan badan kekuasaan yang mempunyai wewenang untuk mengangkat dan memberhentikan sultan. Hal ini bersumber dari system Syuro dalam Islam. Majelis Hadat juga memiliki kelengkapan pemerintahaan yang berfungsi menjalankan Hukum Islam sampai pada tataran teknis yang di kepalai oleh seorang “Kadi” (Qodhi). Pada masa tertentu Sultan Dompu mengambil alih langsung tugas di posisi ini.

Sejak terkubur oleh letusan tambora tahun 1815, kompleks Situs Doro Bata yang diduga sebagai pusat Kerajaan Dompu ini ditinggalkan. Pusat Pemerintahan Lalu dipindahkan ke wilayah Kampo Rato, Karijawa saat ini. Sejak saat itu, kompleks Doro Bata tidak diperhatikan lagi. Cerita orang-orang tua mengatakan bahwa lokasi di Sekitar Doro Bata akhirnya dijadikan tempat eksekusi hukuman para kriminal dan makam raja-raja. Berkembang juga legenda bahwa Doro Bata sengaja dikubur oleh raja yang takut diserang oleh Pasukan Majapahit kiriman Gajah Mada. Hingga mitos kutukan bagi orang yangberani menggali Doro Bata.

Masih Banyak misteri yang terkubur di bawah Doro Bata. Maka memang diperlukan penggalian terhadap situs ini untuk menguak misteri yang tersembunyi selama ini. (MF)

Sumber Foto: FB Abu Mbolo

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Romantisme dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s