Biografi Lengkap Syaikh Abdul Ghani Al-Bimawi Al-Jawi


Oleh: Muhammad Faisal (Uma Seo)

Syaikh Abdul Ghani bin Subuh bin Ismail bin abdul Karim Al-Bimawi Al-Jawi atau yang kerap disebut Al-Bimawi saja, adalah seorang Ulama besar yang sangat masyhur di dunia Islam pada paruh abad ke-19. Keluasan ilmunya menyebabkan beliau diangkat menjadi seorang ulama pengajar di Madrasah Haramayn, Makkah. Beliau menjadi tempat berguru banyak ulama yang datang ke Madrasah Haramayn. Jika kita melacak garis genealogi atau hubungan kekerabatan intelektual Abdul Ghani dengan ulama-ulama di Indonesia kira-kira pertengahan abad ke-19, Abdul Ghani tergolong salah satu moyang ulama Nusantara.

Syekh Mahdali (Sehe Boe)

Syekh Mahdali (Sehe Boe), cucu Syekh Abdul Ghani

Syaikh Abdul Ghani lahir di paruh terakhir abad ke-18 kira-kira tahun 1780 M di Bima, Nusa Tenggara Barat. Tidak ada catatan pasti mengenai kapan hari lahir Syaikh Abdul Ghani. Yang jelas beliau berasal dari lingkungan keluarga ulama yang memiliki kegandrungan tinggi dalam mengkaji Al-Qur’an. Orang tua Abdul Ghani adalah seorang ulama hafidz Al-Qur’an.

Kakek buyut Syaikh Abdul Ghani bernama Abdul karim, seorang da’i asal Makkah kelahiran Baghdad. Konon Abdul Karim sampai ke Indonesia pertama kali menuju Banten, untuk mencari saudaranya. Dari Banten, Abdul Karim mendapat informasi bahwa saudaranya itu ada di Sumbawa. Pergilah ia ke sana dan sampai di Dompu. Seraya berdagang tembakau, Abdul Karim menyiarkan Islam. Hal itu menarik perhatian Sultan Dompu, lalu beliau diambil menjadi menantu. Dari pernikahan dengan puteri Sultan Dompu itu, Abdul Karim mendapat anak laki-laki bernama Ismail. Ismail pun mengikuti jejak ayahnya menjadi mubaligh. Ismail kemudian menikah dan mempunyai anak bernama Subuh.

Syaikh Subuh bin Ismail bin abdul Karim sejak muda sudah hafal Al-Qur’an. Ia kemudian mengembara ke timur kea arah teluk Bima, wilayah kekuasaan Kesultanan Bima. Kehebatan ilmunya membuat Sultan Alauddin Muhammad Syah (1731-1743) yang menjadi penguasa Kesultanan Bima saat itu mengundangnya ke istana. Beliau didaulat menjadi imam kesultanan. Menulis Al-Qur’an  Mushaf Bima adalah prestasi luar biasa ulama ini. Mushaf yang beliau tulis diberi julukan La Lino, yang berarti melimpah ruah atau menyeluruh (Arab: Asy Syamil).

Karyanya itu menjadi satu-satunya Al-Qur’an Mushaf Bima. Kitab tersebut dulunya tersimpan di kediaman keluarga sultan di Bima dan sekarang tersimpan di Museum Al-Qur’an Jakarta, dan pada tahun 2012 mendapat penghargaan sebagai mushaf Al-Qur’an terbaik dan terindah yang diselenggarakan di Yogyakarta dan menarik sekian banyak pengunjung yang hadir menyaksikannya. La Lino juga termasuk salah satu mushaf tertua di Indonesia.

Dalam pengembaraannya ke teluk Bima, Syaikh Subuh sempat menikahi seorang gadis dari Kampo Sarita, Donggo (sekarang masuk wilayah Desa Sarita, Kecamatan Soromandi, Kabupaten Bima). Dari pernikahan itu lahirlah Abdul Ghani.

Abdul Ghani kecil melawat ke Makkah dan belajar dari para ulama di sana seperti Al-‘Allamah As-Sayyid Muhammad Al-Marzuqi dan saudaranya, Sayyid Ahmaq Al-Marzuqi -penulis ‘Aqidatul ‘Awwam-, Muhammad Sa’id Al-Qudsi -mufti madzhab syafi’i-, dan Al-‘Allamah ‘Utsman Ad-Dimyathi. Syaikh Abdul Ghani banyak mengambil faidah dari para ulama ini. Sebagaimana yang dicatat oleh Khairuddin Az-Zirikli dalam kamus tarajimnya, Al-A’lam.

Nama Abdul Ghani sangat masyhur di dunia Islam pada paruh abad ke-19. Keluasan ilmunya menyebabkan beliau menjadi tempat berguru banyak ulama yang datang ke Madrasah Haramayn, Mekah. Termasuk di antaranya banyak ulama dari tanah Jawi (sebutan orang Arab untuk Nusantara waktu itu). Sebagaimana dicatat oleh Khairuddin Az-Zirikli, Syaikh ‘Abdul Ghani Al-Bimawi telah ‘meluluskan’ mayoritas ulama Jawa seperti Syaikh Ahmad Khathib bin ‘Abdul Ghaffar As-Sambasi; Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al-Bantani, pemilik karya-karya ilmiah seperti Tafsir Muroh Labid / At-Tafsir Al-Munir li Ma’alimit Tanzil, yang juga pendapat anugrah berupa gelar ‘Sayyid Ulamail Hijaz’ dari Negeri Timur. Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al-Bantani, atau Syaikh An-Nawawi Al-Bantani adalah guru dari Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama, TGH. Zainuddin Abdul Majid pendiri Nahdlatul Wathan di Lombok, Syaikh Tubagus Ahmad Bakri dari Purwakarta, Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Kyai Agung Asnawi dari Banten, Abuya Dimyati dari Banten, Syaikh Mubarok bin Nuh Muhammad dari Tasikmalaya, KH. Abdul Karim dari Kediri, KH. Muhammad falak dari Bogor, dll. Syaikh Abdul Ghani senantiasa menyibukkan diri dengan mengajar, ibadah & menulis.

Syaikh Abdul Ghani sempat “pulang kampung” ke Dompu pada tahun 1857 di masa pemerintahan Sultan Salahuddin[1] yang bergelar Mawa’a Adi (Sang Pembawa Keadilan) dan tinggal beberapa waktu. Beliau sempat membangun sebuah masjid yang kemudian diberi nama Masjid Syekh Abdul Ghani sesuai namanya. Masjid yang merupakan Masjid Kesultanan ini berlokasi di Kampo Sigi (sekarang Lingkungan Sigi, Kelurahan Karijawa, Kecamatan Dompu).[2] Masjid ini beratap susun tiga yang merupakan corak bangunan dari pengaruh Hindu. Dindingnya terbuat dari kayu jati dan lantainya dari batu. Masjid ini terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu hingga dibongkar pada tahun 1962. Dan saat ini di atasnya berdiri kantor Kelurahan Karijawa. Menurut hasil survey Tim Survey Kepurbakalaan Depdikbud yang meneliti puing-puing bangunan itu pada tahun 1974, luas bangunan masjid ini adalah 25×15 m. Lantainya terbuat dari tegel batu dengan panjang 54 cm, lebar 48 cm dan tebal 3,5 cm. Dindingnya terbuat dari batu bata merah dengan lebar 26 cm dan tebal 8 cm.[3]

Menurut Syaikh Mahdali cucu beliau, dalam sebuah wawancara di tahun 1985, Syaikh Abdul Ghani sempat diangkat menjadi Qadhi Kesultanan Dompu oleh Sultan Dompu. Sultan Dompu menghadiahkan kepada beliau 57 petak sawah di So Ja’do.[4] Di sinilah beliau mendirikan sebuah masjid dan pesantren yang ramai didatangi penuntut ilmu dari Dompu, Bima dan Sumbawa.[5] Namun saat ini masjid dan pesantren itu sudah tidak ada lagi.

Setelah beberapa lama tinggal di Dompu, beliau kemudian kembali ke Makkah. Sayangnya Syaikh Abdul Ghani tidak terlalu banyak meninggalkan catatan dalam sejarahnya. Beliau wafat di Mekah pada tahun 1270-an H atau pada dasawarsa terakhir abad ke-19 M dan dimakamkan di Ma’la.

Di Dompu, keturunan Abdul Karim sangat dihormati. Mereka dipanggil Ruma Sehe. Ruma adalah sebuah kata bermakna plural yang dapat berarti pemilik (owner), Tuhan (God), atau tuan (mister). Sedangkan Sehe adalah kata serapan dari kata dalam Bahasa Arab, Syaikh yang bermakna kakek atau orang yang sudah tua. Di dalam khasanah Islam kata Syaikh kemudian menjadi gelar bagi seorang ulama yang sangat tinggi ilmu agamanya. Ruma Sehe dapat berarti Tuan Syekh atau Gusti Syekh. Ruma adalah sebutan bagi para Raja di Dompu dan keturunannya. Setara dengan sebutan Gusti bagi raja di Jawa. Sedangkan Syaikh Abdul Ghani adalah keturunan dari Abdul karim dengan seorang puteri Sultan Dompu.

Syaikh Abdul Ghani memiliki seorang anak di Dompu bernama Syaikh Mansyur. Beliaulah yang menggantikan Syaikh Abdul Ghani menjadi Qadhi Kesultanan Dompu dan mewarisi 57 petak sawah di So Ja’do. Di tempat tersebutlah Syaikh Mansyur menetap dan menjadikannya sebagai pusat dakwah. Oleh karena itu beliau lebih dikenal dengan nama Sehe Ja’do. So berarti padang atau areal. Ja’do adalah nama sebuah areal pertanian yang terdiri atas areal bukit dan persawahan yang sangat subur dengan irigasi yang memadai. Saat ini So Ja’do masuk dalam wilayah Kelurahan Bali Satu. Terletak di sebelah utara jalan lintas luar Dompu dari pom bensin Karijawa sampai cabang Sawete.

Syaikh Muhammad dan Syaikh Mahdali (Sehe Boe) adalah dua orang anak dari Syaikh Mansyur sekaligus cucu dari Syaikh Abdul Ghani Al-Bimawi. Syaikh Mahdali atau di Dompu lebih akrab dipanggil Sehe Boe sempat menjadi Qadhi Kesultanan Dompu di masa-masa akhir Kesultanan Dompu. Setelah Kesultanan Dihapuskan, beliau menghabiskan sisa-sisa umurnya dengan mendekatkan diri pada Allah di tempat tinggalnya Kampo Lapadi (sekarang Desa Lepadi) sampai beliau berpulang ke hadirat Allah SWT.

Dikutip dari sumber:

https://mumaseo.wordpress.com/2015/07/02/biografi-lengkap-syaikh-abdulghani/

Catatan Kaki:

[1] Ridwan, 1985: hal. 37

[2] RM. Agus Suryanto, wawancara dengan H.M. Yahya (71), tokoh masyarakat Dompu di Potu thn 2009.

[3] Ridwan, 1985: hal. 59

[4] Ibidem: hal. 37

[5] Ibidem: hal. 63

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Sejarah Dompu dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s