Legenda Makam Saudara Gajahmada di Dorobata


nisan makam dorobata 04

Makam dengan hiasan pepatran yang ditemukan di sisi tenggara Bukit Dorobata pada tahun 2011 (Sumber Balar Denpasar)

Kambali Dompu Mantoi – Situs Doro bata sejak dahulu tetap menjadi misteri besar yang belum bisa terpecahkan. Kesimpulan sejarawan seperti Helyus Syamsuddin menyatakan bahwa Doro Bata “tertimbun” oleh abu vulkanik hasil letusan mahadahsyat gunung Tambora tahun 1815. Sejak saat itu kompleks doro bata tidak terpakai lagi. Sebab pusat kerajaan Dompo dipindahkan oleh Sultan Abdurrasul II ke lokasi baru. Menurut cerita rakyat, Doro Bata merupakan Asi (istana) sebagai pusat kekuasaan Kerajaan Dompo pada waktu itu. Ada beberapa sultan yang gelarnya berhubungan dengan Doro Bata. Misalnya Sultan Sirajuddin Manuru Bata dan Sultan Abdurrasul Mawa’a Bata ‘Bou. Sedangkan sebagian orang menduga Doro Bata sebenarnya adalah sebuah candi atau bangunan suci keagamaan. Dugaan ini berdasarkan beberapa indikasi, misalnya karena bentuknya yang berteras, lokasi Doro Bata yang dikelilingi beberapa bukit dari empat penjuru mata angin mengikuti konsep nyatur desa atau berdasarkan material yang dipakai menyusun bangunannya.

Meskipun demikian, satu yang tak bisa dibantah bahwa Kerajaan Dompo dahulu adalah sebuah Kerajaan Islam (Kesultanan) yang BERDAULAT dan menerapkan SYARIAT ISLAM di wilayah timur Indonesia. Berdampingan dengan Kerajaan Sumbawa di barat dan Kerajaan Bima di Timur. Syariat Islam menjadi DASAR NEGARA KERAJAAN DOMPO sehingga syariat Islam menjadi pengatur dalam segala aspek hidup rakyat. Baik itu urusan individual atau spiritual semacam ibadah shalat, puasa, zakat, haji, maupun urusan komunal dan publik seperti urusan tata Negara, ekonomi, hukum,, dan politik luar negeri. Penerapan Syariat Islam ini memang fluktuatif di Kerajaan Dompo, namun pada kondisi terbaiknya penerapan Syariat Islam di Kerajaan Dompo sangat berpengaruh terhadap kebaikan rakyat.

Sebagai contoh salah satu hasil dari penerapan Islam dahulu adalah cerita orang-orang tua kita bahwa dahulu tidak ada yang namanya pacaran. Selain itu dou siwe Dompu mantoi (wanita Dompu zaman dahulu) sangat menjaga aurat mereka di dalam rumah maupun ketika ke luar rumah. Ada kasus di mana hanya karena tak sengaja menyaksikan rambut wanita, seorang pemuda akhirnya harus dinikahkan dengan wanita itu sebagai hukumannya. Bandingkan dengan zaman sekarang, kerusakan moral sangat parah. Pacaran menjurus perzinahan. Poligami dianggap haram namun selingkuh (baca: zina) malah dihalalkan. Dan anehnya, banyak orang yang diam saja, hanya mengurus urusannya sendiri, bukan memikirkan solusi atas kerusakan ummat. Orang-orang semacam ini, masihkah mereka sadar akan predikat keislamannya?

Padahal Rasulullah telah bersabda: Barangsiapa yang bangun dari tidurnya dan ia tidak memikirkan persoalan kaum muslim, maka ia bukanlah bagian dari kaum muslimin. (HR. Ibnu Majah).

.

Di Manakah Makam Raja-raja Dompu?

Pada sebuah diskusi di sebuah medsos paling terkenal di Dompu, seorang yang dianggap seniman, budayawan, dan atau sejarawan Bima pernah mengeluarkan sebuah pertanyaan untuk meragukan masa lalu Dompu sebagai sebuah Kerajaan besar. Ia bertanya: kalau Dompu memang pernah maju dan besar, adakah peninggalan monumentalnya, makam raja-raja misalnya seperti Pemakaman Danantraha di Bima?

Saya jadi ingat sebuah cerita dari orang-orang tua bahwa di Doro ‘Bata dahulu ada sebuah makam. Makam seorang Raja. Sebatang pohon besar dan rindang tumbuh menaunginya. Masyarakat menamainya fu’u ka-saa karena pohon itu akan berbunyi gemerisik nyaring ketika tertiup angin. Dari sudut pandang masyarakat Dompu, suara yang terdengar adalah suara saa……., sehingga mereka mengatakan elina naka-saa…. Makam itu digali untuk membuktikan sebuah cerita legenda. Konon katanya makam itu milik saudara dari Patih Majapahit, Gajahmada. Mereka memperebutkan tahta Kerajaan Dompo, sampai akhirnya Gajahmada mengalah dan melarikan diri ke Jawa. Setelah menjadi Patih di Kerajaan Majapahit, Gajahmada ingin membalas dendam dan menghancurkan saudaranya itu. Diseranglah Kerajaan Dompo oleh Kerajaan Majapahit. Mengetahui ia akan diserang, sang Raja Dompo kemudian ketakutan dan mencari cara agar istana tidak direbut dan ia tidak dibunuh. Ia tak rela jika Istana dikuasai oleh saudaranya yang sekarang telah jadi Patih Majapahit. Lalu iapun mendapat ide untuk menimbun istana dan berpura-pura telah meninggal. Dipanggilah seluruh rakyat Sapaju Dana Dompo untuk menimbun Asi ‘Bata (Istana ‘Bata) dan dibuatlah sebuah makam di atasnya atas nama sang raja untuk meyakinkan Gajahmada bahwa ia benar-benar telah mati. Sedangkan Sang Raja sendiri melarikan diri entah ke mana. Ketika makam itu digali di kemudian hari, ternyata tidak ditemukan apa-apa di dalamnya.

Meskipun sebagian besar plot cerita di atas mustahil untuk dipercaya, namun ada bagian yang menurut MADA dapat dipercaya. Bagian yang mustahil terjadi dan mustahil dipercaya adalah ketika dikatakan bahwa makam dibangun di masa Invasi Majapahit terhadap Dompo. Kita harus paham bahwa di Zaman Hindu mayat tidak dikubur, namun dibakar (diaben). Sedangkan penyerangan Majapahit terjadi pada pertengahan Abad XIV di mana Islam belum masuk ke Dompu. Lebih lanjut, menurut catatan Raffles, sebelum 1815 Dorobata adalah lokasi istana, bukan sebuah bukit kosong yang dipakai sebagai TPU. Adapun bagian dari cerita yang bisa kita terima adalah ketika dikatakan Gajahmada pernah menyerang Kerajaan Dompo, tentu saja banyak bukti historis akan hal ini. Yang kedua, MADA juga percaya bahwa mungkin saja dahulu ada makam di atas Bukit Dorobata, karena masyarakat Dompu yang hidup era awal Abad XX pernah menyaksikannya. Dan juga, pada tahun 2010 dan 2011 tim dari Balai Akeologi Denpasar pernah menemukan makam di Situs Dorobata. Walaupun makam yang ditemukan itu terindikasi makam wanita, bukan makam laki-laki (raja). (Uma Seo)

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Romantisme dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s