Generasi Muslim Dompu Terancam Akidahnya


HIP-Perdana-HTI-Dompu_7160

Oleh: Muhammad Faisal, S.Pd

Dalam sebuah kesempatan, ada salah seorang rekan guru di sekolah tempat saya mengajar pernah memberikan salam dalam empat agama kepada para siswa dan guru (termasuk saya). Ia memberikan salam menurut agama Islam, kristen, Hindu, dan Budha.

Pembaca yang budiman, mungkin menurut rekan satu team saya ini, memberikan salam dalam empat cara ini adalah bentuk toleransi terhadap agama lain. Padahal ini sebuah kesalahan besar. Inilah toleransi kebablasan, salah kaprah, dan dilandasi oleh kejahilah terhadap agamanya sendiri.

Sepertinya contoh di atas dapat menjadi gambaran betapa generasi muslim di Dompu telah tergerus oleh arus sekularisme, demokrasi dan pluralisme yang dipasarkan oleh peradaban barat.

Sekularisme telah melahirkan generasi yang memahami agama secara sempit. Agama hanya dipahami sebagai ajaran spiritual dan etika semata. Hanya berisi ibadah, ahklak, makanan, pakaian, waris, nikah, cerai dan rujuk saja. Sedangkan ajaran politik dari islam yang mengatur politik, tata negara, ekonomi, hukum, sosial dan budaya dianggap sepele. Dengan alasan ini bukan negara islam, ini negara pancasila, ini negara demokrasi, dan lain sebagainya.

Contoh di atas juga menjadi gambaran betapa akan mudahnya generasi muda muslim Dompu untuk menjadi mangsa dari ajaran-ajaran sesat seperti demokrasi dan pluralisme. Termasuk dalam konteks Natal seperti saat ini. Sayapun dulu pernah menjadi salah satu orang yang mengucapkan selamat natal kepada teman sekelas saya yang beragama kristen.

Seharusnya toleransi dan persatuan dengan muslim tidak diwujudkan dengan cara-cara yang melanggar norma-norma Islam. Bukan Islam melarang menghormati, menghargai dan memperlakukan non muslim secara sama. Justru Islam sangat menganjurkan berbuat baik kepada mereka. Namun ketika perlakuan kita itu telah mencederai akidah kita sendiri terhadap Allah yang Maha Esa, maka Islam memberikan aturan yang tegas dan wajib dipatuhi.

Rasulullah pernah diajak oleh kaum kafir musyrik di Makkah untuk menyembah Allah setahun dan menyembah berhala setahun kemudian. Apa jawaban Rasulullah??? Beliau lantas membacakan surat Al Kaafiruun. Lakum diynukum, waliya diyniy. Untukmu agamamu, untukku agamaku. Silahkan kalian menyembah tuhan-tuhan kalian menurut agama kalian, sedangkan saya tetap menyembah Allah dengan cara yang diajarkan oleh Islam. Kita harus saling menghormati dan tak usah saling mengganggu.

Seharusnya begitulah kita, dalam konteks maulid nabi seperti saat ini kita seharusnya meneladani Rasulullah SAW. Hormatilah cara mereka beribadah, jangan mencela Tuhan mereka, tidak mengganggu mereka, biarkan mereka beribadah, tapi jangan ikut beribadah dengan cara mereka atau bersama mereka. Jangan mengucapkan salam dengan cara mereka karena haram meniru-niru cara orang kafir.

Jangan ikut merayakan Natal, Tahun baru, atau Valentine seperti mereka. Natal adalah perayaan kelahiran Yesus sebagai anak Allah SWT, bagaimana mungkin kita merayakan kelahiran anak Allah SWT (Subhanallah) padahal seharusnya seorang muslim meyakini dengan seyakin yakinnya bahwa Allah SWT tidak punya anak dan tida pulak punya orang tua. Bukankah kita sangat hafal surat Qul huwallah (Al Ikhlas)? Bukankah surat Al Ikhlas mengajarkan bahwa: Lam Yalid wa Lam yulad (Allah tidak punya anak dan tidak pula diperanak) [Al Ikhlas: 3].

Jangan pula memberikan selamat terhadap hari raya mereka. Apakah masuk akal jika kita mendoakan keselamatan pada sebuah kaum yang sudah dijamin oleh Allah tidak akan selamat? []

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s