Tradisi Perayaan Maulid Nabi di Dompu


Kubah Masjid raya Dompu yang Memudar

Kubah Masjid Raya Dompu yang Baru

Kambali Dompu Mantoi – Masyarakat Dompu, sebagaimana di daerah lainnya di Indonesia, juga pada umumnya merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau yang lebih dikenal dengan Maulid. Di masa lalu, kata maulid atau maulud ini telah diserap ke dalam Bahasa Mbojo (Bima-Dompu) menjadi kata Molu. Wura Molu adalah nama bulan rabiul awwal dalam pengertian orang Bima dan Dompu.

Perayaan maulid Nabi Muhammad di Dompu dilaksanakan dengan mengadakan sebuah pengajian akbar yang akan dihadiri oleh seluruh isi kampung. Pengajian itu diadakan di Masjid atau Mushalla (Sigi ra Langga) dengan mengundang seorang tokoh agama terkemuka untuk memberikan ceramah. Biasanya setiap menjelang perayaan maulid, masjid-masjid dan mushala dihiasi. Ruangannya dibersihkan, catnya diperbaharui, atapnya diperbaiki, dindingnya diperindah dengan hiasan berbagai rupa, halaman dan pagarnya juga dibersihkan dan diperindah. Masyarakat sebuah kampung, biasanya pada tingkat desa atau dusun, akan mengerjakan semuanya dengan bergotong royong dan ikhlas.

Pada masa lalu, Ruma Sehe (Gusti Syekh) adalah tokoh agama favorit yang akan diundang untuk memberikan ceramah. Ibu-ibu dan para gadis akan membawa sumbangan penganan atau jajanan kepada panitia Maulid di masjid untuk dinikmati bersama-sama. Kebersamaan dan gotong royong sangat kental pada masyarakat Dompu dahulu. Sebuah hal yang telah memudar kini.

Pada malam hari, selepas shalat isya’, acara perayaan maulid nabi dimulai. Gema suara ulama yang didaulat menjadi penceramah terdengar dari dalam masjid. Sedangkan di luar, cahaya obor menghiasi halaman masjid. Menambah semarak kegembiraan akan lahirnya seorang manusia pilihan yang telah diutus untuk membawa rahmat bagi seluruh alam raya. Dialah Muhammad SAW yang datang membawa Syariah Islam yang utuh dan sempurna.

*****

Praktek keagamaan di Dompu memang sangat dekat dengan sufisme sebagaimana masyarakat Indonesia umumnya. Sebab Islam masuk ke wilayah Kerajaan Dompu dahulu pada masa keemasan sufi di bawah naungan Negara Islam lintas benua, Khilafah Ustmaniyah Turki. Sebagaimana sejarah menuturkan bahwa Wali Songo yang pertama, yakni Maulana Malik Ibrahim dan rekannya Maulana Ishak merupakan petugas penyiaran agama Islam yang dikirim oleh Khalifah Turki. Dulu, kaum muslimin di Indonesia menyebut para Khalifah Dinasti Utsmaniyah Turki dengan sebutan Sultan Ruum.

Islam dibawa ke Dompu pada Abad ke-16 (yakni pada tahun 1528) oleh Syekh Nurdin, seorang ulama keturunan Arab. Ia berhasil mengislamkan keluarga Raja Dewa Mawaa Taho. Tahun 1545, putera dari Dewa Mawaa Taho dinobatkan sebagai Raja menggantikan ayahnya. Ia bergelar Sultan Syamsuddin. Ia merubah sistem pemerintahan dari Kerajaan Hindu menjadi Kesultanan (Kerajaan Islam). (MF)

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s