Jembatan Zaman Belanda Disulap Jadi Taman, Pemda Jangan Memfasilitasi Maksiat


Foto Jembatan lama Rasanggaro Dompu

KAMBALI DOMPU MANTOI — Pemerintah Dompu berencana menjadikan Jembatan Tua yang terletak di sebelah barat Jembatan Rasanggaro yang menghubungkan Kelurahan Monta Baru dengan Desa Matua sebagai taman bermain.

Kasubdin Tata Kota Dinas PU Dompu H. Albukhaerum, menyatakan keberadaan jembatan eks jaman Belanda itu akan dimanfaatkan. Pihaknya kata Albu sudah mengajukan anggaran melalui APBD Perubahan. ‘’Eks jembatan Rasanggaro akan dijadikan sebagai taman bermain,’’ ungkapnya (www.lombokpost.net, 2015/11/14).

Menurut pemerintah Dompu fasilitas taman di wilayah Kecamatan Woja masih minim, sementara kebutuhan masyarakat, terutama anak-anak cukup tinggi. Keberadaan taman bermain lanjutnya di samping sebagai area untuk kongkow-kongkow sekaligus menjadi ajang bagi masyarakat untuk mengais rejeki. Karena nanti akan tumbuh usaha-usaha kecil masyarakat disekitar itu.

Sementara sejumlah warga menyambut baik rencana pemerintah yang akan menyulap jembatan itu menjadi taman. Keberadaan jembatan yang sudah mencapai ratusan tahun itu kini cukup mengganggu pemandangan.

PEMDA JANGAN FASILITASI MAKSIAT

Memperindah kota boleh saja, tetapi pemerintah jangan sampai memfasilitasi aktifitas maksiat dengan membiarkan taman bermain yang dibangun sebagai sarana warga berbuat maksiat. Ha ini berdasarkan pantauan tim KAMBALI DOMPU MANTOI bahwa sebagian besar taman bermain yang dibangun pemda akhirnya dibiarkan terlantar kotor tanpa perawatan, tidak ada penerangan dan tidak diawasi aktifitas maksiat warga yang dilakukan di taman-taman tersebut. Misalnya saja, taman bermain yang dilengkapi ayunan di Desa Mangge Asi sering dipakai oleh muda-mudi untuk berpacaran dan pesta miras. Apalagi jika malam tiba, dua aktifitas itu sering dilakukan di taman kota tersebut. Jika pagi tiba, akan ditemukan botol bir berserakan dan sebagian adalah pecahan botol.

Berpacaran (baca: mojok) di tempat gelap, kita patut mengkhawatirkan apa yang dilakukan muda mudi di tempat itu tanpa pengawasan orang lain. Begitu juga pesta miras jika malam tiba. Akhirnya, sarana yang dibangun untuk hiburan menjadi sarana maksiat. Ini dikhawatirkan kan semakin merusak generasi muda di Dompu. Seharusnya pemda melengkapinya dengan penerangan yang memadai dan diawasi penggunaannya pada jam-jam tertentu. Jika tidak, sama saja pemda memfasilitasi aksi maksiat dan ikut menanggung dosanya.

Kita juga patut mempertanyakan urgensitas pembangunan taman. Masih banyak kebutuhan masyarakat yang lain yang sangat penting untuk dipenuhi. Bukan sekedar sarana bermain saja. Ini akhir tahun, jangan sampai Pemda Dompu terkesan kejar target habis anggaran semata. Ingat bahwa yang dipakai itu uang rakyat, alokasikanlah secara bijaksana (Dae Sa).

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Do Little to Reach a Big Goal, Opini dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s