Kisah Wa’i Tomi dan Sultan Yang Lalim


Ilustrasi Wanita Dompu Dahulu

Ilustrasi Wanita Dompu Dahulu

Kambali Dompu Mantoi –  Fatimah atau Wa’i Tomi adalah salah seorang dayang istana di Kesultanan Dompu. Sehari-hari ia bertugas sebagai juru masak yang menyiapkan hidangan bagi Sultan Dompu. Pekerjaannya adalah pekerjaan yang sangat bergengsi untuk wanita di zamannya. Menjadi pelayan seorang Sangaji merupakan kehormatan yang luar biasa. Namun setiap pilihan pekerjaan pasti memiliki resiko, itulah yang terjadi kepada Wai Tomi kemudian.

Pada suatu hari, Sultan menemukan sehelai rambut di dalam sayur yang dihidangkan untuknya. Sultan pun murka, ia memerintahkan untuk memanggil siapapun juru masaknya. Fatimah pun dihadapkan kepada Sang Sultan dan iapun “diadili.” Sang Sultan Dompu yang lalim pun menjatuhkan hukuman penggal kepadanya atas kesalahan itu.ia memerintahkan para prajurit istana untuk menangkap dan mengeksekusinya.

Para prajurit Kesultanan Dompu pun membawa Fatimah ke daerah Woja. Woja adalah lokasi tempat para Sultan dan bangsawan Dompu yang masih tidak bisa melepaskan diri dari kepercayaan “Parafu ra Pamboro” (Animisme) untuk meletakkan sesajian untuk para mahluk yang disangkakan arwah nenek moyang mereka. Woja, terutama di bagian lokasi yang bernama Riwo, adalah Kerajaan Jin. Di sanalah konon lokasi Kerajaan Dompu Kuno pertama kali didirikan.

Para prajurit yang membawa Fatimah ke Woja, mereka sangat iba pada nasibnya. Namun mereka harus melaksanakan perintah sang kepala Negara walau dengan berat hati. Akhirnya mereka mengatur siasat untuk menyelamatkan Fatimah. Mereka kemudian mengirim Fatimah ke Mata dengan menggunakan sampan melalui Pantai Ria. Mata adalah daerah yang masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Sumbawa namun didiami oleh penduduk berbahasa Bima. Fatimah atau Wa’I Tomi pun hidup di sana dan telah memiliki banyak keturunan hingga kini.

Adapun di Woja, para prajurit menggali liang kubur dan memasukkan batang pisang ke dalam liang kubur itu. Mereka melaporkannya sebagai kuburan Wa’I Tomi. Sampai kini lokasi kuburan itu masih disebut “Rade wa’I Tomi” tempat orang menggembalakan sapinya.

Dompu memang tak seterkenal Bima. Namun Dompu juga dulu merupakan sebuah Kesultanan Islam yang menerapkan Syariat Islam di Timur Indonesia. Kesultanan Dompu berdiri tahun 1545 dengan Sultan pertamanya bernama Syamsuddin. Kesultanan ini luluh lantak akibat amukan Donggo Tambora pada tahun 1815 M dan masih belum bisa kembali bangkit sampai hari ini.

Lokasi Woja

Lokasi Woja Kab. Dompu

Kisah ini adalah kisah nyata seratus tahun yang lalu. Di masa pemerintahan seorang Sultan Dompu yang digelari Sangaji. Di kemudian hari, sang sultan pun mendapatkan karma atas keputusannya ini. Dia dibuang dari kampung halamannya. Manusia memang tak ada yang sempurna. Mudah-mudahan taubat sang sultan diterima oleh Allah Sang Maha Pencipta. Wallahu a’lam. (M.F. Uma Seo)

Sumber:

Wawancara dengan H.M. Ya’kub Jama’a Uma La Edi. Cucu dari Kepala Pasukan Pengawal Sultan sekaligus sepupu dua Sang Sultan. Tinggal di Persinggahan.

Wawancara dengan Hawiyah Usman, salah seorang keponakan dari seorang pelayan sultan Dompu yang terbuang. Tinggal di Desa Bara.

Penulis

Penulis

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Sejarah Dompu dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Kisah Wa’i Tomi dan Sultan Yang Lalim

  1. kereen. kok tau banyak tentang sejarah? memang hobi kah atau bidang studi? jarang terangkat lo sejarah dompu ni

  2. Ping balik: sri love family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s