Perang Sori Utu Tahun 1942


Oleh: Muhammad Faisal

 .

Kambali Dompu Mantoi – Setelah Belanda membuang Sultan Muhammad Sirajuddin bersama kedua anaknya ke Kupang pada tahun 1934, praktis kesultanan Dompu tak lagi memiliki seorang kepala negara. Sebuah komite yang terdiri atas Jeneli[1] Dompu dan Jeneli Kempo dibentuk untuk menjalankan pemerintahan. Posisi Dompu semakin meredup, secara administratif wilayah Kesultanan Dompu digabungkan dengan Kesultanan Bima. Penggabungan wilayah Kesultanan Dompu menjadi bagian dari Kesultanan Bima baru terwujud secara sempurna pada tahun 1942, pada masa pendudukan Jepang.

Di akhir-akhir masa penjajahannya, Pemerintah Hindia Belanda mengalami serangkaian kekalahan atas Jepang dalam Perang Dunia ke-2. Di Bima, Jepang menjatuhkan bom yang menghancurkan pangkalan bahan bakar Belanda di Pulau Kambing, sebuah pulau kecil di tengah teluk Bima. Serdadu KNIL kalang kabut, rakyat Bima pun sama terkejutnya. Terdengarlah kabar bahwa Jepang telah menguasai Makassar dan penyerahan tanpa syarat oleh Letnan Jenderal H. Ter Poorten – Panglima Angkatan Perang Hindia – Belanda kepada Jenderal Imamura tanggal 4 Maret 1942.

Peristiwa ini menginspirasi para pemuda aktivis perjuangan di Bima, mereka kemudian menyusun sebuah rencana kudeta terhadap kekuasaan Belanda di Bima. Dibentuklah KAPB (Komite Aksi Penangkapan Belanda) pada Maret 1942 yang diketuai oleh M. Qasymir.[2] KAPB terdiri atas para pemuda yang tergabung dalam organisasi kepanduan Hizbul Wathan (HW) Muhammadiyah dan Pemuda Anshor NU serta didukung oleh 14 serdadu KNIL yang membelot. 14 orang serdadu KNIL yang dipimpin oleh Aritonang ini membelot karena kurang suka dengan gaya kepemimpinan Keeper – Kepala Kepolisian Hindia Belanda di Bima – dan akibat mereka telah beberapa bulan tak digaji. Mereka kemudian menyusun strategi penangkapan terhadap seluruh pejabat dan tentara Belanda di Bima secara senyap dan menentukan target-target serangan secara terukur.

Panglima-besar-angkatan-perang-Belanda-Jenderal-J-H-R-Kohler-tewas-ditembak-oleh-penembak-jitu-Aceh-pada-tahun-1873

Ilustrasi

Pada hari Minggu tanggal 5 April 1942,[3] bergeraklah laskar pejuang menuju titik-titik yang dijadikan target serangan. Aritonang, mantan tentara KNIL Belanda yang memiliki pengalaman militer itu ditugaskan memimpin serangan atas pos-pos serdadu KNIL dan rumah para pejabat Belanda di Kota Raba. Sedangkan M. Qasymir, memimpin sebagian pejuang lainnya untuk melumpuhkan pusat-pusat telekomunikasi Belanda untuk mencegah dikirimkannya informasi pada markas KNIL di luar Bima. Rencana berjalan mulus, semua orang Belanda dan serdadu KNIL ditangkap dan dikumpulkan di asrama Polisi Hindia Belanda di Bima. M. Qasymir lalu menghadap Sultan M. Salahuddin untuk mengabarkan berita gembira ini.

Walaupun rencana sudah disusun rapi dan pos-pos penjagaan telah dibuat untuk mencegah lolosnya orang-orang Belanda, namun ternyata ada 3 pejabat Belanda yang berhasil meloloskan diri. Mereka adalah H.E. Haak (Asisten Residen Sumbawa-Sumba), Pons (direktur algeemene volks credit bank) dan J.W. Ros (Bosh Architect Bima) yang di kalangan orang Bima dijuluki Tuan Komba. Mereka melarikan diri ke Sumbawa Besar. Sultan M. Salahuddin meminta para pejuang untuk menyiapkan diri terhadap rencana balasan dari H.E. Haak. Komite lalu mengirim Hasan Hantabi dan Suwondo ke Sumbawa untuk mengumpulkan informasi tentang rencana Belanda.

Rupanya H.E. Haak berusaha menghasut Sultan Kaharuddin III, penguasa Kesultanan Sumbawa yang juga merupakan menantu dari Sultan M. Salahuddin. Ia menyebarkan berita palsu bahwa para pemberontak telah menangkap dan memenjarakan Sultan M. Salahuddin -mertuanya- dan para pejabat Belanda. Namun sayangnya Sultan Kaharuddin tak terpengaruh.[4] Akhirnya H.E. Haak meminta bantuan pasukan Belanda di Lombok Timur. Pada 12 April 1942,[5] bergeraklah pasukan Belanda menuju Bima. Pasukan ini terdiri atas Polisi Hindia Belanda Sumbawa dan serdadu KNIL serta Polisi Hindia Belanda Lombok Timur.

Jeneli Kempo, Amin Dae Emo, mengabarkan tentang pergerakan Belanda ini kepada rakyatnya. Mereka diperintahkan untuk membantu laskar pejuang dari Bima. Rakyat Dompu kemudian bergabung dengan para pejuang yang datang dari Bima dengan mengendarai 3 buah truk. Rombongan ini tiba di Jembatan Kampaja, Sungai Sori Utu, menjelang larut malam. Para pejuang berencana menyergap pasukan Belanda di tempat itu.

Menjelang subuh, konvoi pasukan musuh terlihat di kejauhan memasuki Desa Banggo. Mereka berhenti di cabang banggo. Begitu mobil pertama musuh memasuki ujung jembatan kampaja Sori Utu, para pejuang langsung menghujani mereka dengan tembakan. Tamin H. Adam[6] dan A. Rasul H. Adam, dari Kempo ditugaskan memimpin pasukannya menyergap Belanda dari arah belakang. Pasukan Belanda terkejut, namun mereka membalas serangan itu dan mampu bertahan hingga siang.

Para pejuang tidak menyerah, mereka terus menyerang dengan menjadikan pohon-pohon asam raksasa yang tumbuh di lembah itu sebagai tempat berlindung. Akhirnya pasukan Belanda menyerah dan mundur, mereka melarikan diri ke arah Sumbawa. Belanda pun dapat diusir untuk selamanya dari tanah Bima dan Dompu. Perang Sori Utu[7] dimenangkan oleh para pejuang Bima-Dompu.

H.E. Haak akhirnya bertahan di Lombok Timur dan terus berusaha agar Belanda dapat kembali menduduki Bima dan Dompu walaupun usahanya itu sia-sia. Tahun 1947 Dompu kembali memperoleh statusnya sebagai kesultanan dengan pemerintahan otonomi lewat diplomasi gigih M.T. Arifin Sirajuddin, cucu dari Sultan Muhammad Sirajuddin Manuru Kupa. Namun hal itu tak bisa mengembalikan Kejayaan penerapan Syariat Islam di Dompu sejak masa Sultan Syamsuddin (1545 – 1590) hingga Sultan Salahuddin Mawa’a Adil (1857 – 1870).

 .

Diramu dari:

Muslimin Hamzah, 2008. Laksana Awan, Kisah Perjuangan M. Salahuddin. Bima: Pemkab Bima.

Fahrurizki, Drama penculikan para pejabat belanda di Raba, mbojoklopedia. com

Anonim, Perang Manggelewa, ompuworo.blogspot. com

.

Sumber Gambar: dakwatuna com, wikimedia org

.

Catatan Kaki:

[1] Jeneli: Kepala pemerintahan wilayah yang menjadi struktur pemerintahan di bawah Raja/Sultan. Jadi posisinya setara dengan seorang Gubernur. Namun karena Dompu dan Bima adalah Kerajaan dengan wilayah yang relatif tidak terlalu luas, maka tidak terlalu dibutuhkah penguasa yang menjalankan fungsi gubernur sebagaimana sistem pemerintahan kerajaan-kerajaan besar di dunia. Hal inilah yang kemudian mengakibatkan sebagian besar penulis sejarah dan masyarakat umumnya menerjemahkan jeneli menjadi camat dengan menganalogikan grade seorang jeneli dengan grade seorang camat di zaman modern.

[2] M di sini adalah singkatan dari Mahmud atau Muhammad dalam versi lainnya.

[3] Dalam versi lain aksi kudeta pejuang Bima terhadap Belanda ini terjadi tanggal 6 Mei 1942.

[4] Dalam versi lain, sebagaimana disebutkan oleh Muslimin Hamzah dalam bukunya Laksana Awan, Sultan Kaharuddin III termakan oleh fitnah H.E. Haak dan mengirim pasukan polisi Sumbawa menuju Bima bersama pasukan Belanda.

[5] Ini berarti bahwa perang sori utu terjadi setelah tanggal 12 April 1942. Karena tanggal tersebut adalah tanggal keberangkatan pasukan Belanda menuju Bima-Dompu dan perjalanan memakan waktu beberapa hari. Namun dalam versi lain, menurut H. Tamin H. Adam -salah satu pelaku dalam perang itu- perang sori utu terjadi pada tanggal 5 April 1942. Ada pula versi yang manyatakan perang itu terjadi di bulan Mei.

[6] H. Tamin H. Adam adalah orang tua dari Faisal Tamin, mantan Menpan di Zaman Orba.

[7] Lebih tepat dinamakan Perang Sori Utu bukan Perang Manggelewa karena nama Manggelewa baru ada setelah terjadinya perang tersebut. Adapun saat perang berlangsung, lokasi peperangan adalah di sebuah lembah di pinggir Sungai Sori Utu.

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Sejarah Dompu dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s