Kisah Ajudan Sultan Sirajuddin


Kambali Dompu mantoi – Berbicara mengenai sejarah Dompu, pasti akan sangat sulit mendapatkan referensi. Sejarah tanah ini telah banyak hilang dimakan rayap, terpendam dalam Bumi, atau terkubur oleh letusan Tambora. Kali ini, saya ingin menceritakan sepenggal episode yang tidak pernah dituturkan dalam sejarah Dompu mainstream. Sepenggal episode yang hanya akan anda dapatkan di Kambali Dompu Mantoi. Sepenggal kisah tentang Ajudan Sultan Muhammad Sirajuddin yang setia mendampingi Sang Sultan Dompu hingga akhir hayatnya. Karena kesetiaannya, saya kira anda dan seluruh masyarakat Dompu layak untuk mengetahui cerita ini.

Cerita ini saya dapatkan dari nenek dan kakek saya dari pihak ibu, yang merupakan keponakan dari Abdurrahman Habe sang Ajudan Sultan Muhammad Sirajuddin. Kakaknya bernama Hasan atau Ama Ante atau Ompu Heso, atau yang lebih dikenal dengan Kapala La Bara adalah seorang Galara (Gelarang, Kepala Desa) Bara pada masa pemerintahan Sultan Dompu Muhammad Sirajuddin Manuru Kupang. Kapala La Bara adalah kakek dari Ibu saya.

Usman Hasan, Keponakan Abdurrahman Habe

Usman Hasan, Keponakan Abdurrahman Habe

Hawiyah K, Istri Usman H. juga Keponakan Abdurrahman Habe

Hawiyah K, Istri Usman H. juga Keponakan Abdurrahman Habe

Abdurrahman Habe lahir dari keluarga yang secara turun temurun setia melayani para raja Dompu. Karena kesetiaannya, keluarga ini diberikan berbagai posisi yang cukup penting di lingkungan pemerintahan meskipun mereka tidak memiliki garis keturunan bangsawan (Ruma ro Rato). Keluarga ini adalah salah satu dari sedikit penduduk asli Dompu yang tersisa dari letusan dahsyat Gunung tambora tahun 1815 M.

Abdurrahman Habe diangkat sebagai Ajudan Sultan Muhammad Sirajuddin ketika ia masih berusia belasan tahun. Menurut Moa dan Wau ‘Don’do, kakek dan nenek saya, tugasnya adalah memastikan ketersediaan dan keamanan makanan, pakaian, tempat tidur, dan segala keperluan Sultan Muhammad Sirajuddin. Ia juga yang bertugas mengurus dan menaga Balaba, keris pusaka kesultanan Dompu dan mendampingi sang sultan ke mana saja beliau pergi. Tugas ini tidak akan diberikan kecuali kepada orang kepercayaan yang telah dibuktikan kesetiaan dan pengabdiannya pada keluarga Kerajaan secara turun temurun. Sehingga tidak sembarangan orang yang bisa mendudukinya.

Tahun 1905 adalah kontrak terakhir antara pemerintah kolonial Belanda dengan Kesultanan Dompu. Kesultanan Dompu diikat dengan kontrak panjang.[1] Meski pada awalnya Sultan Muhammad Sirajuddin sempat tidak mau menandatangani perjanjian sebanyak 32 pasal itu.[2] Ketika ditetapkan oleh pemerintah Kolonial Belanda bahwa pajak dari wilayah Kesultanan Dompu untuk Belanda harus disetor ke Bima, Sultan Muhammad Sirajuddin kembali menolak. Karena ini akan semakin mengerdilkan Kesultanan Dompu seolah hanyalah sebuah Negara kecil yang harus digabung dengan Bima. Sikap dingin dan membangkang Sultan terus berlanjut.

Singkat cerita, ketika usia sultan telah tua yakni sekitar 90 tahun, ia harus menentukan siapa di antara kedua anaknya yang akan menggantikannya. Menurut aturan yang berlaku, maka yang berhak menggantikan beliau adalah anaknya yang paling tua yakni Ama ka’u (Pangeran) Abdul Wahab bin Sirajuddin. Akhirnya, diangkatlah Abdul Wahab Sirajuddin sebagai Ruma to’I (Raja Muda) oleh Majelis Adat Kesultanan Dompu.[3] Sultan kemudian menulis surat kepada Gubernur Celebes agar menetapkan Abdul Wahab Sirajuddin sebagai Raja Muda untuk menggantikan dirinya kelak. Surat ini ditulis pada tanggal 12 Maret 1908.[4]

Rupanya pengangkatan Abdul Wahab sebagai Raja Muda yang akan menggantikan ayahnya ditentang oleh adiknya, Abdullah bin Sirajuddin. Abdullah Sirajuddin rupanya juga menginginkan kekuasaan itu. Iapun menggalang dukungan untuk melawan kakanya. Suasana memanas dan perseteruan pun tak dapat dihindari. Konflik internal di Kesultanan Dompu ini didengar oleh Residen Kupang, Bupati Belanda untuk wilayah Nusa Tenggara. Ia kemudian memanggil Sultan Muhammad Sirajuddin ke Kupang. Sultan diminta untuk mengatasi konflik yang terjadi di Dompu. Lebih lanjut Residen Kupang menuding bahwa Sultan Muhammad Sirajuddin-lah yang telah sengaja mengatur konflik itu untuk memanaskan suasana dan membuat kekacauan.[5] Lebih lanjut, pemerintah Kolonial Belanda bahkan menduga bahwa Sultan dan kedua putranya tengah menyusun rencana pemberontakan.[6] Namun Sultan Muhammad Sirajuddin ternyata tidak berhasil meredam konflik di antara kedua puteranya.

Akhirnya pemerintah Kolonial Belanda mengeluarkan keputusan mengasingkan Sultan Muhammad Sirajuddin dan kedua puteranya ke Kota Kupang pada tahun 1934. Kepergian mereka diantar oleh para Pejabat dan rakyat Kesultanan Dompu sampai di Pelabuhan Sape. Selain kedua puteranya Abdul Whab dan Abdullah, ikut serta pula Ajudannya yang setia. Dialah Abdurrahman bin M. Amin, atau lebih dikenal dengan nama Abdurrahman Habe.

Sultan Muhammad Sirajuddin meninggal pada 1937, tiga tahun setelah pembuangannya. Sedangkan kedua anaknya behasil kembali ke Dompu setelah sebelumnya melalui Makassar. Abdul Wahab Sirajuddin wafat di Dompu, sedangkan Abdullah Sirajuddin wafat di Jakarta.

Adapun Abdurrahman Habe, ia kemudian menikahi seorang gadis puteri bangsawan bugis di Kupang bernama Gaminico Talib. Mereka dikaruniai empat orang anak. Abdurrahman Habe telah wafat dan dimakamkan di Kupang. Pada tahun 2002, pemerintah Kabupaten Dompu memindahkan kerangka jenazah Sultan Muhammad Sirajuddin ke Dompu. Sedangkan Abdurrahman Habe semula juga akan dipindahkan kerangkanya ke Dompu, namun anak-anaknya menolak. (Uma Seo)

 

Sultan Dompu 2040

Uma Seo and his son

Catatan Kaki:

 [1] Nurahman Isa, Sejarah kekuasaan pemerintah kolonial hindia belanda dengan kontrak 1905 atas kesultanan Dompu. 1999. http://whomayrah.wordpress.com/

[2] M. Ridwan, Sejarah Masuknya Islam dan Perkembangannya Dalam Masa Kesultanan di Dompu, 1985:hal. 51.

[3] Nurahman Isa, Sejarah kekuasaan pemerintah kolonial hindia belanda dengan kontrak 1905 atas kesultanan Dompu. 1999.

[4] M. Ridwan, ibid: hal. 51.

[5] Nurahman Isa, 1999.

[6] M. Ridwan, ibid: hal. 51.

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Sejarah Dompu dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Kisah Ajudan Sultan Sirajuddin

  1. Anonimous berkata:

    Pd awalnya sy berpikir artikel ini akan banyak membahas ttg kehidupan sang ajudan. Tp ternyata kisah sultan sirajuddin yg lebih ‘kuat’ dlm artikel ini. ^_^

  2. Terimakasih atas perhatiannya. sebagaimana telah dikatakan sejak awal. Ini hanyalah sepenggal episode, tidak terlalu banyak yang bisa kami ungkap.

  3. Ping balik: sri love family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s