Jika Salingkuh dan Sepe Piti Bank Sudah Menyebar di Dompu, Maka Sesungguhnya Mereka Telah Menghalalkan Azab Allah Atas Diri Mereka (HR. Al-Hakim, Al-Bayhaqiy, Al-Thabraniy).


Kapan Giliran anda Dukung Syariah?

Kapan Giliran anda Dukung Syariah?

Kambali Dompu Mantoi – Redaksi kalimat di atas adalah kandungan sebuah hadist dari Rasulullah SAW, walaupun memang bukan redaksi asli dari hadist Rasulullah tersebut. Adapun redaksi (terjemahan) aslinya yakni:

Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung (al-Qoryah) maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri.(Hadist Riwayat Al-Hakim, al-Bayhaqiy, & Ath-Thabraniy).

Apakah zina dan riba telah merebak di kalangan masyarakat Dompu?

Ya, of course. Absolutely right!

Buktinya?

Tio lalompa ndaimu dei ade rasa re (versi halus, khusus orang yang lebih tua: Santabe ta eda ro ntandaku ba ndaita dei ade rasa ro dana).

Zina: Ne’e Angi ro Salingkuh (pacaran & selingkuh). Riba: Sepe piti bank ro kalampa piti (kredit bank & rentenir).

Ada yang mau membantah??? Shame on you, aina damaja!

Pacaran bukan hal yang tabu lagi bagi para remaja dan generasi muda. Gak pacaran gak asyik, gak pacaran gak gaul. Cupu, katrok, kuper! Katanya cari pasangan lah, cari kecocokan lah, cari yang terbaiklah. Prêt…!!! Cari dosa IYA, cari enaknya aja tanpa terikat tanggung jawab IYA. Walaa taqrabu az-zinaa, nggahi ndai Ruma. Jangan mendekati zina, apa lagi melakukannya. Pacaran itu mendekati zina, pintu zina. Mau bukti? Lihatlah, pasangan yang melakukan seks bebas suka sama suka itu awalnya apa? Pacaran, kan?

Ada lagi nich, tren selingkuh. Menurut seorang kawan yang tidak sudi disebut professor, gaya selingkuh di Dompu agak beda dengan di Bima (kota). Kalau di Kota Bima, para oknum pejabat (‘bora) amoral lebih suka memelihara mahasiswi sedangkan di Dompu mereka lebih suka selingkuh dengan istri orang. Kenapa? Masih menurut “beliau”, karena selingkuh dengan istri orang lebih “irit dan aman”. Si oknum ‘bora gak perlu keluar dana banyak buat biaya hidup, karena sudah ada suami selingkuhan yang menanggungnya. Lagi pula kalau hamil, ya gak gampang ketahuan. Wong ada suaminya kok.

Itu satu, yang pertama.

Yang kedua?

Di Dompu, kalampa piti alias rentenir itu banyak. Mulai dari kalampa piti amatiran sampai yang berlabel “Koperasi Simpan Pinjam”. Dalam fiqh Islam, kalampa piti memiliki nama keren, yakni RIBA. Salah satu saksi mata yang enggan disebutkan namanya mengakui bahwa di Kampungnya di kaki Doro Sumba sana, para haji itu hidup dari kalampa piti. Bahkan Pemda Dompu pernah punya hutang banyak pada beberapa rentenir kelas kakap di Dompu. Hihihi. Pertama dalam sejarah. Congrats!

Dalam praktek yang lebih luas, Sepe piti bank merupakan bentuk RIBA yang direstui oleh “Ulil Amri” di Indonesia, dihalalkan oleh wakil rakyat dan disahkan lewat UU Perbankan (dalam hal ini wakil rakyat adalah pengganti Tuhan dalam menentukan halal-haram). Di Dompu, sepe piti bank adalah tren. Gak sepe piti bank, gak gaul. Bank menyediakan kredit konsumtif dengan jaminan tanah, rumah, barang bergerak, hingga SK PNS. Baru sejam terima SK CPNS sudah digadai di Bank. Gaji yang dua juta sisa dua ratus ribu. Kebutuhan nombok, pontang-panting nyari tambahan. Bagi yang malas, ya tinggal cari celah korupsi aja. Gampang.

Luar biasa!

Bahkan iklan kredit konsmutif Bank sampai ke sekolah-sekolah dan instansi publik lainnya. Ayo sama-sama kita masuk neraka.

Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 275).

Peringatan: mereka kekal di dalamnya sudah saya garis bawahi. Terjemahan lengkapnya, lihat sendiri dalam Al-Qur’an.

******

Kawan, renungkanlah hadis di atas. Di Dompu, zina dan riba telah menyebar di dalam masyarakat dalam bentuk pacaran, selingkuh, rentenir, KSP dan Bank Ribawi. Ini artinya kita telah menghalalkan azab Allah atas kita. Azab bisa di dunia, bisa di akhirat.

Azab dunia bisa berupa bencana alam. Gempa, banjir, longsor, tsunami. Bisa juga berupa bencana sosial. Kriminal marak, minuman keras, tawuran kampung, pembunuhan, perkosaan, kenakalan remaja, hamil di luar nikah, suap, korupsi.

Sadarlah kawan…..

Azab itu, tidak mengenal pendosa atau orang baik-baik. Orang zalim atau orang alim. Semua akan kena akibatnya. Jika para pendosa bebas berbuat zina dan riba, sedangkan orang-orang shalih sibuk beribadah sendiri tanpa melakukan dakwah maupun amar ma’ruf nahiy munkar, tunggulah azab Allah untuk semuanya.

Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfaal: 25).

Trus gimana dong…???

Kenapa semua ini bisa terjadi dan apa solusinya???

Makanya, Al-Qur’an itu bukan hanya buat dibaca saja, tapi juga untuk dipahami dan diamalkan.

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum: 41).

Apa maksud ayat ini, bro?

Mari kita baca pendapat Ulama. Menurut para ulama, kerusakan di darat dan di laut adalah mencakup semua jenis kerusakan yang ada di daratan maupun di lautan.[1] Baik itu kerusakan alam, maupun kerusakan penghuni alam itu sendiri. Ditandai dengan banyaknya masalah dan krisis yang terjadi. Penyebab kerusakan itu telah dijelaskan: disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Maksudnya adalah bencana dan kerusakan yang timbul menimpa manusia yang tak kunjung selesai itu akibat dari kezaliman, kekufuran, kefasikan, kejahatan,[2] kemaksiatan-kemaksiatan dan dosa-dosa manusia.[3]

Kenapa Allah menimpakan Azab di dunia ini, bro?

Satu, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka…

Menurut para ulama besar, maksudnya ialah supaya Allah menimpakan kepada mereka (manusia) hukuman atas sebagian dosa dan maksiat yang mereka lakukan.[4] Ini adalah hukuman di dunia bagi dosa dan maksiyat manusia sebelum mendapat hukuman di akhirat.[5]

Dua, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Yakni agar umat manusia di Dompu ini bertobat dari dosa dan maksiat mereka.[6] Tobat itu dilakukan dengan menyesali kesalahannya, berhenti melakukannya, dan kembali taat pada ketentuan Syariat-Nya.

Kembali kepada Syariat, Jauhi Pacaran, tinggalkan Selingkuh. Kembali kepada Syariat, Jauhi kalampa piti, tinggalkan weha piti bank.

Kalau tidak mau, maka Allah akan mengazab kita. Karena kita telah menghalalkan azab-Nya atas kita.

Namun system kenegaraan kita saat ini (Demokrasi dan Kapitalisme) tidak memungkinkan kita untuk bertobat dan kembali pada Syariat Islam.

Susah, bro. melawan arus itu gak gampang!!!

Yah, namanya juga kita hidup dalam system yang tidak Islami.

O ya, ada satu system di mana kita bisa tobat dan benar-benar kembali pada Syariat Islam.

Sistem apa itu?

Sistem KHILAFAH namanya.

Khilafah, makanan apa lagi itu?

Ah, kalian ini……

(MF)

Catatan Kaki:

 [1] Lihat Imam Asy-Syaukani, Fathul Qadir, Juz.4 (Darul Fikr, Beirut, 1993), hal. 284.

[2] Lihat Imam Al-Baghawiy, Ma’alimut Tanzil, Juz 3, hal. 417.

[3] Lihat Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al-Quran Al-Azhim, Juz 3 (Darul Fikr, Beirut, 2000), hal. 1438; Imam Az-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, Juz 3, hal. 467; dan Imam Abu Hayyan Al-Andalusi, Tafsir Al-Bahrul Muhith, Juz 4 (Darul Kutub Al-ilmiyah, Beirut, 1994) hal. 360.

[4] Lihat Imam Ath-Thabari, Jami’ Al Bayan fi Ta’wil Al Quran, Juz 10 (Darul Kutub Al-ilmiyah, Beirut, 1992) hal. 192; dan Imam Al-Baghawi, hal. 418.

[5] Lihat Tafsir Al-Bahrul Muhith, Juz 4 (Darul Kutub Al-ilmiyah, Beirut, 1994) hal. 360; dan Imam Al Alusi, Ruhul Ma’ani Juz 11 hal. 48.

[6] Lihat Imam Ath-Thabari, Jami’ul Bayan, Juz 10 hal. 192; Imam Asy-Syaukani, Fathul Qadir Juz 4 hal. 284.

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s