Syekh Hasanuddin Berani Menentang Kristenisasi Belanda di Dompu


Kambali Dompu Mantoi – Syaikh Hasanudin adalah salah satu ulama besar yang datang ke Dompu sekitar tahun 1585, di akhir masa pemerintahan Sultan Syamsuddin. Beliau berasal dari Tanah Andalas (Sumatera) ada pula yang mengatakan bahwa beliau berasal dari Makkah. Adapula cerita yang berkembang pada masyarakat Dompu dahulu bahwa beliaulah yang pertama kali membawa Islam ke Dompu. Menurut cerita itu, beliau adalah ulama dengan karomah dari Allah sehingga mampu mengalahkan kesaktian Raja Dewa Mawa’a Taho.[1]

Situs Waro Kali, dengan latar belakang Makam Sultan Pertama Dompu di puncak Bukit Dorompana di kejauhan

Situs Waro Kali, dengan latar belakang Makam Sultan Pertama Dompu di puncak Bukit Dorompana di kejauhan

Dalam versi lain, sebagaimana dituturkan oleh A. Azis M. Saleh (seorang mantan pejabat Kesultanan Dompu), Syaikh Hasanuddin datang pada masa pemerintahan Sultan Abdul Rasul I yang bergelar Bumi So Rowo (1697-1718 M). Menurut Makarau Kepala Seksi Kebudayaan Depdikbud Dompu tahun 1985, Syekh Hasanuddinlah yang menentang keras misi kristenisasi oleh Belanda. Padahal Sultan Abdul Rasul I hampir saja mengizinkannya. Hal ini membuat beliau sangat ditakuti oleh Belanda.[2]

Dengan menggabungkan semua keterangan di atas, kita dapat menduga bahwa beliau memang datang di akhir masa pemerintahan Sultan Syamsuddin. Beliau melewati masa pemerintahan Sultan Sirajuddin dan Sultan Abdul Hamid hingga masa pemerintahan Sultan Abdul Rasul I Bumi So Rowo. Pada masa pemerintahan Sultan Abdul Rasul inilah Belanda mulai menginjakkan kaki ke Kesultanan Dompu dan mencoba melancarkan misi kristenisasi. Namun berkat kegigihan Syaikh Hasanuddin, usaha Belanda akhirnya gagal. Menurut Syekh Mahdali dalam wawancara di tahun 1985, gereja pertama di Dompu baru dibangun pada tahun 1965.

Syekh Hasanuddin diangkat oleh Sultan Dompu untuk menjadi Kali (Kalif). Kata Kalif adalah sebuah kata serapan yang berasal dari bahasa Arab, Qadhi yang berarti hakim. Kata Qadhi ini kemudian berkembang menjadi kata kalif di Sumatera dan Jawa. Di jawa, kata kalif kemudian berkembang lagi menjadi Kyai. Pada masa Rasulullah dan Khulafa’ Ar-Rasyiddin, Qadhi adalah seorang pejabat Negara yang diangkat untuk menyelesaikan sengketa antar anggota masyarakat atau antara rakyat dengan pejabat Negara dengan berdasarkan Syariah Islam.

Pada masa lalu, Kesultanan Dompu adalah salah satu Kerajaan Islam di timur Nusantara yang menerapkan syariah Islam. Pada masa itulah syariat Islam diterapkan dalam pemerintahan untuk mengatur masyarakat. Hal ini merupakan konsekwensi dari perintah Allah untuk menerapkan Syariah Islam. Allah berfirman:

Maka putuskanlah perkara di antara mereka (rakyat) menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.(TQS. Al Maaidah: 48).

Ayat ini adalah salah satu ayat yang berisi perintah kepada seorang kepala Negara untuk menerapkan Syariat Islam terhadap rakyatnya. Syariat itulah yang terkandung dalam Al-Quran dan Al-Hadis dan disampaikan lewat lisan Rasulullah SAW. Jika seorang muslim, baik dia penguasa maupun rakyat, tidak mau menerapkan syariat yang diputuskan (dibawa) oleh Rasulullah, maka imannya diragukan. Allah berfirman:

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (TQS. An Nisa’: 65).

Penerapan Syariah adalah wujud ketaqwaan. Dengan ketqwaan semacam inilah Allah akan memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bagi sebuah negeri. Sebagaimana janji Allah:

Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah (kemakmuran) dari langit dan bumi,… (TQS. Al A’raaf: 96).

Terbukti, dalam menerapkan syariat Islam, kesultanan Dompu menjadi negeri yang makmur dan sejahtera. Puncakny adalah pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin. Sehingga beliau digelari Mawa’a Adi (Sang Pembawa Keadilan). Rakyat senantiasa aman, damai, sejahtera, adil dan makmur di segala lapisan masyarakat. Kelak gelar Mawa’a Adi menjadi nama sebuah jalan di Dompu, yakni jalan satu jalur dari terminal benhur menuju Masjid Raya Baiturrahaman.[3]

Situs Makam Waro Kali, diyakini sebagai makam Syeikh Hasanuddin, salah satu penyebar Islam di Dompu

Situs Makam Waro Kali, diyakini sebagai makam Syeikh Hasanuddin, salah satu penyebar Islam di Dompu

Syekh Hasanuddin dimakamkan di kompleks Pemakaman Waro Kali, yang masuk ke dalam wilayah Kelurahan Kandai Satu, Kecamatan Dompu. Waro Kali adalah sebuah gelar untuk beliau. Pada masa pemerintahaan Bupati Dompu H. Abubakar Ahmad (2000-2005), Komplek Pemakaaman Waro Kali ditetapkan sebagai salah satu situs purbakala yang bernilai sejarah tinggi. [Uma Seo]

catatan kaki:

[1] Ridwan, 1985: hal. 37-38

[2] Ibidem: hal. 38

[3] Ibidem, 1985: 62

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Sejarah Dompu dan tag , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Syekh Hasanuddin Berani Menentang Kristenisasi Belanda di Dompu

  1. Ping balik: sri love family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s