Syekh Mahdali (Sehe Boe) dari Kapubaten Dompu – NTB


syekh-mahdali-sehe-boe-dompu

Syeikh Mahdali bin Mansyur (Sehe ‘Boe – Dompu)

Kambali Dompu Mantoi – Nama lengkap beliau adalah Syekh Mahdali Bin Syekh Mansyur. Lahir di Dompu pada tahun 1893. Ayahnya adalah Syaikh Mansyur, ulama kharismatik di Dompu dan Bima antara abad XVIII –XIX. Ibunya bernama Siti Khadijah, masihlah keturunan bangsawan Dompu. Syekh Mahdali adalah keturunan dari Syaikh Abdul Karim, salah satu ulama dari Timur tengah yang menyebarkan Islam di Dompu dengan istrinya seorang bangsawan Dompu. Syekh Mahdali adalah cucu dari Ulama terkenal asal Nusantara yang pernah menjadi Imam Masjidil Haram, yakni Syaikh Abdul Ghani Al-Bimawi Al-Jawi. Beliau adalah anak kelima dari tujuh bersaudara.

Di Dompu, keturunan Syaikh Abdul Karim sangat dihormati. Mereka dipanggil Ruma Sehe. Ruma adalah sebuah kata bermakna plural yang dapat berarti pemilik (owner), Tuhan (God), atau tuan (master). Sedangkan Sehe adalah kata serapan dari kata dalam Bahasa Arab, Syaikh yang bermakna kakek atau orang yang sudah tua. Di dalam khasanah Islam kata Syaikh kemudian menjadi gelar bagi seorang ulama yang sangat tinggi ilmu agamanya. Ruma Sehe dapat berarti Tuan Syekh atau Gusti Syekh. Ruma adalah sebutan bagi para Raja di Dompu dan keturunannya. Setara dengan sebutan Gusti bagi raja di Jawa. Sedangkan Syaikh Abdul Ghani adalah keturunan dari Abdul karim dengan seorang puteri Sultan Dompu.

Syekh Mahdali di Dompu dijuluki dengan sebutan Sehe ‘Boe di kalangan Masyarakat. Kata ‘Boe berasal dari kata ka’boe dalam bahasa orang Dompu yang berarti kacang hijau. Ini karena Syaikh Mahdali selama hidupnya berhasil memotivasi para petani di Dompu untuk menanam kacang hijau. Bahkan berkat kesuksesan beliau menjadi motivator di kalangan petani dan masyarakat Dompu umumnya, tahun 1980-an Pemda Dompu pernah mengusulkan agar beliau mendapat Penghargaan Kalpataru. Namun beliau menolak menerima penghargaan tersebut. Sebab beliau tidak ingin terjebak dalam riya, yakni mengharap pujian mahluk dan bukan mengharap pahala dan surga dari Allah. Beliau hanya ingin mendatkan balasan dari Allah. Itulah Ilmu ikhlas. Beliau hanya ingin contoh beliau itu diikuti dan dicontoh oleh orang banyak.Berbuat bukan agar dipilih dalam Pilkada atau agar menjadi anggota dewan, namun semata-mata karena perintah Allah. Tak penting terkenal di mata penduduk dunia. Yang penting adalah seperti Uwais Al Qarny yang terkenal di kalangan penduduk langit. Dia ikhlas beramal.

logo-kambali-dompu-mantoi-hr-ahmad-dan-baihaqi-tentang-khilafah-versi-2

Ulama besar Syaikh Abdul Ghani Al Bimawi, ia memiliki seorang anak di Dompu bernama Syaikh Mansyur. Beliaulah yang menggantikan Syaikh Abdul Ghani menjadi Qadhi Kesultanan Dompu dan mewarisi 57 petak sawah di So Ja’do. Di tempat tersebutlah Syaikh Mansyur menetap dan menjadikannya sebagai pusat dakwah. Oleh karena itu beliau lebih dikenal dengan nama Sehe Ja’do. So berarti padang atau areal. Ja’do adalah nama sebuah areal pertanian yang terdiri atas areal bukit dan persawahan yang sangat subur dengan irigasi yang memadai. Saat ini So Ja’do masuk dalam wilayah Kelurahan Bali Satu. Terletak di sebelah utara jalan lintas luar Dompu dari pom bensin Karijawa sampai cabang Sawete.

Syekh Mahdali telah hidup melewati berbagai masa yakni masa Kesultanan Dompo (masa penjajahan Belanda, Masa pendudukan Jepang) dan masa Republik Indonesia (Masa Revolusi Kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru). Beliau sempat menjadi Qadhi Kesultanan Dompu di masa-masa akhir Kesultanan Dompu. Setelah Kesultanan Dihapuskan, beliau menghabiskan sisa-sisa umurnya dengan mendekatkan diri pada Allah di tempat tinggalnya Desa Kareke sampai beliau berpulang ke hadirat Allah SWT di usia 105 tahun pada tahun 1998.

Syekh Mahdali adalah salah satu ulama Bima dan Dompu yang turut berperan dalam misi dakwah dalam rangka pengislaman masyarakat Etnis Donggo. Sebuah daerah pegunungan di sebelah barat teluk Bima yang dihuni oleh penduduk asli Bima. Pada masa penjajahan Belanda hingga masa proklamasi kemerdekaan masyarakat Donggo masih memegang teguh ajaran animisme/dinamisme dan sebagian memeluk agama Kristen akibat misionaris Belanda. Perjalanan dakwah beliau dan ulama lainnya di Donggo tidaklah gampang. Beliau kk harus berhadapan dengan para pemuka adat dan tokoh agama Donggo kala itu yang menentang ajaran Islam. Namun berkat kegigihan dakwah beliau dan ulama-ulama Bima-Dompu lain, Donggo berhasil diislamkan.

Salah satu contoh dari beliau dalam berpegang teguh kepada ajaran Islam adalah beliau menghindari bersalaman dengan Jamaah wanita yang mengikuti pengajiannya kecuali dengan membalut tangannya dengan sorban. Beliau telah meninggalkan banyak ajaran sakral yang hari ini harus direnungi kembali oleh generasi muda Dompu. Beliau telah mengajarkan Islam, Syariat Islam. (MF)

rpa bima_2

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Sejarah Dompu dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s