Sejarah Kesultanan Dompu Tahun 1905-1945


Oleh: Drs. Nurahman Isa

Tahun 1905 adalah kontrak terakhir kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda di seluruh Indonesia, khususnya untuk seluruh Pulau Sumbawa, di Pulau Sumbawa terdapat (4) kesultanan yaitu: kesultanan Bima, Kesultanan Dompu, Kesultanan Sumbawa dan kesultanan Sanggar (Kore). Tiga kesultanan sumbawa, kesultanan Dompu, Kesultanan Bima diikat dengan Kontrak Panjang (Langge Kontrak) dan segala urusan langsung dipegang oleh Pemerintah Hindia Belanda di Negeri Belanda.

Kesultanan Sanggar yang diikat dengan Kontrak Pendek (Korte Verklaring) nasib ditentukan oleh Gubernur Jenderal di Batavia (Jakarta).

Manggarai adalah Wilayah Kesultana Bima, disaat Pemerintah Hindia Belanda ingin mengembangkan Wilayah Manggarai ke bagian Timur, maka Wilayah Sanggar yang di saat itu tidak mempunyai sultan, oleh Gubernur Jenderal Batavia (Jakarta) ditetapkan menjadi wilayah Kesultanan Bima untuk mengganti Wilayah Manggarai yang ditetapkan ke timur.

RPA

Setelah Pemerintah Hindia Belanda selesai menandatangani Kontrak 1905 dengan Sultan Bima, Sultan Dompu, Sultan Sumbawa, Pemerintah Kolonial Belanda mulai memasuki urusan Administrasi, untuk Bima dan Dompu ditetapkan Gekomiterden Kas antara Bima/Dompu, uang pajak Dompu harus disetor ke Bima, Kebijaksanaan ini secara terang-terangan ditolak oleh Sultan Dompu bersama/Hukumnya, namun ResidenKupang tidak menggubris.

Sultan Dompu Muhammad Sirajuddin mempunyai dua orang putra yaitu: Abdul Wahab Sirajuddin dan Abdullah Sirajuddin. Menurut ketentuan tradisi putra tertua harus menggantikan ayahnya menjadi Sultan oleh Hadat/Hukum telah menobatkan Abdul Wahab Sirajuddin menjadi Raja Muda (Ruma Toi) kejadian tersebut ditolak oleh adiknya Abdullah Sirajuddin dan bahkan Abdullah Sirajuddin berhasil mendapat dukungan sehingga akhirnya terjadi dua kelompok, kelompok yang mendukung Abdul Wahab Sirajuddin dan kelompok yang mendukung Abdullah Sirajuddin, kedua kelompok sangat fanatik sehingga keributan makin hari makin meningkat, kejadian tersebut sampai juga ke telinga Residen Kupang pada tahun tiga puluhan, Residen Kupang memanggil Sultan Dompu Muhammad Sirajuddin dengan mengirimkan Kapal Putih ke Pelabuhan Bima untuk menjemput Sultan Dompu, setiba Sultan Dompu dari menghadap Residen Kupang, begitu melihat Sultan Dompu langsung Residen Kupang menegur Sultan Dompu, saya tahu keributan yang terjadi di Dompu diatur oleh Tuan Sultan karena saya tak setuju dengan GEKOMITERDEN KAS BIMA/DOMPU. Saya minta setelah tiba di Dompu, agar keributan yang tuan Sultan atur karena tidak setuju dengan GEKOMITERDEN dapat ditentramkan kembali.

Setelah kembali Sultan Dompu dari Kupang, Sultan yang pada waktu itu usianya sudah 90 tahun, beliau tidak dapat memilih antara kedua putranyanya mana yang harus dirangkul dan yang mana harus tepis, keributannya bukan mereda melainkan bertambah memuncak.

Berhubung dengan itu, Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan keputusan MENGHUKUM DENGAN MENGASINGKAN SULTAN DOMPU MUHAMMAD SIRAJUDDIN BERSAMA KEDUA ORANG PUTRANYA ABDUL WAHAB SIRAJUDDIN DAN ABDULLAH SIRAJUDDIN KE KUPANG KARENA MENENTANG KERAS KEKUASAAN PEMERINTAH HINDIA BELANDA: Pada tahun 1937 Sultan Dompu Muhammad Sirajuddin Wafat di Kupang, sedangkan kedua orang putranya Abdul Wahab Sirajuddin dan abdullah Sirajuddin pada berkuasanya Balatentara Jepang berhasil kemabali ke Dompu lewat Ujung Pandang, Abdul Wahab Sirajuddin Wafat di Dompu, sedang Abdullah Sirajuddin Wafat di Jakarta.

Pada saat Sultan Dompu diasingkan ke Kupang oleh Pemerintah Hindia Belanda, Kesultanan Dompu dipegang oleh satu Zelfbestuur Komisi yang ketuanya dipegang oleh seorang HPB (Hoofd Van Plaselikebestur) dan anggotanya Muhammad Saleh A. Majid Jeneli (Camat Dompu) dan H.Ahmad Jeneli (Camat Kempo) Zelfbestuur komisi inilah yang memegang kekuasaan sampai perang yang disponsori oleh Negara Jepang.

Begitu Tentara Jepang mendarat di Pelabuhan Bima, oleh para tokoh & masyarakat Bima Balatentara Jepang dijemput diluar asa kota Bima, disanalah mereka minta pada Balatentara Jepang agar Kesultanan Dompu yang tidak mempunyai Sultan digabungkan menjadi Wilayah Bima.

Seminggu setelah Balatentara Jepang mendarat di Bima, datang Pemerintah dari Bima agar tokoh masyarakat Dompu nisa berkumpul untuk menanti kedatangan Utusan Kesultanan Bima, begitu utusan Bima tiba di tempat Upacara langsung Ketua Utusan naik di atas mimbar (podium) dengan mengatakan ATAS PERINTAH BALATENTARA DAI NIPPON SAYA SAMPAIKAN BAHWA KESULTANAN DOMPU DIGABUNGKAN MENJADI WILAYAH BIMA DAN SAYA MINTA SUPAYA ORANG DOMPU JANGAN BERTOPANG

Hanya itu disampaikan kemudian beliau turun dan kembali ke Bima.

Tahun 1945 Perang Dunia ke II berakhir dengan takluknya Jepang karena jatuhnya Bom Atom Amerika atas Wilayah Hiro Sima dan Naga Saki.

Berakhirnya Perang Dunia ke II merupakan kesempatan Emas bagi para pejuang Kemerdekaan Indonesia.

Tanggal 17 Agustus 1945 Soekarno/Hatta memperoklamasikan Indonesia Merdeka di saat itu Amerika sebagai pemenang perang datang ke Indonesia mengurus pengembalian tentara Jepang yang kalah, Belanda berhasil mengambil kesempatan/nunut untuk datang ke Indonesia dan Vanmok berhasil mendirikan negara-negara BHONEKA dan untuk Indonesia Timur berhasil mendirikan Negara Indonesia Timur dengan Ibu kota Makassar.

Dibawah pimpinan Bapak Muhammad Tajul Arifin Sirajuddin rakyat menuntut pengembalian Dompu lewat Negara Indonesia Timur. Atas tuntutan tersebut, Negara Indonesia Timur yaitu ketua Parlemen Indonesia timur yang juga adalah Sultan Sumbawa Muhammad Kaharuddin. Oleh Ketua Parlemen NIT setelah mengadakan rapat berkali-kali dicapailah pengembalian Dompu menjadi/mengangkat Muhammad Tajul Arifin Sirajuddin menjadi WD Zelfvertuurder tahun 1950 Fander Plas Residenenan Kupang datang ke Dompu untuk memperbaharui Kontrak dengan Pemerintah Hindia Belanda.

Kedatangan Residenan Kupang, disambut oleh Hadat/Hukum serta tokoh masyarakat yang jumlahnya 400 orang lebih.

Residenan Kupang, menyampaikan maksud kedatangannya adalah untuk menandatangani kontrak dengan Negeri Belanda. Menjawab keinginan Residenan kupang oleh Muhammad Tajul Arifin Sirajuddin, Tuan Residen adalah mustahil saya dapat menandatangani Kontrak dengan Negeri Asing karena Republik Indonesia telah di Proklamasikan pada tanggal 17 agustus 1945.

Mendengar jawaban dari WD Zelfbertuuder Muhammad Tajul Sirajuddin Residen Kupang langsung mengangkat tasnya dan pulang tanpa permisi sehingga seluruh hadirin menjadi bingung dan tanpa mengeluarkan kata sepatahpun.

Karena penolakannya untuk menandatangani Kontrak Muhammad Tajul Arifin Sirajuddin tidak pernah diangkat oleh Residen Kupang menjadi sultan penuh dan demikian juga perbaikan gaji, namun demikian oleh seluruh rakyat Dompu Muhammad Tajul Arifin Sirajuddin tetap mengakunya bahwa Muhammad Tajul arifin Sirajuddin adalah Sultan terakhir di Dompu.

  1. Besliut vander Zyiil Excellentie dari Gubernur General tanggal 15 Januari 1934 Nomor: 11 Sultan Dompu dan kedua putranya diasingkan ke luar pulau/Kupang.
  2. Sultan Dompu Muhammad Sirajuddin Wafat di Kupang pada tanggal 14 pebruari 1937.
  3. Dengan Besluit Zelfistiteer Comissie 24 April 1939 Nomor 27 Muhammad Tajul Ariffin Sirajuddin dinobatkan sebagai CandidatZelfisstether.

Demikian uraian singkat mengenai kontrak 1905 atas Kesultanan di pulau sumbawa khususnya Kabupaten Dati II Dompu.

Semoga bermanfaat bagi semua pihak.-

Dompu, 05 Februari 1999

Source: dompu.org

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Sejarah Dompu dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Sejarah Kesultanan Dompu Tahun 1905-1945

  1. Anonimous berkata:

    Katanya Sultan Sirajuddin melawan belanda, mana buktinya? Dia tak pernah mengangkat senjata melawan belanda sama sekali. Paling banter cuma membangkang kpd belanda saja.

    • Iya. betul beliau tidak sampai mengalami konflik bersenjata dengan Belanda. Ini karena beliau realistis, kekuatan Kesultanan Dompu terlalu kecil untuk melawan Dompu sendirian. Apalagi ketika itu, Kesultanan Makassar tidak lagi menjadi backing up Dompu sebagai konsekwensi Perjanjian Bongaya.
      Beliau penuh perhitungan, agar rakyat tidak jadi korban sia-sia. itulah yg menyebabkan beliau hanya melakukan ketidaktaatan terhadap pemerintah penjajah Belanda.

      Trims atas kunjungannnya
      KDM

  2. Ping balik: sri love family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s