Tambora Menyapu Dunia


tambora menyapu dunia_mumaseo.wordpress.com

Kambali Dompu Mantoi – Di tahun 2015 ini, pemprov NTB mengadakan event TMD (tambora menyapa dunia) untuk memperingati 200 tahun meletusnya gunung Tambora. Walaupun sebenarnya event TMD ini dalam rangka promosi destinasi wisata dan meningkatkan kunjungan wisatawan ke NTB.

Kapankah gunung tambora meletus? Gunung tambora meletus pada tanggal 10 April tahun 1815. Letusan maha dahsyat yang menghancurkan sebagian besar puncaknya, meninggalkan kawah yang kelak menjadi kaldera terbesar di muka bumi. Tinggi gunung Tambora sebelum meletus dahsyat pada tahun 1815 adalah diperkirakan 4200 mdpl. Setelah letusan, tinggi gunung tambora hanya tersisa 2800 mdpl. Letusan itu telah melenyapkan dua kerajaan yakni kesultanan Tambora dan Pekat. Juga mengakibatkan hancurnya pusat pemerintahan kerajaan sanggar dan musnahnya sebagian besar penduduknya. Pusat kerajaan sanggar akhirnya berpindah ke lokasi desa kore saat ini.

Letusan gunung tambora juga membawa dampak yang sangat besar bagi Kesultanan Dompu. Menurut Prof. Dr. Helyus Syamsuddin, Ph.D, pada saat itu pusat pemerintahan yang terletak di situs Doro Bata, Kandai Satu sekarang, tertimbun oleh abu vulkanik yang sangat tebal sehingga tak dapat lagi ditempati. Pemerintah kesultanan kemudian memindahkan pusat pemerintahan ke lokasi baru, yakni lokasi kampo rato, karijawa, sekarang ini. Selain itu, lebih dari 2/3 jumlah penduduk Kesultanan Dompu musnah. Baik akibat terkena dampak langsung letusan tambora maupun akibat bencana kelaparan yang ditimbulkannya. Hal ini menyebabkan hanya 1/3 dari populasi masyarakat Dompu yang tersisa.

Akibat letusan tambora, selama tiga tahun berikutnya tanah pulau Sumbawa tidak dapat ditanami. Bencana kelaparan terjadi. Setengah dari populasi penduduk pulau Sumbawa musnah. Para ahli memperkirakan total korban letusan gunung tambora adalah 91.000 jiwa. Hal ini dapat menjelaskan kenapa di NTB, jumlah (populasi) penduduk pulau Lombok lebih banyak, sedangkan jumlah (populasi) penduduk pulau Sumbawa lebih sedikit.

Menurut arkeolog sekaligus vulkanolog Igan suthawijaya, debu letusan tambora membumbung setinggi 43 km dan terbawa angin ke south hemisphere (Bumi bagian utara). Debu ini akhirnya menutup sinar matahari. Dampaknya selama setahun sinar matahari terhalang debu dan mengakibatkan penurunan suhu permukaan bumi secara global. Hilangnya cahaya matahari menyebabkan gagal panen di seluruh wilayah Eropa dan Amerika Utara. Sehingga bencana kelaparan terjadi di Eropa dan Amerika Utara akibat letusan gunung tambora di tahun 1815 ini.

Bagi Dompu sendiri, letusan maha dahsyat gunung tambora telah mengubur banyak sekali cerita negeri ini. Kita bisa memahami kalimat ini jika kita tahu bahwa begitu sedikitnya sumber informasi sejarah tentang masa lalu Dompu. Begitu banyak hal yang telah terkubur di bawah tanah Dompu tempat kita berpijak. Lebih dari pada itu letusan tambora telah mengubur dua per tiga populasi kesultanan Dompu.

Karena wilayah pertanian di Kesultanan Dompu yang cukup luas sedangkan Sumber daya manusia yang tersedia sedikit akhirnya pemerintah kesultanan Dompu bekerjasama dengan kesultanan Bima untuk mendatangkan penduduk dari Kesultanan Bima. Transmigrasi ini sekaligus menjadikan para transmigran sebagai warga Negara Dompu sampai seterusnya. Inilah yang menjawab pertanyaan kenapa nama-nama kampong/desa di Dompu sama persis dengan nama kampung di Bima? Atau mengapakah banyak kesamaan nama tempat di Bima dan Dompu?

Hari ini kita mengenal nama-nama kampung yang semuanya merupakan copy paste dari Bima seperti Ranggo, Rasa Na’e, Mangge Maci, Bolo Baka, Bolo Nduru, Wawo Nduru, Wawo-Desa Kareke, Simpasai, Ncera, Renda, Monta Baru, Rasa Nggaro, Dori Dungga Desa Mada Parama, O’o, Saka, Wera desa Kareke, Ngali di Kecamatan Huu, dll. Silahkan jika ada yang mau menambahkan, yang saya tahu hanya sedikit. Begitulah, berarti mereka tinggal di Dompu baru 200 tahun.🙂 (Uma Seo)

Rujukan:

http://humasdompu.wordpress.com/2009/09/17/mengapa-tanggal-11-april-ditetapkan-sebagai-hari-jadi-dompu/

http://jelajah.id/uncategorized/waterloo-letusan-tambora-dan-perang-iklim.html

http://m.detik.com/news/read/2006/04/22/154125/580402/10/letusan-gunung-tambora-terbesar-sepanjang-sejarah

http://nasional.compas.com/read/2011/09/15/05171874/Tambora.pompeii.dari.Timur.

Video acara Metro Files eps. 25/10/2009, Metro TV. https://m.youtube.com/watch?v=_NRvHBT7k8

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Sejarah Dompu dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Tambora Menyapu Dunia

  1. The truth seeker berkata:

    Ternyata, banyak juga warga Dompu yg nenek moyangnya adalah orang Bima. Sebagai warga Dompu, boleh saja kita menonjolkan Dompu dan mempromosikannya dengan berbagai cara. Namun ingat. Hal itu jangan sampai berlebihan hingga mendikotomikan segala hal tentang bima dan dompu. Ada yg bahkan membuat2 suku Dompu, hal ini ahistoris dan terlalu kekanak-kanakan. Suku Mbojo mungkin bukan nama yg disepakati semua orang, tapi membagi kita menjadi dua suku juga menjadi sesuatu yg tepat. Terimakasih.

  2. Ping balik: sri love family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s