DUA MUHAMMAD (Bag. 2)


Oleh: Uma Seo

muhammad-al-fatih

Muhammad Kedua

“Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel, sebaik-baiknya amir (panglima perang) adalah amirnya dan sebaik-baiknya pasukan adalah pasukannya.” (HR. Ahmad).

Itulah salah satu visi pembebasan dan kemenangan lain yang diberikan oleh Muhammad Rasulullah SAW kepada umatnya. Pembebasan Konstantinopel, ibu kota Imperium Byzantium (Romawi Timur) yang merupakan Negara Adidaya saat itu (semacam USA zaman sekarang). Kota Konstantinopel adalah salah satu kota terpenting di zamannya, penuh dengan keindahan dan kemegahan, serta memiliki pertahanan yang kuat dan tidak tertembus selama ribuan tahun. Menjadi orang yang menaklukannya pasti merupakan prestise yang tidak enteng. Apalagi prestise tersebut bukan sembarang prestise. Tapi prestise yang langsung disematkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Tercatat para Amiir maupun Khalifah secara langsung berebut untuk mendapatkan gelar “ni’mal amiir” atau sebaik-baiknya panglima ini. Usaha pertama dimulai oleh Yazid bin Muawiyah pada masa Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan. Konstantinopel dikepung dari berbagai arah pada tahun 669-678 M, namun armada laut dan pertahanan Byzantium yang kuat membuat pasukan Daulah Khilafah menyerah. Pada tahun 717-718 M, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, memerintahkan saudaranya Maslamah bin Abdul Malik untuk kembali mengepung Konstantinopel. Namun misi ini kembali gagal akibat kelicikan dan tipuan kaisar Byzantium, Leo III. Di masa Khilafah Abbasiyah, Khalifah Harun Al-Rasyid juga mencoba menaklukan Konstantinopel pada tahun 802 M (190 H) namun berakhir dengan kesepakatan damai.

Pada tahun 1299 M, Utsman bin Ertughrul (Osman I) merintis kesultanannya di Anatolia (sekarang Turki) di atas puing-puing Kesultanan Saljuk Ruum yang telah dihancurkan tentara Tartar (Mongol). Impiannya hanya satu, membebaskan Konstantinopel. Kemungkinan ini terjadi pada masa Khalifah Al-Hakim Bi-amrillah I (1262-1302 M), ketika Ibu Kota Khilafah Abbasiah telah pindah ke Mesir. Saat itu, Kesultanan Mamluk yang berpusat di Mesir dibawah Sultan Azh-Zhahir Baybars Al-Bandaqadary menjadi protektorat dan penopang utama Khilafah yang rapuh dan terpecah-belah setelah Ibu Kota Khilafah (Baghdad) diserang dan dihancurkan bangsa Mongol tahun 1258 M. Jika merujuk pada struktur Daulah Khilafah dalam buku Nizham Al-Hukmi fi Al-Islam karya Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, maka Kesultanan Utsmaniyah ini pada hakikatnya adalah sebuah Provinsi dari Khilafah Islamiyah yang saat itu beribu kota di Mesir. Namun karena jarak yang jauh dan alat komunikasi yang terbatas, ditambah lagi kelemahan Daulah Khilafah pasca serangan bangsa Mongol, maka Kesultanan Utsmaniyah terlihat seolah-olah sebagai Kerajaan atau Negara sendiri di mata Bangsa Eropa. Wajar jika kemudian mereka menganggap Khilafah seperti Negara federal atau mereka bahkan mengira Kesultanan Utsmani adalah Negara tersendiri yang terpisah dari pusat Khilafah di Mesir.

Setelah Utsman bin Ertughrul wafat, anaknya Orhan bin Utsman memerintah. Ia melanjutkan mimpi ayahnya untuk membebaskan Konstantinopel. Ia merebut Kota-kota di Asia Kecil (Anatolia) yakni Bursa (1326 M), Nicaea (1331 M), Nicomedia (1337 M), Scutari (1338 M), dan Gallipoli (1354 M). Murad bin Orhan (Murad I) yang menggantikan ayahnya tetap melanjutkan mimpi Utsman kakeknya untuk mewujudkan visi Rasulullah SAW. Ia membebaskan Kota Adrianopel (Edirne) di Benua Eropa pada 1361 M dan memindahkan Ibu kota kesultanan dari Bursa ke sana. Pada masanyalah dibentuk pasukan Yeniseri (Yeni Ceri: Pasukan Baru) dari anak-anak-anak Kristen tawanan perang. Murad I, mengepung Konstantinopel pada 1337 M. namun pengepungan ini berakhir perdamaian dengan Kaisar John V yang bersedia membayar upeti. Setelah itu, Sultan Murad I terus meluaskan wilayahnya ke Eropa dengan menaklukan Kota Manisa, Philadelpia, Sofia, dan Thessalonika.

Tahun 1394, Kaisar Manuel melanggar perjanjian yang disepakati ayahnya dengan Kesultanan Utsmaniyah. Sultan Bayazid bin Murad (Bayazid I) yang berkuasa segera kembali mengepung Konstantinopel. Namun kali ini Konstantinopel terselamatkan berkat munculnya Timurlang, seorang muslim namun merupakan keturunan Jengis Khan yang bengis. Tahun 1402, Bayazid I segera menuju Ankara untuk melindungi wilayahnya dari serangan. Namun ia kemudian dikalahkan dan ditawan oleh Timurlang.

Setelah wafatnya Bayazid I, kesultanan Utsmani dilanda perpecahan akibat perebutan kekuasaan. Muhammad Jalabi (Mehmed I / Mehmed Celebi) harus konsen menyatukan kembali seluruh bani Utsman dan menata ulang system pemerintahan. Pada 1421 M Murad bin Muhammad (Murad II) naik tahta menggantikan ayahnya. Iapun melanjutkan mimpi Utsman kakek buyutnya dalam mewujudkan visi Rasulullah SAW tentang penaklukan Konstantinopel. Tahun 1422 M, ia mengepung Konstantinopel namun kembali gagal menaklukan Kota dengan pertahanan berlapis itu. Ia kemudian mempersiapkan anak ketiganya, Muhammad bin Murad untuk menjadi penerusnya setelah kematian dua kakaknya.

Muhammad bin Murad (Mehmet II) menjadi sultan setelah wafat ayahnya pada tahun 1451 M. Di tangan Sultan Mehmet II lah akhirnya visi Rasulullah dapat terwujud. Yakni kemenangan kaum muslim dan dibebaskannya Kota Konstantinopel dari kesyirikan aqidah dan kekufuran system pada tanggal 29 Mei 1453 atau 20 Jumadil Ula 857 H. Ini bertepatan dengan masa pemerintahan Khalifah Al-Qaim Biamrillah pada akhir-akhir masa Khilafah Abbasiyah yang beribu kota di Mesir. Menurut Imam As-Suyuthi, Al-Qaim menjadi Khalifah pada tahun 854-859 H.

Bisyarah Muhammad yang pertama ternyata diwujudkan oleh Muhammad yang Kedua. Muhammad yang termotivasi oleh visi Rasulullah SAW tentang pembebasan-pembebasan dan kemenangan-kemengan yang akan diraih kaum muslimin. Inilah Muhammad kedua yang yakin dengan janji Allah dan memantaskan dirinya untuk mewujudkan janji Allah tersebut. Dialah Muhammad Al-Fatih.

“dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.(TQS. An-Nuur [24]: 55). []

Diramu dari:

Asy- Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, Nizham Al-Hukmi fi Al-Islam. Alih bahasa oleh Drs. Maghfur Wahid, tanpa penerbit, tanpa tahun.

Felix Y. Siauw, Beyond the Inspiration, Khilafah Press, Jakarta: 2011.

Felix Y. Siauw, Muhammad Al-Fatih 1453, Khilafah Press, Jakarta: 2011.

Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah. Alih Bahasa oleh H. Samson Rahman, Akbar Media, Jakarta: 2012.

Imam As-Suyuthi, Tarikh Khulafa’. Alih bahasa oleh Samson Rahman, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2009.

Syaikh Safiyurrahman Al-Mubarakfury, Sejarah Hidup Muhammad: Sirah Nabawiyah. Alih bahasa oleh Rahmat, Robbani Press, Jakarta: 2010.

Sumber: http://mumaseo.wordpress.com/2014/11/01/dua-muhammad-bag-2/

Untuk Bag. 1, dapat dilihat di: https://kambalidompumantoi.wordpress.com/2014/09/09/dua-muhammad-bag-1/

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Sejarah Islam dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s