Syekh Abdul Ghani (Al-Bimawi) Ulama Bima Berdarah Dompu


syekh-mahdali-sehe-boe-dompu

Syekh Mahdali bin Mansyur bin Abdul Ghani Al-Bimawi

Kambali Dompu Mantoi – Bima sudah mampu menampilkan ulama kelas dunia sejak 250 tahun silam. figur legendaris yang mampu memikat hati banyak orang adalah Syekh Abdulgani Bima (Al-Bimawi). Di samping itu ada sejumlah ulama ternama. Mereka terbukti mampu menopang wibawa dan kebesaran Bima karena menempatkan diri sebagai tangki-tangki moral di masyarakat.

Membicarakan ulama Bima, teringat kepada Syekh Abdulgani Bima atau lazim lebih dikenal dengan Al-Bimawi, orang tua kita yang telah menjadi klasik. Nama Abdulgani sangat masyhur di dunia Islam pada paruh abad ke-19. Keluasan ilmunya menyebabkan beliau menjadi tempat berguru banyak ulama yang datang ke Madrasah Haramayn, Mekah. Jika kita melacak garis genealogi atau hubungan kekerabatan intelektual Abdulgani dengan ulama-ulama di Indonesia kira-kira pertengahan abad ke-19, Abdulgani tergolong salah satu moyang ulama Nusantara. Ia termasuk apa yang disebut Dr. Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan VXIII, 1995, sebagai penyambung mata rantai jaringan ulama Nusantara abad XIX dengan Timur Tengah.

logo-kambali-dompu-mantoi-hr-ahmad-dan-baihaqi-tentang-khilafah

Abdulgani lahir di paruh terakhir abad ke-18 kira-kira tahun 1780 di Bima. tidak ada catatan pasti mengenai kapan hari lahir Abdulgani. Yang jelas beliau berasal dari lingkungan keluarga ulama yang memiliki kegandrungan tinggi dalam mengkaji Al-Qur’an. Orang tua Abdulgani dikenal sebagai mufasir, penghafal Al-Qur’an.

Asal muasal Abdulgani dimulai dari Abdul karim, seorang da’i kelana dari Mekah kelahiran Bagdad. Konon Abdul Karim sampai ke Indonesia, pertama kali menuju Banten, untuk mencari saudaranya. dari Banten, Abdul Karim mendapat informasi bahwa saudaranya itu ada di Sumbawa. Pergilah ia ke sana dan sampai di Dompu. Seraya berdagang tembakau, Abdul Karim menyiarkan Islam. Hal itu menarik perhatian Sultan Dompu, lalu beliau diambil menjadi menantu. Dari pernikahan dengan gadis istana itu, Abdul Karim mendapat anak laki-laki bernama Ismail. Ismail pun mengikuti jejak ayahnya menjadi mubaligh. Ismail kemudian menikah dan mempunyai anak bernama Subur. Syekh Subur sejak muda sudah hafal Al-Qur’an. Dia menikah dengan gadis Sarita, Donggo. Dari pernikahan itu lahirlah Syekh Abdulgani. Kehebatan ilmu Sykeh Subur membuat Sultan Alauddin Muhammad Syah (1731-1743) mengundangnya ke istana. Beliau didaulat menjadi imam kesultanan. Menulis Al-Qur’an  Mushaf Bima adalah prestasi luar biasa ulama ini. Mushaf yang beliau tulis diberi julukan La Lino. Kitab tersebut masih ada hingga kini dan tersimpan di kediaman keluarga sultan di Bima. Karyanya itu menjadi satu-satunya Al-Qur’an Mushaf Bima. La Lino juga termasuk salah satu mushaf tertua di Indonesia.

Di Bima dan Dompu, pengaruh ulama ini dan keturunannya di masyarakat setara dengan raja, memiliki karomah. Orang di daerah ini memanggil Syekh Abdulgani dan keturunannya dengan panggilan Ruma Sehe. Ruma secara harafiah berarti Tuhan, merupakan panggilan untuk raja oleh rakyatnya seperti halnya raja-raja Jawa yang dipanggil rakyat (hamba) dengan gusti [prabu], yang mengacu ke Tuhan.

Hingga kokok ayam yang pertama menjelang subuh oleh orang Bima dan Dompu dikatakan: koko janga Ruma Sehe atau kokok ayam Syekh. Sebutan itu sekaligus menunjukkan para Ruma Sehe begitu awal bangun bahkan mungkin mereka tidak tidur sepanjang malam untuk beribadah. Kokok ayamnya saja — sebagai pertanda subuh karena dulu belum ada pengeras suara — lebih dini dari ayam lain. Semua itu tidak lain sebagai cermin ketaatan Ruma Sehe dalam beribadah pada Allah.

Rupanya kejeniusan sang ayah (Syekh Subur) menurun kepada Abdulgani. Beliau menikahi gadis Dompu. Dari pernikahan itu lahir Mansyur yang kemudian dikenal sebagai Syekh Mansyur atau Sehe Jado. Syekh Mansyur menikah dan mempunyai dua anak yakni Syekh Mahdali (Sehe Boe) dan Syekh Muhammad. Syekh Abdulgani meninggal di Mekah pada dasawarsa terakhir abad ke-19.

Dikutip dari: Muslimin Hamzah dalam Ensiklopedia Bima, 2004.

Sumber: ompundaru.wordpress.com

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Sejarah Dompu dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

10 Balasan ke Syekh Abdul Ghani (Al-Bimawi) Ulama Bima Berdarah Dompu

  1. Cxor Cxor berkata:

    Knp sampai harus ditulis berdarah Dompu? Kesannya seakan orang berdarah Dompu dan Bima itu beda. Padahal sama-sama Mbojo cuma beda nama kampung/daerah.

    • Iya benar orang Bima dan Dompu adalah satu suku Mbojo. Bima dan Dompu hanyalah nama tempat domisili. Maksud saya menulis judul demikian dikarenakan dalam khasanah intelektual dan di kalangan ulama Syaikh Abdul Ghani dikenal dengan nama Al-Bimawi (baca: berasal dari Bima) karena beliau adalah Mufti/Qadhi di Kesultanan Bima. Agar orang Dompu juga merasa memiliki beliau, mengidentikkan diri dengan beliau, dan agar sesuai dengan nama dan semangat blog ini, maka saya menambahkan bahwa beliau berdarah Dompu. Ini karena bapak beliau memang keturunan Arab-Dompu.
      Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya saudaraku.

      Salam
      Admin KDM

  2. m.rizki berkata:

    teruskan perjun.
    jika ada perang melawan orang kafir ajak saya.

  3. keren skali pak.
    ok dah

  4. muslim berkata:

    Ayo dae, gali terus. Kumpulkan puing puing sejarah yang berantakan. Siapa lagi klo bukan kita, kapan lagi kalau bukan sekarang.

  5. dompu281283 berkata:

    apa cuma dua anaknya syekh mansyur?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s