Pura Tambora Berada di Dekat Pemukiman Muslim


Peta Lokasi Pura Agung Tambora

Kambali Dompu Mantoi – Pura Agung Udaya Parwata Tambora atau Pura Jagat Agung Tambora adalah sebuah bangunan peribadatan milik pemeluk agama Hindu di Pulau Sumbawa, NTB. Kompleks pura ini masuk ke dalam dua kabupaten. Sebagian masuk wilayah Desa Oi Bura Kabupaten Bima sedangkan sisanya masuk ke dalam wilayah Dusun Pancasila Kabupaten Dompu. Pura ini dibangun tahun 1984 oleh sebuah perusahaan pemegang HPH di Tambora diperuntukan untuk ibadah karyawan beragama Hindu dalam bentuk pura yang sangat kecil. Namun sejak perusahaan itu angkat kaki, pura ini pun terbengkalai dan rusak.

Pembukaan hutan di kaki Tambora untuk perluasan pemukiman pun terjadi. Warga Dusun Pancasila yang membangun pemukiman di sana akhirnya menggunakan mata air yang terletak di dekat kompleks pura untuk keperluan hidup mereka sehari-hari. Hingga tahun 1995 program transmigrasi akhirnya mendatangkan warga Hindu dari Bali ke Kabupaten Dompu, Bima, dan juga Kab. Sumbawa. Tahun 1995 mereka mencari, membangun dan menghidupkan kembali Pura Tambora ini. Sehingga saat ini Pura Tambora telah menjadi Pura Agung yang disembahyangi oleh umat Hindu se-Pulau Sumbawa.

Lokasi pembangunan pura ini dipilih di sebuah mata air yang konon menurut kepercayaan pemeluk Hindu Bali pernah dijadikan lokasi semadi Danghyang Nirarta (1478 – 1560 M). Seorang tokoh spiritual Hindu. Keyakinan Hindu Bali memang mengharuskan di tempat itu dijadikan lokasi pura. Meskipun hanya sedikit warga Hindu yang bermukim di sekitar pura. Beberapa lokasi semadi Dahyang Nirarta di Bali dan Lombok pun kini telah dibangun pura agung nan megah. Namun, mungkin banyak orang tak tahu bahwa Pura Tambora sejatinya terletak di dekat perkampungan muslim. Bukan di daerah mayoritas Hindu. Sebab di dekat pura, di sebelah barat daya terdapat Dusun Pancasila di mana hampir seluruh warganya adalah muslim. Dan mereka menggantungkan kehidupan rumah tangga mereka dari mata air yang berada persis di sisi barat laut pura itu.

Pura ini direnovasi dari tahun 1995 hingga tahun 2005. Namun di tahun 2007 diguncang gempa hingga membuat pura rusak. Mulai tahun 2008 hingga awal 2014 pura ini kembali direnovasi dan diperluas. Renovasi dan perluasan inilah yang kemudian memicu konflik antara umat hindu pengempon pura dengan warga Dusun Pancasila serta memicu reaksi keras umat Islam di Bima dan Dompu.

Konflik terjadi disebabkan oleh kesewenangan pihak pengelola pura yang menutup dan mengecor sumber mata air dengan beton. Hal ini membuat warga Dusun Pancasila tak lagi bisa memanfaatkan mata air tersebut untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Warga muslim yang tersinggung dengan sikap semena-mena warga hindu akhirnya melakukan penyerangan terhadap umat Hindu.

Isu pun meluas, beritanya menyebar dan mendapat perhatian besar dari masyarakat Dompu khususnya. Akhirnya banyak orang mengumpulkan informasi mengenai Pura Tersebut. Mengapa bisa di bangun di tempat itu? Informasi mengejutkan pun didapat. Di tengah-tengah masyarakat Dompu dan Bima pun beredar kabar yang mengatakan bahwa Pura Tambora akan dibangun menjadi Pura terbesar di Asia. Lebih lanjut, pura itu akan dijadikan salah satu destinasi wisata dalam rangka Peringatan 2 abad meletusnya G. Tambora di tahun 2015 nanti. Ternyata di beberapa media Bali pun didapati informasi bahwa Pura Agung Tambora menempati wilayah seluas 12 hektar. Maka pura ini akan menjadi Pura terbesar se-Asia. Se-Asia!

Kontan saja hal ini menyinggung harga diri masyarakat Dompu yang sangat fanatik dengan Islamnya. Sejarah panjang masyarakat Bima-Dompu dengan Islam dapat dilacak sejak zaman berdirinya Kesultanan Dompu dan Kesultanan Bima. Bagi masyarakat Dompu, tidak masalah kaum Hindu ingin beribadah dan membangun pura sesukanya. Namun jangan menambah embel-embel “terbesar se-Asia”. Karena hal itu akan menimbulkan persepsi di dalam pikiran masyarakat Indonesia bahwa agama mayoritas orang Dompu adalah Hindu. Di sisi lain, embel-embel “terbesar se-Asia” menimbulkan kecurigaan dari masyarakat Dompu bahwa ada maksud tersebunyi dari kaum Hindu untuk membuat Hindu menjadi agama mayoritas di Dompu.

 

DENAH PURA TAMBORA

Kontroversi pun terus bergulir sejak sebuah ormas, FUI (Forum umat islam) mengangkat isu pembangunan pura ’terbesar’ di Asia di kaki Gunung Tambora itu. FUI kemudian mengkonfirmasi pihak-pihak terkait pembangunan Pura “terbesar se-Asia ” itu. Menurut Kepala Dinas Kehutanan Kab. Dompu yang dihubungi sebuah media lokal wilayah pembangunan pura ini masuk ke dalam wilayah Kab. Bima Bukan Dompu. Sedangkan menurut data FUI, memang 80% lokasi pembangunan pura adalah wilayah Kab. Bima. Yakni wilayah Desa Oi ‘Bura, Kecamatan Tambora. Namun sisanya, yakni 20% adalah termasuk wilayah Kab. Dompu. Yakni wilayah Dusun Pancasila, Kec. Pekat.
Luas areal yang digunakan sebagai lokasi pura ada beberapa versi. Menurut situs http://www.bisnisbali.com/2007/03/06/news/potensi/lop.html,[1] Bupati Bima membantu lahan untuk pembangunan pura seluas 2 hektar, Bupati Dompu tanah seluas 10 hektar. Jadi ada 12 hektar. Sedangkan menurut data FUI dari keterangan warga setempat, Pemkab Bima membantu lahan untuk pembangunan pura seluas 10 hektar, sedangkan Pemkab Dompu membantu tanah seluas 2 hektar.
Kapolres Dompu, yang dikonfirmasi oleh FUI dalam audiensi pada Rabu (17/09/2014), menyatakan bahwa seluruh lokasi pembangunan pura berada di wilayah bima. Namun menurut denah yang digambar Kapolres dalam pertemuan tersebut, di sebelah barat laut pura terdapat mata air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat sekitar. Sedangkan di sebelah barat daya terdapat Dusun Pancasila di mana mayoritas warganya adalah muslim. Hanya ada beberapa kepala keluarga yang beragama hindu. Walaupun pura dan sumber air dan berada di wilayah Kab. Bima, namun sumber mata air itu adalah vital bagi penduduk Desa Pancasila yang masuk dalam wilayah Dompu.
Berdasarkan denah yang digambar oleh Kapolres Dompu, didapati fakta bahwa walaupun sebagian besar wilayah pura berada di wilayah Kab. Bima, namun akses ke Pura lebih mudah dijangkau dari arah selatan, yakni Dusun Pancasila Dompu. Dari arah selatan, akses jalan yang bisa dilalui mobil memang berhenti sampai Dusun pancasila, Dompu. Namun akses dengan bus, hanya bisa dicapai sampai batas Desa Kadindi. Transportasi umum menuju pura hanyalah jalan yang hanya bisa dilalui motor ojek. Kapolres Dompu menambahkan bahwa Bupati Dompu yang beliau konfirmasi mengatakan tidak pernah menerbitkan izin pembangunan pura. Begitu juga ketua FKUB Kab. Bima, masih menurut Kapolres Dompu, mengatakan bahwa pembangunan Pura ini belum mendapatkan izin pembangunan.
Menurut situs bisnisbali.com (06/03/2007), pura Jagat Agung Tambora di-sungsung oleh 5.000 KK dengan sekitar 28.000 jiwa. Angka ini bukanlah warga yang tinggal di sekitar lokasi pura. Sebab hanya beberapa kepala keluarga Hindu yang bermukim di sekitar pura. Angka tersebut adalah jumlah seluruh pemeluk Hindu di 5 kabupaten/kota di P. Sumbawa. Umat Hindu yang menghuni P. Sumbawa adalah pendatang dari Bali. Mereka adalah warga transmigran yang didatangkan sejak zaman orde baru. Terutama korban meletusnya Gunung Agung pada tahun 1993.
Masyarakat muslim sebagai penduduk asli di P. Sumbawa, khususnya masyarakat Dompu tidak pernah mempermasalahkan perbedaan agama. Bahkan Dompu adalah daerah dengan toleransi beragama yang sangat tinggi. Semua agama dihargai dan diperlakukan dengan hormat. Namun balasan dari umat Hindu pengempon Pura Agung Tambora dengan sikap sewenang-wenang mereka tidak lagi dapat diterima oleh masyarakat. Padahal selama ini masyarakat sudah sangat sabar dengan aktifitas peribadatan mereka yang dicurigai mencemari mata air dengan bahan-bahan yang dianggap tidak suci (baca: najis) oleh kaum muslim. Lebih jauh lagi, indikasi-indikasi yang terkadung dalam statement-statement mereka membuat masyarakat menyimpulkan bahwa Pura Tambora akan dijadikan sebagai yang terbesar di Asia. Ini tentu saja menyinggung mayoritas ummat Islam yang menjadi warga asli Dompu. Maunya masyarakat Dompu hanya satu, hargai kaum muslim dan jangan sewenang-wenang. Kesewenangan dan intoleransi mereka justru mengancam diri mereka sendiri.
Maka tidaklah mengherankan jika dalam Puncak pujawali yang digelar bertepatan Purnama Katiga, 9 September 2014, panitia pembangunan pura mengundang KSAU Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia, Pangdam IX Udayana Mayjend TNI Wisnu Bawa Tenaya, dan Danrem untuk meresmikan renovasi Pura Tambora. Hal ini sebagai bentuk ketakutan mereka terhadap reaksi balik masyarakat muslim. Memukul air di dulang, terperecik wajah sendiri! [Uma Seo]

———-

Catatan Kaki:

[1] Maaf, halaman dengan alamat url ini telah dihapus. Agaknya untuk menghilangkan jejak. Namun MaDA masih menyimpan artikelnya dalam bentuk HTML. Berikut foto-foto Pura Tambora yang beredar di dunia maya.

 

 

 

pure-pancasila-samawa-url-ph-2

Pelinggih Pura Tambora

pura-agung-tambora-blogger-dpu

Pura Tambora (Sumber: bloggerdompu.id)

pura-agung-udaya-parwata-tambora-0001

Upacara di Pura Tambora (Sumber: visittambora.com)

pura-agung-udaya-parwata-tambora-0004

Upacara di Pura Tambora (Sumber: visittambora.com)

pura-agung-udaya-parwata-tambora-0005

Upacara di Pura Tambora (Sumber: visittambora.com)

n

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke Pura Tambora Berada di Dekat Pemukiman Muslim

  1. suraufandi berkata:

    wah ini namanya memancing keributan

  2. artikel yg bgus untuk di pelajari

  3. Siroret Malsi berkata:

    Di Bali banyak masjid di bangun berdampingan. Perantauan muslim juga banyak dihidupi oleh Bali. Pantas saja orang-orang fanatik seperti ini tidak maju-maju.

    • Terima kasih atas komentarnya. Persoalan maju itu itu urusan lain. Kita lihat saja nanti siapa yg maju.

    • Mawa'a Taho berkata:

      Ayolah kawan… Di Bali umat muslim juga harus “ikut” Nyepi bersama umat Hindu utk menghormati yg empunya kampung. APa salahnya jika dalam kasus pura tambora pendatang menghargai pemilik kampung? Apa anda tidak tersinggung jika ada orang yg semena2 sama anda? Tolong objektif lah kawand. Jangan pake emosi semata.

  4. ILAB IREGEN TARAPEK berkata:

    Siroret Malsi = Islam Teroris
    Dasar penyembah jin penunggu mata air Tambora!

    • Sabar saudaraku. Kita dilarang untuk mencela Tuhan agama lain.
      وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ
      “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan” (QS. Al An’am: 108).
      Orang semacam ini hanya korban fitnah barat. Nanti juga kita tahu siapa teroris yg asli.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s