ISLAM SEBAGAI IDEOLOGI


Apakah ideologi itu? Ideologi secara umum diartikan sebagai seperangkat ide atau gagasan. Menurut KBBI ideologi adalah kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup. Namun dengan definisi yang lebih lengkap, M.M. Ismail dalam bukunya Al-Fikru Al-Islamiy, menyatakan bahwa idelogi (mabda’) merupakan akidah aqliyyah (rasional) yang melahirkan aturan-aturan (system / nizham) dalam kehidupan. Definisi yang serupa juga dikemukakan oleh Syaikh an-Nabhani dalam kitabnya, Nizhamul Islam.

Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, dalam kitab Nizham Al-Islam yang diterbitkan edisi terjemahan ”Peraturan Hidup Dalam Islam”(2001: 42-43) menjelaskan bahwa ideologi memiliki dua bagian, yakni:

1. Aqidah (Azas), merupakan pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia dan hidup, serta apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan, disamping hubungannya dengan “Sesuatu” yang ada sebelum dan sesudah alam kehidupan (Pencipta).
2. Nizhom/Sistem/Aturan, adalah mencakup; (a). berbagai pemecahan terhadap berbagai problema kehidupan manusia, baik menyangkut persoalan ibadah, akhlak, sosial, politik, hukum, ekonomi, dan budaya, (b). Metode (cara) untuk menerapkan berbagai pemecahan tersebut, (c). metode untuk memelihara ‘aqidah, dan (d). metode untuk menyebarkan ideologi tsb.

Aqidah aqliyyah dan bagaimana cara pemecahan problem manusia disebut dengan fikrah(ide). Sedangkan tentang bagaimana penerapan berbagai pemecahan tersebut, bagaimana pemeliharaan fikroh, dan cara untuk menyebarkan fikroh tersebut disebut thariqah (metode operasional).

Dengan demikian suatu ideologi bukan hanya bersifat ide-ide teori semata tanpa adanya fakta pelaksanaannya, namun mesti ada metode operasional yang jelas tentang bagaimana penerapannya dalam masyarakat. Maka jelas sudah bedanya Islam dengan agama lain yang hanya berupa doktrin dan ritual semata.

Islam Sebagai Sebuah Ideologi

Islam adalah agama yang mengatur segala aspek kehidupan manusia. Jika agama lain sekedar memiliki aturan aqidah, ibadah, akhlak (moral), aturan dalam makan-minum, dan pernikahan semata, maka tidak demikian dengan Islam. Islam juga mengatur system Ekonomi, Sosial-budaya, Hukum, Politik dan Pemerintahan, serta Politik Luar Negeri. Allah Swt telah menegaskan kesempurnaan Islam:

Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (TQS. An-Nahl: 89).

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku untukmu, serta Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu.”(TQS. Al-Maidah: 3).

Jadi dapat kita simpulkan bahwa Islam adalah sebuah ideologi, karena memenuhi syarat di atas. Yakni memiliki Aqidah dan system yang lengkap, juga memiliki fikrah dan thariqah. Islam memiliki sejumlah Fikrah (konsep) yang baku mengenai urusan Ekonomi, Sosial-budaya, Hukum, Politik dan Pemerintahan, serta Politik Luar Negeri. Adapun Thoriqoh (metode) penerapan system Islam adalah lewat Negara (daulah) Islam yang disebut Daulah al-Khilafah. Tanpa keberadaan Negara ini, system Islam tidak bisa diterapkan secara sempurna kecuali sedikit saja dalam masalah ibadah. Islam menjaga aqidahnya dengan sejumlah hukum, dan menyebarkannya melalui dakwah yang ditopang jihad oleh Negara.

Di dunia, saat ini hanya ada dua ideology selain Islam. Yakni ideology kapitalisme yang dipakai hampir seluruh Negara di dunia dengan dipimpin Amerika Serikat, serta ideology sosialisme yang dulu pernah diterapkan oleh Negara Uni Sovyet. Ketika Uni Sovyet runtuh tahun 1989, ideology ini juga runtuh karena kehilangan Negara yang menjadi metode penerapannya. Jadi, ideology apapun itu, pasti membutuhkan “Negara” sebagai thoriqoh untuk menerapkan sistemnya secara utuh. Jika negaranya tidak ada, maka ideologinya hancur.

Begitu juga dengan idelogi Islam saat ini. Ketika Daulah Khilafah dihancurkan Inggris tahun 1924, hilanglah Negara yang menjadi Thoriqoh penerapan seluruh system (syari’ah) Islam. Kemudian Islam hanya diemban oleh individu atau kelompok saja. Sehingga Islam tidak lagi diterapkan secara utuh. Sejak saat itulah ummat Islam mengalami kemunduran di segala bidang. Yakni sejak hilangnya Negara Khilafah Rasyidah Islamiyah (NKRI).

Maka, jika saat ini kaum muslim ingin kembali bangkit menjadi ummat terbaik, mereka harus menerapkan Islam secara sempurna melalui thoriqoh penerapannya, yakni Daulah Khilafah Islam. Karena kemunduran ummat saat ini adalah akibat laknat Allah. Laknat Allah akibat kaum muslim tak lagi menerapkan Islam secara keseluruhan akibat ketiadaan Khilafah.

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thohaa: 124).

Padahal Allah telah memerintahkan untuk menerapkan system Islam secara utuh, bukan sebagian saja. Firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”(TQS. Al-Baqarah: 208).

Islam Butuh Khilafah

Jika ideology kapitalisme membutuhkan Thoriqoh penerapan sebuah negara kapitalis (demokrasi), dan ideology sosisalisme membutuhkan Negara sosialis agar bisa diterapkan, maka Ideologi Agung-Islam juga membutuhkan Negara Islam untuk menerapkannya. Oleh sebab itu, berdasarkan kaidah ushul fiqh; maa la yatimmu al-wajibu illa bihi, fahuwa wajib (jika sebuah kewajiban tak sempurna dengan adanya sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib). Penerapan Ideologi Islam tak mungkin sempurna tanpa ada Negara (Khilafah), maka Khilafah itu hukumnya wajib.

Maka wajib bagi kita berjuang mewujudkan keberadaan negara yang akan menerapkan Islam secara utuh, yakni Daulah Khilafah. Karena banyak kewajiban ummat islam yang tak bisa dilaksanakan tanpa adanya negara yang mau menerapkannya. Jika negara kita hari ini belum mau menerapkan Syari’ah Islam secara utuh, maka kewajiban kita Ummat Islam untuk menuntut penerapan Islam secara utuh dan menyeluruh, bukan setengah-setengah seperti sekarang. Itupun kalau kita masih merasa beriman.

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al Anfaal: 24).

WaLlahu a’lam bi ash-showwab. [faiz]

rpa bima_2

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s