Curhat Seorang Guru


selamatkan indonesia yes no

Kambali Dompu Mantoi – Dukk…!!! Bunyi itu yang terdengar ketika sebuah tutup tong sampah beradu dengan kepala manusia. Pemilik kepala tak lain adalah para siswa yang bandel dan bikin ulah pada waktu yang salah.

“Sebenarnya saya gak suka mukul kalian. Kalau seperti itu, apa bedanya kalian dengan sapi dan kerbau? Kalian itu bukan sapi atau kerbau. Kalian itu manusia dan saya yakin bisa diajak bicara layaknya manusia.” Kata sang guru pada suatu hari.

Eits, tunggu dulu. Itu hari yang dulu. Hari yang sekarang beda. Yang namanya bandel n bikin tingkah yang aneh itu tetap saja jadi kebiasaan buruk anak sekolahan. Sang guru frustasi, emang gak ada cara lain agar bisa didengar kecuali pake cara kekerasan. Jadilah kembali terdengar bunyi ‘duk’ yang kesekian kalinya (mudah-mudahan anak orang gak mati, ya).

Akhirnya saya mengerti, apa maksud dari tema seminar dan diskusi yang sering dibikin saudari-saudari saya para syabah sewaktu masih berstatus mahasiswa: Kapitalisme menggilas idealisme guru.

Emang dasar si kapitalisme, ngelahirin anak nyang namanya matrealisme. Nama bapak moyangnya sekularisme. Mereka ini adalah isme-isme kufur yang dijejalkan oleh orang-orang kafir ke kepala anak-anak kaum muslim. Kasian ya?

Kembali ke laptop (katanya Tukul).

Seperti yang udah saya bilang tadi. Awalnya sang guru datang dengan sebuah idealisme yang menggelantung di kepalanya. Ia ingat pesan Nabi: “orang mukmin adalah yang mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” Konsekwensinya adalah gak boleh nyakitin sesama muslim. Atawa gak boleh memperlakukan mereka kasar sebagaimana halnya kita pasti gak mau diperlakukan kasar. Harus lemah lembut bin menyenangkan.

Tetapi begitu diterima di Rimba ini, sang guru muda geleng-geleng kepala. Apa pasal? Ya itu tadi. Anak manusia yang badungnya gak ketulungan itu (masak gitu aja lupa?).

Inilah hasil kerjaan si kapitalisme. Ia berhasil menghancurkan bangsa gw. System pendidikan kapitalisme itu sangat matre. Artinya, yang punya uang saja yang boleh sekolah. Yang miskin bin gak punya uang alias tongpes??? Ya, sabar…………. Mending dia pulang nyangkulin sawah ortu. Yang goblok bin bandel bias sekolah di sekolah paporit asal punya kepeng.

Ditinjau dari sisi kurikulum, system pendidikan ala kapitalisme gagal mencetak generasi yang sekedar bertaqwa. Tau gak apa sebabnya, bos? (Ah, gak seru. Pasti jawabannya gak tahu tuh). Ya iya lah, secara kurikulum, pendidikan hanya menekankan ‘biar pintar’ bukan ‘biar bertaqwa.’ Semua mata pelajarannya serba sains n biar bikin pintar. Pemerintah lupa kalo kita juga mahluk beragama. Sedangkan agama Cuma diajarkan dua jam seminggu (sekali pertemuan). Akhirnya, banyak lahir mahluk pintar tapi tak ber-ahlak, banyak anak pintar tapi bodoh, banyak insinyur-doktor-profesor yang moralnya cetek. Akhirnya kepintaran itu mereka pakai untuk korupsi, menipu, bikin film porno, bikin perusahaan ekstasi, de-el-el.

Yah,,,,, begitulah yang sedang ane hadapin sekarang. Sedih, khawatir, pokoknya kacau banget. Kasian budak-budak ne become orang-orang yang gak jelas tujuan hidupnya. Taunya hidup itu Cuma sekolah, kuliah, dapat nilai bagus, dapet kerja, gaji banyak, bisa beli motor, beli mobil, beli rumah, dapat istri gantenk, trus punya anak. Anaknya sama lagi, sekolah SD-SMP-SMA, kuliah, kerja, nikah, punya anak lagi. Kalo emang hidup cuman segitu aja, apa bedanya kita kayak binatang? Kayak, kucinng, anjing atawa monyet? Hewan kan hidup hanya untuk cari makan, kawin , itu aja.

Itu lagi, kemarin ‘si lebay’ gandengan tangan sama ‘temannya si lebay kuadrat.’ Ada apa ya??? Duh,,,,,, Rabb-ku, aku harus bilang apa? Segitu rusaknya bangsaku. Dulu juga si ‘’pendidikan’ kedapetan gandengan mesra di kelas pas sekolah udah bubar. Sama si sipit itu yang di kelas yang terpisah dua dunia. Ade lagi ne, Masak Ketua PII SMA entuh pacaran? Saking jengkelnya, gw hajar perutnya pake sentak depan. Apa gak tawu pa kalo perbuatan pacaran adalah perbuatan mendekati zina dan sejumlah maksiat lainnya. Kok gw bisa tau?? (Ya iyalah. Ane kan juga pernah begitu itu. Pokoknya gak ada deh di dunia ini pacaran yang baik2. Pasti ada plus-plusnya). Mulai dari saling pandang, saling kangen, duduk berduaan waktu PDKT, boncengan, elusan, kissing, bisa sampe petting atau kalo mau ngelanjut yang lain boleh (Astagfirullah). Apa orang tuanya gak tahu, jangankan berzina, mendekatinya aja haram boss.

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk (TQS. Al-Israa’: 32).

Itu belum seberapa, satu kelas pernah gak lulus ulangan kecuali sebiji orang. Masya Allah, maunya sih gw kasi soal yang standar. Tapi kasian juga jadinya. Ntar yang lulus cuman sebiji itu aja. Akhirnya yaaa begitu itu. Soalnya di bawah standar. Udah anak-anaknya pada under scale, nyebelin, berisik, bikin angka harapan hidup gw terus merosot drastis. Dulu pas balik dari pulau cabe masih 99% sekarang mungkin tinggal 51%. Untung gw udah ngaji dan belajar ilmu sabar. Kalo mereka ketemu gw empat tahun yang lalu mungkin udah ada yang patah tulang tuh anak2. Ya, Allah… itu aja ‘tekanan’ w sering kambuh kalo udah full gass.

Ya itu dah buah dari pendidikan sekuler-kapitalis. Sekuler artinya Negara n masyarakat tidak boleh diatur oleh agama. Padahal Islam seharusnya mengatur semuanya, termasuk dunia pendidikan. Akibat dari dilarangnya Islam mengatur Negara adalah Islam dikasi porsi yang saaaaaaaaaaaaaaaaaaaangat kecil dalam kurikulum, Cuma dua jam seminggu. Makanya orang-orang yang dihasilkan system pendidikan ini adalah orang pintar dan orang bodoh yang sama-sama tak bermoral dan bodoh dalam agamanya, Islam.

Khatimah

Sekarang kepusingan ini, harus diusir ke balik rimba jiwa. Tempatnya nyawa-nyawa yang hidup tanpa kata-kata. Maka aku harus kembali dari tugasku mengembara. Datang dan bersimpuh pada hening sukma. Agar hatiku tak mati kuasa. Ingin aku kembali pada asap-asap nikotin yang dulu sering mencumbui. Tapi apa itu cukup membuatku berhenti? (the jogank never gone, 05 Novy 11, 13:50).

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Opini. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Curhat Seorang Guru

  1. Try berkata:

    Waduh……. jadi malu saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s