Tradisi Suap di Dompu


suap

Kambali Dompu Mantoi – Berbicara mengenai suap menyuap, mungkin bukanlah masalah baru bagi kita masyarakat nusa tenggara barat. Terutama masyarakat di bagian tengah pulau sumbawa (baca: Dompu). Ibarat kata, hampir setiap saat kita bertemu dengan masalah seperti ini. Ketika kita akan mengikuti tes masuk polri atau tni, bukan rahasia lagi jika sang calon dan orang tuanya harus menyediakan dana pelicin (sogok) mencapai 100 jut-an. Begitu juga ketika tes masuk PNS, ketika mengurus akte tanah, ketika mengurus KTP, dll. Masyarakat kita sampai-sampai menganggap hal ini (suap menyuap) merupakan masalah yang biasa atau lumrah.
Nah, dibawah ini mari kita memperbincangkan apa itu yang dimaksud dengan suap dan bagaimana status hukumnya dalam islam.

APA ITU SUAP?
Suap, dalam hukum Islam disebut risywah. RISYWAH (SUAP) SECARA TERMINOLOGIS BERARTI HARTA YANG DIPEROLEH KARENA TERSELESAIKANNYA SUATU KEPENTINGAN MANUSIA (BAIK UNTUK MEMPEROLEH KEUNTUNGAN MAUPUN MENGHINDARI KEMUDHARATAN) YANG SEMESTINYA HARUS DISELESAIKAN TANPA IMBALAN.
Jika pengertian suap menurut istilah merupakan imbalan atas jasa, lalu apa bedanya dengan gaji atau upah?
Meskipun terdapat kemiripan, ada perbedaan mendasar antara suap dengan upah atau gaji (ujrah). UPAH ATAU GAJI DIPEROLEH SEBAGAI IMBALAN ATAS TERLAKSANANYA PEKERJAAN TERTENTU (YANG SEMESTINYA) TIDAK HARUS DILAKUKAN. Sebagai contoh, seorang guru. Dia tidak berkewajiban mengajarkan ilmunya kepada orang tertentu, di tempat terntu, dan waktu tertentu. Namun ketika ada orang atau institusi meminta dirinya untuk mengajarkan ilmunya di tempat dan waktu tertentu, maka imbalan yang dia dapatkan bisa disebut sebagai upah atau ujrah. Begitu juga seseorang yang ahli di bidang komputer, dia tidak berkewajiban melayani siapapun dengan keahliannya itu. Akan tetapi jika pemerintah merekrutnya sebagai pegawai (tenaga staf) di kantor bupati, maka ia menjadi berkewajiban melayani kepentingan pemerintah. Dan imbalan yang ia terima itu disebut gaji
Berbeda halnya dengan suap. Suap adalah imbalan atas terlaksananya pekerjaan tertentu (yang semestinya) wajib dilaksanakan tanpa imbalan apa pun dari orang yang memenuhi kepentingannya. Sebagai contoh, seorang pegawai di sebuah instansi pemerintahan yang bertugas melayani pembuatan KTP atau SIM. Pekerjaan itu telah menjadi kewajiban yang dilakukan. Dia sudah mendapatkan upah dari pemerintah dari pekerjaannya itu. Namun dia masih meminta imbalan kepada orang yang ingin mendapatkan KTP atau SIM. Maka itu dapat disebut sebagai risywah atau suap.

HUKUM SUAP
Di dalam ayat Al-Quran memang tidak disebutkan secara khusus istilah suap-menyuap atau risywah. Namun Imam al-Hasan dan Said bin Zubair menafsirkan ungkapan al-Quran yaitu `akkâlûna li al-suhti` sebagai risywah atau suap.
“Samma’uuna li al-kadzibi akkaluuna lissuhti. Fain jaauuka fahkum baina hum au a’ridh ‘anhum.”
“Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka, atau berpalinglah dari mereka” (QS al-Maidah [5]: 42).
Kalimat ` akkâlûna li al-suhti ` secara umum memang sering diterjemahkan dengan memakan harta yang haram. Namun konteksnya menurut kedua ulama tadi adalah memakan harta hasil suap-menyuap atau risywah. Jadi risywah (suap menyuap) identik dengan memakan barang yang diharamkan oleh Allah Swt dalam firman-Nya:
“Dan Janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” (QS al-Baqarah [2]: 188).
Selain ayat-ayat Al-Quran yang telah disebutkan di atas, ada banyak sekali dalil dari al-Sunnah yang mengharamkan suap-menyuap. Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda:
“Allah melaknat penyuap dan penerima suap dalam hukum (pemerintahan)” (HR Ahmad, Abu Dawud dan al-Tirmidzi).
Dari Abdullah bin Amru, Rasulullah saw juga bersabda: “Laknat Allah bagi penyuap dan penerima suap” (HR Khamsah kecuali al-Nasa`i dan di shahihkan oleh al-Tirmidzi).
Dari Tsauban ra: “Rasulullah saw melaknat penyuap, penerima suap, dan perantaranya” (HR Ahmad).
Kalau dicermati, ternyata hadits-hadits Rasulullah itu bukan hanya mengharamkan seseorang memakan harta hasil dari suap-menyuap, tetapi juga diharamkan melakukan hal-hal yang bisa membuat suap-menyuap itu berjalan. Maka yang diharamkan itu bukan hanya satu pekerjaan yaitu memakan harta suap-menyuap, melainkan tiga pekerjaan sekaligus. Yaitu: penerima suap, pemberi suap, dan mediator suap-menyuap.
Sebab tidak akan mungkin terjadi seseorang memakan harta hasil dari suap-menyuap, kalau tidak ada yang menyuapnya. Maka orang yang melakukan suap-menyuap pun termasuk mendapat laknat dari Allah juga. Sebab karena pekerjaan dan inisiatif dia-lah maka ada orang yang makan harta suap-menyuap. Dan biasanya dalam kasus suap-menyuap seperti itu, ada pihak yang menjadi mediator atau perantara yang bisa memuluskan jalan.
Sebab bisa jadi pihak yang menyuap tidak mau menampilkan diri, maka dia akan menggunakan pihak lain sebagai mediator. Atau sebaliknya, pihak yang menerima suap tidak akan mau bertemu secara langsung dengan si penyuap, maka peran mediator itu penting. Dan sebagai mediator, maka hal itu sering dianggap wajar bila mendapatkan komisi uang tertentu dari hasil jasanya itu. Maka ketiga pihak itu oleh Rasulullah saw dilaknat sebab ketiganya sepakat dalam kemungkaran. Dan tanpa peran aktif dari semua pihak, suap-menyuap itu tidak akan berjalan dengan lancar. Sebab dalam dunia suap-menyuap, biasanya memang sudah ada mafianya tersendiri yang mengatur segala sesuatunya agar lepas dari jaring-jaring hukum serta mengaburkan jejak.

HUKUM MEMANFAATKAN UANG HASIL SUAP
Harta perolehan dari aktivitas suap dan yang semacamnya, tetap keharamannya. Tidak boleh diambil, apa pun penggunaan dan keperluannya, karena harta tersebut adalah harta yang telah diharamkan!
Lalu, jika harta tersebut digunakan untuk amal kebaikan, apakah statusnya tidak berubah? Jawabnya, tetap haram. Artinya, niat baik tidak bisa melepaskan perkara yang jelas-jelas keharamannya. Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang mengumpukan harta dari jalan yang haram, kemudian dia menyedekahkan harta itu, maka sama sekali dia tidak akan memperoleh pahala, bahkan dosa akan menimpanya” (HR Ibn Khuzaimah, Ibn Hibban, dan al-Hakim).
Hadits Rasul ini dengan tegas menunjukkan bahwa apa pun motivasinya, walau untuk kebaikan, harta yang diperoleh melalui jalan yang haram tetap kedudukannya (maupun penggunaannya) haram juga!
Berbagai dalih yang disampaikan ke tengah-tengah masyarakat untuk membolehkan penggunaan ‘uang haram’ hanyalah rekaan dan buatan manusia, yang bersandar pada adanya maslahat/manfaat sekilas yang bisa dijangkau oleh akal. Tidak jarang, hawa nafsu manusia turut terlibat di dalamnya. Padahal, telah jelas pula bagi kita bahwa akal manusia tidak memiliki otoritas untuk menetapkan apakah suatu benda atau perbuatan tertentu itu halal atau haram. Mereka mengira bahwa apa yang telah dilakukannya itu adalah kebaikan di sisi Allah, meski berasal dari harta yang telah diharamkan.

KESIMPULAN
Jadi, jelas sudah bahwa hukum suap atau sogok itu haram. Seharam meminum khamar atau makan babi. Setiap muslim wajib mengingkarinya dan menjauhinya sebagai bentuk ketaqwaan terhadap Allah Swt. Kita orang Dompu sering jijik dan ngeri kalau disuruh makan daging babi, apalagi memakan, melihatnya saja akan membuat kita mual. Akan tetapi kita sering memakan harta suap yang keharamannya sama dengan daging babi. Kita menikmatinya dengan santai, memakainya untuk nafkah anak dan istri kita, untuk membiayai anak kita sekolah, untuk membiayai orang tua berhaji, dan sebagai nya. Padahal sungguh kita telah melakukan dosa besar dan dilaknat oleh Rasulullah Saw. Dan perbuatan itu adalah sebuah kerugian besar yang tak menghasilkan apa-apa selain kerugian itu sendiri.
“Katakanlah, “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” (QS al-Kahfi [18]: 103-104). WaLlâh a’lam bi al- shawâb. (GJ & Labib).

rpa bima_2

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s