MENELADANI RASULULLAH


Muhammad-S.A.W-and-ALLAH

Kambali Dompu Mantoi – Pada momentum maulid nabi Saw seperti sekarang ini, kita ummat Islam disibukan dengan berbagai acara peringatan. Mulai dari mengadakan berbagai kajian, lomba-lomba, dan berbagai kegiatan lainnya. Semua ceramah, khutbah jum’at, dan pidato penuh bernuansa maulid. Kaum muslimin sangat bersemangat mengikuti setiap acara tersebut. Namun ada satu sisi yang rasanya tertinggal dari setiap peringatan itu tiap tahunnya. Apakah itu?

Benarkah kita telah meneladani rasulullah Saw? Saya rasa pertanyaan ini perlu kita renungkan bersama-sama dalam hati kecil kita. Karena ini sangat penting dan berhubungan dengan identitas diri kita sebagai muslim. Agar kita tak ikut kena status Islam KTP seperti di SCTV.

Meneladani Rasulullah Saw, perkataan yang sangat mudah diucapkan namun sangat susah dipraktekan. Tentu saja di samping karena memerlukan niat, keikhlasan dan kesungguhan, juga karena perbuatan rasulullah meliputi banyak aspek. Tergantung peran apa yang sedang beliau perankan. Beliau adalah seorang Nabi, seorang suami dan ayah yang adil, kepala negara yang sukses, pedagang yang berhasil, warga masyarakat yang dipercaya kejujurannya. Perbuatan-perbuatan beliau itu ada yang hukum meneladaninya wajib, sunnah, mubah, dan ada yang haram diikuti (an-Nabhani, Nizham al-Islam: 124-126). Oleh sebab itu dalam artikel ini saya ingin mengajak pembaca sekalian menilik salah satu sisi dari kehidupan Rasulullah Saw.

Sebaiknya tak usah banyak-banyak, kita mulai saja dari mencontoh hal yang paling “besar.” Yakni sisi politis kehidupan beliau sebagai seorang kepala negara.

Pertanyaannya sekarang adalah, “sudahkah kita mengikuti contoh Rasulullah dalam bernegara?” Misalnya dalam bentuk negara, sistem pemerintahan, sumber konstitusi, politik dalam negeri, politik luar negeri, sistem ekonomi, sistem hukum, dan juga sistem pergaulan. Yang pasti jawabannya adalah: belum bos!

Banyak pihak yang meragukan posisi Rasululah Saw sebagai kepala negara. Hal ini terutama dihembuskan oleh kaum orientalis kafir dan orang-orang munafik. Bahkan ungkapan seperti ini pernah dilontarkan oleh seorang ulama yang pernah menjabat presiden di negeri ini: “Nabi itu kan bukan kepala negara, paling-paling setingkat ketua RT.”

Jelas ini salah besar, Rasulullah adalah kepala negara Madinah yang beliau dirikan. Buktinya adalah beliau telah memimpin banyak perang dan mengirim berbagai ekspedisi (Shirah Ibnu Hisyam karya Ibnu Hisyam adalah rujukan paling baik dalam hal ini). Beliau juga mengirimkan duta-duta yang membawa surat kepada beberapa kepala negara tetangga setelah beliau menaklukan Hijaz (Makkah-Madinah) agar mereka memeluk Islam (an-Nabhani, Daulah Islam: 120-122, lihat juga M. Hamidullah, Kumpulan Surat-Surat Nabi Saw dan Khilafah Ar-Rasyidah, 2005). Lalu ketua RT mana yang bersurat kepada raja atau kaisar negara lain?

Begitulah, Rasulullah telah mewariskan sistem kenegaraan yang begitu lengkap. Sepeninggal Rasulullah urusan kaum muslimin diwariskan kepada para Khalifah (pengganti) Rasulullah, oleh sebab itu negara kaum muslimin disebut negara “Khilafah” dengan sistem pemerintahan yang khas dan bersendikan syariah Islam. sistem pemerintahan negara Khilafah ini dijelaskan secara gamblang oleh Imam Mawardi dalam kitabnya Ahkam as-Sulthaniyah. Dan para Khulafa’ ar-Rasyidin-pun telah memerintah negara sesuai dengan metode kenabian (lihat Imam as-Suyuthi, Tarikh al-Khulafa’).

Rasulullah telah mencontohkan bahwa sumber legislasi (pembuatan hukum) dalam Islam hanyalah al-Qur’an dan as-Sunah. Artinya jika ada sumber hukum selain al-Qur’an dan as-Sunah, haram kita ambil karena bertentangan dengan Islam. Artinya sistem yang meniscayakan sumber hukum selain al-Qur’an dan as-Sunah semacam demokrasi adalah harus ditolak. Rasulullah telah mewariskan sistem ekonomi riil yang non-riba. Berbeda dengan kondisi sekarang di mana sistem ekonominya bersendi riba. Rasulullah juga telah mewariskan sistem hukum, pendidikan, dan sistem pergaulan yang telah jelas dalam Qur’an dan Sunah.

Keterpurukan kaum muslimin sekarang ini disebabkan mereka jauh dari al-Qur’an. Apa maksudnya? Maksudnya adalah Islam hanya dipakai dalam masalah akidah, ibadah dan akhlak saja. Sedangkan ummat Islam telah meninggalkan warisan Rasulullah yang lain, yakni sistem pemerintahan, sistem hukum (hudud), sistem ekonomi, sistem pendidikan, sistem pergaulan, politik dalam negeri, dan politik luar negeri.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS. al-A’raf: 96)

Sudah saatnya kaum muslimin kembali pada syariah Islam. Sudah saatnya kita meneladani Rasulullah dalam bernegara. Lalu pertanyaan terakhir, maukah kita meneladani Rasulullah? [Faiz, 19/02/11, 11.35]

rpa bima_2

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke MENELADANI RASULULLAH

  1. jumrah berkata:

    emang benar semua umat islam belum menjalankan semua perintah nabi muhammad saw karena sebagian ulama dan ustaz ada yang berbeda pendapat mengenai maulid nabi muhammad saw.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s