RIMPU, BUKAN SEKEDAR BUDAYA BIMA-DOMPU!


Oleh: Muhammad Faisal

Semua orang Bima dompu pasti tahu apa itu rimpu. Ya, memakai selembar sarung (biasanya tembe nggoli) untuk menutupi seluruh badan kecuali muka dan kedua telapak tangan. Namun sangat disayangkan, banyak (bahkan mungkin hampir semua) orang Bima-Dompu sama sekali tak memahami apa rimpu itu sebenarnya. Rimpu hanya dianggap budaya? Kalau hanya budaya, lalu apa yang melatar belakangi para pendahulu menciptakan pakaian rimpu? Kalau kita mengkaji sebab dikenakannya rimpu oleh wanita Mbojo, maka kita akan tahu apa itu rimpu yang sebenarnya.

Rimpu adalah bentuk rill ketaatan “dou Mbojo-Dompu” terhadap syariat Allah. Bukan sekedar budaya. Para tetua dahulu menyadari bahwa berhijab (menutupi aurat) adalah kewajiban bagi wanita. Sama seperti wajibnya shalat, puasa atau zakat. Lalu karena pada saat itu belum ada pabrik kerudung maka dipakailah “tembe nggoli” sebagai penutup tubuh dan menjelma menjadi rimpu yang dianggap sebagai budaya. Lihatlah firman Allah berikut:

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya,” (TQS. An-Nuur [24]: 31).

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ (TQS. Al-Ahzab [33]: 59).

Dan juga sabda Rasulullah Saw berikut:

‘Sesungguhnya anak perempuan apabila telah haidh  tidak dibenarkan terlihat darinya kecuali wajah dan tangannya sampai persendian (pergelangan tangan).(HR Abu Dawud).

Itulah rimpu, bukan sekedar budaya tapi kewajiban kepada Allah yang maha agung. Tapi sekarang kita malah menganggapnya sebagai budaya. Lihatlah akibatnya kita menganggap rimpu adalah budaya, kita mudah saja melupakannya. Karena budaya itu tidak wajib. Karena budaya itu bebas dipilih. Mau dipakai boleh, mau ditinggalkan juga boleh. Lihatlah sekarang kewajiban itu seenaknya kita tinggalkan. Saudari kita lebih memilih memakai g-string dan tank-top dari pada memenuhi perintah Allah yang memberinya kehidupan -sampai menjadi wanita cantik dan dikagumi banyak lelaki. Jangan heran kalau banyak laki-laki yang otaknya menjadi ngeres. Jangan salahkan jika terjadi pelecehan terhadap wanita (bukan berarti saya membenarkan pelecehan itu).

Wahai saudariku, apa yang menghalangimu untuk memenuhi perintah Tuhanmu, Allah. Kewajiban menutup aurat sama  dengan wajibnya shalat. Kalau kita khawatir karena meninggalkan shalat, kenapa kita enteng saja mengumbar aurat?  Apakah dibilang cantik dan sexi lebih baik dari ketakwaan? Apakah mengkuti mode lebih berharga dari perintah Allah. Apakah engkau tak takut dengan siksa dari Tuhanmu?

Ada dua golongan manusia yang menjadi penghuni neraka, yang sebelumnya aku tidak pernah melihatnya; yakni, sekelompok orang yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk menyakiti umat manusia; dan wanita yang membuka auratnya dan berpakaian tipis merangsang berlenggak-lenggok dan berlagak, kepalanya digelung seperti punuk onta. Mereka tidak akan dapat masuk surga dan mencium baunya. Padahal, bau surga dapat tercium dari jarak sekian-sekian.”[HR. Imam Muslim].

Wa-Llahu a’lam bishshowwab.

rpa bima_2

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke RIMPU, BUKAN SEKEDAR BUDAYA BIMA-DOMPU!

  1. Dawus berkata:

    Ini membuktikan generasi muda Dompu mulai cerdas dan peduli terhadap perkembangan daerah. Namun masih perlu di tingkatkan lagi, karena mereka blm tahu arah perjuangannya. lanjutkan kawan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s