JALAN MENEMUKAN TUHAN


Pernahkah kita berpikir, benarkah agama yang kita anut. Benarkah Islam yang kita pegang teguh saat ini? Benarkah Tuhan yang kita sembah selama ini? Selama ini kita memeluk agama Islam warisan orang tua dan nenek moyang kita. Kita tak sempat memilih mau masuk agama mana. Kita tak sempat mengecek keabsahan dari tiap agama. Atau jangan-jangan. Tuhannya orang Kristen-lah yang benar. Atau agamanya orang-orang hindulah yang benar. Pernahkah kita berpikir demikian. Atau jangan-jangan Tuhan itu tidak ada seperti kata orang-orang komunis (sosialis) dan atheis. Buktinya tuhan tak pernah menunjukan dirinya pada kita. Tuhan tak pernah muncul ketika kita kena bencana. Lalu manakah yang benar?

Sudahlah,,,,,,, tak usah terlalu dipikirkan perkataan saya itu. Tapi pikirkanlah baik-baik.

Begini, dari pada anda tak jadi menemukan Tuhan, mari kita main-main dengan kata. Katanya bernama “berfikir.” Mari kita main-main dengan kata ini. Coba anda buka buku pelajaran IPA waktu eSDe. Mungkin anda akan menemukan pelajaran bahwa Bumi itu bulat. Matahari adalah pusat tata surya, lengkap dengan planet dan satelit yang berorbit mengelilinginya. Dikatakan di sana bahwa bumi dan matahari masing-masing memiliki gaya gravitasi. Karena masing-masing punya gaya gravitasi, bumi dan matahari akhirnya saling mempengaruhi. Namun karena gaya gravitasi matahari lebih besar, maka gravitasi mataharilah yang unggul sehingga menarik Bumi yang gravitasinya lebih kecil. Namun untungnya, karena Bumi masih punya gravitasi dia tidak jatuh ke dalam matahari. Jadilah bumi mengitari sang matahari.

Pernahkah kita “berfikir” secara logis, jika gravitasi matahari lebih kuat kenapa Bumi tak jatuh saja kedalam matahari, kenapa Cuma bermodal gaya gravitasi yang kecil bumi bisa “melawan” matahari? Coba anda main tarik tambang dengan anak kecil seumuran shin-chan (5 tahun). Pasti anda yang dapat menarik anak itu ke arah anda. Lalu planet yang delapan (pluto sudah tak diakui sebagai planet oleh para ilmuwan), kok bisa yang garis orbitnya teratur mengelilingi matahari teratur sekali. Kenapa tak pernah saling tabrakan. Aneh kan? Kenapa ya?

Sekarang coba perhatikan tubuh anda sendiri. Tak usah banyak-banyak, cukup hidung anda saja. Di hidung anda itu, dalam lubangnya ditumbuhi bulu-bulu kan? Ya iya lah… pasti ada. Bulu hidung ternyata berguna menyaring kotoran dari udara yang masuk lewat hidung. Menurut penelitian hidung juga punya sebuah keahlian, yakni mendinginkan udara panas dan menghangatkan udara dingin. Ketika udara yang masuk terlalu panas, maka hidung akan mendinginkannya. Begitu pula jika udara yang masuk terlalu dingin, hidung akan menghanagatkannya.

Jangan lupa, coba perhatikan pula bagian penyusun tubuh kita yang lain di bagian dalam, darah dan Jantung misalnya. Darah mengandung zat hemoglobin yang befungsi mengikat oksigen (O2). Ketika terjadi proses bernafas, darah akan mengambil Oksigen bersih dalam udara dari paru-paru. Jantung akan memompa darah ini ke seluruh tubuh sehingga oksigen bersih ini tersalurkan ke semua bagian tubuh. Sebelum kembali ke jantung darah masih sempat-sempat mengikat karbon dioksida (CO2) dari tubuh. Jantung kemudian memompa darah berisi CO2 ini ke paru-paru dan CO2 ini dilepaskan ke paru-paru dan keluar lewat hembusan napas.

Sadarkah kita bahwa kejadian-kejadian tadi terjadi hanya dalam sekali kita menghirup dan menghembuskan udara? Pernahkah kita “berfikir,” kok kita tidak sadar bahkan tak tahu ada kejadian canggih semacam itu terjadi dalam tubuh kita. Coba saja anda mau mengatur proses kejadian-kejadian tadi sekehendak kita, pasti tak akan bisa.

Sekarang coba, ingat-ingat pernahkah anda menonton berita TV tentang Tsunami di kepulauan Mentawai? Ada berita tentangan sebuah keluarga yang seluruhnya tewas kecuali seorang bayi di keluarga itu yang baru berumur beberapa bulan. Pernahkah kita “berpikir” secara logika, fisik ayah dan ibunya itu lebih kuat dibanding sang bayi. Namun kenapa si bayi ini lebih bisa bertahan hidup dari pada ayah dan ibunya? Padahal tsunami datang setinggi pohon kelapa.

Mari sekali lagi kita “berfikir.” Apakah kejadian-kejadian di atas terjadi dengan sendirinya? Kalau terjadi dengan sendirinya, kenapa sangat rapi dan teratur sekali. Jangan-jangan ada yang mengatur kejadian-kejadian tersebut. Kalau memang ada yang mengatur, lalu apa atau siapa? Mari kita “berfikir.”

Secara umum, akal manusia yang terbatas ini hanya bisa mengnalisa (berfikir) tentang tiga aspek. Yakni alam semesta, manusia, dan kehidupan. Di luar ketiga hal ini, akal manusia sudah tak mampu lagi menjangkaunya. Karena ketiga hal inilah yang menjadi objek berpikir manusia dengan akalnya. Apabila kita perhatikan ketiga hal tersebut, maka kita akan mendapati ketiga hal tersebut lemah, terbatas dan tidak dapat berdiri sendiri.

Manusia itu terbatas, ia hanya dapat tumbuh setinggi 170 cm atau 200 cm. Ia tak dapat tumbuh lebih tinggi meski ia menghendakinya. Ia tak dapat memperpanjang tangan atau kakinya semaunya. Manusia juga tak dapat menggali sumur dengan kedua tangannya saja. Ia butuh bor atau linggis. Manusia tak dapat terbang dari Dompu sampai ke Amerika, ia butuh pesawat. Manusia tak mungkin berenang dari Belanda sampai ke Papua, ia butuh kapal. Maka sudah jelas manusia itu lemah dan terbatas, ia bergantung kepada yang lain.

Kehidupan sendiri juga terbatas. Jika kita perhatikan, maka penampakannya bersifat individual dan berakhir pada satu individu saja. Ada orang lahir dan lalu ia meninggal. Ini artinya kehidupan ini juga terbatas. Ia punya awal dan akhir. Tidak ada mahluk yang dapat memiliki kehidupan yang abadi.

Alam semesta juga begitu. Ia terbatas, lemah dan membutuhkan bantuan dari sesuatu yang lain. Bunga butuh lebah untuk penyerbukan. Lebah butuh bunga untuk makan. Kuda butuh rumput untuk hidup. Burung tak dapat terbang sampai ke lapisan luar atmosfer bumi. Tak ada batu yang tak dapat dipecahkan. Tak ada gunung yang tak dapat didaki. Bahkan sekarang banyak diratakan oleh manusia. Api tak dapat membakar kalau tak ada pemicu, misalnya korek api yang dinyalakan atau titik api matahri yang difokuskan. Air tak dapat menjadi es jika tak ada titik beku. Dan sebagainya. Ini merupakan bukti bahwa alam semesta juga terbatas. Karena kumpulan sesuatu yang terbatas pasti juga terbatas.

Maka, setelah kita “berfikir” dan menyimpulkan bahwa ketiga aspek tersebut ternyata terbatas, kita akan berpendapat bahwa kesemuanya pasti ada yang menciptakan lalu mengaturnya. Tak mungkin ketiga hal tadi (yakni manusia, kehidupan dan alam semesta), termasuk proses-proses yang melingkupinya, terjadi dengan sendiri dan mengatur diri mereka sendiri. Hal ini mustahil. Pasti ada yang menciptakan, dan pencipta pastilah (dan harus) bersifat azali (tak berawal dan tak berakhir) dan wajibul wujud (wajib keberadaan-Nya).

Jika kita perhatikan sesuatu yang bisa dianggap sebagai sang pencipta, maka ada beberapa kemungkinan, yakni materi, alam semesta, atau sesuatu yang lain yang tak dapat dijangkau oleh akal manusia.

Materi, bukanlah pencipta. Karena sifatnya yang terbatas. Sesuatu yang terbatas tak mungkin dapat menciptakan dan mengatur manusia, kehidupan dan alam semesta. Kenapa dikatakan materi terbatas? Karena materi membutuhkan materi lain atau sesuatu yang lain untuk terwujud. Sifat membutuhkan ini telah menunjukan bahwa materi ini tak bersifat azali, yang merupakan syarat mutlak sesuatu disebut Sang Pencipta. Sebagai contoh, terbentuknya uap air. Untuk menjadi uap, air memerlukan panas. Namun, air tak akan menjadi uap dengan adanya panas saja. Namun memerlukan kadar panas atau suhu tertentu. Kita tentu sepakat bahwa air dan panas (kalor) adalah materi, namun kadar panas (suhu) bukanlah materi. Ini membuktikan bahwa materi membutuhkan sesuatu yang lain unutk terbentuk.

Alam semesta juga bukan pencipta manusia kehidupan dan dirinya sendiri. Karena ia terbatas. Alam semesta adalah kumpulan segala sesuatu beserta dengan sistem yang mengaturnya. Segala sesuatu yang berada dalam alam semesta berjalan sesuai dengan sistem peraturan ini. Keteraturan bukan muncul dari peraturan ini sendiri,  karena tanpa ada yang mengatur maka tidak akan ada peraturan. Keteraturan tak muncul dari “sesuatu,” karena eksistensi sesuatu ini juga tak secara otomatis menciptakan peraturan. Adanya sesuatu ini tidak menjadikannya teratur karena dirinya sendiri tanpa ada yang mengatur. Keteraturan tidak akan muncul kecuali dengan adanya “hal lain” di mana peraturan dan segala sesuatu itu tunduk padanya.  ‘Hal lain’ inilah yang mewujudkan keteraturan dan mampu memaksa segala sesuatu, termasuk peraturannya.

Dari sini dapat pula disimpulkan bahwa setelah kita “berfikir,” kita mendapati bahwa yang disebut sang pencipta (Tuhan) itu bukanlah materi atau alam semesta, akan tetapi sesuatu yang lain yang tak dapat dijangkau oleh akal manusia. Sesuatu yang lain inilah yang disebut Sang Pencipta (al-Khalik).

Nah, kita sebagai manusia sudah menemukan kalau ada sang pencipta. Tapi dia tak bisa kita jangkau dengan akal apalagi indera. Artinya, kita belum tahu siapa Tuhan itu. Padahal manusia pasti sangat perlu untuk berhubungan dengan sang penciptanya.

Cara berhubungan manusia dengan sang pencipta ini dinamakan ‘ibadah.’ Nah, coba ‘pikir’ tata cara ibadah ini harus semau-mau sang pencipta, jangan semau-mau kita (manusia). Dijamin, sang pencipta tak bakal suka dengan cara ibadah bikinan kita sendiri.  Untuk menyampaikan tata cara ibadah ini, sang pencipta mengutus para rasul atau utusan. Karena Tuhan tak perlu turun tangan langsung selama masih bisa pakai utusan. Sebagai ujian atas manusia, apakah ia mau percaya (beriman) atau tidak. Maka akan terjadi proses dinamis seleksi surga dan neraka. Kalau Sang Pencipta langsung berbicara pada manusia, maka neraka tak akan ada isinya. Sebab manusia beriman semua begitu melihat Sang Pencipta. Lagipula manusia belum pantas melihat ‘wajah’ Sang Pencipta selama belum terbukti keimanannya. Maka akan jelas fakta bahwa Sang pencipta pernah mengirim utusan, yakni para Rasul. Sory, sampai di sinipun kita belum kenal siapa sih Sang Pencipta itu. Mari kita terus bermain dengan kata “berfikir.”

Lalu tiba-tiba pada suatu hari di Abad VI masehi, datang seorang manusia biasa yang ummi (buta huruf) bernama Muhammad bin Abdullah. Ia mengaku nabi dan utusan Allah dan membawa wahyu Allah yang ia sebut al-Qur’an. Siapakah Allah itu? Menurut pengakuan yang dikatakan Muhammad bin Abdullah, Allah adalah Sang Pencipta semesta alam. Beliau juga mengatakan bahwa al-Qur’an adalah bukti paling kongkrit tentang kerasulannya.

Apakah, kita percaya? Ntar dulu, buktikan dulu dong. Muhammad bin Abdullah kan manusia biasa, bisa aja berbohong. Maka kita harus mengecek bukti kerasulannya. Nah, bukti kerasulannya yang sampai sekarang dapat kita temukan adalah al-Qur’an yang diakui sebagai firman Allah, Sang Pencipta manusia, kehidupan dan alam semesta.

Jika kita perhatikan realitasnya, maka kita akan menyimpulkan bahwa al-Quran adalah sebuah kitab berbahasa arab yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah sebagai bukti kerasulannya. Oleh sebab ini kita menemukan tiga premis siapa pembuat al-Quran ini. Yang mungkin membuatnya adalah orang Arab, Muhammad bin Abdullah, atau dari Allah seperti pengakuan pembawanya.

Premis pertama tidak terbukti karena alQuran bukan karangan orang Arab. Al-Quran sendiri secara langsung menantang manusia, dan termasuk orang Arab sendiri, untuk membuat yang sebanding dengan al-Quran jika mereka memang meragukan kebenarannya. Tantangan ini dapat kita lihat dalam al-Quran misalnya dalam surat al-Baqarah ayat 23, surat Hud ayat 13 atau surat Yunus 38. Dalam al-Baqarah ayat 23 dikatakan: “Dan jika kamu (tetap) berada pada keraguan tentang al-Qur’an yang kami wahyukan pada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” Terbukti sampai sekarang tak ada sepotong manusiapun yang dapat membuat sesuatu yang sebanding dengan al-Qur’an. Kalaupun ada yang berupaya, mereka hanya mengalami kegagalan dan mendapatkan malu yang sangat. Ini artinya al-Quran bukanlah karangan orang Arab.

Premis kedua yang mengatakan al-Quran karangan Muhammad juga tidak dapat diterima. Karena ia juga orang Arab. Orang Arab, baik yang biasa maupun ahli bahasa dan sastra Arab saja tak dapat membuat tandingan al-Quran, apalagi Muhammad yang ummi (tak bisa baca tulis). Selain itu ada juga orang yang menuduh al-Quran diajarkan oleh seorang pemuda Kristen bernama Jabr kepada Muhammad. Untuk hal ini biar al-Quran sendiri yang menjawabnya: “(Dan) Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, ‘Sesungguhnya Al Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad). Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya (adalah) bahasa ‘ajami (non arab), sedangkan Al Qur’an itu dalam bahasa Arab yang jelas.” (QS An Nahl: 103). Nah jelas kan, bagaimana seorang non-Arab mengajar Bahasa Arab yang tak dapat dikalahkan pula oleh orang yang asli Arab. Kalau kita “berfikir” ini tak masuk akal.

Maka benarlah premis yang ketiga yang mengatakan bahwa al-Quran adalah kalam Allah sebagaimana kesaksian Muhammad bin Abdullah, pembawanya. Terbuktilah bahwa kita memiliki Sang Pencipta, yakni Allah dan sekaligus membuktikan pembawa al-Quran adalah seorang Utusan Allah yang mulia. Sekarang kita telah mengenal siapa Sang Pencipta itu, yakni Allah. Kita telah mencapai akhir dari perjalanan mencari Tuhan.

Maka sekarang saya tak akan mengajak “berfikir” lagi. Saya akan mengajak kita semua bersyukur pada Allah telah ditunjuki jalan yang lurus. Saya juga mengajak untuk bershalawat pada Rasulullah Muhammad bi Abdullah Saw, karena dengan jerih payah perjuangan beliau-lah Islam dapat sampai pada kita dan menjadi petunjuk hidup kita. Oleh karena itu, jangan sia-siakan nikmat ini kawan. Karena tak semua orang mendapatkan nikmat Islam. Imam Ali Ra mengatakan, “di antara sekian banyak nikmat, cukuplah nikmat Islam sebagai nikmatmu.” Wallahu a’lam bishshowwab. (alFatih Faiz, 25/11/10: 17.27)

Referensi:

An-Nabhani, T. Nizhamul Islam ed. terjemahan. 2007.

An-Nabhani, T. Syakhshiyah Islamiyah ed. terjemahan. 2007.

Buku IPA waktu eSDe

rpa bima_2

Tentang Uma-Seo Makambali Dompu-Mantoi

Orang Dompu, tak tinggal di Dompu. Hanya orang biasa, tapi punya cita-cita
Pos ini dipublikasikan di Makalah dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s