BERCERMIN DARI KEGAGALAN REFORMASI INDONESIA

Posted: 2 Maret 2011 in Do Little to Reach a Big Goal
Tag:, , , , ,

Akhir-akhir ini situasi di negara-negara Afrika utara dan timur tengah memanas. Rakyat meradang dan mengadakan aksi demontrasi besar-besaran menuntut agar rezim-rezim yang sekarang memerintah mereka segera mundur dari kursi kekuasaan mereka. Mesir, yang menjadi titik awal pergolakan ini. Kini rakyat Mesir telah berhasil menumbangkan Husni Mubarak, sang diktator yang telah memerintah Mesir lebih dari 30 tahun. Keberhasian rakyat mesir inilah yang menjadi pemicu gejolak-gejolak politik di beberapa negara lain di Afrika utara dan timur tengah.

Namun, adakah sejatinya pergantian rezim di negeri-negeri muslim semacam Mesir ini akan membawa perubahan yang berarti bagi perbaikan nasib dan kesejahteraan kaum muslimin? Maka sebaiknya kaum musliminin bercermin dari kegagalan reformasi di Indonesia.

Reformasi birokrasi yang terjadi di Indonesia pada tahun 1998 memang telah memberikan harapan yang sangat besar bagi seluruh rakyat Indonesia. Rakyat sangat tergiur dengan janji kebebasan, demokratisasi, dan kesejahteraan yang dijanjikan oleh reformasi. Terjadi euforia yang sangat menghebohkan. Soeharto telah tumbang.

Namun yang sangat disayangkan reformasi yang terjadi salah arah, atau lebih tepatnya tak punya arah yang jelas. Reformasi tak pernah menyentuh substansi dari masalah yang di alami masyarakat. Hal ini disebabkan oleh kegagalan rakyat (khususnya umat islam) dalam mendiagnosa permasalahan utama (core problem) yang sedang mereka hadapi, pengaruh ide-ide liberal barat yang telah sangat berakar dalam pikiran rakyat, dan keinginan reformasi yang terkesan sebatas aksi balas dendam terhadap rezim Soeharto yang selama ini represif terhadap rakyat (khususnya umat Islam).

Kita dapat melihat realitas yang terjadi dalam masyarakat indonesia setelah lebih dari 12 tahun reformasi berjalan. Harapan-harapan yang sebelumnya bersemayam di dada rakyat seakan hanya mimpi belaka. Kesejahteraan yang dijanjikan jauh panggang dari api. Malah kondisinya lebih parah jika dibandingkan era sebelum reformasi (orde baru). Kemiskinan meningkat, pengangguran bertambah, korupsi merajalela, kerusakan moral yang parah, pendidikan yang sangat tidak berkualitas, dan segudang permasalahan lainnya. Padahal semuanya itulah penyebab dicetuskannya reformasi. Namun bukannya semua masalah itu terselesaikan atau minimal berkurang, tapi malahan masalah-masalah itu semakin kronis dan muncul masalah-masalah baru yang lebih akut. Sampai-sampai Indonesia mendapatkan berbagai julukan yang ‘bagus-bagus’ semacam negara gagal (failed states), negara bebek, negara koruptor, negara pengekspor budak, dll.

Sebaliknya kebebasan dan demokratisasi memang berhasil didapatkan. Tapi hasilnya nol. Lihatlah kenyataan di sekitar anda, kebebasan benar-benar diartikan tanpa batas. Maka timbulah masalah-masalah baru akibat ini. Pergaulan bebas remaja, pornografi atas nama seni, pornoaksi setiap hari di sana sini, bermunculan paham-paham sesat yang menodai kesucian Islam, penyerangan terhadap ajaran-ajaran Islam semacam jilbab, poligami, nikah siri tapi syah, dll. Begitu juga demokrastisasi yang diagungkan, hasilnya nol. Katanya kalau negara ini menjadi negara demokratis, maka rakyat pasti akan sejahtera. Buktinya, setelah negara ini menjadi negara muslim paling demokrastis dan dipuji-puji Amerika, hasilnya nihil. Nasibnya ya gitu-gitu aja. Tak ada yang berbeda.

Sungguh miris kondisi Indonesia pasca reformasi. Semua ini disebabkan oleh kegagalan kaum muslimin memahami arti kebangkitan yang hakiki. Ummat gagal menganalisa masalah utama yang menjadi sumber semua masalah yang sangat banyak.

Ideologi kapitalisme yang diemban negara ini adalah pangkal masalahnya. Kapitalime memiliki azas sekularisme (yakni pemisahan agama dari negara/urusan pubik). Inilah pangkal masalahnya. Kapitalisme dengan sekularismenya menyatakan bahwa manusia berhak mengatur dirinya sendiri tanpa campur tangan Tuhan. Tuhan hanya di masjid, gereja, pura, vihara, sinagog, atau apalah yang penting agama hanya mengatur urusan akidah, ibadah dan akhlak saja. Maka dalam kapitalisme, semua aturan dan hukum (halam-haram) itu ditentukan oleh manusia atas kesepakatan bersama. Tentu saja ini bertentangan sama sekali dengan Islam yang kita anut. Manusia tahu apa sih tentang hakikat dirinya? Bukankah Allah lebih tahu tentang hakikat manusia sehingga lebih berhak membuat aturan bagi manusia. Karena Ia adalah yang menciptakan manusia. Kapitalisme dengan sekularismenya benar-benar membawa seluruh manusia pada jurang kehancuran. Lihatlah Amerika Jepang atau eropa, walau secara material mereka sangat maju namun moral mereka sangat rusak. Apakah itu peradaban yang ingin kita contoh?

Kapitalisme melahirkan sebuah sistem pemerintahan yang namanya demokrasi. Yakni sistem pemerintahan yang menyerahkan kedaulatan di tangan rakyat. Intinya adalah sama, rakyat (manusia) lebih berhak membuat hukum ketimbang Allah. demokrasi jelas sangat bertentangan dengan akidah Islam, karena Islam mengajarkan Allahlah yang membuat hukum (aturan) bagi seluruh aspek kehidupan manusia.

Namun, itulah hidup, ada takdir yang berbeda. Ada hikmah dibalik perbedaan. Mengesampingkan apa hikmah itu, ternyata ada saja orang yang berhasil dipengaruhi oleh paham-paham asing semacam kapitalisme dan demokrasi. Bahkan ada yang mati-matian membelanya. Walau berbagai argumen telah dilontarkan, baik yang ilmiah (logika) maupun yang syar’inya (dengan dalil), masih belum mampu membuat mereka sadar. Ada yang berkelit dengan mengatakan bahwa, bukan demokrasi penyebab kegagalan reformasi. Akan tetapi karena ‘penerapan demokrasi’ yang belum pas.

Saya ingin bertanya kalau memang benar penerapannya yang salah, lalu dengan cara apa yang pas? Demokrasi terpimpin ala sosialis di zaman soekarno sudah diterapkan, demokrasi yang katanya pancasilais di zaman Soeharto sudah, demokrasi liberal sekarang juga sudah diterapkan, namun semuanya tak pernah berhasil mensejahterakan rakyat Indonesia. Demokrasi dengan model parlementer sudah, dengan model presidensial sudah, yang terpusat sudah, yang dengan otonomi daerah juga sudah. Tapi mana hasilnya???

Sekali lagi ini membuktikan dua hal. Yang pertama bahwa kapitalisme dan demokrasi telah gagal mensejahterakan rakyat Indonesia. Yang kedua, kita dapati kenyataan bahwa Kapitalisme dan demokrasi memang sistem yang rusak dan bersifat merusak. Di samping secara akidah bertentangan dengan Islam, kapitalisme dan demokrasi terbukti hanya menghasilkan kerusakan di mana-mana. Baik untuk barat maupun untuk dunia timur.

Jadi, kaum muslimin tidak usah lagi berharap pada demokrasi. Dan kita harapkan kaum muslimin di Mesir dan negara-negara muslim lain tidak tertipu dengan jargon kebebasan dan demokratisasi. Karena semuanya hanya ilusi. Saatnya kita kembali pada ideologi Islam untuk menggantikan kapitalisme. Sistem pemerintahan dalam Islam adalah “Khilafah” seperti yang diwariskan oleh Rasulullah Saw dan para Khulafa’ ar-Rasyidin. Insya Allah, dengan terjadinya pergolakan di sejumlah negara Muslim sekarang ini tanda-tanda kembali berdirinya Khilafah ‘ala minhaj an-Nubuwwah (khilafah yang sesuai dengan metode kenabian) telah dekat. Karena Allah dan Rasul-Nya telah berjanji dalam sebuah hadis riwayat Imam Ahmad bahwa Khilafah suatu saat akan tegak kembali setelah keruntuhannya tahun 1924. Bahkan NIC (National Intelegence Council), sebuah lembaga intelijen Amerika Serikat memperkirakan bahwa tahun 2020 akan berdiri sebuah negara Khilafah. Perubahan seperti inilah yang wajib diwujudkan kaum muslim di negara-negara mereka. Yakni perubahan menuju Khilafajh, bukan sebatas reformasi yang tanpa arah. Nah, orang barat saja percaya, lalu kenapa kaum muslim tak percaya? [Faiz, 19/02/11, 09.29]

About these ads
Komentar
  1. [...] BERCERMIN DARI KEGAGALAN REFORMASI INDONESIA [...]

  2. Rizal mengatakan:

    Lalu apa seharusnya yang dilakukan kaum muslim???

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s